My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
19. Si Tampan Rigel



Baru beberapa menit Lyra merasa lega, karena biarpun satu ranjang Lyra tak berbaring di sebelah Rigel. Jayden malah mengambil inisiatif untuk membuat Rigel berpegang tangan dengan Lyra. Hingga membuat Lyra tak nyaman untuk tertidur. Apa lagi tangan Rigel yang memegangnya sangat erat, membuat Lyra tak bisa melepaskan tangannya walaupun ia berusaha kuat untuk melepasnya.


"Jay sudah tertidur, tak bisakah kamu melepas tangannku," bisik Lyra.


"Tak bisa. Bagaimana bila sampai ia terbangun dan menangis kembali," ucap Rigel tanpa membuka kedua matanya.


Tangan Rigel tak mau lepas dari tangan Lyra, sampai membuat Lyra tak bisa tertidur dengan nyenyaknya. Matanya memang sudah lelah tapi tak bisa sedikit pun Lyra terlelap dalam tidurnya. Kamar yang masih terasa asing serta tidur yang tak biasanya bersama orang, bagaimana bisa ia terlelap dari tidurnya. Terlebih lagi Rigel tak mau melepaskan tangannya.


Hingga sudah satu jam tangan Rigel menggenggam, Lyra pun membuka kedua matanya. Nampak Rigel tengah tertidur menghadap ke arah Lyra. Biarpun sedikit gelap, namun wajah Rigel nampak jelas terlihat. Di dalam satu ranjang hanya Lyralah yang masih terbangun, menatap Rigel dan keponakannya yang sangat pulas tertidur. Namun entah mengapa pandangan Lyra tak sedikit pun teralihkan menatap Rigel.


Satu menit, dua menit, hingga seterus matanya masih saja tertuju menatap wajah Rigel. Bulu mata yang lentik, wajah yang kecil, serta kulit putih yang bersih, wajah tampan dari Rigel mampu membuat Lyra sedikit terpesona memadanginya.


"Deg...


Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang menyaksikan si tampan yang tertidur pulas dengan pesonanya itu.


"Apa dia memang setampan itu. Mengapa aku tak pernah menyadarinya," gumam Lyra di batinnya.


Terlalu lama Lyra memandanginya hingga membuatnya tergerak untuk menyentuh wajah Rigel. Tangannya perlahan terlepas dari genggamannya, dan mulai bergerak ke arah wajah pria yang membuatnya terpesona. Namun, saat tangannya akan mulai menyentuh, tiba-tiba saja Rigel berbalik memunggungi Lyra.


Lyra mengepalkan tanganya, lalu bergerak ke posisi semula. "Ada apa denganku, apa aku sudah gila. Mengapa bisa jantung ini berdebar dengan cepat ketika menatapnya," batin Lyra.


Degupan jantungnya memang sudah tak karuan bila terus membayangkan wajah tampan dari Rigel. Lyra pun berbalik arah dari baringannya, dan dengan cepat ia kembali menutup kedua matanya.


Perlahan rasa kantuknya mulai memberatkan kedua matanya, hingga akhirnya Lyra pun dapat terlelap tidur.


...****************...


Entah sudah berapa lama Lyra tertidur, hingga sorot cahaya dari balik jendela menyoroti wajahnya. Membuat kening berserta matanya mengerenyit, Lyra pun membuka setengah matanya. Yang entah mengapa saat Lyra terbangun dari tidurnya, rasa nyaman dan hangat seperti tengah di peluk sangat di rasanya. Bantal memang sebagai penyangga, tapi mengapa penyangga di bawah kepalanya tampak tak seluas bantal. Seketika Lyra pun membuka lebar kedua matanya. Lyra tersentak kaget saat tahu bahwa rasa hangat dan nyaman itu memanglah sebuah pelukan, serta penyangga yang berada di bawah kepalanya bukanlah sebuah bantal melainkan lengan dari Rigel.


"Apa kau sudah bangun?" Tanya Rigel tersenyum manis menatap Lyra.


Lyra menelan salivanya. " Dimana Jay? Apa kamu sengaja mengambil kesempatan di saat ku tertidur."


Rigel tergelak. "Aku memang memelukmu, tapi kamu yang lebih dulu memeluk. Hingga saat akan ku lepas, kamu tak mau melepaskannya."


Seketika Lyra melepaskan diri dari pelukan Rigel.


"Maaf, aku pikir kamulah yang sengaja melakukannya. Aku terbiasa tidur sendiri, dan mana mungkin aku memeluk lebih dulu. Bila memang aku memeluk lebih dulu, berarti aku merasa bahwa yang di sebelahku itu Jay. Jadi jangan salah paham terhadapku."


"Ck," Rigel berdecik sembari memiringkan senyumnya. "Lalu, apa aku akan salah paham bila kamu terus mengigau dengan menyebutkan namaku sembari memuji ketampananku terus-menerus."


"Aku tak percaya, kamu jangan mengada-ngada. Mana mungkin aku mengigau seperti itu."


"Kamu tidak akan menyadarinya, karena kamu tertidur pulas. Apa perlu ku panggilkan Jay, karena Jay merupakan orang yang juga mendengarmu mengigau."


"Boleh, panggilkan saja dia. Kamu tahu bila anak kecil merupakan makhluk yang paling jujur, dia tak mungkin berbohong. Jadi kamu tak usah malu bila nanti Jay berkata yang sebenarnya."


Seketika Rigel mencubit pipi Lyra. "Aku yakin bukan aku yang akan malu." Rigel pun terburu-buru beringsut dari tempat tidur.


"Ish," Lyra berdecak kesal sembari mengusap pipinya. "Apa perlu mencubitku terlebih dahulu sebelum beranjak, menyebalkan."


Tak lama Rigel pergi, ia pun kembali ke kamar sembari menuntun keponakan lucunya tersebut.


Lyra pun menghampiri Jayden, ia lalu berjongkok untuk menyamai tinggi dari Jayden.


"Jay, apa benar mamah Lyra mengigau?"


Jayden mengangguk. "Benar."


"Mamah Lyra bilang kalau papahnya Jay tampan, dan mamah Lyra bilang begitu terus-terusan."


Seketika Lyra menelan salivanya. "Jay jangan berbohong, berbohong itu tidak baik."


Jayden menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jay tidak berbohong. Karena kata bu guru dan kata papah, Jay tidak boleh berbohong. Kalau berbohong nanti dosa."


Sontak raut wajah Lyra pun memerah, ia pun memalingkan wajahnya dari Jayden dan juga Rigel.


"Benarkah?"


"Tentu saja benar, Jay sangat jujur. Jay tidak berbohong sama mamah Lyra."


Melihat Lyra yang merasa malu membuat Rigel puas melihatnya. Rigel tak bisa menahan tawanya sampai-sampai membuat Lyra kesal.


"Katamu tadi, anak kecil merupakan makhluk yang paling jujur. Sekarang Jay sudah jujur padamu, jadi kamu tak perlu mengelak bila kamu memang terpesona oleh ketampananku."


Bila Rigel sangat puas tertawa, lain halnya dengan Lyra yang saat ini memalingkan wajahnya dari Jayden dan Rigel. Wajahnya sudah benar-benar memerah, Rigel tak hentinya meledek dan mentertawai Lyra. Hingga membuat Lyra masih diam berjongkok tanpa beringsut sedikitpun.


Rigel lalu menarik lengannya dan membuat Lyra berdiri dari jongkoknya. "Sayang, kamu tak perlu malu seperti ini. Bukankah kamu mau berpacaran denganku karena aku ini tampan. Aku pun sudah terbiasa di bilang tampan olehmu."


"Terbiasa apa maksudmu? Sejak kapan aku berkata tampan kepadamu?"


Seketika Rigel dengan cepat mengecup bibir Lyra. "Sejak tadi kau mengigau."


Sontak Lyra pun terkejut atas tindakan Rigel tersebut. "Apa yang kau lakukan di depan anak kecil." Lyra lalu menatap ke arah Jayden. "Jay perbuatan papahmu tadi jangan di tiru ya, itu tidak baik."


"Menurut Jay itu baik. Karena mengecup, artinya papah memberikan kasih sayang untuk mamah Lyra."


Seketika Lyra memukul lengan Rigel. "Apa yang sudah kamu ajarkan kepada anak kecil."


Rigel tergelak. "Aku tak mengajarkan apapaun kepadanya. Mungkin saja dia tahu bila aku sangat menyayangimu."


"Ish,"Lyra berdecak kesal, ia lalu menarik Jayden keluar dari kamar Rigel. "Jay belum sarapan kan, bagaimana bila mamah Lyra buatkan sarapan untukmu."


"Jay belum sarapan. Apa mamah Lyra akan membuatkan makanan enak untuk Jay," ucap Jayden terseyum girang.


"Tentu saja, mamah Lyra akan buatkan Jay makanan enak."


Lyra memasak di dapur, sementara Jayden dan Rigel menunggunya di meja makan. Lemari es di rumah Rigel penuh dengan bahan masakan, tapi Lyra malah memutuskan memasak nasi goreng telur mata sapi andalannya. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, nasi goreng andalan Lyra sudah siap di sajikan.


"Silahkan di nikmati," ucap Lyra meletakan piring berisi nasi goreng di atas meja makan.


"Apa membuat nasi goreng adalah keahliamu," ucap Rigel menggeleng.


"Tentu saja ini adalah keahlianku. Ayah dan ibuku sangat menyukai nasi goreng buatanku, bahkan sahabatku juga sangat menyukainya."


"Sahabatmu yang mana?"


"Tentu saja Axel, tiap kali aku buatkan nasi goreng dia selalu memuju nasi goreng buatanku. Tak seperti orang yang di depanku ini," ucap Lyra menyindir Rigel.


Seketika raut wajah Rigel nampak kesal, ia lalu meletakan sendoknya di atas piring.


"Kamu tahu, bila nasi goreng buatanmu sangat hambar dan sangat beminyak. Apa orang-orang yang mencicipinya memiliki kelainan di lidahnya." Rigel lalu berdiri dari duduknya. "Bila kalian sudah makan, cepatlah mandi kita harus segera pergi."


Tanpa menghabiskan nasi gorengnya, Rigel beranjak dari meja makan begitu saja dengan raut wajahnya yang di tekuk kesal.


"Ada apa dengannya?" Gerutu Lyra kesal.