My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
24. Pertanyaan-Pertanyaan Dari Rizwan



Betapa gugup dan gelisahnya Rigel, saat ia di tatap sinis oleh ayah dari wanita yang jadi kekasih pura-puranya. Keringat dingin, rasa gugup, gelisah, semua tengah di rasa di tubuhnya. Duduknya sudah tak nyaman, berulang kali Rigel mengatur nafasnya hanya untuk mengontrol rasa gugup dan gelisah yang berkecambuk di dalam dirinya. Seorang Rigel Callisto yang memiliki sifat keras terhadap seluruh karyawan di perusahaannya bisa merasa gugup dan gelisah, hanya oleh seorang Rizwan yang merupakan ayah dari kekasih pura-puranya. Bila di kantor Rigel bisa membuat seluruh karyawan merasa gugup dan gelisah, namun di rumah Lyra dialah yang di buat gugup dan gelisah. Rigel yang selalu terlihat gagah dan tangguh di buat menciut oleh Rizwan saat dirinya mulai di introgasi.


"Pria dengan seorang anak, berarti kau merupakan pria yang gagal dalam membangun rumah tangga. Atau kau merupakan pria yang di tinggal mati oleh istri," ucap Rizwan dengan kaki yang menyilang serta tangan yang melipat di atas perut.


Rigel yang tengah gugup itu harus memaksakan senyumnya hanya agar terlihat baik oleh ayah satu anak itu. "Saya tidak pernah menikah."


"Oh, jadi anak yang kau bawa kesini merupakan anak adopsi?"


"Saya tidak pernah mengadopsi seorang anak."


Rizwan seketika membuka mulutnya, merasa tak menyangka dengan apa yang di jawab Rigel tersebut. "Hah, berarti dia anak di luar nikah. Apa kau sedang bermain-main terhadap anakku, kau tahu bila belum lama ini Lyra telah di sakiti oleh pria. Dan dia harus menjalin hubungan lagi dengan pria brengsek."


Rigel menelan salivanya. "Sebenarnya dia adalah keponakan saya. Jayden telah lama di tinggal meninggal oleh kedua orang tuanya, dan sedari kecil dia tinggal bersama saya. Jadi dia selalu mengangap saya sebagai papahnya."


"Lalu, apa pekerjaanmu?"


Rigel lalu meraih kartu nama dari dalam dompetnya. "Ini adalah pekerjaan saya," ucapnya meletakan kartu nama di atas meja.


Seketika Rizwan terkejut melihat pekerjaan di kartu nama milik pria yang tengah di introgasinya tersebut. "CEO?" Bukankah itu jabatan tertinggi di perusahaan, apa kamu merupakan pemilik dari perusahaan?"


"CEO bukanlah jabatan tertinggi di perusahaan. Jabatan tertinggi yang di miliki perusahaan adalah presiden direktur, yang merupakan pemegang saham tertinggi sekaligus pemilik dari perusahaan. Dan jabatan itu di miliki oleh ayah saya."


"Saya tidak peduli dengan seberapa kaya dirimu dan seberapa kaya orang tuamu. Jadi tidak perlu menyombongkan diri kepadaku."


Rigel menghela. "Bukankah tadi dia bertanya, padahal aku hanya sekedar menjelaskan apa yang di tanyakannya itu," ucapnya di batinnya.


Seperti seorang pelamar pekerjaan, Rigel terus di tanyai oleh Rizwan. Ucapan serta pertanyaan yang di lontarkan Rizwan sangatlah menusuk, sampai-sampai Rigel di buat kesal olehnya. Tapi mau bagaimana lagi, biarpun kesal, Rigel tak bisa mengutarakan kesal dan marahnya kepada pria yang umurnya jauh di atasnya. Terlebih lagi Rizwan merupakan ayah dari kekasih pura-puranya. Walau hanya sebatas pura-pura, bukan berarti Rigel tak perlu menghormati pria paruh baya yang ucapannya sangat menusuk itu.


"Lyra dan Daniel belum lama ini putus, bukankah ini terasa aneh bila kalian langsung menjalin hubungan. Jangan bilang jika kamu memaksanya untuk menjalin hubungan denganmu," lontar Axel.


"Benar kata Axel, kamu merupakan pria kaya. Kamu bisa saja memaksanya untuk menjadi kekasihmu, karena kamu tahu bila keluarga kami sedang kesulitan dengan hutang yang bertumpuk. Lalu kamu menawarkan uang dalam jumlah besar, agar dia dapat menerima kamu," Sosor Rizwan lalu memiringkan senyumnya menatap Rigel. "Hanya karena memiliki jabatan tinggi di perusahaan, kamu bisa seenaknya terhadap pekerja baru seperti Lyra. Orang kaya biasanya selalu bermain-main terhadap perempuan karena dia memiliki banyak uang."


Rigel memang memaksa Lyra untuk menjadi kekasih pura-puranya dengan menawarkan gaji yang cukup besar padanya. Namun bila ia berkata jujur, Rizwan bisa saja membencinya dan membuat anak semata wayangnya itu tak di perbolehkan bertemu dengan Rigel maupun dengan Jayden yang sudah menganggap Lyra seperti ibu kandungnya. Biarpun berbohong kepada orang tua merupakan hal yang salah, tapi demi kebaikan dirinya terutama untuk Jayden yang sebagai keponakannya, Rigel rela berbohong. Walaupun kebohongan tak selamanya akan tertutupi.


"Saya tak pernah menawarkan uang dalam jumlah besar kepada Lyra. Saya baru tahu bila keluarganya sedang kesulitan dengan hutang saat anda berbicara barusan. Saya sangat tulus mencitainya biarpun dia belum bisa melupakan mantan kekasihnya."


"Kenapa kamu mau menjalin hubungan dengannya padahal dia belum bisa melupakan mantan kekasihnya," lontar Axel bernada marah.


Axel lalu menghela nafasnya. "Aku tahu bila Lyra bukanlah orang yang akan memanfaatkan seorang pria hanya untuk bersandar di tengah kesedihannya. Apa kamu yang memanfaatkannya?"


"Karena aku sangat tulus mencintainya, aku rela menjadi tempatnya untuk bersandar. Dia belum bisa melupakan mantan kekasihnya, oleh sebab itu dia lebih baik menjalin hubungan baru dengan pria lain agar dapat segera merupakan pria brengsek yang sudah meninggalkannya itu. Maka dari itu aku menawarkan diri untuk menjadi kekasihnya, walaupun aku masih berperan sebagai sandarannya," terang Rigel.


Biarpun Rigel berbohong, tapi tak semua ucapannya sepenuhnya berbohong. Ada satu hal dalam ucapannya yang penuh dengan kejujuran. Hanya saja ia tak dapat berkata jujur kepada Lyra.


Ucapan Rigel memang dapat menyakinkan Rizwan, akan tetapi ayah satu anak itu tak sepenuhnya bisa mempercayai Rigel. Karena ia masih belum bisa menerima pria manapun yang menjadi menantunya, setelah anaknya di sakiti oleh Daniel. Rizwan tak ingin Lyra memilih pilihan yang salah kembali, oleh sebab itu Rizwan sangat berhati-hati dalam memilih calon menantunya.


"Biarpun ucapanmu sangat tulus, bukan berarti dengan cepatnya saya akan merestui hubunganmu dengan Lyra," lontar Rizwan yang masih melipat lengannya di atas perut.


Rigel tersenyum. "Maka dari itu, saya akan berusaha untuk mendapatkan restu dari Anda."


"Sepertinya ayah harus selesai menanyainya." Lyra menarik lengan Rigel agar membuatnya berdiri. "Jay, sudah tidur. Sepertinya kamu harus segera membawanya pulang sebelum dia kembali terbangun."


Rigel dan Lyra pun beranjak ke kamar. Dengan perlahan Rigel menggendong Jayden secara hati-hati agar tak membangunkannya. Lalu setelah itu iapun membawa keponakannya keluar dari kamar. Dan langkahnya berhenti ketika ia berada di tempat Rizwan berada.


"Maaf, saya tidak bisa lama-lama berada di sini, jadi saya pamit pulang sekarang," pamit Rigel.


"Memang lebih baik kamu cepat pulang agar tetangga tak berprasangka buruk terhadap anak saya."


Lyra menggeleng. "Berhentilah mengucapkan kalimat tajam padanya," ucapnya di tekuk kesal.


Lyra lalu mengantar Rigel sampai ke tempat mobilnya di parkirkan.


"Maaf aku tak bisa membuat Jayden menginap di rumahku, karena besok dia harus sekolah." Lyra lalu menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. "Soal ayahku, aku minta maaf bila ucapanya sedikit menusuk hatimu."


Rigel tersenyum sembari mengangguk. "Iya tak apa."


Terlebih dahulu Rigel memasuki Jayden ke kursi belakang mobilnya, setelah itu ia pun pergi membawa Jayden pulang dengan mobilnya.


Tak lama setelah Rigel pergi, Axel datang menghampiri Lyra di depan rumah.


"Dari yang ku dengar dia menawarkan diri sebagai sandaranmu. Apa dia berbohong? Dan jangan bilang bahwa dia memaksamu untuk menjalin hubungan dengannya," lontar Axel dengan raut wajahnya yang nampak di tekuk kesal.


"Yang di ucapkannya memang benar, jadi kamu tak perlu berlebihan mencurigainya."


"Kenapa harus dia yang kau pilih?"


"Memangnya kenapa, apa ada yang salah dengannya?" Tanya balik Lyra.


"Dia merupakan pria kaya dan dia juga merupakan seorang pewaris dari salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Dia mungkin hanya beralasan untuk menjadikan dirinya sandaranmu, hanya karena dia ingin bermain-main denganmu bila nanti kamu sudah mulai memiliki perasaan terhadapnya. Kebanyakan pria kaya memiliki sikap buruk."


"Awalnya aku memang sempat berpikir ke arah sana, tapi dari yang ku lihat dia merupakan pria baik dari sekian banyaknya orang kaya."


"Dari sisi mana kamu melihatnya? Kamu bahkan belum lama mengenalnya."


"Aku memang belum lama mengenalnya, tapi aku bisa dengan cepat melihat sisi baiknya. Dia merupakan pria penyayang, dia adalah pria yang setiap saat siap siaga untuk menjaga orang terkasihnya. Dia bahkan dengan tulus menyayangi keponakannya seperti layaknya anak sendiri."


"Apa kamu sudah di butakan olehnya, kamu bahkan hanya melihat sisi positif dirinya dan melupakan sisi negatif dari dalam dirinya. Apa jangan-jangan kamu sudah memiliki perasaan kepadanya."


Lyra menelan salivanya. "Hah, memangnya aku terlihat seperti itu?" Lyra lalu terburu-buru melangkahkan kakinya dengan gelagatnya yang nampak gelisah.


"Tak bisakah kamu tak di miliki pria manapun," ucap Axel meninggikan suaranya.


Seketika langkah Lyra terhenti, ia kembali berbalik menghadap ke arah Axel.


"Apa maksud dari ucapanmu?" Tanya Lyra terheran-heran.


Tanpa menjawab, Axel langsung saja melangkah pergi dengan raut wajahnya yang masam.