
Kapan akan melamar dan kapan akan menikah, itu adalah pertanyaan tersulit untuk Rigel jawab saat ini. Setelah bulan depan tak lagi bekerja di perusahaan, Rigel tak berniat cepat-cepat menikahi Lyra. Untuk biaya pernikahan Rigel memang punya jumlah uang yang cukup banyak. Tapi uang sekarang yang ia punya, itu akan di gunakan untuk membuka bisnis baru. Ayahnya Lyra malah bertanya seperti itu, dan jelas saja itu adalah pertanda Rigel harus secepatnya menikahi Lyra. Rigel ragu ingin menjawab apa yang di inginkan ayah dari kekasihnya itu. Secara Rizwan sangat mengharapkan agar Rigel dapat secepatnya menikahi putrinya.
Dapat restu dari Rizwan adalah hal yang Rigel banggakan. Tapi restu itu memiliki syarat yang harus Rigel laksanakan, yaitu menikahi Lyra. Mungkin bila Rigel tak keluar dari perusahaan, Rigel bisa percaya diri untuk menikahi Lyra kapanpun yang ia mau. Tapi untuk saat ini Rigel ragu bila harus menikahi Lyra secepatnya. Untuk membuka bisnis baru, Rigel membutuhkan jumlah uang yang sangat banyak. Sedangkan saat Rigel keluar dari perusahaan, uang yang akan mengalir ke sakunya akan terhenti. Rigel pun perlu memikirkan untuk jangka panjang bila ingin membangun rumah tangga bersama Lyra. Dan Rigel perlu yang namanya menabung.
"Saya memang akan menikahi Lyra, tapi tidak secepatnya," ungkap Rigel dengan kepala yang menunduk.
Rizwan menghela. "Mengapa tidak bisa secepatnya? Apa kamu masih ragu untuk menikahi anak saya. Bila kamu ragu untuk apa kamu ingin memiliki hubungan dengan anak saya, apa jangan-jangan kamu hanya ingin mempermainkan anak saya."
Lyra sampai menggeleng setelah mendengar apa yang di ucapkan ayahnya tersebut. "Rigel mana mungkin mau mempermainkanku, dia orang baik yang pernah Lyra temui. Lagi pula kami berpacaran belum terlalu lama. Baik Rigel maupun aku, kita sama-sama perlu waktu untuk beranjak ke jenjang yang lebih serius."
"Bila dia orang baik, dia tidak akan mau berpacaran lama-lama. Contohlah mantan pacarmu si Daniel, dia hanya ingin bermain-main denganmu saja. Oleh sebab itu dia menjalin hubungan sebagai kekasih dalam waktu yang cukup lama. Tapi akhirnya dia malah berselingkuh di saat pernikahanmu hanya tinggal menghitung beberapa minggu."
"Rigel berbeda dengan Daniel."
"Dari mana kamu tahu, kamu saja belum mengenal lama dirinya."
"Lyra dan Rigel sudah kenal lama dari zaman aku masih menjenjang pendidikan di SMA. Bahkan kami juga sempat menjenjang pendidikan di satu universitas yang sama."
"Tapi kan..." Seketika Sarah memotong ucapan suaminya tersebut. "Tidak baik bila terlalu memaksa Rigel untuk menikahi Lyra. Lagi pula mereka itu perlu waktu untuk memikirkan pernikahan." Sarah lalu tersenyum menatap Rigel. "Jangan di pikirkan perkataan ayah, Rigel. Bila kamu sudah siap, maka lamarlah Lyra. Bila kamu belum siap, kamu tak perlu memaksakan diri."
Rigel mengangguk. "Baik bu. Tapi kemungkinan setelah tabungan saya cukup, secepatnya saya akan menikahi Lyra."
Seakan tak menyangka, Rizwan seketika mengerutkan alisnya menatap Rigel. Rizwan terheran-heran setelah mendengar apa yang di ucapkan anak dari seorang konglomerat tersebut.
"Seorang anak dari salah satu pengusaha besar, sekaligus sebagai orang yang memiliki posisi tinggi di perusahaan, mengapa harus menabung untuk menikahi anak saya. Uangmu pasti akan sangat cukup bila hanya sekedar untuk menikahi anak saya. Lagi pula saya tidak akan terlalu memaksa meminta pesta pernikahan yang mewah, pernikahan sederhana pun saya akan senang."
"Saya memang mampu menikahi Lyra, tapi pada bulan depan saya akan berhenti bekerja di perusahaan. Dan akan mandiri membuat bisnis sendiri. Jadi uang yang saya miliki sekarang akan di gunakan untuk bisnis baru saya," terang Rigel.
"Tuh kan dengar, Rigel perlu waktu bila harus menikahi Lyra. Rigel anak yang mandiri, bahkan dia tidak mengandalkan bisnis yang ayahnya miliki. Dan dia juga akan membiayai pernikahannya dengan uang sendiri. Bukankan dia merupakan menantu terbaik untuk kita," lontar sarah.
Seketika Rizwan berdiri dari duduknya. "Tapi ingat, sebelum kamu menikahi anak saya, hubunganmu dengannya tidak akan saya restui."
"Terserah kamu saja. Ayah dan ibu akan pulang sekarang. Ingat jangan menginap terlalu lama di sini, dia bukan suamimu."
Rizwan dan sarahpun pamit pulang dari rumah calon menantunya tersebut. Meski sempat tegang, akhirnya Rigel dapat mengatasinya. Lampu hijau dari ayah dan ibunya Lyra sudah Rigel dapatkan. Walaupun Rizwan masih tetap tak merestui hubungannya bila belum menikahi anak semata wayangnya tersebut. Tapi Rigel menjadi lebih semangat setelah di desak Rizwan, ia akan lebih semangat bekerja bila nanti ia sudah keluar dari perusahaan ayahnya.
"Aku hanya perlu satu tahun untuk mengumpulkan uang agar bisa menikahimu." Rigel meraih tangan Lyra. "Jadi bersabarlah, Lyra. Karena aku pasti akan menikahimu."
Lyra menggeleng sembari tersenyum. "Jangan terlalu memaksakan diri, jadi santailah dan nikmati pekerjaanmu. Bila kamu dapat menikmati pekerjaanmu, aku yakin pada bulan depan bisnis yang akan kau bangun bisa lancar dan sukses."
"Apa kamu tidak berharap bisa menikah secepatnya denganku. Padahal banyak wanita di usiamu yang akan mendesak kekasihnya untuk segera melamar. Tapi kamu malah bilang santai.
"Aku bilang seperti itu karena tak ingin memberatkanmu. Jika kamu dapat menikmati pekerjaan barumu nanti, aku yakin pekerjaanmu akan lancar dan sukses. Dan aku pun sangat yakin bahwa kamu tak akan menunda-nunda pernikahan kita, bila bisnis barumu sudah sukses."
"Benarkah?"
Seketika Lyra mengecup pipi Rigel. "Tentu saja." Lyra lalu berdiri dari duduknya. "Aku akan menyiapkan makan malam untukmu. Kamu beristirahatlah di kamar, nanti akan ku bawakan makanan kesana."
Rigel meraih tangan Lyra agar kakinya tak melangkah. "Kenapa hanya pipi. Aku maunya bibir yang kau kecup."
Lyra seketika menghempaskan tangan Rigel, lalu berdecik keras. "Ck, aku tak mau mengecup bagian itu. Bila ku kecup, kamu tak akan mau melepaskannya."
Rigel tergelak. "Ternyata apa yang ku pikirkan bisa terbaca olehmu. Apa mungkin karena kita sudah satu hati."
"Bukan satu hati tapi karena aku sudah tahu bila kamu pria mesum," ucap Lyra sembari melangkahkan kakinya menuju dapur.
Bukannya kesal setelah di katai mesum oleh Lyra, Rigel malah tertawa lepas setelah mendengarnya.
Beruntungnya hari ini Rigel dapat lebih lama bersama Lyra. Walau hati dan pikirannya masih belum tenang memikir keberadaan Jayden. Tapi setidaknya, berkat Lyra sejenak Rigel dapat tersenyum walaupun perasaannya sangatlah bersedih. Mungkin bila tidak ada Lyra di rumah, Rigel akan terus termenung memikirkan Jayden. Secara rumah akan terasa sepi walau yang berada di rumah tidak hanya ada Rigel saja. Tapi ada beberapa pelayan dan pengasuh Jayden yang tinggal. Namun, semua pekerja di rumahnya tak akan bisa menghangatkan suasana seperti layaknya Lyra dan Jayden.