
Hanya sebentar Lyra bertemu dengan Rigel tapi mengingatnya akan terus-menerus sampai besok dan besoknya lagi. Ketika bertemu, Rigel sudah benar-benar menganggap Lyra seperti orang yang tak di kenalnya hingga membuat hati Lyra terasa sesak ketika menghadapinya. Tapi, ini adalah sebuah konsekuensi untuk Lyra setelah memutuskan Rigel dengan cara sengaja menyakitinya.
Matanya sudah lelah bila harus menangis tiap kali ia mengingat Rigel. Lyra hanya termenung dalam lamunannya dengan wajah sendunya, yang berharap bahwa hatinya akan segera melepaskan Rigel untuk selamanya. Ketika rasa rindunya terus saja bertumbuh, hatinya akan sangat terasa sesak. Ingin bertemu kembali tapi untuk apa, karena pertemuan hanya akan membuatnya semakin sulit melupakan. Tapi hatinya terus saja menekannya agar segera menemui pria yang masih tak mau pergi dari lubuk hatinya itu.
Bisa gila bila ia masih diam di kota yang sama dengan pria yang selalu di ingatnya tiap saat. Tiap waktu ia selalu berharap bahwa ia akan segera menemui hari di mana ia akan melangkahkan kakinya untuk pergi dari kota dan negara yang selalu menginggatkannya akan Rigel.
Hingga satu hari menjelang kepergiannya ke New York, Axel datang ke rumahnya. Secara tiba-tiba Axel menarik Lyra dan membawanya pergi dengan mobilnya.
"Kamu mau bawa aku kemana, Axel? Hingga membuatmu harus menarik paksa diriku untuk pergi," ucap Lyra terheran-heran.
"Aku akan membawamu ke tempat yang tak akan membuatmu menyesal nantinya."
Jawaban dari Axel mampu membuat Lyra merasa penasaran, tapi penasarannya itu tak membuatnya menaruh curiga. Ia malah berpikir, bahwa sahabatnya itu mungkin saja akan memberinya sebuah kejutan sebelum besok Lyra benar-benar pergi dari Indonesia. Lyra menggeleng dan bergumam dalam hatinya.
"Padahal sudah dewasa tapi seperti anak kecil ingin memberikan kejutan."
Namun anehnya, Axel malah membawanya pergi ke rumah Agni sampai-sampai membuat Lyra ditekuk kesal ketika sahabatnya itu selesai memarkirkan mobilnya di depan rumah wanita yang akan menjadi istri dari Rigel Callisto tersebut.
"Kenapa kamu membawaku kesini?" Tanya Lyra bernada marah.
Axel tak menjawab, ia malah terburu-buru turun dari mobil. Dan sementara Lyra, ia diam di dalam mobil sembari melipat lengannya di atas perut dengan wajahnya yang masih ditekuk kesal. Hingga membuat Axel sampai harus mengetuk jendela mobil di samping sahabatnya itu duduk.
"Bisa turun sekarang?"
Dengan pandangannya yang lurus ke depan, Lyra berkata. "Aku tak ingin turun, aku ingin pulang sekarang juga."
Seketika Axel membuka pintu mobil, lalu menarik paksa Lyra agar turun dari mobil.
"Kamu harus menemuinya sekarang juga. Dan urungkan niatmu untuk pergi ke New York."
"Siapa yang harus ku temui, apa itu Agni? Untuk apa aku menemuinya, bertemu dengannya hanya akan membuatku teringat pada Rigel."
"Bukan Agni tapi Rigel. Minggu depan Rigel akan melangsungkan pernikahannya, dan kamu harus menghentikannya sebelum kamu benar-benar menyesal."
Seketika Lyra menghempaskan tangan Axel dari lengannya. "Aku sudah merasakan penyesalan setelah menyakitinya. Apa penyesalan yang terjadi padaku berhak ku rasakan. Pergi darinya merupakan keputusanku, bila dia menikah dengan Agni itu adalah suatu hal yang terbaik untuknya."
"Tidak Lyra." Axel meninggikan suaranya." Bukan keputusanmu pergi dari Rigel, tapi itu keputusan dari ayahnya yang tak mau merestui kalian."
"Lalu, apa aku dan dia akan bahagia bila kembali. Akan banyak orang di sekitar kita yang tersakiti bila kita bersama."
"Perginya kamu dari Rigel itu bukan pengorbanan agar membuat kamu atau Rigel menjadi lebih baik. Tapi perginya kamu adalah egois, keputusanmu meninggalkan Rigel membuat Agni sahabatmu harus menikahi pria yang sama sekali tidak di cintainya. Lalu, kamu juga telah menyakiti Rigel dan juga dirimu sendiri. Tak hanya Rigel dan kamu saja yang tersakiti, tapi Jayden yang sudah menganggapmu ibu harus menanggung sakit atas kepergianmu. Apa itu yang namanya lebih baik."
Perkataan Axel mampu membuat Lyra menitikan air matanya. Ia menangis sembari memalingkan wajahnya dari Axel.
"Setidaknya Jayden dapat kembali pada Rigel dan setidaknya ayahnya tak akan membenci Rigel. Lalu, setidaknya orang tuaku tak akan tersakiti oleh mulut jahat dari ayahnya Rigel."
Lyra mencoba membrontak agar lengannya terlepas dari tangan Axel. Namun Axel terlalu kuat memegangnya hingga membuat Lyra tak mampu melepasnya.
"Bisakah kamu melepaskanku."
"Tidak bisa, Lyra. Aku tak ingin membuatmu terus-menerus menangis karena berpisah dengan Rigel."
Lalu di saat Axel dan Lyra sampai di ruang tengah rumah tersebut, nampak Sandy dan Rigel tengah berkumpul dengan semua anggota keluarga Agni. Seperti layaknya pertemuan keluarga yang tengah mediskusikan rencana pernikahan.
Semuanya nampak terkejut setelah melihat kedatangan Lyra dan Axel. Tapi anehnya, Agni dan Rigel sama sekali tak merasa terkejut seperti layaknya mereka yang melihat. Eksperesi Rigel dan Agni tampak tenang layaknya orang yang sudah tahu bila Lyra dan Axel akan datang.
"Mengapa kamu datang kesini?" Tanya Sandy dengan tatapannya yang kebingungan.
Seketika Rigel beringsut dari duduknya lalu melangkah menghampiri Lyra. Dan ketika langkah Rigel sudah mendekat, Axel kemudian menjulurkan tangan Lyra kepada Rigel.
Lyra mengerutkan alisnya. "Sebenarnya ini ada apa?"
Rigel meraih tangan Lyra lalu mengecup punggung tangannya di hadapan semua anggota keluarga yang hadir di rumah Agni. Dan berkata kepada semua orang. "Dialah wanita yang ku cintai. Aku akan menikah bila wanita itu adalah Lyra."
Lyra kebingungan dengan tindakan Rigel tersebut, hingga sampai membuatnya bertanya-tanya. Ada apa dengan Rigel, mengapa ia tak membenci Lyra saat dirinya hadir secara tiba-tiba di acara pertemuan keluarga, dan mengapa pula Rigel malah memberi tahu kepada semua orang yang hadir di rumah Agni bahwa Lyra adalah wanitanya.
Jika Lyra nampak kebingungan, lain halnya dengan semua keluarga Agni dan Rigel yang semakin terkejut setelah menyaksikan keberanian Rigel. Terutama orang tua Agni dan Rigel yang langsung ditekuk kesal dan marah atas aksi dari CEO PT Starlight itu.
Sontak ayah Agni pun berdiri dari duduknya dengan tatapan marahnya kepada Lyra dan Rigel.
"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak punya urat malu. Dan terutama untuk kamu Rigel, apa kamu sengaja ingin menyakiti anak saya."
Agni seketika ikut berdiri dari duduknya, lalu berkata. "Aku sama sekali tak merasa tersakiti. Justru aku senang melihat Rigel dan Lyra bisa bersama. Karena pria yang ku inginkan bukanlah Rigel, tapi Ryan."
"Cukup!! Berhenti kamu mengharapkan pria yang tak layak kamu cintai itu."
Lalu tiba-tiba saja Ryan datang, dan berkata di hadapan semua orang. "Agni hanya akan menikah dengan saya. Karena saya adalah ayah dari bayi yang tengah di kandungnya.
Sontak semuanya pun tersentak kaget setelah mendengarnya. Begitu pun dengan Lyra yang sangat-sangat terkejut setelah mendengar apa yang di ucapkan sekertaris dari mantan kekasihnya tersebut.
"Ada apa ini? Apa Agni benar-benar sedang hamil," lontar Lyra.
Ryan tersenyum. "Iya, dia sedang hamil dengan usia kadungan yang baru menginjak dua minggu."
Marahnya Billy Sanjaya sudah di tingkah didih, hingga membuatnya sampai harus melayangkan tamparan kepada putri bungsungnya itu. Tapi untungnya Ryan mencegahnya dengan cara menghalangi Agni dengan tubuhnya, hingga dirinyalah yang tertampar.
"Maaf, jangan pernah menyakiti Agni. Karena dia sedang hamil dan tubuhnya sangat lemah." Ryan lalu menarik Agni dan membawanya pergi dari rumah.
Begitupun dengan Rigel yang juga ikut membawa Lyra pergi.