My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
16. Alasan Agni Bekerja Di Tempat Yang Sama Dengan Lyra



Apa yang di katakan Agni tak membuat Lyra percaya. Agni merupakan anak dari orang yang menghasilkan banyak uang, perusahaan yang di kelola keluarganya terbilang sangat besar dan sukses. Bisa di bilang Agni merupakan salah satu anak dari seorang konglomerat di negeri beribu-ribu pulau ini.


"Aku tetap tak percaya. Mana bisa orang sepertimu bekerja di sini."


Agni tersenyum. "Tentu saja bisa, bila hati ini sudah tergerak. Maka apapun akan ku lakukan demi sang pujaan hati."


"Apa yang kau maksud?" Tanya Lyra heran.


Di tengah perbincangan Lyra dengan Agni, tiba-tiba saja Susi datang menghampiri.


"Apa kamu pekerja baru di sini?" Tanyanya kepada Agni.


"Iya, saya merupakan pekerja baru di sini."


"Kalau begitu ikuti saya. Saya akan menunjukan apa yang harus pertama kali kamu kerjakan." Susi pun beranjak melangkah kakinya dengan langkah yang di ikuti Agni.


Pekerjaan pertama yang harus di lakukan Agni, sama dengan Lyra saat ia pertama kali masuk kerja, yaitu memotong sayuran dan daging.


Bila memang Susi menyuruh Agni bekerja, berarti memang benar apa yang di katakan Agni, bahwa sahabat dari Lyra itu benar-benar bekerja di bagian kafetaria. Seakan tak menyangka, Lyra sampai melongo menatap sahabatnya yang kaya raya itu bekerja di tempat yang sama dengannya. Lyra juga di buat penasaran dengan siapa yang membuat sahabatnya itu tergerak untuk bekerja di kafetaria.


Seakan masih tak menyangka, Lyra sampai-sampai tergerak untuk bertanya mengenai alasan Agni bekerja di kafetaria.


"Maksud dari ucapanmu tadi itu apa? Siapa yang telah menyuruhmu bekerja di sini?" Bisik Lyra.


Layaknya orang yang tengah jatuh cinta, Agni tersenyum seakan membayangkan sosok yang membuatnya tergerak untuk berkerja sebagai tukang masak.


"Tak ada yang menyuruhku untuk bekerja di sini, hatikulah yang menggerakannya. Ini semua gara-gara si pria dingin yang membuatku sampai ingin bekerja di tempat seperti ini."


Lyra mengerutkan alisnya. "Siapa yang kau maksud pria dingin itu?"


"Aku tak tahu dia siapa, yang ku ketahui hanyalah gedung perkantoran ini merupakan tempatnya bekerja."


Siapakah pria dingin yang di bayangkan Agni itu, sampai-sampai membuat Lyra mengingat-ingat setiap pria yang pernah di temui ataupun berpapasan dengannya di gedung perkatoran ini. Dan pria dingin yang Lyra ketahui hanyalah si menyebalkan Rigel Callisto.


"Apa yang kamu maksud itu pak Rigel?"


"Rigel? Memangnya dia siapa?" Tanya Agni mengerutkan alisnya.


"Dia merupakan pria terdingin di kantor. Mungkin saja pria yang kamu maksud adalah dia."


"Apa benar nama pria yang pernah ku temui itu bernama Rigel. Lalu seperti apa dia ketika bekerja di sini?" Tanya Agni tersenyum girang.


"Seperti yang kamu katakan. Dia merupakan pria dingin, selain dingin dia juga merupakan pria paling menyebalkan. Apa kamu yakin sangat menyukai pria seperti dia."


"Bila memang dia yang pernah ku temui. Tentu saja aku akan menyukainya, karena dia merupakan pria paling tampan yang pernah ku temui selama ini. Dan dia juga merupakan pria yang sudah membuat hatiku mengebu-ngebu sampai saat ini."


Bila memang benar pria yang di sukai Agni adalah Rigel, berarti sudah dua sahabat Lyra di butakan oleh ketampanan CEO yang menurut Lyra menyebalkan itu. Lyra sampai menggelengkan kepalanya, mengapa bisa kedua sahabatnya itu menyukai pria yang menurut Lyra bukanlah orang yang pantas untuk di sukai


Tak lama Lyra berbincang, tiba-tiba saja sekertaris dari Rigel datang menghampiri.


"Hm, apa kamu sudah membuatkan sarapan untuk pak Rigel. Soalnya sedari tadi beliau sudah menunggu."


"Hm, maaf saya lupa menyiapkannya. Bisa sampaikan kepadanya, saya minta maaf dan secepatnya saya akan membawakannya sarapan."


Lalu tiba-tiba saja Agni berdiri lalu mengulurkan tangannya kepada Ryan.


"Kita pernah bertemu sebelumnya, dan kita belum sempat berkenalan. Pekernalkan nama saya Agni, apa benar namamu Rigel."


"Dia bukanlah pak Rigel, dia Ryan yang bekerja sebagai sekertarisnya pak Rigel," lontar Lyra mengerenyitkan keningnya.


Tanpa menjabat tangan Agni, Ryan berdecik. "Ck, kamu si perempuan yang lupa membawa uang di toserba."


"Iya, saya orang yang lupa membawa uang. Saya ingin mengembalikan uang kepada anda, tapi anda terus menolak saya memberikan nomor ponsel anda."


"Tunggu...tunggu, apa yang kalian maksud? Tanya Lyra terheran-heran.


Ryan menghela sembari melipat lengannya di atas perut. "Tanyakan saja padanya. Oh ya, kamu harus secepatnya membuatkan pak Rigel sarapan bila tak ingin membuatnya marah dan membuatmu kehilangan pekerjaan." Ryan lalu beranjak pergi meninggalkan dapur.


Dengan datangnya Ryan, akhirnya Lyra bisa tahu siapa pria yang sudah menggerak putri dari seorang pengusaha kaya itu bekerja di kafetaria.


"Apa dia orang yang kamu maksud?" Tanya Lyra.


Agni mengangguk. "Iya, dia orangnya."


"Untung saja dia bukanlah orang yang ku pikirkan. Aku akan membuatkan sarapan terlebih dahulu untuk pak Rigel, setelah selesai aku ingin mendengar ceritamu." Lyra beranjak melangkahkan kakinya.


Karena terburu-buru Lyra hanya bisa membuatkan sarapan yang mudah di buat sekaligus cepat selesainya. Lyra membuatkan nasi goreng telur mata sapi untuk Rigel.


"Maaf sudah membuat anda menunggu," ucap Lyra meletakan piring dan gelas di atas meja Rigel.


Rigel menghela. "Aku sengaja tak sarapan di rumah karena ingin makan masakanmu. Tapi kamu malah telat membawakan ku sarapan."


"Hm maaf, tadi saya lupa harus membuatkan sarapan untuk anda."


"Sudah berapa hari kamu bekerja di sini, mengapa bisa lupa. Hanya hari ini saja aku maafkan, bila terulang kembali aku tak bisa lagi memaafkanmu."


Rigel lalu segera mencicipi nasi goreng yang si buat Lyra tersebut. Dan seperti biasa, sebelum Rigel menghabiskan makanannya, Lyra duduk menunggu Rigel makan.


"Oh ya, hari ini Jay memintamu untuk datang ke rumah," ucap Rigel sembari menguyah.


"Hm, bukankah hari ini anda lembur. Berarti saya harus menyiapkan makan malam untuk anda. Dan kemungkinan saya pergi ke rumah anda sedikit kemalaman."


"Kamu tak perlu membuatkanku makan malam. Pukul lima sore aku akan menyuruh Ryan untuk mengantarmu ke rumahku."


Pergi ke rumah Rigel, berarti Lyra akan mulai bersandiwara kembali sebagai calon ibu dari keponakannya itu. Mau tak mau Lyra harus pergi untuk menuntaskan pekerjaan konyolnya itu, biarpun ia masih merasa cemas setelah beberapa hari ini terdengar gosip perempuan misterius yang menumpangi mobil Rigel.


"Semoga saja kali ini tak ada yang tahu bila aku pergi ke rumahnya," batin Lyra.


Selesai Rigel makan, Lyra lalu beranjak dari ruangan sembari membawa piring kotor bekas makan Rigel. Kebetulan saat keluar dari ruangan, nampak Ryan tengah duduk di mejanya. Dan kebetulan juga Lyra ingin bertanya mengenai pertemuan sahabatnya dengan sekertaris dari Rigel itu.


"Hm maaf, ada yang saya ingin tanyakan?"


Ryan lalu mendongkak. "Apa yang ingin kau tanyakan padaku?"


"Soal Agni, mengapa bisa anda bertemu dengannya. Lalu, mengapa anda seperti membenci teman saya itu."


"Oh jadi dia temanmu. Apa kamu yang sudah membuatnya melamar pekerjaan di sini."


"Saya tidak menyarankannya bekerja di sini. Mana bisa saya menyarankan pekerjaan kepada anak seorang pengusaha seperti Agni."


"Hah, pantas saja saat pertama kali bertemu tampilannya seperti orang kaya, ternyata dia merupakan anak dari seorang pengusaha." Ryan menghela nafasnya yang seakan-akan ia tengah merasa kesal. "Dia pasti bekerja di sini, karena ingin mengikutiku."


"Memangnya apa yang telah dia perbuat sampai membuat anda kesal seperti ini?"


"Kami bertemu di jalan, saat itu pakaianku kecipratan air kotor oleh mobilnya. Dia lalu menahanku pergi dan membelikanku tisu di toserba. Tapi saat akan membayarnya dia lupa tak membawa uang, jadi saya yang membayarnya."


"Mengapa anda bisa sekesal itu kepada teman saya. Bukankah hanya tisu saja tak banyak mengeluarkan banyak uang, bahkan teman saya akan mengganti rugi kepada anda."


Ryan menghela. "Bukan itu yang membuatku kesal. Tapi setelah aku membayar tisu yang di belinya, dia terus menahanku karena ingin membersihkan cipratan air di pakaianku. Sementara aku terburu-buru harus pergi ke kantor karena pak Rigel menghubungiku. Karena dia terus menahanku, aku jadi terkena marah oleh pak Rigel. Dan setelah pulang dari kantor, dia ternyata mengikutiku sampai harus menungguku di depan kantor. Dia terus memaksaku memberikan nomor ponselku padanya, hanya karena ingin mengganti rugi."


"Mengapa tak di berikan saja nomor ponselmu."


"Aku tak memberinya nomor ponsel, karena aku tak ingin dia mengganti rugi. Hanya membayar tisu yang harganya sepuluh ribu saja, aku tak mempersalahkannya. Tapi dia terus mengikutiku sampai ke rumah. Dia bahkan sampai membuatku malu di depan tetangga, karena dia terus berteriak meminta nomor ponselku."