
Hatinya memang tak bisa menyangkal bila Lyra tak bisa menerima bila Rigel harus di jodohkan, terlebih lagi wanita yang di jodohkannya merupakan sahabatnya sendiri. Tapi mulut dan pikirannya berkata lain, Lyra tak peduli bila Rigel harus di miliki wanita lain. Lagi pula Lyra bukanlah kekasih resminya. Namun, hatinya terlalu mendorongnya untuk tetap tak setuju dengan apa yang di pikirkannya itu. Status yang sangat tak memungkinkan untuk Lyra bila harus memiliki pria seperti Rigel Callisto. Dan bila memang Rigel dapat di milikinya, apa restu juga dapat di miliki oleh Lyra yang hanyalah seorang wanita biasa.
"Apa aku terlihat peduli? Aku sama sekali tak peduli dengan siapa kamu di jodohkan dan dengan wanita mana kamu akan menikah," ucap Lyra yang kemudian ia berbalik dan segera melangkahkan kakinya. "Aku akan menunggumu sampai selesai makan di luar."
"Siapa yang menyuruhmu untuk menunggu di luar," ucap Rigel meninggikan suaranya.
Langkah Lyra terhenti, ia bediam diri tanpa berbalik menatap Rigel. "Memang tak ada yang menyuruhku, tapi kali ini saja biarkan aku menunggumu di luar." Lyra kembali melangkah kakinya keluar dari ruangan Rigel lalu berdiri di balik pintu dengan raut wajahnya yang sendu.
Lyra berdiam diri sembari menundukan kepalanya, hingga membuat Ryan keheranan menatap kekasih pura-pura dari atasannya tersebut.
"Sepertinya pak Rigel belum menyelesaikan makannya, kenapa kamu sudah keluar dari ruangannya. Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ryan mengerutkan alisnya.
Lyra menatap Ryan lalu memaksakan senyumnya untuk menutupi wajah sendunya itu. "Aku hanya ingin menunggunya di sini. Bukankah memang sepantasnya aku menunggu di sini."
"Ku pikir tak begitu. Apa kamu merasa rendah diri setelah kemarin tahu bila pak Rigel di jodohkan dengan temanmu."
"Aku memang merasa rendah diri, karena aku hanyalah perempuan yang standarnya berada jauh di bawah Agni. Tapi aku tak peduli, lagi pula aku bukanlah siapa-siapanya pak Rigel. Aku hanyalah pekerja yang di beri tugas untuk menyiapkan makan untuknya."
Ryan menggeleng sembari menghela nafasnya. "Apa kamu ingin ku beri tahu sesuatu?"
"Memberitahu apa?"
"Pak Rigel sebenarnya menyukaimu."
Lyra tergelak. "Dari mana kamu tahu bila pak Rigel menyukaiku. Dia tak mungkin menyukai perempuan biasa sepertiku."
Lalu tiba-tiba saja Rigel membuka pintu sembari membawa gelas dan piring kotor bekas makannya.
"Mungkin saja itu bisa terjadi," ucap Rigel sembari mengulurkan gelas dan piring kotor tersebut kepada Lyra.
Lyra lalu meraihnya. Namun setelah di raihnya, Rigel dengan cepat menutup kembali pintunya.
"Aku tak percaya bila dia menyukaiku. Mungkin saja dia hanya ingin mempermainkanku, karena mungkin dia tak lagi dapat menggapai cinta pertama yang sudah sangat lama di dambakannya," ucap Lyra kepada Ryan.
"Bagaimana bila perempuan yang ingin di gapainya itu adalah kamu."
Lyra seketika menelan salivanya. "Apa kau yakin?"
"Lalu bagaimana denganmu, apa kau bisa yakin bahwa kau tak benar-benar menyukainya."
"Entahlah." Lyra memalingkan wajahnya, lalu segera beranjak pergi kembali ke kantin.
Apa yang di katakan Ryan memang sangat membingungkan, tapi juga membuat Lyra sedikit terkejut. Terlebih lagi dengan ucapan Rigel yang seperti memberi kode, bahwa ia bisa menerima Lyra yang statusnya hanyalah seorang wanita biasa.
Tak lama Lyra sampai di kantin, tiba-tiba saja sekertaris dari Sandy Callisto datang menghampirinya.
"Apa benar kamu yang bernama Lyra?"
"Anda di minta pak Sandy untuk datang ke ruangannya sekarang."
Setelah di mintai pergi ke ruangan Sandy, Lyra pun langsung saja beranjak pergi ke ruangan presiden direktur tersebut. Namun entah mengapa, rasanya Lyra nampak gugup padahal ia belum sampai ke ruangan pria yang memiliki jabatan tertinggi di perusahaan. Ia berjalan dengan jantung yang berdebar cukup cepat. Perasaannya terasa tak nyaman, Lyra seakan gelisah dan takut dengan apa yang akan terjadi setelah menemui ayah dari Rigel Callisto tersebut.
Dan sesampainya di sana, Lyra malah semakin gugup. Kepalanya tertunduk dan Lyra tak berhenti menghela nafasnya.
"Kemarin cucuku bercerita, bila Rigel telah memiliki seorang kekasih yang bernama Lyra. Lalu saya mencari tahu perempuan yang bernama Lyra itu. Dan setelah di cari tahu, ternyata itu kamu," imbuh Sandy dengan tatapan sinisnya.
"Saya bukanlah kekasihnya. Saya hanyalah orang yang di pekerjakan khusus untuk menyiapkan makan untuknya."
"Apa kamu yakin bila kamu bukanlah kekasih anak saya? Atau kamu berbohong karena di suruh Rigel."
"Saya tidak berbohong, anda bisa tanyakan langsung kepada pak Rigel."
"Kemarin dia membantah saya dan bilang bahwa dia tak mau di jodohkan dengan Agni karena memiliki perempuan lain yang di sukainnya. Ku harap itu bukan kamu."
Hati Lyra terasa sesak setelah mendengarnya, ia tertunduk sembari menahan air matanya. Tanpa menatap Lyra lalu berkata. "Saya juga tak yakin bila pak Rigel menyukai saya. Ku harap anda tidak salah paham terhadap saya."
"Ku pikir memang begitu. Oh ya, tadi Agni menolak saya untuk di pekerjakan di bagian divisi pemasaran. Dan dia ingin tetap bekerja di dapur menyiapkan makan untuk karyawan. Saya pikir lebih baik kamu bertukar tugas dengan Agni, jadi mulai sekarang yang menyiapkan makan untuk anak saya itu Agni."
"Bila memang itu kemauan anda, sebagai pekerja saya hanya bisa menurut."
"Baiklah, kamu bisa pergi dari ruangan saya sekarang. Maaf sudah mengganggumu."
Lyra berjalan pergi dari ruangan Sandy dengan raut wajah sedihnya. Ucapannya benar-benar sudah membuat hati Lyra sakit. Lyra tak bisa menolak keinginan Sandy, biarpun sebenarnya Lyra sama sekali tak ingin bertukar posisi dengan Agni. Biar bagaimanapun Lyra hanyalah seorang pegawai yang memang harus menuruti kemauan atasan.
...****************...
Sepulang dari kantor, Lyra menangis semalaman hingga pagi harinya matanya terlihat bengkak. Lyra jadi malas pergi bekerja ketika melihat wajahnya di cermin nampak berantakan. Walau sudah berulang kali mencuci wajahnya, matanya masih terlihat bengkak. Lyra pun mengurungkan niatnya untuk pergi bekerja, terlebih lagi hari ini Lyra sudah tak lagi menyiapkan makan untuk Rigel. Lyra jadi semakin malas untuk pergi ke kantor. Lyra lalu meminta izin kepada Susi untuk cuti satu hari dari pekerjaannya itu.
Seharian di rumah, Lyra hanya berdiam diri di kamar dengan wajah sendunya. Lyra tak bisa berhenti memikirkan pria yang tak akan mungkin bisa di gapainya. Setelah kemarin menemui Sandy, Lyra semakin yakin bahwa ia sudah benar-benar menyukai Rigel. Buktinya Lyra tak rela bila harus berganti tugas dengan Agni. Lyra juga tak bisa merelakan Rigel di jodohkan dengan sahabatnya itu. Namun, mau bagaimanapun Lyra berharap bisa berada di posisi Agni, harapannya akan tetap pupus bila tak ada restu. Terlebih lagi, Lyra tak yakin bila Rigel juga memiliki perasaan yang sama dengannya, sebelum Rigel benar-benar menyatakan perasaannya terhadap Lyra.
Lalu sore harinya, Rizwan datang ke kamar sembari membawa lembaran kertas. Ia menunjukan lembaran kertas tersebut kepada putri semata wayangnya itu.
"Ada yang aneh dengan hutang yang di miliki ayah. Tiba-tiba saja hutang yang di miliki ayah lunas, ketika tadi ayah akan hendak membayar tagihan bulanan di bank. Apa kamu sudah tahu bila hutang yang di miliki ayah bukanlah dua miliyar melainkan lima miliyar?"
"Tentu saja aku tahu, kenapa ayah berbohong kepada Axel dan om Benni bahwa hutang yang di miliki ayah hanya dua miliyar," ucap Lyra.
"Ayah terpaksa berbohong karena tak ingin membuat om Benni khawatir. Ayah mengaku punya hutang dua miliyar saja, dia sudah berniat membantu walau keadaan keuangannya sedang sulit. Jadi ayah terpaksa berbohong untuk bisa menolak bantuanya."
Lyra mengerutkan kedua alisnya menatap kertas yang menyatakan bahwa hutang yang di miliki ayahnya telah Lunas. "Hutang sebanyak ini siapa yang mampu membayarnya, aku ragu bila om Benni membayarnya. Sementara keadaan dia sudah tak seperti dulu."
"Apa mungkin itu Rigel, biarpun dia merupakan orang kaya dia tidak perlu membayarkan hutang ayah." Rizwan mengeleng. "Apa dia pikir setelah membayarkan hutangku, dia akan langsung mendapatkan restu dariku."
Apa yang di pikirkan Rizwan sama dengan apa yang di pikirkan Lyra. Karena siapa lagi yang mampu membayar hutang berjumlah fantastis yang di miliki ayahnya terkecuali Rigel.