My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
33. Si Sombong Rigel



Karena kemarin adalah hari mereka meresmikan hubungan, maka hari ini adalah hari mereka menghabiskan waktu berkencan. Mereka pergi ke berbagai tempat yang pas untuk berkencan.


Namun, di tengah kencannya Lyra dan Rigel, mereka mendapati Agni tengah bersama Ryan. Ryan yang di kenal dingin dan angkuh hanya kepada Agni, bisa pergi berdua dengan perempuan yang paling di bencinya itu. Hingga membuat Lyra berspekulasi bila sahabat dan sekertaris dari kekasihnya itu tengah berkencan seperti hal dirinya.


"Apa perlu kita melakukan kencan ganda?" Ucap Lyra.


"Untuk apa kencan ganda dengan mereka." Rigel menggeleng cepat kepalanya. "Aku tidak mau, akan lebih baik bila kita hanya berdua saja. Kapan lagi kita bisa menikmati waktu berdua di tengah padatnya jadwal pekerjaanku."


"Bukankah kemarin kita seharian sudah menikmati waktu berdua, bahkan sampai saat ini aku belum pulang ke rumah."


"Kemarin kita tidak benar-benar menikmati waktu, karena sempat bertengkar. Jadi kemarin bukanlah hari di mana kita dapat puas menikmati waktu berduaan."


Lyra menggeleng. "Ku pikir kamu salah. Berkat kemarin kita bertengkar, kita dapat meresmikan hubungan kita. Bahkan setelah itu aku menginap bersamamu. Bukankah itu sudah cukup kita menikmati waktu berdua."


Rigel menghela. "Aku hanya ingin berdua saja denganmu. Tapi terserah kamu saja, aku akan menuruti kemauanmu," ucapnya di tekuk kesal.


Lyra pun langsung saja menarik Rigel untuk menghampiri Agni dan Ryan yang tengah duduk di kafe.


"Bolehkah kami ikut bergabung," ucap Lyra.


"Tentu saja." Agni memicingkan matanya menatap tangan Lyra dan Rigel yang tengah berpegangan tangan. "Apa ada yang salah dengan penglihatanku."


"Memang ada apa dengan penglihatanmu?" Tanya Lyra heran.


"Ada yang berbeda dengan kalian. Apa kalian sedang berakting atau memang ini bukanlah akting, karena hubungan kalian tampaklah nyata."


Astrid tersenyum. "Kami sudah meresmikan hubungan kami."


"Sudah kuduga jika kalian memang saling menyukai. Aku ikut senang mendengarnya."


Kini giliran Lyra yang memicingkan matanya menatap Agni dan Ryan. "Lalu, ada apa denganmu dan Ryan. Baru kali ini Ryan mau di ajak pergi denganmu."


"Bukan mau, tapi lebih jelasnya terpaksa. Apa kamu tahu bila temanmu ini sangatlah memalukan, berteriak di depan rumahku dan memaksaku untuk pergi dengannya. Bila aku tak pergi dengannya, mungkin saja aku akan kena tegur tetangga akibat ulahnya," imbuh Ryan dengan raut wajahnya yang kesal.


Rigel seketika tergelak mendengar apa yang di katakan sekertarisnya itu. "Itulah alasanku tak ingin di jodohkan dengan perempuan seperti dia. Kualitasnya jauh di bawah perempuan biasa." Dengan sombongnya Rigel memiringkan senyumnya. "Di didik dari keluarga beradab tapi hasilnya jadi wanita tak beradab."


"Cih." Agni sampai berdecak kesal mendegar hinaan dari pria yang di pilih orang tuanya untuk di jadikan suaminya itu. Agni menghela lalu membalas ucapan Rigel. "Sepertinya mulutmu juga perlu di didik. Pantas saja banyak sekali karyawan di kantor yang membencimu, ternyata mulutmu itu kurang di didik."


"Bukankah banyak wanita di kantorku yang berharap bisa bersanding denganku. Aku sering mendengar pujian-pujian yang mereka bicarakan dalam obrolannya. Bila para pria di kantor banyak yang membenciku, itu karena mereka iri terhadapku," ucap Rigel sembari melipat lengannya di atas perut.


Kesombongan Rigel benar-benar sudah membuat Lyra tak habis pikir. Lyra datang menghampiri Agni dan Ryan, bukan untuk membuat kekacauan tapi hanya ingin menikmati kencan ganda bersama sahabatnya itu. Terlebih lagi Lyra tak pernah melakukan kencan ganda dengan Agni, karena sahabatnya itu tak pernah sekalipun berpacaran. Lyra pikir bila dirinya akan membuat sebuah momen bagi persahabatannya dengan Agni, saling memamerkan pasangan ataupun berbagi cerita tentang pasangan. Karena untuk pertama kalinya Agni dapat pergi berkencan dengan pria walaupun hubungannya dengan Ryan masih belum terikat dalam hubungan sepasang kekasih. Tapi Lyra yakin bila Ryan tengah menyukai Agni, karena terlihat dari pandangannya yang seakan terpana melihat sahabatnya tersebut. Namun, Ryan masih terlalu gengsi bila harus mengungkapkannya.


"Apa kamu tak ingin segera menyatakan perasaanmu terhadap Agni."


"Apa aku terlihat pantas untuknya," ucap Ryan sembari menundukan kepalanya.


Agni lalu meraih tangan Ryan. "Tentu saja kamu pantas untukku. Oleh sebab itu aku menginginkanmu."


"Ck." Rigel berdecik. "Perempuan mengejar laki-laki, terlihat sangat murahan."


"Apa kamu sedang menyindirku?" Tanya Agni kesal.


"Lalu siapa lagi di sini yang tampak murahan. Mana mungkin kekasihku yang cantik ini murahan sepertimu."


Semakin di diamkan ucapan tajam Rigel terus saja telontar dari mulutnya. Dan akhirnya Lyra pun perlu bertindak agar adu argumen Agni dan kekasihnya itu tak semakin memburuk.


"Aku bukan merendahkannya, tapi hanya ingin membuatnya sadar. Bila tindakannya itu salah, karena tindakannya akan membuat pria merasa jijik. Bila sampai Ryan membencinya, bisa-bisa perempuan ini menyerah untuk mendapatkan Ryan. Dan bisa saja dia berusaha untuk tak membatalkan perjodohannya denganku."


Agni membuang nafasnya dengan suasana hatinya yang semakin kesal. "Bila aku tak bisa mendapatkannya, kamu bukanlah pilihanku. Sombong, menyebalkan, so tampan padahal tidak. Maaf, kamu bukan kiteria pria pilihanku, lebih baik aku tak menikah seumur hidup dari pada harus bersanding denganmu."


"Baguslah, memang seharusnya perempuan jelek sepertimu menjadi perawan tua. Jelek wajahnya dan jelek pula sikapnya."


Lyra menggeleng dan sekali lagi ia memukul lengan Rigel. "Apa bisa kamu berhenti merendahkannya." Lyra menghela. "Untung saja aku menyukaimu, bila saja aku tak menyukaimu mana mau aku menjadi kekasihmu."


Sembari mengelus lengannya, Rigel tersenyum menatap Lyra. "Tentu saja kamu pasti menyukaiku. Mana mungkin kamu tak menyukai pria tampan dan kaya sepertiku."


Lyra menghela. "Aku tahu kamu tampan dan kaya, tapi bisakah kamu berhenti memuji dirimu sendiri. Karena aku sangat jijik mendengarnya."


Kesombongan Rigel memang sudah di luar kendali, Agni dan Ryan sampai menggeleng setelah mendegar apa yang di ucapan Rigel tersebut. Bila Agni dan Ryan di buat menggeleng, lain halnya dengan Lyra yang sudah sangat malu di depan Agni dan Ryan akibat kesombongan kekasihnya tersebut.


Lalu di tengah obrolan mereka berempat, tiba-tiba saja Sandy Callisto datang menghampiri mereka.


"Sedang apa kalian di sini?" Seketika Sandy tersenyum menatap Agni dan Rigel. "Ayah senang kalian bisa bersama seperti ini. Apa perlu pertunangan kalian di percepat, atau perlu pernikahan saja yang di percepat."


Rigel menghela kesal. "Tidak perlu mempercepatnya, karena biar bagaimanapun aku dan Agni tak akan pernah mau bersanding. Lalu, ayah sedang apa di sini?"


"Aku habis membeli obat di apotek untuk Jayden dan kebetulan lewat kafe ini, sekalian membeli kopi."


Seketika Rigel dan Lyra pun panik setelah mendengar Sandy membelikan obat untuk Jayden.


"Membeli obat apa, Apa Jayden sakit?" Tanya Rigel.


"Dia hanya demam. Dan semalaman dia tak berhenti memanggil kata mamah. Bukankah Agni harus datang ke rumah untuk menjenguk Jayden, karena sepertinya dia menginginkan mamah barunya datang ke rumah."


"Aku rasa bukan Agni yang ingin dia temui." Rigel lalu terburu-buru beranjak sembari menarik tangan Lyra.


Ketika Rigel dan Lyra beranjak, di situ Sandy memaksa Agni untuk pergi ke rumah anak laki-laki kesayangannya itu. Mau tak mau Agni pun terpaksa ikut bersama Sandy ke rumah Rigel. Bukan hanya Agni saja yang ikut pergi, tapi Ryan pun ikut pergi.


Sesaat kemudian, mobil Ryan, Sandy, maupun Rigel datang saat bersamaan. Dan tepat saat Lyra turun dari mobil, Jayden berlari menghampiri Lyra.


"Kenapa mamah Lyra baru datang lagi ke rumah, Jay kangen sama mamah Lyra. Seharusnya mamah Lyra tinggal saja di rumah bersama Jay dan papah." Jayden seketika merengek sembari menarik-narik baju Rigel. "Papah cepat nikahin mamah Lyra, biar Jay bisa setiap hari bertemu mamah Lyra."


Panggilan mama serta rengekkan Jayden mampu membuat kakeknya geram mendengarnya. Sandy tak bisa tinggal diam saja melihat cucunya meminta Lyra untuk jadikan mama. Ia pun menarik lengan Agni dan membawanya pergi ke dekat Jayden.


"Mamahnya Jay bukan tante Lyra, tapi mamah Agni. Tante Lyra hanya bekerja di kantornya kakek bukan untuk di jadikan mamah buat Jay."


Sandy bukannya menenangkan tapi malah membuat Jayden semakin keras menangis.


"Mamahnya Jay cuma mamah Lyra. Bukan dia, Jay tidak suka dengan tante ini," ucap Jayden sembari menunjuk Agni.


Agni berjongkok lalu berbisik ke telinga Jayden.


"Jay tenang saja, karena tante Agni tak akan pernah menikah sama papahnya Jay. Tante Agni cuma akan menikah sama om Ryan, jadi Jayden tidak perlu khawatir."


"Benarkah?"


Agni tersenyum. "Tentu saja."


Sontak Jayden pun berhenti menangis setelah mendengar apa yang di katakan Agni tersebut. Sandy senang setelah Agni mampu membuat cucunya berhenti menangis. Ia jadi semakin yakin bahwa Agni merupakan pilihan yang tepat untuk di jadikan menantu. Padahal ia tak mendengar apa yang ucapkan Agni pada cucunya itu, mungkin akan membuatnya geram di bandingkan dengan Jayden yang meminta Lyra untuk di jadikan mama.