
Restoran mewah bergaya arsitektur eropa adalah tempat di mana Axel membawa Lyra pergi untuk makan malam. Ketika mereka mendaratkan diri di kursi, seorang waiters datang membawakan dua steak yang mungkin sudah di pesan Axel sebelum mereka sampai di restoran. Cara Axel meminta maaf terbilang cukup unik, ia tak mengeluarkan kata maaf, tapi ia lakukan dengan sebuah tindakan. Memotongkan steak untuk Lyra bahkan menuangkan air ke gelas Lyra.
Setelah beberapa hari marahan, rasanya sedikit canggung bagi Lyra dan juga Axel. Mereka mengobrol terbata-bata layaknya orang gugup ketika berbicara dengan orang yang belum lama berkenalan. Bahkan setiap topik pembicaraan yang di lontarkan Axel selalu tak jelas dan tak di mengerti oleh Lyra. Sampai-sampai membuat Lyra tertawa lepas ketika mendengarnya.
"Sebenarnya apa yang kau bicarakan. Kita sudah berteman bertahun-tahun tapi seperti baru kenal kemarin."
Axel seketika menggaruk tengkuknya walau tak terasa gatal. "Entahlah. Apa kau bisa berhenti menertawaiku seperti itu," ucapnya di tekuk kesal.
"Aku tak tahu bagaimana caranya menghentikan tawaku ini, bila kamu saja tampak terlihat konyol di mataku."
"Bukan aku saja yang terlihat konyol tapi kamu pun sama halnya sepertiku. Bukankah tadi kamu berucap terbata-bata."
"Apa aku memang terlihat seperti itu ya," ucap Lyra yang tak bisa menghentikan gelak tawanya.
Axel lalu mengambil potongan steak miliknya, dan memasukannya secara cepat ke dalam mulut Lyra, agar sahabatnya itu berhenti menertawainya.
"Sudahlah habiskan makananmu." Axel menggeleng. "Kamu benar-benar sudah membuatku malu, Lyra."
Hanya secara singkat, Lyra dan Axel dapat berbaikan. Cukup menyenangkan dan mengenyangkan setelah di traktir makanan mahal di restoran mewah. Sehabis dari restoran, Axel membawa Lyra berjalan berkeliling kota menikmati pemandangan malam di sana. Menghirup udara kota pada malam hari cukup menyegarkan biarpun sedikit berpolusi, tapi setidaknya tak setebal polusi pada siang hari. Karena pada malam hari orang-orang tak banyak yang beraktivitas. Mereka berjalan menyusuri jalanan di kota yang tempatnya tak jauh dari restoran tempat Lyra dan Axel makan.
Tak hanya Lyra dan Axel saja yang menikmati suasana malam di sana, tapi banyak juga pejalan kaki yang menikmati suasana di jalanan tersebut.
"Sejak kita sibuk dengan pekerjaan, sudah lama kita tak seperti ini. Orang mungkin akan mengira bila kita sedang berkencan, padahal hubungan kita hanyalah sebatas sahabat."
Rona merah di raut wajah Axel pun seketika memerah. "Benarkah?"
Lyra mengangguk sembari memicingkan matanya menatap Axel. "Iya, kau membawaku pergi ke restoran tempat di mana orang-orang membawa pasangannya makan malam. Dan sekarang kita berjalan-jalan seperti ini layaknya orang yang tengah menikmati kencan."
Axel tersenyum. "Ku harap ini nyata."
"Tentu saja ini nyata, bukanlah hanya sekedar mimpi semata. Kita ini memang benar-benar sedang berjalan dan tadi kita sempat makan di restoran mewah."
Axel menghela. "Sebenarnya bukan itu yang aku maksudkan."
Sekali lagi ucapan Axel mampu membuat Lyra kembali curiga. Lyra pun akhirnya merangkai semua yang pernah di ucapkan Axel padanya, tentang dia yang marah ketika Rigel datang ke rumahnya, tentang saat dia marah ketika Lyra tak ingin memutuskan hubungan palsunya dengan Rigel, serta saat Axel marah ketika mendapati Lyra tengah berdiri di depan hotel. Lyra kini sudah yakin bahwa sebenarnya Axel memiliki perasaan yang bukan di miliki oleh seorang sahabat. Karena Lyra sudah meresmikan hubungannya dengan Rigel, ia perlu memberitahu sahabatnya tersebut. Agar sahabatnya itu berhenti mengharapkan sesuatu yang tak di inginkan oleh Lyra.
"Kemarin aku sudah meresmikan hubunganku dengan Rigel. Jadi sejak kemarin kami sudah sah menjadi sepasang kekasih," lontar Lyra tanpa menatap.
Setelah mendengar apa yang di katakan Lyra, raut wajah Axel nampak bersedih. Ia seperti tak menyangka dan ia juga seperti nampak kesal setelah mendengarnya.
"Tak bisakah kamu membuatku mencapai harapan yang sudah lama ku inginkan. Mengapa kamu selalu saja memutuskan harapanku ini, Lyra."
"Bukan memutuskan, tapi kamu tak seharusnya memiliki harapan terhadapku."
"Apa kamu takut bila hubungan persahabatan kita hancur karena aku memiliki perasaan terhadapmu."
"Tentu saja aku takut. Kita sudah membangun persahabatan ini bertahun-tahun lamanya. Bila kita berpacaran dan lalu putus, apa hubungan kita akan sama. Lagi pula, aku sama sekali tak memiliki perasaan terhadapmu selain rasa sayang sebagai sahabat."
Lyra pun berlari mengejarnya. "Mengapa harus menjauhiku. Kamu tahu, bahwa perasaanmulah yang telah menghancurkan persahabatan kita. Seharusnya kamu tak berharap lebih padaku, agar kamu tak memiliki perasaan seperti ini."
Axel seketika menghentikan langkahnya. "Apa kau pikir perasaan dapat di paksakan. Ini terjadi begitu saja. Seharusnya aku tak menjalin persahabatan denganmu atau seharusnya orang tuaku tak dekat dengan keluargamu, agar aku bisa menjadi orang lain seperti Rigel. Dan aku pun bisa membuatmu menjadi kekasihku, bukan jadi sahabatku."
Sontak mata Lyra pun mulai tergenang setelah mendengar apa yang di ucapkan Axel tersebut, ia sangat tak menyangka bahwa harapan yang di miliki Axel sangatlah besar. Tak seperti dirinya yang tak sedikitpun memiliki perasaan layaknya ia terhadap Rigel.
"Lalu, apa kau ingin kita menjauh hanya karena keegoisan perasaanmu itu."
"Bukan egois, tapi ini demi kebaikan kita. Bila aku selalu berada di sisimu, apa perasaan yang ku miliki ini akan menghilang."
Axel pun lalu pergi dengan kedua matanya yang sedikit tergenang. Ia yang sudah sangat berharap, selalu saja di buat tak menyangka bila perempuan yang setiap saat selalu di sisinya itu, selalu tak bisa di gapainya hanya karena sebuah ikatan persahabatan.
Setelah Axel melangkahkan kakinya, Lyra berdiam mematung menatap punggung Axel yang setiap langkahnya perlahan terus menjauh. Salah satu matanya sudah tak sanggup menahan beratnya air yang tergenang memenuhi bola matanya, hingga bulir air mulai terjatuh dari salah satu matanya tersebut. Lyra pikir bila ia tak menjalin hubungan lebih dengan Axel persahabatannya mungkin tak akan hancur. Namun nyatanya malah sebaliknya, hanya karena sebuah harapan dan perasaan yang di miliki Axel, hubungan persahabatannya hancur seketika.
Lyra pulang ke rumah dengan keadaan matanya yang sudah sembab akibat ia yang tak bisa menahan air di kedua matanya. Lyra pun berbaring di ranjang dengan tangis yang tak mau berhenti. Hancur sudah hubungannya dengan Axel, bukan Lyra tak mau melepas tapi Axel bukanlah orang mendiami hatinya. Egois bila Lyra harus menerima perasaan Axel, sementara hatinya hanya tertuju kepada Rigel. Lyra pun hanya bisa pasrah dengan hancurnya persahabatannya tersebut.
...****************...
Pagi harinya saat Lyra sudah menginjakkan kakinya di tempat kerja. Banyak orang yang menatapnya yang seakan tatapan dari mereka seolah merasa jijik. Bahkan ada pula yang menatap sembari menertawakannya. Lyra pun kebingungan dengan suasana yang terasa aneh tersebut. Lyra sudah tak enak hati, apa ada yang salah dengan dirinya, hingga membuatnya terus-menerus di tatap sinis oleh orang-orang. Dan di saat langkahnya sudah memasuki area kafetaria, tiba-tiba Nata datang menghampirinya dengan raut wajahnya yang nampak panik.
"Bisa bicara sebentar. Ada yang ingin ku pastikan padamu," ucap Nata sembari meraih tangan Lyra.
Lyra mengangguk, Nata dan Lyra pun lalu duduk di kursi yang telah di sediakan di kafetaria.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku?"
"Ku dengar bila Agni di jodohkan dengan pak Rigel."
Lyra mengangguk. "Iya, orang tuanya dengan orang tua Rigel berniat menjodohkan mereka."
"Jadi rumor itu memang benar. Bagaimana dengan mereka, apa mereka mau di jodohkan."
Lyra menggeleng cepat. "Tentu saja mereka menentang. Agni sangat menyukai Ryan dan Rigel sangat menyukaiku."
Nata menghela. "Bila memang pak Rigel menyukaimu, mengapa kamu tak meresmikan hubunganmu dengannya."
"Sebenarnya dua hari yang lalu aku sudah meresmikan hubunganku. Maaf baru memberitahumu sekarang."
Nata seketika menghela kesal. "Sebenarnya aku ingin sekali menyumpal mulut orang-orang yang menjelekanmu. Mereka tak tahu apa-apa tapi mereka berani berbicara sembarangan terhadapmu."
"Memangnya apa yang mereka bicarakan."
"Beredar rumor bila kamu merupakan seorang wanita penggoda yang sudah menggoda pak Rigel. Dan rumor tentang Agni yang akan menikah dengan pak Rigel bertebaran di kantor. Hampir semua pekerja di gedung perkantoran ini sudah tahu tentang status Agni yang merupakan putri bungsu dari pimpinan perusahaan PT. Sunrise. Dan mereka terus membanding-bandingkanmu dengan Agni."