
Lagi-lagi Lyra membuat Rigel marah dengan menyebut bila dirinya bukanlah orang yang seharusnya bekerja hanya untuknya saja. Bukan karena Lyra tak ingin menjadi pekerja yang di khusus untuk Rigel, tapi Lyra sadar diri bila memang dari awal ia bekerja untuk menyiapkan makan bagi seluruh pekerja di kantor. Terlebih lagi Sandy sempat memintanya untuk bertukar posisi dengan Agni.
Lalu setelah di banding-bandingkan, apa Lyra masih merasa pantas dengan Rigel. Tentu saja Lyra sedikit goyah setelah mendengarnya. Lyra juga sedikit takut dengan cemoohan dari orang-orang di kantor setelah mendengar rumor bila dirinya di sebut sebagai wanita penggoda. Bila Lyra terus berada di dekat Rigel, Lyra pasti akan semakin di cemoohkan orang-orang.
Lyra sampai tak bisa menatap Rigel secara langsung, karena ia tak ingin menunjukan betapa sedihnya ia dengan rumor yang terjadi saat ini. Apa lagi semua pekerja di dapur terus menayai Agni tentang perjodohannya dengan Rigel.
Rigel pun menghela, lalu meletakan kedua tangannya di kedua pundak Lyra. "Apa kau seperti ini karena rumor yang tengah bertebaran di kantor?"
Lyra menggeleng tanpa menatap. "Bukan."
"Sepertinya memang benar." Rigel menatap mata Lyra dengan tatapan seriusnya. "Apa kamu percaya padaku."
"Tentu saja aku percaya padamu."
"Lalu mengapa kamu terlihat seperti menyesal karena telah menjadi kekasihku."
Lyra menghela sembari menatap sedih wajah Rigel. "Bukan seperti itu, aku khawatir apa hubungan kita bisa terus berlangsung. Sementara ayah kamu saja tak suka padaku, bahkan orang-orang di kantor pun sama tak sukanya. Aku di sebut wanita penggoda oleh mereka, lalu di banding-bandingkan dengan Agni. Karena menurut mereka jika aku ini tak pantas denganmu."
Rigel menghela kesal. "Percaya dirilah bahwa aku hanyalah milikmu dan kau juga hanya miliku seutuhnya. Jika kamu ingin bahagia maka jangan pernah mempedulikan mulut mereka. Kamu hanya cukup mempercayaiku saja, karena aku akan tetap memilihmu."
Perkataan Rigel selalu saja berhasil menyentuh hati Lyra, dan selalu saja Lyra di buat menangis haru setelah mendengarnya. Bodoh, mengapa bisa Lyra goyah hanya karena ia di banding-bandingkan dengan Agni. Dan mengapa bisa ia takut bila hubungannya akan berakhir hanya karena rumor yang tak benar adanya. Padahal Rigel sangat yakin bahwa Lyra adalah pilihannya, yang memang sudah sekian lama ia nantikan.
Seketika Lyra pun mendekap erat tubuh Rigel sembari meluapkan tangisnya. "Maafkan aku karena aku sempat berpikir ingin mengakhiri hubungan kita. Maafkan aku juga karena tak dapat mempercayaimu. Jujur saja aku tak ingin berpisah denganmu, Rigel."
Rigel melepaskan dekapannya, lalu segera menyeka bulir air di wajah Lyra. "Siapa yang menyuruhmu berpisah denganku. Kamu sudah menjadi miliku dan aku tak akan pernah mengijinkan siapun untuk memisahkan kita, termasuk ayahku sendiri."
Rasa terima kasih yang teramat dalam tersemat dalam pelupuk hatinya. Namun, Lyra tak mampu untuk mengucapkannya karena ia terlalu fokus menangis.
Rigel adalah pria terbaik yang pernah Lyra miliki. Bahkan terbaik dari yang terbaik, ia rela menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan Lyra. Bagaimana bisa ia goyah hanya karena pandangan orang-orang terhadapnya.
Setelah tangis Lyra reda, seketika Rigel meraih tangan Lyra dan menggenggam erat tangan indah milik kekasihnya tersebut.
"Kita perlu menunjukannya kepada mereka yang telah berkata buruk padamu." Rigel berjalan ke luar dari ruangannya sembari berpegangan tangan dengan Lyra.
"Kamu akan membawa aku kemana?" Lyra panik karena Rigel membawanya keluar sembari menggenggam tangannya. Bukan karena Lyra tak mau di pegang, tapi ini masih di kantor. Rumor tentang dirinya yang merupakan wanita penggoda masih belum reda, Lyra takut bila orang-orang akan semakin mencemoohkannya.
"Bersikaplah sealami mungkin dan senyaman mungkin kamu berpegangan tangan denganku."
"Ini di kantor, kita tidak bisa berpegang tangan seperti ini."
"Justru kita perlu menunjukannya, aku ingin semua orang tahu bahwa kamu adalah wanita yang ku pilih. Jadi buatlah dirimu senyaman mungkin saat kita tengah berpegangan tangan di depan orang-orang di kantor ini."
Rigel berjalan menuju arah keluar dari gedung perkantoran di saat orang-orang banyak yang berlalu lalang. Mungkin ini masih jam makan siang, oleh sebab itu banyak orang yang berlalu lalang.
Semua mata tertuju menatap pasangan yang belum lama ini meresmikan hubungannya. Seakan di buat terkejut, hampir semua orang yang melihatnya heboh karena di buat tak menyangka bila seorang Lyra bisa menggandeng tangan CEO yang di kenal orang akan ketampanannya itu.
Mereka sampai bertanya-tanya, siapa wanita yang di miliki Rigel sebenarnya, sementara semua orang di kantor hanya tahu bila Agnilah yang merupakan calon istri Rigel. Dan yang orang ketahui bila Lyra hanyalah orang ketiga di antara Rigel dan Agni. Semua orang pun sampai kebingungan antara rumor dan kejadian-kejadian saat ini. Tentang tadi pagi Agni yang bertengkar dengan salah satu karyawan yang menjelekan Lyra, dan tentang Rigel yang sekarang tengah menggandeng tangan Lyra. Calon istri yang tak seharusnya membela saingannya, dan Rigel yang tak seharusnya menunjukan bahwa Lyra merupakan wanitanya. Hingga pada akhirnya, aksi Rigel itu berhasil membuat orang-orang berspekulasi bahwa rumor yang tengah bertebaran itu tak benar adanya.
"Pak Rigel mau kemana? Jangan pergi sekarang, karena sebentar lagi akan ada meeting."
Rigel tersenyum sembari menepuk salah satu pundak Ryan. "Tunda saja meetingnya, hari ini saya perlu merayakan sesuatu setelah membuat orang-orang gaduh dengan aksiku ini."
"Tapi pak, meeting ini jauh lebih penting dari pada acara anda."
Bukannya menurut, Rigel malah tersenyum menanggapi sekertarisnya tersebut. Ia menghiraukannya dan dengan cepat ia membuat dirinya dan Lyra masuk ke dalam mobil.
"Setelah membuat orang-orang gaduh, sekarang kamu mau membawaku kemana?" Tanya Lyra heran.
"Kita akan menjemput Jay ke sekolahnya."
"Hm, akan lebih baik kita kembali saja ke kantor."
Rigel menghela. "Apa kau tidak suka bila kita pergi bertemu Jay."
Lyra melambai cepat tangannya. "Tidak, bukan seperti itu. Kata Ryan sekarang ada meeting penting yang harus kau hadiri. Lalu, aku pun harus kembali membantu orang-orang di dapur kantin."
"Meeting bisa di lakukan besok. Dan sudah ku bilang, di kantor kau hanya perlu menyiapkan makan untukku saja."
"Hm, setelah aku selesai menyiapkan makan untukmu atau sebelum aku menyiapkan makan untukmu, aku ingin membantu mereka. Aku tak ingin di bedakan dengan yang lain hanya karena aku kekasihmu. Karena ku pikir bila hanya menyiapkan makan untukmu saja akan ada banyak waktu luang yang bisa ku pakai untuk membantu orang-orang di kantin."
Rigel tersenyum sembari mengelus kepala Lyra. "Di berikan kenyamanan tapi menolaknya. Baiklah, bila memang itu yang kamu inginkan aku menginjinkannya. Tapi bila kamu lelah, kamu harus berhenti dan jangan memaksakan diri. Tapi untuk hari ini kita tidak bisa kembali ke kantor, karena kita akan menghabiskan waktu bersama Jay."
**
Dua puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di sekolah Jayden. Kebetulan jam sekolah telah berakhir, Janus dan Lyra bergegas menghampiri Jayden yang tengah berjalan keluar dari gerbang bersama teman-temannya. Lantas Jayden pun kegirangan saat melihat Lyra dan Rigel datang menjemputnya. Jayden senang, karena baru pertama kali ia di jemput langsung oleh wanita yang sudah di anggapnya mama. Ia pun langsung saja memamerkannya kepada semua teman-temannya.
"Dia adalah mamah yang sering ku ceritakan. Bagaimana, bukankah dia nampak cantik seperti yang sering ku gambarkan," imbuh Jayden kepada semua teman-temannya.
Semua teman-teman Jayden nampak kagum menatap calon mama Jayden tersebut. Bahkan tak hanya teman-temannya saja yang menatap kagum Lyra, ibu dari teman-temannya yang tengah menjemput pun ikut kagum melihat wajah cantik dari Lyra. Bahkan mereka sampai memuji-muji wajah cantik kekasih dari papanya Jayden itu.
Rigel sampai tersenyum karena bangga terhadap dirinya sendiri, bisa-bisanya ia mendapatkan wanita secantik Lyra. Yang bahkan dulu saja ia sangat kesulitan untuk mendapatkannya.
"Sayang sekali, papahnya Jayden sudah memiliki calon yang sangat cantik. Padahal saya ingin mengenalkan anda kepada adik perempuan saya," lontar salah satu orang tua dari teman Jayden
Rigel tersenyum sembari menggaruk tengkuknya. "Sayang sekali, sepertinya saya sudah lebih dulu memilih Lyra."
Tak lama setelahnya, Lyra dan Rigel pamit kepada semua orang tua dan anak-anaknya. Mereka bergegas pergi membawa Jayden masuk ke dalam mobil.
"Apa hari ini kita akan pergi jalan-jalan?" Tanya Jayden.
"Tentu saja, kita bertiga akan pergi bersenang-senang. Tapi sebelum pergi jalan-jalan, terlebih dahulu kita akan pergi tempat makan. Karena kita bertiga belum makan siang kan," jawab Rigel yang tengah fokus menyalakan mesin mobilnya.
Namun tak lama setelah Rigel menacap gas, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering. Rigel lalu meraih ponselnya yang telah ia letakan di saku jasnya. Saat di cek, ternyata nomor atas nama ayahnya yang membuat ponselnya itu berdering. Namun bukannya di angkat, Rigel malah kembali memasukannya ke dalam saku jasnya dan di biarkan terus berdering.