My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
34. Pantaskah Aku Menjadi Bagian Dari Mereka



Perkataan-perkataan Sandy sudah benar-benar membuat Lyra semakin merasa rendah diri. Pantaskah ia bersanding dengan Rigel atau pantaskah ia menjadi ibu untuk Jayden, semua terlintas dalam pikirannya. Lyra hanyalah wanita biasa yang levelnya berada jauh di bawah Agni yang terlahir dari keluarga terpandang.


Bila Agni bisa bersanding dengan Rigel, banyak keuntungan yang akan di terima baik oleh Rigel maupun Sandy. Perusahaan yang di kelolanya akan semakin berkuasa dengan mempersatukan dua keluarga yang memiliki peran penting dalam dunia bisnis, terlebih lagi perusahaan yang di miliki Sandy dan orang tuanya Agni menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Baik Rigel maupun Agni keduanya merupakan orang yang memiliki kedudukan yang sama. Hingga Lyra merasa tak pantas bila harus bersanding dengan Rigel.


Selama berada di rumah Rigel, Jayden terus menempel pada Lyra. Biarpun Sandy terus berusaha keras mendekatkan Agni pada cucunya itu. Usahanya sia-sia karena yang Jayden inginkan bukanlah Agni tapi melainkan Lyra.


"Apa yang di miliki oleh dirimu, hingga membuat cucuku tak bisa lepas darimu." Sandy sampai memiringkan senyumnya sembari menatap sinis Lyra. "Aku lihat resume mu bahwa kamu menjenjang pendidikan di universitas yang sama dengan Rigel. Mengapa kamu mau bekerja di jadi tukang masak, padahal pendidikanmu tak sesuai dengan tempatmu bekerja. Apa kamu rela bekerja di sana hanya agar bisa menggoda anak saya."


Walau apa yang di katakan Sandy bukanlah hal yang sebenarnya, namun entah mengapa tubuh Lyra sampai bergetar, iapun tak bisa menatap langsung matanya. Lyra sangatlah kesal dan marah dengan apa yang di ucapkan Sandy tersebut, namun ia tak bisa meluapkannya. Karena biar bagaimanapun Lyra harus menjaga sikapnya bila ingin di terima baik oleh ayah kekasihnya tersebut.


"Bukan itu alasan saya mau bekerja di sana," ucap Lyra sembari memainkan kuku jarinya.


"Lalu, apa alasanmu mau bekerja di sana?" Tanya kembali Sandy.


"Situasilah yang membuat saya rela mengambil pekerjaan di sana. Karena di saat saya sedang membutuhkan pekerjaan, di kota ini belum ada perusahaan yang membuka lowongan yang seusai dengan pendidikan saya. Sementara saya sudah sangat membutuhkan pekerjaan."


Sambil melipat lengannya, Sandy mengangkat salah satu alisnya. "Situasi apa yang sedang kamu hadapi, hingga kamu tak bisa bersabar untuk mendapatkan pekerjaan."


Rigel sudah tak bisa tinggal diam saja saat kekasihnya terus-menerus di berikan pertanyaan. Terlebih lagi ucapan tajam serta kecurigaan Sandy sudahlah sangat membuat Rigel kesal dan marah.


"Bisakah ayah berhenti bertanya kepadanya. Masalah apa yang dia hadapi atau pekerjaan apa yang dia ambil itu bukan urusan ayah. Yang seharusnya ayah tanyai itu Agni. Seorang putri dari pengusaha besar mau bekerja di dapur bukankah itu tampak mencurigakan."


"Menurut ayah Agni tidaklah tampak mencurigakan. Justru dia rela bekerja di sana karena ingin bisa lebih dalam mengenalmu."


Rigel menghela kesal. "Dia mau bekerja di sana, mungkin saja karena ingin memata-matai perusahaan kita."


"Maaf saya menyela pembicaraan kalian," sosor Agni yang kemudian menatap kesal Rigel. "Apa di mata anda saya serendah itu, hingga sedari tadi tak hentinya anda merendahkan saya. Saya tegaskan, bila saya tidak pernah memiliki niat untuk memata-matai perusahaan anda."


Adu argumen yang tengah di lakukan Rigel dan Sandy saja sudah membuat Lyra merasa tak nyaman. Kini terjadi lagi adu argumen yang di lakukan Agni dan Rigel. Terlebih mereka melakukannya di depan Jayden. Bila Lyra masih berada di rumah Rigel, adu argumen mungkin tak akan pernah akan ada habisnya. Lyra perlu pergi bila tak ingin adu argumen ini terus berlanjut.


"Maaf sepertinya saya harus pamit pulang sekarang," lontar Lyra menghentikan pembicaraan.


Seketika Jayden pun menangis, ia langsung saja memegang kencang tangan Lyra agar tak pergi dari rumahnya. "Mamah Lyra jangan pulang. Mamah Lyra menginap saja di sini temani Jay."


Lyra pun menyeka air mata di wajah Jayden. "Maaf, mamah Lyra tidak bisa menginap di rumah Jay."


"Kalau begitu Jay ikut pulang ke rumahnya mamah Lyra."


"Jay tidak bisa ikut pulang bersama mamah Lyra, nanti siapa yang akan temani papah Rigel di rumah kalau Jayden ikut pulang ke rumahnya mamah Lyra. Jay kan anak baik, jadi Jay jangan cengeng ya."


Seketika Rigel meraih lengan Lyra. "Bisakah kamu di sini sampai Jayden tertidur. Bila kamu pulang sekarang, dia pasti tak akan mau berhenti menangis."


Lyra melepaskan tangan Rigel dari lengannya. "Tidak bisa, aku harus pulang sekarang. Jadi aku pamit sekarang ya."


Lyra pun langsung saja bergegas melangkah kakinya, dengan langkah yang juga di ikuti oleh Rigel. Sementara Jayden malah semakin keras menangis di saat Lyra beranjak pergi dari rumah.


"Kenapa kamu mengikutiku?" Tanya Lyra pada Rigel.


"Aku tak bisa membiarkan kekasihku pulang sendiri. Jadi, akan ku antar kamu pulang."


"Apa kamu tidak dengar bila Jay menangis. Dari pada harus mengantarku pulang, akan lebih baik bila kamu menenangkannya."


Rigel lalu berjongkok untuk menyamai tinggi Jayden. "Jay sayang sama mamah Lyra kan?"


Sembari sesegukan Jayden menganggukan kepalanya. "Iya, Jay sayang sama mamah Lyra."


Rigel menyeka air mata di pipi Jayden. "Jay berhenti menangis, karena itu akan membuat mamah Lyra sedih. Jay harus sabar, nanti mamah Lyra pasti akan datang kembali menemui Jay."


"Kapan? Terlalu lama bagi Jay bila harus menunggu lagi untuk bertemu dengan mamah Lyra."


"Kata mamah Lyra kan Jay anak baik. Jadi Jay harus bersabar, karena Jay menunggu tidak sampai berminggu-minggu. Bukankah baru beberapa hari yang lalu tidak bertemu dengan mamah Lyra, terus Jay akhirnya bisa ketemu lagi dengan mamah Lyra."


"Kalau begitu segera menikah dengan mamah Lyra, biar Jay tak lagi harus menunggu bila ingin bertemu dengannya."


"Papah janji bakal menikahi mamah Lyra, jadi Jay harus bersabar menunggu."


"Kata siapa kamu bisa menikahinya. Bukankah kalian tak memiliki hubungan, mana bisa menikah bila tak saling menyukai," sela Sandy yang nampak terheran-heran.


"Justru yang tak saling menyukai itu aku dan Agni. Jadi, ayah tak perlu berusaha keras untuk menikahkan aku dengannya."


Rigel lalu berbisik ke arah telinga Jayden. "Jay, bila pria tua itu mengatakan papah akan menikah dengan tante Agni jangan mempercayainya. Karena papah hanya akan menikahi mamah Lyra seorang, jadi Jay tak perlu khawatir."


"Jay juga sudah tahu bila papah tak akan pernah menikah dengan tante Agni. Karena tante Agni hanya akan menikah dengan om Ryan," ucap Jayden yang juga berbisik.


Rigel tersenyum sembari mengelus kepalanya Jayden. "Anak pintar, kalau begitu tunggu papah pulang, karena papah akan mengantar mamah Lyra ke rumahnya."


Rigel pun kembali terburu-buru beranjak keluar dari rumahnya. Namun, saat Rigel sudah berada tepat di depan rumah, Lyra sudah tak nampak di sana. Halaman rumah sangatlah luas, Rigel pun harus berkeliling mencarinya, karena mungkin saja Lyra masih berada di sekitaran halaman rumahnya tersebut.


Hanya membutuhkan beberapa menit untuk berkeliling, Rigel tak dapat menemukan Lyra di sekitaran rumahnya. Rigel pun harus bergegas menyusulnya, sebelum Lyra pergi jauh. Namun, di saat Rigel akan memasuki mobilnya, ayahnya datang sembari membawa Agni.


"Bisakah kamu mengantarkan calon istrimu pulang. Karena dia lebih penting dari pada harus mengantar perempuan yang bernama Lyra itu."


"Bila dia penting, mengapa tak ayah saja yang mengantarnya."


Lalu seketika Ryan pun datang menghampiri Agni dan kedua atasannya tersebut.


"Biarkan saya yang mengantarnya, karena awalnya dia pergi bersama saya."


Rigel tersenyum menatap ayahnya. "Dia akan di antar oleh Ryan. Jadi, jangan memaksaku untuk mengantarnya.


Rigel lalu terburu-buru beranjak menyusul Lyra dengan mobilnya. Hanya butuh tiga menit mobilnya melaju, akhirnya Lyra dapat di temukan. Rigel lalu beranjak keluar dari mobil, dan langsung saja menghampiri Lyra.


"Bukankah aku menyuruhmu menunggu, mengapa kamu pulang sendiri."


Bukannya menjawab alasan ia pergi, Lyra malah bertanya balik. "Apa Jay sudah berhenti menangis?"


"Iya, dia sudah berhenti menangis, oleh sebab itu aku bisa menyusulmu."


"Kalau begitu, kamu bisa mengantarku pulang."


Tanpa basa-basi, Lyra beranjak memasuki mobil Rigel dengan raut wajahnya yang nampak muram.