
Percakapan Lyra dan Rigel mampu membuat Nata terheran-heran. Terutama ucapan-ucapan yang di lontarkan Lyra yang tak seperti seorang bawahan kepada atasannya. Hingga membuat Nata berpikiran curiga terhadap sahabatnya itu. Alisnya mengerenyit menatap kedua sejoli yang tengah beradu argumen di kursi depan.
"Cara bicaramu mengapa tak formal kepada pak Rigel. Lalu, bagaimana bisa pak Rigel datang ke rumahmu. Dan aku juga tak mengerti dengan sikap kalian yang sangat tak biasa," imbuh Nata.
Seketika Lyra menelan salivanya. "Memangnya kenapa, apa ada yang salah dengan kami?"
"Tentu saja, sikap kalian sudah benar-benar membuatku merasa curiga. Apa kalian memiliki hubungan lain selain seorang pekerja dan atasan?"
"Maksud kamu hubungan seperti apa?" Tanya balik Lyra bernada gugup.
"Kalian seperti tengah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih."
Rigel tersenyum. "Kami memang tengah menjalin hubungan seperti itu."
Spontan Lyra langsung saja memukul lengan Rigel. "Apa yang kau bicarakan."
"Sudah sepatutnya dia segera tahu dengan hubungan kita." Rigel lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Lyra. "Bukankah dia pantas untukku beritahu sekarang, bila kamu terus menyembunyikan hubungan kita kepadanya, hubungan kalian akan berantakan bila dia tahu hubungan kita dari orang lain."
Nata sampai menggeleng, ia sangat tak menyangka bila sahabatnya itu dapat memiliki hubungan spesial dengan CEO yang terkenal akan ketampanannya itu. Bahkan seluruh karyawan perempuan di kantor tak dapat menggerakan hati Rigel Callisto yang memiliki hati dingin kepada semua karyawan di kantornya.
"Benar-benar luar biasa." Nata lalu menatap ke arah Agni dengan raut wajahnya yang nampak terkejut. "Apa kau tak merasa terkejut setelah mendengar teman kita berpacaran dengan pak Rigel."
Agni menggeleng cepat kepalanya. "Aku tidak terkejut sama sekali karena sudah mengetahui beberapa hari yang lalu. Bukankah Lyra memang wajar bila mendapatkan pacar seperti pak Rigel."
"Apa di sini hanya aku saja yang tak mengetahui hubungan Lyra dan pak Rigel."
Spontan Agni langsung saja menggaruk kepala yang di rasanya tak terasa gatal. "Sepertinya memang begitu."
Nata menggeleng. "Bukankah kalian terlalu jahat menyembunyikan hal sepenting ini dariku," ucapnya di tekuk kesal.
"Bukan Lyra tak mau memberitahumu, tapi dia perlu waktu untuk memberitahumu."
Lyra sampai di buat menunduk setelah membuat sahabatnya itu kesal. Ia merasa malu dan juga bersalah karena telah menyembunyikan hubungannya kepada Nata. Bukan Lyra tak mau memberitahu, tapi Lyra bukanlah kekasih resmi dari Rigel Callisto. Ia hanyalah seorang kekasih yang terjalin dari pekerjaan. Terlebih lagi, Lyra tahu bila Nata sangat menyukai kekasih pura-puranya itu. Yang di pikir Lyra, mungkin saja Nata tidak akan setuju bila seorang wanita biasa seperti Lyra bisa mengencani pria tampan dan kaya seperti Rigel. Apa lagi Nata sangat dekat dengan salah satu karyawan wanita yang juga sama sukannya seperti Nata. Di tambah ancaman yang di lontarkan teman kerja Nata membuat Lyra ketakutan bila sampai hubungannya tersebar luas di kantor.
Dan sesampai di kafe milik Axel, Lyra masih tak bisa menatap langsung mata Nata. Ia terus mengalihkan pandangannya karena malu dan rasa bersalahnya masih saja terasa.
Nata lalu mendekat ke arah telinga sahabatnya tersebut. "Apa kau merasa bersalah terhadapku?" Bisiknya.
Lyra mengangguk. "Maaf, aku tak bisa menceritakannya kepadamu," ucapnya yang juga berbisik.
Nata tergelak. "Apa jangan-jangan kau tak mau bilang karena tahu bila aku menyukai pak Rigel."
"Iya, apa kamu kesal karena aku memiliki hubungan spesial dengannya."
Nata menggeleng cepat sembari tersenyum. "Tentu saja tidak, aku malah senang karena kamu bisa dengan cepat melupakan pria brengsek seperti Daniel. Dan aku juga sangat mendukung bila kamu menjalin hubungan dengannya."
Lyra bisa bernafas lega setelah mendengar Nata yang tak merasa kesal atas hubungannya Rigel. Dan Lyra pun bisa mempercayai sahabatnya itu, bila Nata tak mungkin menyebarkan hubungan spesialnya kepada orang lain. Karena Nata merupakan orang yang dapat di percaya oleh Lyra setelah lamanya menjalin persahabatan.
Namun, biarpun Lyra dapat bernafas lega, tapi Lyra belum bisa sepenuhnya tenang. Karena Lyra harus menyelesaikan satu masalah lagi, yaitu masalahnya dengan Axel. Axel nampak di tekuk kesal saat Lyra datang bersama kedua temannya, begitupun dengan Rigel yang juga ikut masuk ke dalam kafe.
Lyra menghampiri Axel di bar kafe. "Apa aku bisa berbicara denganmu sekarang?"
"Apa kamu tidak lihat bila aku sedang sibuk," ucap Axel tanpa menatap dan hanya fokus pada pekerjaannya.
"Kalau begitu aku akan menunggumu sampai selesai bekerja." Lyra lalu beranjak pergi ke arah meja kosong.
Lyra terus menunggu Axel sampai kafe kosong oleh pengunjung. Dan terus menunggu sampai semua pekerjaan Axel selesai. Barulah Axel keluar dari bar dan melangkah ke tempat Lyra berada.
"Apa kau menganggapku pelanggan. Aku datang kesini karena ingin berbicara denganmu, bukan sebagai pengunjung kafe."
Lalu tiba-tiba saja dering telepon di ponsel milik Rigel berbunyi. Rigel pun beranjak untuk mengangkatnya, dan kembali lagi dalam kurun waktu lima menit.
"Sepertinya aku tidak bisa menemanimu dan tak bisa mengantarmu pulang. Aku harus segera pulang sekarang, karena Jay merengek memintaku untuk pulang," ucap Rigel kepada Lyra.
"Iya tidak apa-apa. Kamu bisa pulang sekarang, Karena aku akan pulang naik kendaraan umum bersama teman-temanku."
Setelah Rigel beranjak dari kafe, barulah Axel dapat duduk di meja tempat Lyra dan kedua temannya duduk.
Axel menghela dengan raut wajahnya yang masih nampak masam. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku?"
"Kenapa kamu tak pernah mengangkat telepon dariku?" Apa kau marah karena aku menjalin hubungan dengan Rigel," ucap Lyra di tekuk kesal.
"Aku sangat kesal kenapa kamu harus berpacaran dengannya."
Lyra menghembuskan panjang nafasnya. "Aku tak benar-benar serius berpacaran dengannya."
Seketika semua sahabatnya pun tersentak kaget mendengar ucapan dari Lyra. Agni sampai-sampai mengerutkan alisnya menatap sahabatnya tersebut.
"Apa yang kau maksud?" Jangan bilang bahwa pak Rigel hanyalah tempat pelampiasanmu setelah putus dengan Daniel."
"Bukan seperti itu, aku terpaksa harus menjalin hubungan dengannya karena keponakannya dan juga gaji yang di tawarkannya cukup besar."
Lalu Lyra pun menceritakan semuanya, tentang bagaimana ia memulai hubungan pura-puranya dengan Rigel. Biarpun Lyra menceritakan bagaimana hubungannya itu terjalin, tapi Lyra tak berani menceritakan tentang awal dirinya bertemu dengan Rigel. Ia takut bila sampai Axel marah karena dirinya yang ceroboh tidur dengan Rigel. Dan Lyra pun tak sampai menceritakan sepenuhnya kepada ketiga sahabatnya itu.
Axel menghela dengan raut wajahnya yang semakin di tekuk kesal. "Akhiri hubunganmu dengannya sekarang juga."
"Biarpun aku berpacaran dengannya hanya karena gaji yang cukup besar, tapi aku tak bisa mengakhiri hubungan dengannya sekarang. Aku takut Jayden akan bersedih bila hubunganku berakhir dengannya. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri dan aku sudah sangat menyayangi keponakan kecilnya itu," terang Lyra.
"Biarpun hubungan kalian hanya sebatas pura-pura. Tapi yang ku lihat dari raut wajah pak Rigel, dia tak seperti hanya menganggapmu sebagai kekasih pura-puranya saja. Aku melihat sepertinya dia sangat menyukaimu," imbuh Nata.
Lyra menghela nafasnya. "Mana mungkin dia menyukaiku. Saat ini dia sedang mengejar cinta pertamanya."
"Lalu, apa sekarang kau memiliki perasaan terhadapnya?" Tanya Nata.
Seketika Lyra mengalihkan tatapannya dari Nata, ia nampak gugup sampai-sampai harus memainkan kuku jarinya.
"Mana mungkin aku menyukainya, dia saja tak memiliki perasaan terhadapku."
Axel berdiri dari duduknya. "Lebih baik secepatnya kamu akhiri pekerjaanmu. Aku akan membayar denda kontrak kerjamu dan aku juga akan membantumu membayar hutang om Rizwan dan tante Sarah."
"Kamu tak perlu membantuku, kafemu belum lama buka. Dan kamu juga harus membantu membayar sisa hutang dari kebangkrutan perusahaan ayahmu."
Axel memiringkan senyumnya. "Kamu menolak bantuanku pasti bukan karena alasan aku yang harus membantu hutang yang di miliki ayahku. Tapi kamu menolak bantuanku karena kamu tak mau berpisah dengan Rigel."
"Bukan seperti itu. Sudah ku bilang aku tak bisa berpisah dengan Rigel sekarang, itu karena Jayden," tegas Lyra.
Axel menghela. "Aku pikir bukan itu alasan kamu tak mau mengakhiri hubungan palsumu dengan Rigel. Apa kau pikir akan bahagia bila perasaanmu bertepuk sebelah tangan. Lebih baik kamu akhiri hubunganmu sekarang juga."
"Aku tegaskan sekali lagi, aku tak bisa memutuskan hubunganku dengannya sekarang," ucap Lyra meninggikan suaranya.
"Kalau begitu lebih baik kamu pergi dari sini sekarang. Karena aku akan segera menutup kafeku," ucap Axel sembari menunjuk pintu keluar.
Lyra bersama kedua temannya pun keluar dari kafe. Bukannya menyelesaikan masalah, Lyra malah menambah masalah. Masalah Axel tak bisa terselesaikan bila Lyra tak bisa mengakhiri hubungannya dengan Rigel. Lyra sangatlah bimbang bagaimana ia harus mengakhirinya, sementara Lyra sangat di beratkan oleh Jayden dan juga hatinya yang terasa tak mau berpisah dengan Rigel. Lyra tak mengerti dengan isi hatinya, ia membenci Rigel tapi ia tak mau berpisah. Walaupun hubungannya hanyalah sebatas kepalsuan.