My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
18. Aku Tak Bisa Melupakannya



Benar-benar sangatlah canggung dan tak biasa Lyra bersikap romantis kepada Rigel. Terlebih lagi Rigel merupakan orang yang sangat tidak di sukainya. Mendengar Rigel memanggilnya sayang saja sudah membuat Lyra merasa ingin muntah. Hanya berperan sebagai ibu dari keponakannya, Lyra bisa terima. Tapi, bila berperan sebagai kekasih dari Rigel Callisto, itu sangatlah membuat Lyra tak nyaman.


Tapi mau bagaimana lagi, ini merupakan pekerjaan Lyra, dan memang seharusnya Lyra melakukannya sebaik mungkin. Bersikap sealami mungkin dan sebisa mungkin Lyra membayangkan bahwa si pria paling menyebalkan itu adalah kekasih sungguhannya.


Semalaman Lyra memani Jayden di kamarnya, anak yang sangat membutuh kasih sayang dari seorang ibu itu, merasa nyaman ketika Lyra menemaninya. Berperan sebagai ibunya Jayden, ternyata membuat Lyra senang.


Menjadi seorang ibu setelah menikah adalah harapan Lyra, ketika untuk pertama kalinya ia di lamar oleh kekasihnya. Namun sayangnya harapan itu harus pupus, ketika kekasihnya lebih memilih pilihan lain. Tapi berkat Jayden, Lyra dapat merasakan seperti apa peran dari seorang ibu. Hanya bertemu dua kali saja, tapi rasanya sudah bertahun-tahun Lyra mengenal sosok Jayden. Yang di pikir Lyra pekerjaan sandiwara ini akan memberatkannya, namun nyatanya malah membuatnya merasa senang dan merasa nyaman.


Lelah setelah di ajak Lyra bermain, keponakan Rigel Callisto itu tertidur pulas dengan kepala yang bersandar di pangkuan Lyra. Sembari mengusap lembut kepala Jayden, tak hentinya Lyra memandanginya. Namun, entah mengapa ingatan Lyra tentang pernikahan dan mimpinya yang sirna terlintas dalam pikirannya. Sampai-sampai membuat Lyra menitikan air matanya. Biarpun ia benci terhadap Daniel, bukan berarti Lyra dapat dengan mudahnya melupakan pria yang telah menghianatinya itu. Empat tahun menjalin hubungan bukanlah waktu yang sebentar. Dan menata kembali hatinya setelah berpisah adalah hal tersulit bagi Lyra.


Hingga tak lama Lyra menitikan air matanya, seorang pelayan tiba-tiba saja mengetuk pintu kamar. Lyra pun segera menghapus air mata yang tengah mengalir membasahi kedua pipinya tersebut.


"Tunggu sebentar," sahut Lyra yang langsung saja membaringkan Jay ke rajang. Setelah itu ia pun bergegas membuka pintu kamar.


"Maaf bu, saya sudah menyiapkan baju ganti yang sudah saya simpan di atas tempat tidur di kamar yang akan di tempati bu Lyra. Bila bu Lyra ingin berganti baju atau beristirahat, ibu bisa pergi di ke kamar yang berada di lantai bawah. Yang letaknya berada di ruang tengah," pungkas pelayan yang datang ke kamar Jayden.


"Baik, terima kasih."


Sebelum bergegas pergi, terlebih dahalu Lyra menyelimuti Jay.


"Tidur yang nyenyak, Jay." Lyra mengecup lembut kening Jay.


Setelah itu Lyra pun beranjak keluar dari kamar Jayden. Lyra berjalan menuju ke ruang tengah untuk pergi ke kamar yang telah di siapkan pelayan. Namun saat tiba di ruang tengah, di sana terdapat dua kamar yang berdampingan.


"Sebenarnya kamarku ini yang sebelah mana," gumam Lyra kebingungan.


Ruang tengah nampak sepi, tak ada satu pun pelayan yang berada di sana. Rumah yang terbilang sangat luas, membuat Lyra merasa malas bila harus mencari pelayan untuk bertanya tentang kamar yang akan di tempatinya itu. Lyra pun memilih untuk mengencek salah satu dari kamar tersebut. Lyra memilih masuk ke dalam kamar yang berada di posisi sebelah kiri.


Kamar nampak sedikit gelap, karena cahaya yang menerangi kamar tersebut hanyalah sebuah lampu tidur. Bila ingin memastikan bahwa kamar itu merupakan kamar untuk di tempatinya, Lyra pun harus mengecek baju ganti yang di bilang pelayan berada di atas tempat tidur.


Lyra melangkah mendekat ke arah tempat tidur di kamar tersebut. Setelah di cek, ternyata baju ganti tak nampak di atas tempat tidur. Lyra pun berbalik, namun tiba-tiba saja ia mendapati Rigel tengah berdiri dengan kondisi bertelanjang dada.


"Sedang apa kamu berada di sini, Lyra?" Tanya Rigel melipat lengannya di atas perut.


Spontan Lyra pun langsung saja menutup kedua matanya dengan telapak tangan.


"Maaf, saya kira ini kamar untuk saya."


Tiba-tiba saja terdengar suara pintu kamar yang tertutup, sontak Lyra pun melepas kedua tangannya dari wajah.


"Kenapa pintunya di tutup," ucap Lyra panik. Matanya terbuka lebar dan Rigel masih saja bertelanjang dada. Lyra kembali menutup kedua matanya.


"Kenapa pak Rigel masih tak mengenakan pakaian. Apa pak Rigel sengaja ingin menunjukannya kepada saya."


Seketika Rigel menarik tubuh Lyra dan menjatuhkan diri di atas tempat tidur.


"Kenapa kamu menutup mata, bukankah kita sudah saling melihat satu sama lain. Kamu tak perlu malu bila ingin melihat tubuh seksiku."


"Apa pak Rigel sudah gila, mana mau saya melihat anda seperti ini."


Rigel meraih kedua tangan Lyra, lalu melepaskannya dari wajah wanita yang menjadi kekasih pura-puranya itu.


Lyra menelan salivanya. "Aku sedikit tak mengingatnya. Jadi lebih baik pak Rigel lupakan dan jangan pernah mengungkitnya lagi."


"Bukankah sudah ku bilang jangan berbicara formal, ini rumahku bukan di kantor." Rigel meraih kedua tangan Lyra, lalu mengenggam kuat di atas kepala wanita yang tengah berbaring di bawah tubuhnya.


"A..pa yang akan kau lakukan?" Tanya Lyra bernada gugup.


Rigel tersenyum lembar menatap Lyra. "Mengapa kau ingin sekali membuatku lupa tentang kejadian di hotel. Di uang yang kau berikan padaku, kau juga menulis untuk melupakan itu. Apa kau tahu bila hati dan pikiranku berkecambuk karena kau. Rigel menghela nafasnya. " Tak hanya perempuan saja yang ingin meminta pertanggung jawaban setelah tidur bersama, tapi aku juga ingin kau bertanggung jawab terhadapku."


"Mengapa aku harus bertanggung jawab, setiap perempuan dan laki-laki tidur bersama, bukankah yang paling di rugikan perempuan. Setelah tidur bersama, perempuan mungkin akan meninggalkan bekas, contohnya dia bisa saja hamil."


Rigel tergelak. "Apa kau tahu, perempuan juga bisa meninggalkan bekas. Contohnya ada pada bagian dada sebelah kiriku. Dadaku tak hentinya berdegup kencang bila mengingat saat kita di hotel." Rigel perlahan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Lyra. "Aku akan membantumu mengingatnya kembali."


Spontan Lyra pun kembali menutup kedua matanya. Namun sayangnya, saat bibir Rigel akan mendaratkan diri, tiba-tiba saja Jayden masuk ke kamar.


"Apa yang akan papah lakukan kepada mamah Lyra. Bila sampai mamah Lyra tertindih, tubuhnya akan kesakitan."


Sontak Rigel pun langsung saja beringsut dari tempat tidur. "Barusan papah sedang bercanda. Kamu tahu bila papah sangat kuat, papah tak mungkin menindih mamah Lyra. Karena papah bisa menahannya," ucapnya bernada gugup.


Lyra berdiri lalu berjalan menghampiri Jayden. "Jay sedang apa di sini? Bukankah Jay seharusnya tidur."


"Jay terbangun karena mamah Lyra tak ada di samping Jay. Dan Jay bertanya kepada pelayan, bila kamar mamah Lyra berada di sebelah kamarnya papah. Jay pergi ke kamarnya mamah Lyra tapi tak ada, jadi Jay mengecek ke kamarnya papah Rigel." Jayden lalu meraih tangan Lyra. "Malam ini Jay ingin tidur bersama mamah dan papah?"


Lyra menelan salivannya. "I..tu tidak mungkin. Bila ingin tidur bersama, Jay harus memilih salah satu dari kami. Jay mau tidur dengan mamah Lyra atau dengan papahnya Jay."


Jayden menggeleng cepat. "Jay tak ingin memilih salah satunya, Jay maunya tidur bertiga."


"Hm, kita tak bisa tidur bertiga karena mamah Lyra sama papah bukan muhrim."


Seketika Jayden menangis kencang. "Hiks... Jay maunya tidur bertiga. Temannya Jay di sekolah selalu pamer, bila dirinya selalu tidur bertiga dengan mamah sama papahnya. Masa Jay tidak bisa tidur bersama mamah dan papah."


Rigel tiba-tiba saja merangkul pundak Lyra. "Hari ini kita akan tidur bertiga, jadi Jay jangan menangis. Bila Jay menangis, kamu bukanlah laki-laki jantan."


"Bernakah," ucap Jay menghentikan tangisannya.


Rigel menggangguk. "Tentu saja."


Lyra mendekatkan mulutnya ke arah telinga Rigel "Aku tak ingin tidur bersamamu."


"Menurutlah, bila tak ingin anak kita menangis," bisik Rigel.


Lyra menghela, mau tak mau Lyra pun harus tidur bersama Rigel dan Jayden dalam satu ranjang dan selimut yang sama. Biarpun Lyra merasa tak nyaman, setidaknya Jayden tidur di tengah-tengah mereka. Dan untuk membuat Jayden kembali tertidur, Lyra berbaring dengan satu tangan yang berada di atas tubuh Jayden.


Seketika Jayden menarik tangan Rigel, dan membuatnya berpegang tangan dengan Lyra di atas tubuhnya.


"Bukankah begini jauh lebih baik," ucap Jay tersenyum


Rigel menelan salivannya. "Iya, begini memang jauh lebih baik."