My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
68. Hasil Buah Cinta Rigel Dan Lyra



Lyra sudah di konfirmasi berada di apartemennya, tapi rasa tak sabar ingin jumpa terus mengebu-ngebu dalam dirinya. Hingga membuatnya harus mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Perasaan yang di rasa Rigel tak jelas adanya, antara merasa senang dan sedih bercampur aduk. Perasaannya menangis bahagia karena perempuan yang sangat dirindukannya telah kembali pulang. Rigel tak perlu susah payah pergi ke New York atau ia tak harus menunggu sampai semua pekerjaannya selesai, karena Lyralah yang akhirnya datang menghampiri.


Sesampainya di apartemen, dengan cepatnya Rigel mendekap tubuh wanita yang telah di beri status kekasihnya itu.


"Aku sangat merindukanmu, Lyra. Mengapa kamu pergi tanpa memberikanku kabar." Rigel melepaskan dekapannya, lalu memegang pipi Lyra dengan salah satu tangannya. "Apa selama ini kau baik-baik saja. Mengapa matamu seperti habis menangis."


Seketika Lyra menitikan air matanya sembari menundukan kepala. Dan Rigel pun panik menatap wanita yang sudah hampir tiga minggu tak di lihatnya tersebut.


"Mengapa kau menangis. Apa yang sudah membuatmu menangis?" Rigel menyeka bulir air di kedua mata dan pipi Lyra.


Sembari menangis, Lyra memukul-mukul dada bidang Rigel. "Dasar bodoh, mengapa kamu membuatku semakin kesulitan untuk pergi dari sisimu."


"Jelas saja kamu akan kesulitan untuk lepas dariku, karena hatimu saja masih menyimpan rasa untukku."


"Bukan hanya itu saja yang membuatku sulit untuk terlepas darimu. Tapi ada kehidupan baru yang muncul di perutku."


Rigel menelan salivanya, ia tersentak kaget setelah mendengar apa yang di ucapkan kekasihnya tersebut. "Apa maksudmu? Apa kamu sedang hamil."


Lyra mengangguk. "Iya, sudah beberapa hari ini aku merasa mual dan aku pun telat datang bulan. Aku mengeceknya lewat test pack dan mendapati dua garis biru. Karena tak percaya dengan hasil dari test pack, aku pun memastikannya ke dokter kandungan. Dan kata dokter, aku memang benar sedang hamil."


Kabar tersebut memang mengejutkan Rigel, tapi dari kabar tersebut Rigel dapat merasakan bahagia berkali-kali lipat. Ia tak menyangka bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah dari anak yang tengah di kandung kekasihnya tersebut.


"Ini merupakan kabar baik. Aku sangat senang ketika mendengarnya."


"Dasar bodoh, hiks." Lyra semakin keras menangis. "Seharusnya aku hamil setelah menikah, mengapa harus sebelum mendapatkan status sebagai istri. Kamu sudah membuat kesalahan yang patal, hingga membuatnya harus datang lebih cepat."


Rigel berdesis. "Stttt, tidak baik berbicara jelek seperti itu, bayi kita tak akan senang bila mendengarnya. Kehidupan yang tengah tumbuh di perutmu merupakan anugerah dari tuhan. Seharusnya kamu senang mendapati anugerah baik seperti ini. Kamu pasti menyayanginya kan?"


"Tentu saja aku menyayanginya, bayi yang tengah bernafas di perutku merupakan anakku."


Rigel mendekap erat tubuh Lyra sembari tersenyum dengan tangis harunya. "Bagus bila kamu menyayanginya. Aku pun sangat menyayangi kehidupan baru yang tumbuh di perutmu itu."


"Lalu bagaimana dengan hubungan kita. Apa ayahmu akan merestui kita, dan apakah dia akan senang bila memiliki seorang cucu dariku."


"Biarpun dia menentang hubungan kita, aku tak akan pernah meninggalkanmu dan anak kita. Aku tak akan membuat anak kita hidup tanpa seorang ayah. Aku akan memberikan kasih sayang seorang suami untukmu, dan aku pun akan memberikan kasih sayang seorang ayah untuk anak kita."


"Lalu bagaimana dengan ayahku, dia sangat membencimu. Jika dia tahu bahwa aku tengah mengandung anakmu, dia pasti akan murka kepadaku."


Rigel melepaskan dekapannya, lalu mengerutkan alisnya sembari menatap Lyra. "Apa kamu belum memberitahunya?"


Lyra menggeleng cepat kepalanya. "Belum, karena aku terlalu takut bilang kepadanya."


"Setelah menemui ayahku di Indonesia, kita harus menemui orang tuamu ke New York dan meminta restu padanya. Jadi mulai hari ini, kita harus menemui ayahku terlebih dahulu. Lalu setelah itu kita pergi ke New York. Agar secepatnya kita bisa melangsungkan pernikahan."


Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Rigel pun beranjak membuka pintu apartemennya. Saat di bukanya, ternyata orang yang menekan tombol bel di pintunya tersebut merupakan Agni.


"Dia sedang berada di dalam."


Agni pun terburu-buru masuk, lalu menghampiri Lyra yang tengah duduk di sofa dengan matanya yang bengkak akibat sehabis menangis.


"Apa tadi kamu menangis? Pasti Rigel kan yang membuatmu menangis seperti ini," ucap Agni yang panik ketika mendapati wajah sendu dari sahabatnya.


Lyra tersenyum. "Aku hanya menangis bahagia karena bisa bertemu dengannya lagi. Ada yang ingin ku sampaikan padamu, Agni."


"Apa yang ingin kau sampaikan?"


"Hm, saat ini aku sedang hamil."


Agni tersenyum girang setelah mendengarnya. "Benarkah? Selamat Lyra. Tapi mengapa bayimu harus datang secepat ini." Agni lalu menatap Rigel dengan tatapan sinisnya. "Dasar pria jahat, kamu telah menghamili perempuan polos seperti Lyra. Caramu untuk membuatnya kembali merupakan cara yang hina."


"Lagi pula dia hamil karena atas dasar dari cinta kami. Bayi yang tumbuh di perutnya adalah buah cinta kami. Lyra hamil bukanlah kesalahan, melainkan sebuah anugerah."


"Apa yang di katakan Rigel memang benar. Dan kamu jangan berkata buruk kepada Rigel, karena biar bagaimana pun dia merupakan ayah dari bayi yang ku kandung," lontar Lyra.


"Benar kata Lyra, aku adalah ayah dari bayinya. Kamu tak pantas berbicara kasar seperti itu padaku, tak baik bila di dengar si jabang bayi. Lagi pula dulu kamu pun juga merupakan perempuan yang polos, bahkan lebih polos dari Lyra, karena sebelumnya kamu tak pernah berpacaran. Begitu pacaran dengan seorang pria kamu langsung hamil," ucap Rigel dengan gelak tawa.


Agni menunjuk ke arah wajah Rigel dengan jari telunjuknya. "Stop, membalikan pembicaraanku. Kami melakukannya atas dasar dari kemauan kami, tak ada paksaan dari Ryan maupun dariku."


Rigel menyeringai. "Aku pun begitu, aku dan Lyra melakukannya karena kami saling mencintai."


Lyra sampai menggelengkan kepalanya ketika menyaksikan kekasihnya dan sahabatnya saling beradu Argumen. Lyra menghela. "Bisakah kalian berhenti bertengkar di depanku. Kepalaku sangat pusing karena mendengarkan kalian bertengkar."


"Maaf... Maaf, Lyra." Rigel lalu duduk di sebelah Lyra sembari marangkul pundaknya dengan kedua lengan. "Sepertinya kamu lelah setelah melakukan perjalan panjang dari New York ke London. Apa kamu ingin beristirahat di kamarku saja."


"Tidak perlu. Bukankah tadi kamu bilang kita akan pergi ke Indonesia hari ini."


"Hm, sepertinya aku menarik ucapanku itu. Aku tak bisa membawamu pergi hari ini, karena kamu terlalu lelah jika harus hari ini pergi ke Indonesia."


Lyra menghela. "Aku tak bisa menunda-nunda untuk memberi kabar baik ini kepada ayahmu. Dan aku pun ingin kamu secepatnya mendapatkan status sebagai suamiku." Lyra lalu meraih tangan Rigel. "Jadi kumohon bawa aku pergi ke Indonesia sekarang juga."


Biarpun Rigel sangat mengkhawatirkan kondisi Lyra, tapi ia luluh ketika Lyra sangat memohon untuk menuruti kemauannya. Rigel tak bisa menolak permintaan Lyra, terlebih Rigel percaya dengan perkataan orang zaman dulu bila orang hamil harus di turuti kemauannya.


Rigel menghela. "Baiklah, aku akan membawamu pergi hari ini. Bila kamu sakit atau kecapean, kamu bilang padaku."


Lyra mengangguk. "Akan ku pastikan untuk memberitahumu."


Terpaksa Rigel pun harus menghubungi Ryan, dan meminta sekertarisnya itu untuk menyiapkan pesawat pribadi. Karena akan lebih baik bila Lyra menumpangi pesawat pribadi, di tengah kondisinya yang hamil muda.