My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
64. Cara Yang Ampuh Untuk Memastikan Perasaannya



Kesal dan marah tengah di rasa Rigel saat ini. Di saat dirinya pulang dari restoran, Lyra masih saja mencurigai Rigel. Yang ia pikir, Rigel sengaja tinggal di gedung apartemen yang sama dengannya, karena tahu bahwa Lyra juga tinggal di apartemen tersebut. Padahal sebelumnya Rigel tak tahu menahu bila perempuan yang tak mau kembali padanya itu, tinggal di gedung apartemen yang sama dengannya. Ini jelas kesalahan Ryan yang memberikan Rigel tempat tinggal di apartemen yang sama dengan Lyra. Dan yang paling jelas, karena ada campur tangan dari Agni juga. Karena dialah yang sangat mendorong Rigel untuk mengejar Lyra kembali.


Biarpun sudah di jelaskan beberapa kali, Lyra masih tak percaya dengan penjelasan dari Rigel. Terlebih lagi apartemen Rigel dan Lyra yang bersebelahan, inilah yang membuat Lyra tak bisa mempercayai Rigel. Apa lagi apartemen yang di tinggali Rigel merupakan apartemen senderhana yang tak mungkin di tempati oleh pria yang terkenal akan kemewahannya seperti Rigel.


Di saat Rigel akan hendak memasuki apartemennya, Lyra menghentikan langkah mantan kekasihnya itu.


"Aku masih tak bisa mempercayaimu. Aku tahu kamu merupakan orang yang mampu membeli tempat tinggal yang mewah, jadi bisakah kamu pindah dari sini."


Rigel menghela kasar nafasnya. "Aku punya hak untuk tinggal di sini. Aku membeli apartemen ini menggunakan uangku, dan ini adalah apartemen miliku. Bila kamu tak suka tinggal di sebelahku lebih baik kamu saja yang pindah dari sini."


Dengan cepat Rigel membuka pintu lalu memasukinya sembari menutup pintunya secara keras. Hingga membuat Lyra tersentak kaget menyaksikan Rigel yang marah itu.


Marahnya sudah berada di tingkat didih dan kesalnya sudah sangat kesal, hingga sedihnya karena Lyra yang tak mau kembali, sampai-sampai Rigel harus menelan kekecewaan yang teramat dalam. Terutama kecewa terhadap dirinya sendiri, karena sampai saat ini dirinya masih mengharapkan cintanya Lyra. Rigel memang kecewa terhadap dirinya sendiri, tapi Rigel lebih kecewa dengan Lyra yang jelas-jelas membohongi Rigel atas perasaannya. Mana bisa Rigel percaya dengan Lyra yang sudah melupakan perasaannya, bila Lyra saja tak ahli dalam bersandiwara. Karena bisa di lihat dari ekspresi di wajahnya, lalu saat berbicara, hingga yang paling utama dengan novelnya yang sangat menggambarkan, bahwa Lyra masih menaruh hati untuk Rigel.


Rigel menutup matanya sembari terduduk tegak di sofanya. Pikirannya kalut, ia merasa bimbang dengan dua pilihan antara menyerah atau tidak atas perasaannya. Terlalu sakit bila harus selalu berakhir dengan kekecewaan, dan terlalu sulit bila harus merelakan Lyra.


Hingga tak lama Rigel larut dalam lamunannya, tiba-tiba saja bel di pintunya berbunyi. Dengan cepatnya Rigel melangkah untuk membuka pintu. Ia pikir orang yang menekan bel apartemennya itu Lyra, hingga membuatnya harus menunjukan raut marah dan kesalnya karena prasangkanya yang salah itu. Namun nyatanya orang yang berada tepat di depan pintu apartemennya ialah Justin.


"Hey, apa kau baik-baik saja?" Tanya Justin yang terheran-heran menatap raut wajah dari temannya itu.


Rigel menghela. "Hampir saja marahku meledak." ucapnya sembari kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tengahnya.


"Memangnya siapa yang membuatmu ingin marah-marah?" Tanya Justin kembali yang semakin keheranan dengan Rigel.


"Entahlah."


"Bukankah seharusnya hari ini merupakan hari bahagiamu, oleh sebab itu aku datang sembari membawakan dua kotak pizza untuk merayakannya." Justin meletakan kantong yang berisi dua kotak pizza di meja. "Rasa pizza akan terasa enak bila di dampingi dengan segelas beer, apa kau memiliki beer? Tadi aku tidak sempat membelinya."


Rigel lalu beranjak mengambil beer di lemari es. Beer yang di ambilnya bukanlah dua kaleng, melainkan tujuh kaleng beer yang di ambilnya. Hingga membuat Justin pun sampai mengerutkan kedua alis ketika menatap Rigel yang membawa banyak kaleng beer di lengannya.


"Bukankah di sini hanya ada kita berdua. Mengapa kau membawa banyak sekali beer, apa kau ingin mabuk?"


Pizza dan beer menjadi pelengkap untuk mengobati suasana hati dan pikiran Rigel yang berantakan setelah di tolak Lyra. Bila enaknya pizza bisa mengobati suasana hatinya, tapi mengapa hanya beerlah yang Rigel teguk. Rigel hanya meneguk beer tanpa memakan pizzanya, dan ia meneguknya sembari bercerita tentang dirinya yang di tolak oleh Lyra. Menceritakan semuanya secara detail, sampai menceritakan tentang sikap Lyra yang tak bisa berbohong dengan perasaan kepada Rigel.


"Bila memang ingin memastikan perasaanya, bagaimana bila kamu menyewa wanita untuk di sewa sebagai kekasih pura-puramu," saran Justin sembari menikmati minuman beralkohol yang di sediakan Rigel tersebut.


"Ku pikir itu memang saran yang bagus, tapi aku tak ingin berpura-pura berpacaran dengan wanita yang tak ku kenal. Bagaimana bila suruh adikmu saja untuk menjadi kekasih pura-puraku."


Seketika Justin melebarkan matanya. "Maksudmu Jane? Aku tak bisa membiarkannya untuk menjadi kekasih pura-puramu."


"Hanya sehari saja jadi kekasih pura-puraku."


Justin menggeleng cepat kepalanya. "Biarpun sehari, aku tetap tak mengizinkanmu untuk menjadikan adikku sebagai kekasih pura-puramu. Dan bagaimana bisa memastikan perasaan Lyra, bila hanya sehari saja."


Rigel menghela nafasnya. "Sehari bisa langsung memastikannya. Karena aku berencana mengajak semua teman kita dan semua teman kekasihmu untuk berlibur di resortku yang berada di dekat pantai West Wittering. Selama di sana aku akan memancing perasaannya."


Walau tak suka bila harus membuat adik perempuannya jadi kekasih pura-puranya Rigel. Tapi Justin akhirnya mau menyetujuinya setelah Rigel terus memaksa dan mencoba menjelaskanya


"Baiklah, aku akan membujuk Jane agar mau menjadi kekasih pura-puramu. Tapi ingat, hanya sehari saja."


...****************...


Setelah esok harinya, Rigel berangkat kerja walau kepalanya masih pengar setelah semalam ia terlalu banyak meminum beer. Ketika Rigel akan hendak memasuki mobilnya, Lyra datang ke parkiran. Karena memang mobil yang di parkirkannya bersebelahan dengan mobil milik Rigel, jarak pandang ketika melihat Lyra itu sangat dekat. Apa karena masih merasa mabuk, entah mengapa mata Lyra nampak bengkak seperti habis menangis semalaman, ketika Rigel menatapnya.


"Apa aku salah lihat. Mengapa dia tampak seperti sehabis menangis," gumam Rigel di batinnya.


Seperti layaknya orang yang tak saling mengenal, mereka pergi tanpa saling menyapa terlebih dahulu. Terutama dengan Rigel yang menunjukan sikap dinginnya ketika Lyra menatapnya dengan raut sendunya, seakan-akan ia ingin mengatakan sesuatu kepada Rigel.


Rigel ingin sekali bertanya dengan keadaan wanita yang sangat di harapkannya itu. Namun ia urungkan, karena salah satu langkah untuk memancing perasaan Lyra yaitu dengan cara mengabaikannya. Walaupun terasa berat untuk Rigel ketika harus mengabaikan wanita yang sangat di cintainya itu. Terlebih lagi raut sendu Lyra jelas terlihat di mata Rigel. Karena sangat jelas bila Lyra sedang tak baik-baik saja.