
Antara marah dan bersedih kini tengah di rasa Rigel. Rigel marah bukan kepada ayahnya saja, tapi juga marah kepada Lyra karena telah membahas hal yang tak boleh di ucapkan walaupun dengan alasan apapun. Hubungan yang terhalang restu ataupun tak sanggup melihat Rigel di pisahkan dengan Jayden, itu bukanlah alasan yang harus Lyra katakan untuk berpisah. Bila hatinya saja tak sanggup untuk berpisah dengan Rigel. Hubungan mereka belum lama terjalin, perasaan mereka masih sama-sama berada puncak. Di mana mereka sangat saling mencintai dan tak sanggup bila harus di pisahkan. Terutama bagi perasaan Rigel yang tak pernah hilang sejak kali pertama ia menyukai Lyra di waktu bangku SMA. Dan semakin mencintai lagi di kala ia benar-benar telah mendapatkan Lyra seutuhnya.
Mereka kembali ke rumah dalam keadaan berdiam seribu bahasa. Rigel berdiam di kamarnya dengan keadaan hati yang masih di balut dengan amarah dan sedihnya. Sementara Lyra, ia berdiam diri di depan pintu kamar Rigel dengan perasaan bersalahnya. Bersalah karena telah mengucapkan kata pisah yang sangatlah di benci oleh Rigel.
Perasaan Lyra terhadap Rigel sangatlah memberatkannya. Lyra tak ingin Rigel terpisah dari Jayden tapi Lyra juga tak ingin berpisah dengan Rigel. Pilihan yang sangat sulit untuk Lyra ambil, antara melanjutkan ataupun tidak. Bila hubungannya di lanjutkan, entah sampai kapan hubungannya akan bertahan lama bila Sandy saja terus membuatnya goyah untuk mempertahankan hubungannya.
Namun, bila memang ada seribu cara untuk di tempuh, mengapa pula dirinya harus goyah. Rigel saja tetap pada pendirianya untuk tetap mempertahankan hubungannya walau terhalang restu dari ayahnya. Bila memang Lyra sangat mencintai Rigel, maka Lyra pun harus sama-sama berjuang mempertahankan hubungannya.
Lyra lalu menyakinkan diri untuk tetap tinggal di sisi Rigel walau dalam keadaan apapun. Jika memang saat ini Jayden tak dapat kembali pada Rigel, maka Lyra akan berusaha keras bersama Rigel untuk mencari cara mengembalikan Jayden ke sisi kekasihnya itu.
Lyra pun beranjak menghampiri Rigel yang tengah termenung di kamarnya. Lalu dengan cepat ia mendekap erat tubuh kekasihnya tersebut.
"Maaf karena sudah mengatakan hal yang tak seharusnya ku ucapkan."
"Bila kamu menyesal maka dari itu, jangan pernah mengatakannya lagi dan jangan pernah meninggalkanku karena alasan ingin membuat Jay kembali padaku." Rigel melingkarkan tangannya di tubuh Lyra. Mendekap erat tubuhnya seakan-akan ia tak mau Lyra pergi.
Seketika kedua mata Lyra pun berlinang, ia pun menangis dalam dekapan Rigel. "Aku hanya tak ingin membuatmu kesulitan. Karena kamu memilih untuk mempertahankanku, akhirnya kamu terpisah dari Jayden. Dan karena aku juga, hubunganmu dengan ayahmu jadi rusak."
"Sttt." Rigel berdesis pelan untuk menenangkan Lyra. "Jangan pernah menyalahi diri. Mempertahankan hubungan kita adalah jalan yang ku pilih, maka masalah seberat apapun atau rintangan sesulit apapun itulah yang harus ku hadapi, bila memang itu adalah hal yang harus ku tempuh untuk mempertahanmu di sisiku."
Dekapan serta perkataan Rigel adalah hal yang selalu membuat Lyra tenang. Begitu pun sebaliknya, dengan Rigel mendekap Lyra hatinya jauh lebih tenang di bandingkan tadi.
"Terima kasih karena telah bersedia tinggal di sisiku. Aku sangat bersyukur karena dapat memiliki pria baik sepertimu, Rigel," ucap Lyra dengan matanya yang masih berlinang air.
Rigel lalu melepas dekapannya, ia tersenyum menatap Lyra sembari menyeka air mata di wajah kekasih tersebut. "Kamu tahu bila saat menangis kamu sangat menggemaskan."
Seketika rona merah di wajah Lyra pun muncul, ia menelan salivanya sembari mengalihkan padanganya. "Apa aku tampak seperti anak kecil, hingga menurut padanganmu aku tampak terlihat menggemaskan."
Rigel tergelak. "Iya, kamu seperti anak kecil. Saking menggemaskannya sampai-sampai aku ingin melahapmu." Rigel lalu meletakan kedua tangannya di pipi Lyra, dan dengan perlahan wajahnya semakin dekat dengan wajah Lyra begitupun dengan bibirnya. "Aku sangat mencintaimu, Lyra." Dan akhirnya Rigel pun mendaratkan bibirnya di bibir Lyra secara perlahan.
Bibir Rigel telah menempel, maka kedua mata Lyra pun refleks menutup. Lalu perlahan demi perlahan Lyra membuka kedua bibirnya untuk membalas ciuman Rigel. Hingga membuat Rigel memperdalam ciumannya, menyesap bibir atas milik Lyra dan berujung saling memasukan lidah ke dalam mulut.
Nafas keduanya tergengah-engah. Rigel tersenyum sembari menyadarkan dahinya dengan dahi Lyra. Namun ketika di tatap Rigel dengan senyuman, rona merah di wajah Lyra semakin menyala. Lyra terlalu malu bila harus menatap Rigel setelah ia berciuman panas. Lyra pun kembali menutup matanya.
Rigel tergelak. "Apa kau ingin tidur bersamaku?"
Spontan mata Lyra terbuka lebar. "Apa yang kau pikirkan?"
Rigel semakin tergelak melihat raut wajah Lyra yang tampak panik. Dengan cepat ia pun menggedong Lyra dan membawanya ke atas ranjang.
"Aku tak akan memaafkanmu ya, bila kamu melakukan hal yang terlarang," ucap Lyra yang semakin panik.
Rigel tersenyum dan kembali mendekatkan wajahnya dengan wajahnya Lyra. Hingga membuat Lyra mengerjap menutup matanya. Namun, kali ini bibirnya bukan mendaratkan diri di bibir Lyra. Melainkan mendaratkan diri ke kening Lyra.
"Bukankah tadi kau sempat memikirkan..." Lyra seketika tak melanjutkannya ucapanya, ia malah menelan salivanya karena malu. Lyra hampir saja mengucapkan kalimat yang tengah di pikirkannya ketika Rigel mengucapkan kata tidur.
"Memangnya apa yang kau pikirkan tentang aku? Apa jangan-jangan kamu berpikir bahwa kata tidur yang ku lontarkan mengarah ke arah lain," ucap Rigel dengan tawa.
Seketika Lyra menutup wajahnya dengan tangan. "Maaf sudah salah paham."
"Ternyata Lyra yang ku kenal sebagai wanita polos bisa berpikiran mesum juga ya. Tenang saja aku akan menahannya sampai hari pernikahan kita, biarpun saat ini kamu sangat ingin melakukannya."
Lyra membuka tangannya dari wajah. "Aku tidak pernah berpikir untuk mau melakukannya. Dan jangan pernah mengataiku mesum, justru kamulah yang tampak terlihat mesum." Lyra membalikan tubuhnya memunggungi Rigel.
Setelah membuat Lyra di tekuk kesal, Rigel malah semakin ingin menggodanya. Ia pun memeluk Lyra dengan erat dan dengan jahilnya, Rigel mencium leher Lyra hingga meninggalkan bekas merah.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Ucap Lyra geram.
"Aku tahu bila kamu ataupun aku ingin melakukan sesuatu yang lain. Jadi ku lepaskan dengan cara lain." Rigel kembali mencium leher Lyra di sisi lain yang sudah ia kasih tanda merah.
Sontak Lyra pun brontak ingin melepaskan tubuhnya dari dekapan Rigel. "Lepaskan aku."
Namun, Rigel sangat kuat mendekapnya sampai membuat Lyra tak sanggup melepasnya. Lyra hanya bisa pasrah bila lehernya banyak mendapati tanda merah.
Lyra sudah berhenti membrontak, Rigel pun menghentikan aksi jahilnya. "Sekarang kau bisa tidur, karena aku sudah puas melakukannya," ucapnya dengan gelak tawa.
Lyra kini bisa tenang tertidur walau jantungnya masih sangat berdebar-debar karena Rigel tak mau melepaskan dekapannya.
**
Beberapa jam Lyra tertidur, ia tiba-tiba terbangun ketika tubuhnya sudah tak terasa lagi ada lengan Rigel yang menyentuh. Lyra mulai berbalik dengan matanya yang setengah terbuka. Terasa kosong di sebelahnya, Lyra meraba-raba ranjangnya. Namun, tak terasa ada tubuh yang berbaring di sebelahnya. Lyra pun melebarkan matanya untuk memperjelas pandangannya. Saat pandangannya sudah melihat jelas, Rigel tak nampak tertidur sebelahnya, melainkan Lyra melihat Rigel tengah berdiri tegap menghadap ke arah jendela dengan tatapan kosongnya. Lyra pun beringsut dari tempat tidur untuk menghampiri Rigel.
"Sedang apa, mengapa kamu tidak tidur?"
Bukannya menjawab Rigel malah bertanya balik sembari tersenyum. "Apa aku sudah membangunkanmu?"
"Tidak, aku hanya terbangun. Mengapa kamu tidak tidur? Apa ada yang kamu pikirkan."
Seketika Rigel menggendong tubuh Lyra. "Mari tidur lagi." Ia beringsut cepat membawa Lyra ke atas ranjang. Menyelimutinya lalu ikut berbaring di sebelahnya sembari memeluknya.
Jelas sekali saat tadi Lyra menatapnya, Rigel menunjukan raut sedihnya. Seperti tengah memikirkan sesuatu tapi tak ingin Lyra ketahui, ataupun ia tak ingin membuat Lyra khawatir oleh sebab itu ekspresinya berubah ketika Lyra menghampirinya.
Sudah di pastikan bila Rigel tak bisa tertidur lelap karena pikirannya kalut memikirkan Jayden. Walau Rigel tak mau memberitahu, tapi Lyra yakin bahwa saat ini ia masih bersedih dan bertanya-tanya tentang keberadaan Jayden. Lyra pun ingin sekali bertanya, apa dia baik-baik saja. Namun, Lyra sangatlah ragu untuk bertanya bila Rigel saja tak ingin menjawab jujur tentang keadaannya yang sebenarnya.