
Tubuh Lyra mungkin terlalu lemah hingga membuatnya lama untuk terbangun dari pingsannya. Dan suhu tubuhnya panas, hingga membuat ibunya harus menyiapkan kompresan untuk Lyra. Sementara Axel dia langsung saja bergegas membeli obat di apotek.
Lalu tak lama dari apotek, Axel kembali membawakam obat demam yang telah di belinya untuk Lyra. Ia pun langsung saja menjaga Lyra di kamar, sementara sarah ia langsung bergegas ke dapur untuk membuatkan bubur untuk putrinya yang tengah sakit itu.
Selama Lyra tak sadarkan diri, ia terus saja mengigau memanggil nama Rigel. Bahkan salah satu matanya pun sampai menitikan air. Axel yakin penyebab dari sakitnya Lyra itu karena ia terlalu keras memikirkan Rigel dan juga terlalu lelah karena terus-menerus menyibukan diri tanpa adanya istirahat sehari pun.
Hingga membuat Axel merasa bersedih meratapi Lyra yang tak bisa melupakan Rigel dari lubuk hatinya. Hingga membuatnya berpikir, apa harapan yang selama ini ia dambakan bisa terwujud. Mengalihkan hati Lyra dari Rigel memang cukup sulit. Axel juga tak tega bila harus terus-menerus melihat Lyra yang menderita karena terlalu merindukan Rigel. Ia juga tak bisa melihat Lyra yang menderita karena berusaha melupakan Rigel namun hasilnya masih tetap sama. Tak sedikit pun Lyra bisa mengalihkan pikirannya dari Rigel.
Jauh berbeda ketika Lyra putus dari Daniel. Di saat putus dengan Daniel, Lyra tak semenderita ketika putus dengan Rigel. Lyra masih bisa tersenyum dan tertawa bersama teman-temannya. Lain halnya ketika putus dengan Rigel, tak sedikit pun Lyra bisa tersenyum maupun tertawa. Yang sering ia lakukan hanyalah menangis karena terlalu merindukannya dan juga menangis karena marah terhadap dirinya yang tak bisa bersanding dengan Rigel. Bahkan ketika sendiri, Axel selalu mendapati Lyra larut dalam lamunannya sembari menitikan air matanya.
Axel memang senang memiliki kembali harapannya, tapi Axel tak senang bila melihat Lyra bersedih. Axel jauh lebih senang bila melihat Lyra bahagia walau bukan dirinya yang berada di sampingnya.
Lalu tiba-tiba kedua mata Lyra terbuka secara perlahan. Dan langsung saja menatap ke arah Axel yang tengah duduk di kursi samping sebelah tempat tidurnya sembari menatap Lyra dengan raut sendunya.
Lyra lalu mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk."Sedang apa kamu di sini, kenapa belum pulang?" Tanyanya menatap heran sahabatnya itu.
Axel tersenyum, lalu menyentuh kening Lyra untuk memastikan suhu tubuhnya. "Suhunya masih panas, lebih baik kamu kembali berbaring. Ibumu sedang membuatkan bubur untukmu, nanti makan setelah itu minum obatnya."
"Aku merasa tak nyaman bila harus berbaring."
Axel menggeleng. "Memangnya kamu tak merasa pusing bila duduk seperti itu. Lebih baik kamu berbaring saja dan melanjutkan tidurmu. Nanti bila ibumu sudah selesai membuatkan bubur akan ku bangunkan."
Lyra menghela. "Aku tak akan tidur bila kamu tak pulang. Lebih baik kamu pulang sekarang, ini sudah larut malam. Lagi pula aku juga malas makan karena ini bukanlah waktu yang pas untuk makan."
"Meski ini bukanlah waktu yang pas untuk makan, setidaknya perutmu jangan di biarkan kosong. Aku tahu dari ibumu, sejak kamu pergi dari rumah makan kamu belum makan sama sekali. Ini sebabnya kamu jadi sakit."
Walau tak nafsu makan Lyra tetap makan setelah ibunya selesai membuatkan bubur untuknya. Bahkan Axel sampai harus menyuapi Lyra untuk memaksanya agar menghabiskan buburnya. Selama menyuapi Lyra, Axel ingin sekali bertanya tentang pertanyaan yang sempat belum Lyra jawab sebelum tadi pingsan. Kemana ia dan mengapa tadi teleponnya tak di angkat. Dan lalu mengapa Lyra nampak sembab ketika datang ke rumah.
Axel tahu Lyra menangis pasti karena Rigel, tapi sedihnya Lyra tak seperti biasanya. Ia pergi dan pulang di jam yang hampir larut malam. Apa karena ia sempat bertemu dengan Rigel, pikir Axel. Ada apa dengan Lyra hingga sampai membuat semua orang khawatir karena tadi Lyra sulit di hubungi.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Axel ketika selesai menyuapi Lyra.
Seakan ingin menutup kesedihannya dari Axel, Lyra memaksakan senyumnya. "Tentu saja aku baik-baik saja."
Lyra menggeleng dengan matanya yang mulai tergenang. "Tidak. Aku tak habis menemui siapapun."
Axel meraih tangan Lyra. "Aku yakin kamu pasti tak sedang baik-baik saja. Bisakah kamu jujur padaku, bukankah aku adalah sahabatmu. Jadikan aku tempat bersandarmu, jangan bersedih seorang diri. Dan jangan pula menyembunyikan tangismu. Bukankah itu sangat menyakitkan bila kamu menanggungnya sendiri."
Seketika Lyra menitikan air matanya, dan pada akhirnya tangisnya pun pecah. "Rigel akan segera melangsungkan pernikahannya."
Sontak Axel pun langsung saja mendekap erat tubuh Lyra sembari mengusap-ngusap pungung sahabatnya itu.
"Bila Rigel hanya bisa membuatmu bersedih maka segeralah lupakan dia. Dan hapuslah dia di hati dan pikiranmu."
"Aku sudah berusaha tapi dia tak mau pergi dari hati dan pikiranku, karena aku terlalu mencintainya. Jujur saja, aku tak mau berpisah dengannya," ucap Lyra yang semakin keras menangis.
Melihatnya menangis seperti ini membuat hati Axel pun ikut merasakan kesedihannya. Dalam hati dan pikirannya Axel ingin berkata, mengapa Lyra sangat sulit untuk melupakan Rigel. Berpisah dengan Rigel memang belum terlalu lama, tapi bisakah secepatnya ia dapat melupakannya. Karena hati Axel terlalu sakit bila harus melihat Lyra semenderita ini. Axel juga sangat kesal karena Lyra tak bisa sedikit pun membuka harapan untuknya.
Sesak hatinya ketika nama Rigel terus keluar dari mulut Lyra. Lyra menangis dan terus-menerus memanggil nama Rigel.
Axel lalu menyeka bulir air dari kedua pipi dan mata Lyra. "Bisakah kamu berhenti menyebut namanya. Karena jika terus menyebutnya, bagaimana bisa kamu akan melupakannya."
"Sudah ku usahakan tapi sulit untukku melupakan Rigel." Lyra menundukan kepala untuk memalingkan wajahnya dari Axel. "Seharusnya akulah yang menikah dengannya. Dan seharusnya tahun depan Rigel melamarku."
Axel seketika menghela kasar nafasnya. "Jika menyesal lalu mengapa kamu memutuskan hubunganmu dengannya. Jika kamu ingin menggantikan Agni, maka kembalilah padanya."
Axel lalu beringsut dari duduknya dengan raut wajahnya yang kesal. "Aku akan pulang sekarang. Jangan lupa minum obatnya."
Marah, kesal, dan juga sedih, saat ini di rasa Axel. Bila memang Lyra menyesal lalu mengapa ia memutuskan hubungannya dengan Rigel, hingga membuat Axel kembali berharap namun tak di beri celah oleh Lyra. Sudah bertahun-tahun lamanya mereka menjalin persahabatan, tapi hanya hati Axelah yang menganggap Lyra lebih dari sekedar sahabatnya. Dan sudah bertahun-tahun lamanya pula Axel bertepuk sebelah tangan. Tak sedikit pun hati Lyra tergerak untuk Axel, bahkan saat ini pun Lyra masih tak bisa menggerakan hatinya untuk Axel.
Bersabar, Axel sudah terlalu lama bersabar dan tak sedikit pun Lyra berniat membuka hatinya untuk Axel. Bila harus bersabar, sampai kapan lagi Axel harus bersabar. Sudah bertahun-tahun lamanya Axel bersabar menunggu Lyra membuka hatinya untuknya. Bila memang takdirnya bukanlah untuk Axel, maka dirinya harus kembali melepas Lyra untuk orang lain. Karena Axel juga tak sanggup bila harus terus bertepuk sebelah tangan. Bila memang hati Lyra untuk Rigel, maka Axel harus segera menghapuskan perasaannya untuk Lyra.
"Bila memang dialah yang kamu mau, maka aku akan membuatmu kembali padanya," batin Axel yang berkecamuk dengan sedihnya.