My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
66. Tahap Berikutnya



Ketika bibir saling bertautan maka suhu tubuh dari keduanya memuncak. Mereka tak bisa berhenti bila hanya sekedar berciuman saja. Wajah memerah keduanya yang nampak memalu ketika saling memandang, mendorongnya untuk berlanjut ke tahap yang lebih indah dari sekedar berciuman. Ciuman mereka menuntunnya pergi ke tempat tidur. Ketika tubuh mereka mendaratkan diri di atas tempat tidur, saat itulah tangan nakal Rigel membuka tiap kancing di baju Lyra. Bahkan ketika kain bagian atas di tubuh Lyra sudah tak terbalut, tangannya semakin nakal menyetuh hingga membelai bagian paling sensitip di bawah leher wanita yang tengah terengah-engah di bawahnya itu.


Selain mulut yang menjadi bagian paling nikmat untuk di sentuh, ada hal lain yang juga sama nikmatnya untuk di sentuh oleh mulutnya, yaitu bagian leher. Rigel menghisap lembut leher jenjang milik Lyra hingga meninggalkan bekas merah pada lehernya. Bahkan tak hanya leher saja yang di tandai oleh Rigel, tapi beberapa bagian tubuh lainnya juga di berikan tanda oleh penerus perusahaan PT Starlight tersebut.


Ketika suhu tubuhnya berada di tingkat paling panas. Rigel pun lalu membuka semua kain yang terbalut di tubuh Lyra dan juga dirinya. Hingga pada akhirnya Rigel pun masuk ke dalam diri wanita yang tengah berbaring di bawah tubuhnya itu. Setiap gerakan yang di lakukan Rigel menimbulkan suara indah yang keluar dari mulut Lyra. Sampai membuatnya semakin ingin masuk lebih dalam dan dalam lagi kepada pemilik tubuh wanita yang tengah mengeluarkan suara indah itu. Tubuhnya bergerak puas sampai berada di tingkat nikmat.


Malam ini merupakan malam terindah untuk Rigel, tapi entah bagaimana perasaan Lyra saat ini. Apa esok ia akan mengingatnya, setelah esok ia reda dari mabuknya. Entahlah, yang terpenting malam ini Lyra telah mengungkapkan perasaannya. Dan ia tak menolak melakukan hal romantis dengan Rigel. Untuk hari ini dan esok, Rigel akan menetapkan Lyra sebagai kekasihnya kembali. Biarpun alasan apapun yang akan Lyra ucapan nanti, Rigel tak akan pernah membiarkannya pergi jauh darinya lagi. Seberapa keras Lyra menghindar dan sejauh mungkin Lyra pergi, Rigel akan terus mengejarnya kemana pun dia melangkah.


Setelah menyelesaikan olah raga ranjangnya, Rigel tak sedikit pun ingin menutup matanya, ia terlalu takut bila malam romantis bersama Lyra hanyalah mimpinya semata. Rigel berbaring menyamping sembari menatap Lyra yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Ia tersenyum memandangi wajah cantik dari wanita yang sudah ia beri status sebagai kekasihnya itu. Sesekali ia membelai wajahnya dengan pandangan yang tak mau teralihkan dari sosok wanita yang tengah tertidur pulas setelah di buat kelelahan olehnya.


"Ku harap ini bukanlah khayalanku saja, wahai wanita yang selalu ku rindukan," gumam Rigel.


Malam semakin larut, Rigel pikir matanya akan kuat bila terus terbuka. Namun nyatanya, kian lama ia terjaga matanya mulai berat dan ingin sekali menutup walau Rigel berusaha keras untuk tetap membukannya. Rasa kantuknya terus mendorongnya untuk segera menutup rapat kedua matanya. Tanpa ia sadari akhirnya ia pun tertidur pulas.


...***************...


Terangnya sinar matahari menerobos jendela kamar, sampai harus menyoroti wajah Rigel yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Rigel pun terbangun dari tidur lelapnya, matanya setengah terbuka menatap sorot cahaya di balik jendela kamarnya. Lalu tangannya meraba-raba ke arah samping. Namun terasa aneh, karena di sampingnya terasa sangat kosong seperti tak ada orang yang berbaring. Sontak Rigel pun melebarkan pandangannya.


"Kemana Lyra? Aku yakin bila semalam bukanlah mimpi." Rigel beringsut dari tempat tidurnya, lalu melangkah ke arah kamar mandi untuk memastikan bahwa Lyra masih berada di kamarnya. Namun, nyatanya di kamar mandi tak ada wanita yang sudah beri status kekasihnya tersebut. Rigel pun keluar dari kamarnya untuk mencari wanita yang semalam telah mengungkapkan perasaannya. Yang pertama ia datangi adalah tempat di mana semua teman-temannya tengah berkumpul.


"Apa kalian melihat Lyra?"


"Dari tadi kami tak melihat keberadaan Lyra, mungkin dia masih berada di kamarnya." Lontar Agni.


Rigel lalu beranjak pergi ke kamar Lyra. Saat hendak akan mengetuk pintu, salah satu pekerja di resortnya datang menghampiri.


"Maaf pak, sepertinya wanita yang menempati kamar ini sudah pergi. Karena pagi sekali dia keluar dari kamar sembari membawa koper dan semua barang-barangnya."


Rigel menghela kasar nafasnya. "Lagi-lagi dia pergi setelah menikmati tubuhku," ucapnya yang di tekuk kesal.


Rigel lalu kembali ke tempat teman-temannya berkumpul dengan raut wajahnya yang sangat kesal dan marah.


"Bagaimana, apa Lyra ada di kamarnya?" Tanya Justin.


"Dia sudah pulang dari sini."


"Apa dia sangat marah setelah kemarin melihatmu di cium oleh Jane, oleh sebab itu dia pergi tanpa berpamitan kepada kita semua," lontar Agni.


"Lalu mengapa dia pergi tanpa berpamitan kepadamu dan juga kita."


Rigel menghela. "Mungkin dia terlalu malu, setelah semalam kita tidur bersama."


Seketika Agni mengerutkan alisnya. "Maksud dari kata tidur, tidak hanya menutup mata saja kan."


Rigel menggaruk tengkuknya. "Jelas tidaklah. Dia pergi setelah menikmati tubuhku seperti waktu itu."


Agni menggeleng. "Dasar bodoh. Lyra adalah wanita polos, kamu pasti memanfaatnya di saat dia mabuk. Karena semalam dia terlalu banyak meminum bir. Kamu melakukan itu kepadanya hanya akan membuatnya semakin tak mau kembali padamu."


"Dia saja tak menolak, bagaimana bisa aku menahannya. Dan bahkan di saat aku menciumnya dia langsung membalas ciumanku."


"Tunggu...tunggu kamu tadi sempat berkata seperti waktu itu." Alice terheran-heran menatap Rigel. "Apa sebelumnya kalian pernah tidur bersama."


"Tentu saja sebelumnya kami pernah melakukannya," imbuh Rigel.


"Kamu adalah pria brengsek yang meniduri perempuan polos seperti Lyra. Kamu tahu kan, bila Lyra berkomitmen tak akan tidur dengan pria manapun sebelum menikah."


Rigel menghela. "Yang pertama aku memang tak tahu dengan komitmennya, tapi dulu setelah berpacaran dengannya aku sudah tahu."


"Lalu mengapa kamu melakukannya?"


"Sudah ku katakan aku tak dapat menahannya. Lagi pula aku berniat akan secepatnya menikahinya." Rigel lalu berdiri dari duduknya. "Aku harus menemuinya sekarang, dan akan ku beritahu kepadanya bahwa dia sepenuhnya telah menjadi miliku."


Rigel pun terburu-buru membereskan semua barangnya di kamar. Lalu pulang secepatnya ke London. Sampainya di sana, Rigel langsung saja menekan tombol bel apartemen Lyra. Namun beberapa kali Rigel menekannya, Lyra tak kunjung membuka pintunya. Rigel pun lalu meraih ponselnya dan menghubungi Lyra lewat benda berbentuk persegi panjang itu. Ponselnya memang terhubung, tapi Lyra tak mengangkatnya sama sekali. Bahkan Rigel berulang menghubunginya, tapi Lyra masih saja tak mau mengangkat panggilannya.


Ada satu cara untuk membuat Lyra mengangkatnya, yaitu dengan cara di hubungi oleh teman dekatnya. Rigel lalu menghubungi Agni dan memintanya untuk menghubungi Lyra. Bertanya tentang keberadaannya dan alasan dia yang tak mau mengangkat telepon dari Rigel.


Ketika tiga jam setelah menghubungi istri dari sekeratrisnya itu, Ryan datang ke apartemennya beserta dengan istrinya.


"Bagaimana dengan Lyra? Sekarang dia di mana, dan mengapa dia menghindariku?" Tanya Rigel yang gelisah setelah menunggu kabar dari Lyra.


"Hm, Lyra pulang ke rumah orang tuanya di New York. Dan tak tahu kapan dia akan kembali kesini. Soal alasan dia pergi, dia tak memberitahuku," imbuh Agni.