My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
52. Momen Indah Untuk Rigel Dan Lyra



Esoknya Lyra pergi menemui Sandy seorang diri, dengan wajahnya yang ketus Lyra duduk dengan posisi tegap.


"Kembalikan Jayden pada Rigel, karena saya akan segera mengakhiri hubungan saya dengan Rigel."


Sandy memiringkan senyumnya. "Tentu saja saya akan mengembalikan Jayden pada anak saya. Tapi bila kamu dan anak saya sudah benar-benar berpisah."


"Saya akan pastikan bahwa saya akan berpisah dengan anak bapak. Jadi pak Sandy tak perlu khawatir dan tak perlu berlama-lama membiarkan cucu anda terpisah jauh dari pamannya. Bukankah anda terlalu kejam membiarkan Jayden dan Rigel menderita."


Sandy tergelak. "Saya kejam? Justru kamulah yang kejam. Kamu sudah membuat hubunganku dengan Rigel rusak, hingga membuatku bertindak jauh agar dia bisa berpikir panjang bahwa hubungannya denganmu adalah hubungan yang salah."


Lyra menghela kesal. "Akan saya pastikan bahwa besok hubungan kami telah berakhir. Jadi mulai hari ini bawa Jayden kembali pada Rigel. Jika anda tidak percaya bila besok saya belum mengakhiri hubungan saya dengan Rigel, maka anda boleh merebut kembali Jayden dari Rigel. Dan saya akan kasih bocoran tentang jumlah orang yang akan di sewa Rigel bila nanti Jayden sudah kembali. Agar anda dapat dengan mudah mengambil Jayden lagi, apabila saya menghianati perkataan saya ini."


Lyra pun berdiri dari tempat duduknya. "Bila memang anda merupakan seorang kakek dan ayah yang baik, jangan membiarkan Jayden terlalu lama berada jauh dari Rigel." Lyra pun beranjak pergi meninggalkan rumah ayah dari kekasihnya tersebut.


Setelah keluar dari rumah Sandy, akhirnya Lyra dapat bernafas lega. Tak banyak mengeluarkan tenaga, Lyra hanya duduk sembari mengobrol tapi nafasnya ngos-ngosan seperti habis berlarian. Mungkin karena terlalu tegang hingga membuatnya merasa cemas dan tak dapat mengatur nafasnya dengan baik. Bahkan setelah keluar dari rumah pria yang paling mengerikan itu, Lyra masih saja merasakan kecemasan. Takut bila tadi ia salah bicara dan takut bila sampai Sandy tak pernah mengembalikan Jayden kepada Rigel. Karena setelah putus, mungkin Rigel tetap tak akan mau di jodohkan dengan Agni. Begitu pun dengan Agni yang juga sama menentang perjodohannya dengan Rigel. Tapi setidaknya beban Rigel akan berkurang bila hubungannya dengan Lyra berakhir.


Sebelum esok Lyra mengakhiri hubungannya, Lyra ingin membuat sebuah kenangan indah di hari terakhirnya bersama Rigel. Kebetulan hari ini merupakan akhir pekan dan Rigel dapat libur dari pekerjaannya. Biarpun nanti Rigel akan menolak bila di ajak pergi, karena akhir pekan merupakan hari yang sibuk untuk Rigel mencari tahu tentang keberadaan Jayden. Lyra akan memaksanya untuk pergi. Karena kapan lagi Rigel akan pergi berkencan dengan Lyra atau kapan lagi Rigel akan bertemu dengan Lyra setelah mereka berpisah. Karena setelah berpisah, Lyra juga akan keluar dari pekerjaannya.


Sehabis dari rumah Sandy, Lyra langsung saja beranjak pergi ke rumah Rigel. Kebetulan sekali, sesampainya di sana Rigel masih berada di rumahnya.


Rigel tersenyum girang saat Lyra datang ke rumahnya itu. "Aku khawatir sekali kamu masih marah padaku." Rigel mendekap erat tubuh kekasihnya tersebut. "Kamu sudah tak marah kan, Lyra."


Lyra mendongkak sembari tersenyum menatap Rigel. "Tentu saja aku tak marah. Aku datang kesini karena ingin mengajakmu pergi berkencan."


"Hm, tapi hari ini aku akan pergi ke singapur. Aku akan mencari Jayden di rumah tanteku yang tinggal di sana. Maaf hari ini aku tak dapat pergi berkencan denganmu."


Lyra menghela. "Apa kamu sudah menghubungi tantemu itu lewat telepon?"


"Aku sudah menghubunginya dan bertanya tentang keberadaan Jayden di sana. Dia bilang tidak ada, tapi aku tak percaya karena bisa saja dia bekerja sama dengan ayahku untuk tak memberitahuku tentang keberadaan Jayden di sana. Oleh sebab itu aku harus memastikannya kesana."


"Kamu tak perlu pergi. Bukankah kamu sudah menyuruh orang untuk mencarinya. Kamu bisa menyuruh orang untuk pergi kesana."


Lyra melepaskan pelukannya dari Rigel. "Hanya untuk hari ini saja kamu pergi bersamaku. Kamu tahu kita sudah lama tidak menikmati waktu berdua." Lyra lalu meraih kedua tangan Rigel sembari menitikan air matanya. "Kumohon hanya hari ini saja kamu pergi bersamaku."


"Hey, kenapa menangis?" Rigel menyeka bulir air yang tengah berjatuhan itu. "Aku janji akan mencari waktu yang pas untuk pergi berkencan, tapi tidak hari ini."


"Hanya hari ini saja, kumohon. Setelah hari ini kamu pergi denganku, aku tak akan lagi memaksamu pergi berkencan."


Rigel menghela, ia sudah tak bisa lagi menolak ajakannya bila melihat kekasihnya tersebut memohon sembari menangis. Akhirnya Rigel pun mau pergi berkencan dengan kekasihnya tersebut. Walau ia tak tahu bahwa hari ini merupakan hari terakhir ia pergi berkencan dengan wanita yang sudah sangat ia cintai.


Mereka pergi ke berbagai tempat yang biasa di datangi orang-orang ketika di akhir pekan. Demi menciptakan momen terindah untuk dirinya dan Rigel. Lyra tersenyum setiap saat walau hatinya sangatlah bersedih dan ingin sekali menangis, tapi Lyra tahan sepajang waktu demi terciptanya momen indah untuk hari akhir bagi mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.


Selama bersama Lyra semua beban pikiran yang akhir-akhir ini Rigel rasakan hilang seketika. Rigel sangat bahagia ketika bersama Lyra. Sudah lama Rigel tak tertawa dan tersenyum bahagia sejak di tinggal pergi Jayden, kini di rasanya kembali saat seharian penuh ini bersama dengan kekasihnya itu.


Lalu setelah berbagai tempat Lyra dan Rigel datangi, kini tempat terakhir yang mereka datangi adalah pantai. Di mana pantai tersebut merupakan saksi mereka meresmikan hubungan.


Lyra tak bisa lagi membendung air matanya ketika ia mulai menginjakan kakinya di pasir dan ketika ia melihat derasnya ombak di sana. Lyra mengingat jelas setiap momen yang ia ciptakan bersama Rigel selama berpacaran. Di mulai dari Rigel menyatakan cintanya untuk pertama kali, dan di mana untuk pertama kalinya Lyra tahu bahwa Rigel sudah bertahun-tahun menyukainya. Dan untuk pertama kalinya juga Lyra tahu bila dirinya merupakan cinta pertama untuk Rigel, hingga saat-saat indah lainnya bersama Rigel.


Melihat Lyra yang menitikan air matanya, membuat Rigel pun panik ketika melihatnya. Rigel pun segera menyeka bulir air di kedua pipinya itu. "Kenapa kamu menangis, apa aku berbuat salah padamu?"


Lyra tersenyum manis menatap Rigel walau kedua matanya tak mau berhenti mengeluarkan bulir air. "Kamu tidak berbuat salah. Aku menangis karena bahagia. Karena seharian ini aku dapat bersamamu."


Rigel tergelak. "Dasar cengeng, ku pikir aku berbuat salah padamu."


Lalu seketika Lyra mengecup bibir Rigel. "Aku sungguh mencintaimu. Terima kasih sudah membuat momen indah bersamaku, dan aku sangat minta maaf bila sudah berbuat salah padamu."


Rigel tersenyum. "Kamu tak pernah berbuat salah padaku. Dan aku juga sangat mencintaimu, Lyra." Rigel lalu melingkari pinggang Lyra dan dengan perlahan bibirnya mulai mendekat ke arah bibir Lyra, hingga pada akhirnya ciuman pun terjadi.


Jika tangan Rigel melingkari pinggang Lyra, maka tangan Lyra melingkari tengkuk Rigel. Lyra juga membalas ciuman Rigel dengan mengikuti alur dari pergerakan bibir kekasihnya tersebut.


Hari ini merupakan hari terakhir mereka bersama dan juga hari terakhir mereka berciuman. Jika saat itu pantai adalah saksi mereka meresmikan hubungan, maka sekarang pantai adalah saksi terakhir mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Karena esok Lyra akan mengakhiri hubungannya bersama Rigel.