My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
49. Bimbang



Entah mengapa hati Lyra rasanya sakit saat Rigel membatalkan makan malamnya. Lyra tahu bila Rigel merupakan orang yang penting di perusahaan, dan Lyra juga tahu bila sebulan ini Rigel akan di sibukan dengan pekerjaan. Serta Lyra juga tahu bila Rigel tengah di sibukan mencari Jayden. Tapi, tak bisakah Rigel sebentar saja menyempatkan waktu untuk Lyra. Lyra memang setiap hari bertemu Rigel di kantor. Tapi tiap kali Lyra mengantarkan makan untuknya atau pergi ke ruangannya, Rigel selalu saja di sibukan dengan pekerjaannya hingga sering kali ia mengabaikan Lyra. Rigel tak pernah sedikitpun bisa melirik ke arahnya, yang ia lakukan hanyalah bekerja dan bekerja.


Lyra mengerti dengan situasi Rigel saat ini, tapi lama-lama Lyra juga bosan bila harus terus-menerus mengerti keadaan Rigel. Yang Lyra inginkan saat ini adalah waktu bersama Rigel walau sebentar.


Selama perjalanan pulangnya Lyra termenung menatap rintiknya hujan di balik jendela mobil. Lyra larut dalam lamunannya memikirkan akan kekhawatirannya tentang keberlangsungan hubungannya dengan Rigel. Selain tak dapat restu dari Sandy, Lyra juga tak dapat memiliki waktu dengan Rigel.


Mungkin pada bulan berikutnya Rigel tak akan lagi bekerja di perusahaan, tapi mungkin ia akan lebih di sibukan dengan bisnis barunya. Lalu bila Jayden tak dapat di temukan maka kesibukan Rigel akan tetap sama. Tak bisa menyempatkan waktu untuk Lyra dan mungkin akan tetap sama mengabaikan Lyra. Lyra hanya perlu bersabar bila ingin hubungannya dengan Rigel terus berlanjut. Dan percaya bahwa Rigel akan tetap mencintainya walau dengan situasi apapun.


Sesampainya Lyra di depan rumah, ia mendapati mobil sedan hitam yang terparkir. Sekilas mobil tersebut dapat di kenalinya, namun lupa siapa pemiliknya. Lyra pun menggeleng, ia dapat mengenalinya karena mungkin mobil tersebut memang banyak di miliki orang. Tapi satu hal yang Lyra tanyakan, yaitu siapakah orang yang tengah berkunjung ke rumahnya, hingga dari jauh saja sudah terlihat bila ada orang yang tengah duduk di ruang tamu bersama ayah dan ibunya.


Lalu ketika Lyra masuk, siapa sangka bila orang yang berkunjung ke rumahnya itu adalah Sandy Callisto.


Seorang Sandy Callisto bila tak ada maksud lain tak akan mau menginjak kaki ke rumah orang yang sangat tak di sukainya itu. Hingga membuat Lyra sampai terheran-heran menatap ayah dari kekasihnya yang tengah duduk di ruang tamu bersama kedua orang tuanya.


"Pak Sandy," seru Lyra.


Sandy masih sama selalu saja menunjukan tatapan sinisnya kepada Lyra saat ia bertatap muka. Lyra sampai di buat khawatir ketika menatapnya. Karena kedatangannya hanya akan membuat ayah dan ibunya tahu bila hubungan Lyra dan Rigel tak di restui oleh orang nomer satu di perusahaan tempatnya bekerja. Terlebih lagi kata-kata tajam mungkin saja sudah di keluarkan Sandy sebelum Lyra sampai ke rumah.


"Kebetulan kamu sudah pulang. Ada hal yang ingin saya sampaikan kepadamu," ucap Sandy sembari melipat lengannya di atas perut.


Seketika Lyra menelan salivanya. "Hal apa yang ingin anda sampaikan kepada saya," ucapnya bernada gugup.


"Yang ingin saya sampaikan tetap sama. Putuskan hubunganmu dengan anak saya. Saya tahu kamu pasti akan tetap bertahan walau saya sudah menyampaikan ini." Sandy lalu meraih ponselnya dan menunjukan foto Jayden yang tengah berbaring lemah di atas ranjang pasien. "Sejak Jayden di pisahkan dengan Rigel, kesehatannya semakin menurun. Dia tak bisa tidur nyenyak seperti biasanya dan dia juga tak lahap makan seperti biasanya. Dia selalu saja menanyai Rigel. Dan saat ini Jayden tengah di rawat di rumah sakit."


Sandy lalu beranjak dari kursi. "Bila kamu kasian terhadap Rigel dan Jayden, ku harap kamu bisa segera mengakhiri hubunganmu itu."


Baru saja tadi Lyra mengkhawatirkan hubungannya dengan Rigel. Lyra pulang ke rumah malah di mintai putus dengan Rigel dan mendapati kabar buruk tentang Jayden.


Sementara Rizwan, setelah Sandy pergi dari rumahnya, dirinya nampak marah dan di tekuk kesal. Yang di pikirnya hubungan putrinya dan Rigel baik-baik saja, namun ternyata bermasalah. Rizwan tak habis pikir bila hubungan Lyra dan Rigel selama ini di tentang oleh ayahnya Rigel.


"Akhiri hubunganmu dengan Rigel. Kamu tak akan pernah bahagia bila hubunganmu terus di lanjutkan," lontar Rizwan.


Lyra tak merespon, yang ia lakukan hanyalah menunduk sembari menitikan air matanya. Sulit untuk Lyra mengiyakan apa yang di inginkan ayahnya itu. Karena Lyra terlalu mencintai Rigel hingga tak mampu bila harus mengakhiri hubungannya dengan Rigel. Rigel pun mungkin juga tak akan setuju bila hubungannya dengan Lyra berakhir. Karena sudah pernah Lyra coba untuk mengakhirinya, tapi Rigel menolak untuk mengakhiri.


Rizwan menghela nafasnya. "Tadi ayahnya Rigel sudah menjelaskan semuanya. Bahkan dia sempat merendahkan keluarga kita. Apa orang biasa sepertimu masih pantas memiliki hubungan dengan seorang pria seperti Rigel." Rizwan lalu beringsut dari tempat duduknya. "Bila kamu masih punya harga diri, segeralah akhiri hubunganmu itu. Karena semakin di pertahankan, maka kamu akan selalu di hina dan di rendahkan oleh ayahnya Rigel."


Tangis Lyra semakin pecah saja hingga membuat Sarah tak kuasa melihatnya. Ia pun beringsut mendekati Lyra, lalu mendekap erat tubuh putri kesayangannya itu.


"Apa yang di katakan ayahmu benar. Saat ini mungkin kamu tak sanggup mengakhirinya, tapi kamu harus berusaha kuat untuk mengakhirinya. Dan mungkin awalnya kamu akan terpuruk setelah mengakhiri hubunganmu itu, tapi nanti kamu akan terbiasa dan akan segera melupakan Rigel seperti saat kamu melupakan Daniel."


"Bagaimana dengan Rigel, apa dia juga akan bisa menerima bila Lyra mengakhiri hubungan secara sepihak," ucap Lyra dengan tangisnya yang pecah.


"Ibu yakin dia pasti akan mengerti. Bila dia menyanyangimu, dia tak akan mempertahankan hubungan yang memang tak akan mungkin bahagia bila tak ada restu dari ayahnya." Sarah pun ikut menangis sembari memeluk dan menepuk-nepuk punggung Lyra.


Walau Lyra di peluk dan di tenangkan ibunya, tapi hati dan pikirannya masih tak bisa tenang. Ia memikirkan nasib dirinya dan Rigel bila hubungannya berakhir. Lyra juga memikirkan dan mengkhawatirkan kondisi Jayden yang sekarang entah di rumah sakit mana ia di rawat.


Lyra terbaring di kamarnya tanpa bisa tertidur lelap sedikitpun karena terus-menerus memikirkan Rigel dan juga Jayden. Dan tentunya memikirkan hubungan yang tak sanggup untuk di akhirinya. Lalu tiba-tiba saja dering pesan di ponselnya berbunyi. Lyra pun meraih ponsel yang sedari tadi ia letakan di samping tempat tidurnya.


Saat di cek, ternyata itu sebuah pesan dari Rigel. Dalam pesan tersebut Rigel bertanya. "Apa kamu sudah tidur?"


Lyra hanya membacanya tanpa membalas pesan dari kekasihnya tersebut. Dan ia juga langsung saja mematikan ponselnya.