
Satu restoran di booking Rigel, agar pertemuannya tak terganggu oleh orang. Dan bila hanya ada berdua, pertemuannya akan memberikan kesan yang romantis. Kaus putih, jas hitam, serta celana dengan warna hitam, menjadi pakaian yang di kenakan Rigel untuk bertemu dengan Lyra. Setelah tiga tahun lamanya Rigel akan kembali melihat sosok wanita yang selalu di rindukannya setiap hari. Betapa tak sabarnya ia untuk bertemu dengan Lyra, hingga membuatnya terus-menerus merapihkan pakaian dan rambutnya. Jika terlihat tampan, Lyra mungkin saja akan terpesona melihat Rigel.
Setelah tiga puluh menit Rigel menunggu, akhirnya Lyra nampak berada di pintu masuk. Walau masih jauh terlihat, tapi wajah cantiknya masih jelas terlihat di mata Rigel. Rigel sangat bahagia dan hatinya pun menangis haru menatap wanita yang sangat di rindukannya itu. Matanya sampai tergenang ketika menatap wajah yang telah lama tak di lihatnya secara langsung. Dan di saat Lyra akan hendak menghampiri, Rigel langsung saja menutupi wajahnya dengan buku menu.
"Maaf sudah membuat anda menunggu. Apa benar anda merupakan orang yang di sebutkan Justin untuk bertemu dengan saya?"
Lyra sudah berada di dekatnya, Rigel tak boleh menunjukan raut sedihnya bila pertemuannya tak ingin menjadi berantakan. Rigel pun menarik nafasnya terlebih dahulu, lalu secara perlahan ia meletakan buku menu yang di pegangnya ke atas meja.
Sontak Lyra pun terkejut ketika melihat wajah dari sang mantan kekasih yang berada tepat di depannya itu. Matanya pun seketika tergenang dan raut wajahnya pun berubah menjadi sendu.
"Rigel, sedang apa kamu di sini?"
"Menunggumu."
Seketika Lyra pun berbalik, dan kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Rigel dengan raut wajahnya yang nampak marah. Spontan Rigel pun langsung saja meraih tangannya untuk menghentikan langkahnya.
"Tunggu, aku sudah lama menunggumu. Mengapa kamu pergi di saat kamu tahu bahwa akulah yang memanggilmu untuk datang kesini."
"Sudah kukatakan sebelumnya, jangan pernah datang menemuiku. Dan jangan pernah kamu mencariku. Mengapa kamu tak menuruti permintaanku."
Rigel menghela kasar nafasnya. "Aku tak pernah berniat mencari keberadaanmu. Aku di London, memang di tugaskan ayahku untuk mengelola perusahaan yang berada di sini. Dan aku tak tahu bila penulis dengan atas nama Star adalah kamu. Aku memanggilmu bukan karena kamu seorang Lyra, tapi aku memanggilmu karena sebagai penggemar dari penulis dengan nama Star."
"Bernakah?"
"Coba saja kau lihat novel-novel yang ku letakan di atas meja." Rigel tersenyum. "Aku ingin menemuimu karena aku ingin mendapatkan tanda tangan dari penulis atas nama Star."
Marahnya pun mereda, akhirnya Lyra mau duduk di meja yang sama dengan Rigel. Tiga tahun lamanya tak bertemu, membuat Rigel maupun Lyra merasa canggung. Bahkan tiap kalimat yang mereka ucapkan selalu saja terbata-bata. Untuk mengatasi canggungnya, perlahan Rigel mengatur nafasnya terlebih dahulu. Berbicara dengan santai seperti biasanya harus di lakukan Rigel, agar obrolannya terasa nyaman.
Rigel menelan salivanya. "Bagaimana dengan kabarmu selama tiga tahun ini?"
"Hm, baik. La...lu bagaimana denganmu?" Tanya balik Lyra yang masih saja terbata-bata karena canggungnya.
Rigel tergelak. "Aku pun sama baiknya. Hm, bisakah kamu berbicara santai padaku. Aku tahu kamu pasti merasa canggung setelah sekian lamanya kita tak bertemu."
Seketika Lyra meraih gelasnya yang berisi wine, lalu meneguknya sampai habis. "Aku hanya takut salah berbicara. Mungkin karena kita sudah seperti orang asing."
"Apa bagimu aku seperti orang asing?"
Lyra melambaikan cepat tangannya. "Tidak... Tidak. Karena aku sudah lama tak bertemu denganmu, jadi aku merasa canggung terhadapmu."
Rigel tersenyum. "Bila aku bukan orang asing, lalu menurutmu aku siapanya kamu."
"Sejak kapan kamu datang ke London?" tanya Lyra mengalihkan pembicaraan.
Rigel tergelak. "Apa kamu sedang mengalihkan pertanyaan dariku. Apa kamu ingin bilang bahwa aku adalah orang yang pernah singgah di hatimu, atau aku adalah orang yang masih mendiami hatimu sampai saat ini."
Lyra menghela. "Kamu adalah orang yang pernah singgah di hatiku. Tapi aku sudah lama melupakan perasaan itu kepadamu."
"Bernahkah? Oh ya, saat ini ayahku sudah membebaskanku untuk memilih wanita yang aku inginkan."
"Lalu, apa kamu sudah mendapatkan wanita yang kamu inginkan."
"Tentu saja sudah ada. Itu adalah kamu."
Spontan Lyra pun meletakan garpu dan pisaunya di atas piring. "Apa pertemuan ini sebenarnya sudah kamu rencanakan, karena sebenarnya kamu sudah tahu bahwa akulah pengarang yang kamu baca novelnya. Dan kamu memintaku untuk datang menemuimu, karena kamu ingin membuatku kembali padamu." Lyra menghela kasar nafasnya. "Itu tidak akan terjadi, Rigel. Aku tak akan pernah mau kembali padamu."
"Aku bisa merasakan bahwa kamu masih memiliki perasaan terhadapku. Mengapa kamu sangat egois terhadap perasaanmu sendiri. Bila kita kembali, tak akan ada lagi yang akan menghalangi hubungan kita. Karena ayahku pasti akan mengakui hubungan kita. Dia telah membebaskanku memilih wanita yang aku inginkan. Dan wanita yang aku inginkan selama ini adalah kamu."
"Dia membebaskanmu memilih wanita yang kamu inginkan, itu adalah wanita yang kedudukannya setara denganmu." Lyra berdiri dari duduknya. "Jangan berharap padaku, karena aku tak ingin membuat hatiku lelah karena mempertahankan hubungan yang tak akan pernah berakhir bahagia." Lyra pun beranjak pergi meninggalkan Rigel dengan kedua matanya tergenang.
Rigel pun beranjak mengejar Lyra, lalu meraih tangannya untuk menghentikan langkahnya.
"Apa kamu tidak bisa mempercayaiku. Aku yakin hubungan kita tak akan lagi di halangi oleh ayahku."
Lyra melepas tangannya dari Rigel. "Aku tak bisa mempercayaimu. Karena aku tak ingin membuat diriku merasa kecewa dengan memilih kembali padamu." Lyra kembali melangkahkan kakinya dengan kedua matanya berurai air.
Lagi dan lagi Lyra tak bisa di raih Rigel, hatinya terasa sesak dengan apa yang di ucapkan Lyra barusan. Kecewa dan juga kesal tengah di rasa Rigel setelah mendengar ucapan dari wanita yang tak bisa enyah dari hatinya itu. Apa ini harapan terakhir untuk Rigel, untuk membuat wanita yang sangat di cintai kembali pada sisinya. Terlalu sakit bila harapannya terus berakhir dengan kekecewaan.
Rigel pun pulang menggunakan mobilnya yang ia kemudikan dengan jalur yang sama dengan Lyra. Karena memang tinggal di gedung apartemen yang sama, membuat mobil yang di kemudikannya itu berada tepat di belakang mobil Lyra. Hingga ketika mobilnya sudah berada area parkiran, Lyra turun dari mobilnya lalu menghampiri Rigel dengan raut marahnya.
"Bisakah kamu berhenti mengikutiku."
"Aku tak mengikutimu, Lyra. Aku tinggal di gedung apartemen ini."
"Kamu tinggal di gedung apartemen ini, itu pasti karena kamu tahu aku tinggal di sini kan."
Rigel menghela kasar nafasnya. "Sebelumnya aku tak pernah tahu bila kamu tinggal di apartemen ini. Bila bukan karena kesalahan Ryan yang mencarikan apartemen untukku, aku tak akan pernah tinggal di apartemen yang sangat tidak layak untuk di tempati. Jadi, berhenti mencurigaiku."
Rigel pun beranjak pergi dengan langkahnya yang cepat, serta dengan raut wajahnya yang tampak sangat terlihat marah dan kesal.