
Agni terus memohon sembari menangis, hingga sampai membuat Lyra tak bisa menolak permintaan Agni. Esok harinya, sepulang kerja Lyra langsung saja di bawa Agni ke apartemennya. Gaun mewah nan indah di berikan Agni untuk Lyra pakai. Gaun yang di kenakan Lyra merupakan gaun yang di pesan khusus oleh ibunya Agni. Awalnya gaun tersebut merupakan gaun yang akan di kenakan Agni ketika nanti ia bertemu dengan pria yang akan di jodohkannya itu. Namun, karena Lyra yang menggantikan posisinya, Agni memberikan gaun tersebut kepada Lyra tanpa sepengetahuan ibunya.
"Apa kau sudah menyiapkan misi untuk membuat pria yang di jodohkan denganku merasa jijik?" Tanya Agni sembari menata rambut cantik milik sahabatmya tersebut.
"Aku akan membuatnya merasa jijik padaku, misalnya berucap kasar atau makan pasta menggunakan tangan. Bukankah dia akan berpikir ulang untuk mau di jodohkan denganmu. Tapi, apa kau yakin aku akan membuatnya kesal. Biarpun aku yang melakukannya, tapi namamu yang akan kena imbasnya. Mungkin saja namamu akan benar-benar jelek di matanya."
"Aku tak peduli bila nanti namaku akan jelek di matanya. Asal jangan terkesan jelek di mata pria yang ku sukai.
"Maksudmu Ryan?"
Agni tersenyum."Tentu saja dia, siapa lagi kalau bukan dia yang ku sukai."
Dalam balutan gaun cantik dan riasan yang cukup memukau, Lyra pergi ke restoran yang sudah di reservasi pria yang akan di jodohkan dengan Agni. Saat Lyra datang, pria tersebut belum nampak hadir di meja yang sudah di reservasinya itu. Sementara Agni, ia duduk di meja kosong sembari memperhatikan Lyra dari dekat.
Sudah lima belas menit Lyra menunggu, pria tersebut belum nampak hadir. Untuk menghilangkan kejenuhannya, Lyra memainkan ponsel pintarnya. Lyra terlalu fokus dan asyik memainkan ponselnya, hingga menit ke dua puluh pria tersebut datang menghampiri Lyra sampai membuatnya tak sadar bahwa pria tersebut sedang berdiri di sampingnya.
"Apa benar anda merupakan putri bungsu dari pak Billy Sanjaya?"
Spontan Lyrapun mendongkak menatap pria yang tengah berdiri di samping mejanya itu. "Iya benar."
Lyra terkejut setelah menatap pria yang bertanya kepadanya itu. Ia sampai di buat tak menyangka dengan wajah yang sangat tak asing di lihatnya. Pria tersebut merupakan Ryan, sekertaris dari Rigel Callisto.
"Ryan, sedang apa kamu di sini?" Tanya Lyra terheran-heran.
Ryan duduk di kursi tempat Lyra berada. "Aku tak pernah tahu bila kamu merupakan putri bungsu dari presdir PT Sunrise. Setahuku kamu merupakan putri dari pemilik rumah makan sederhana di pinggiran kota." Ryan mengerutkan alisnya menatap Lyra. "Jadi sebenarnya di mana putri bungsu pak Billy?"
Begitupun dengan Agni yang juga sama terkejutnya setelah melihat pria yang datang ke meja tempat Lyra duduk merupakan Ryan. Agni kegirangan dan langsung saja berjalan menghampiri Ryan dan Lyra.
"Jika kamu yang akan di jodohkanku, aku tak perlu repot-repot menyuruh Lyra untuk menggantikanku." Agni tersenyum sembari mengulurkan tangannya kepada Ryan. "Perkenalkan aku Agni Sanjaya merupakan putri bungsu dari Billy sanjaya."
Ryan menghela lalu menjabat tangan Agni dengan raut wajahnya yang nampak masam. "Pantas saja saat pertama ku temui kamu tampak berbeda, ternyata kamu merupakan anak dari orang terpandang."
Lalu tiba-tiba saja Rigel datang dengan raut wajahnya yang nampak kesal. Rigel lalu menarik Lyra agar berdiri dari duduknya.
"Sedang apa kamu di sini?"
Lyra malah semakin terkejut dengan kedatangan Rigel yang secara tiba-tiba. Lyra sampai di buat kebingungan dengan situasi yang nampak terasa aneh ini. Ryan merupakam pria biasa yang menjabat sebagai sekertaris Rigel, bukankah terasa aneh bila dia merupakan pria yang di jodohkan dengan Agni. Lalu, mengapa bisa Rigel juga ikut hadir di restoran.
Lyra lalu melepaskan tangan Rigel dari lengannya. "Bukankah yang seharusnya bertanya itu aku, sedang apa kamu di sini?"
Tanpa terlebih dahulu menjawab pertanyaan dari Lyra, Rigel langsung saja menatap sinis Agni. "Jadi alasan kamu bekerja di tempatku itu, karena kamu ingin lebih dekat denganku. Maaf, sepertinya aku tak tertarik di jodohkan denganmu."
"Sepertinya anda salah paham. Bukan anda alasan saya mau bekerja di sana," ucap Agni yang juga sama kebingungannya dengan Lyra.
"Kamu tahu, bila banyak wanita yang mendekatiku. Mereka berbondong-bondong mendekatiku dengan berbagai alasan." Rigel memiringkan senyumnya. "Kamu rela bekerja di dapur hanya demi mendekatiku, padahal kamu merupakan putri dari orang terpandang dan pendidikanmu juga tinggi."
Agni menghela dengan kesal. "Asal anda tahu saja. Dari sekian banyaknya wanita yang mendekati anda, saya bukan salah satunya. Jadi anda tidak perlu percaya diri seperti itu."
"Aku sama sekali tidak percaya dengan ucapan busukmu itu. Jadi lebih baik kamu segera mengundurkan diri atau aku yang akan memecatmu." Rigel menatap Ryan. "Tolong antar pulang dia ke rumahnya." Lalu menarik keluar Lyra dari restoran tersebut.
Lyra tak menyangka bahwa pria yang akan di jodohkan Agni merupakan kekasih pura-puranya. Walaupun Rigel menolak keras perjodohannya, namun, entah mengapa hatinya sedikit sesak dan sakit saat tahu bahwa Rigellah pria yang di jodohkan dengan Agni.
"Apa kau tak lihat bila aku sangat tak menyukainnya. Tadinya aku tak berniat muncul, tapi karena kamu berada di sana akupun jadi menghampirimu."
"Aku menggantikan Agni untuk bertemu denganmu dan Ryan menggantikanmu untuk bertemu dengan Agni. Bukankah ini seperti takdir, apa kalian memang berjodoh."
Dengan cepat Rigel memeluk Lyra. "Dia adalah perempuan yang di pilih ayahku untuk di jodohkan denganku, tapi dia bukanlah perempuan yang bersemayam di hatiku. Bila tuhan memang mentakdirkanku dengannya, maka aku akan menolak keras takdir tersebut."
Lyra melepaskan tubuhnya dari pelukan Rigel. "Bisakah kamu mengantarku pulang sekarang.
Rigel mengangguk, lalu menuntun Lyra menuju ke tempat mobilnya di parkirkan. Selama perjalanan pulangnya, raut wajah Lyra nampak bersedih. Ia memalingkan wajahnya menatap jendela di sampingnya.
"Ehem." Rigel mendeham. "Aku akan membatalkan perjodohanku, jadi kamu tak perlu khawatir."
"Untuk apa aku khawatir, aku bukanlah kekasih resmimu. Dan aku juga tak memiliki perasaan terhadapmu." Lyra memaksakan senyumnya sembari menatap Rigel. "Apa aku terlihat seperti tengah bersedih."
Rigel menghela dengan raut wajahnya yang nampak di tekuk kesal. "Kamu memang sama sekali tak terlihat bersedih."
"Oh ya, kamu tak perlu memecat Agni. Karena alasan dia bekerja di kantormu, itu bukan karena kamu, tapi karena Ryan."
"Apa aku harus percaya. Dia merupakan perempuan yang jodohkan denganku, aku tak yakin bila alasan dia bekerja di kantor, itu karena Ryan."
"Aku sudah cukup lama mengenalnya. Aku sangat tahu dirinya dan aku juga percaya dengannya, jadi kamu tak perlu salah paham padanya."
"Baiklah, akan ku pikirkan kembali."
Sesampainya di rumah, Lyra langsung saja mendaratkan diri ke tempat tidurnya. Ia termenung menatap lampu di atas langit-langit kamarnya itu. Hingga tak lama, perlahan bulir air mulai berjatuhan dari kedua sudut matanya. Sosok Rigel terus saja terlintas di dalam pikirannya. Hingga sampai-sampai membuatnya berandai, bahwa orang yang di jodohkan Rigel adalah dirinya. Namun apa daya, status Lyra tak selevel dengan status Rigel yang merupakan anak dari seorang pengusaha kaya.
"Bukankah aku membencinya, mengapa dadaku terasa sesak saat mengingatnya," gumam Lyra di batinnya.
***
Esoknya ketika di kantor, seorang pria paruh baya datang ke dapur dan menghampiri Agni.
"Kamu Agni kan? Saya akan menyiapkan tempat kosong yang layak untuk kamu tempati selama bekerja di sini."
"Iya saya Agni, tapi maaf anda siapa ya?" Tanya Agni keheranan.
Pria paruh baya tersebut mengulurkan tanganya kepada Agni. "Saya Sandy Callisto, ayah dari pria yang akan kau nikahi."
Lyra merasa iri melihat Agni yang di datangi oleh ayah Rigel. Ia sampai di buat berandai kembali, bahwa dirinyalah yang seharusnya berada di posisi Agni. Berkenalan dengannya, lalu menjabat tangan calon mertuanya itu. Bila itu terus di pikirkan Lyra, dirinya akan terus merasa bersedih. Dan memang sudah waktunya untuk Lyra beranjak pergi dari dapur, karena sudah waktunya ia membawakan makan siang untuk Rigel.
"Barusan ayahmu datang menemui Agni, sepertinya dia ingin kenal dekat dengan calon menantunya," ucap Lyra sembari meletakan piring-piring yang di bawanya ke atas meja Rigel.
"Dia baru calon, bukan berarti akan menjadi menantunya. Dan sudah ku katakan bahwa aku akan menentang keras perjodohan itu," ucap Rigel kesal.
"Benarkah, apa itu akan berhasil."
"Kenapa kamu berucap seperti itu. Apa kamu suka bila aku di jodohkan dengannya, atau kamu bersedih karena aku di jodohkan dengannya?"