My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
37. Rumor Yang Bertebaran



Rumor yang di takutkan kini terjadi. Bukan rumor tentang Lyra yang berkencan dengan Rigel, melainkan rumor tentang keburukan yang tak benar adanya. Seorang wanita penggoda, tentu saja Lyra tak merasa bila dirinya merupakan wanita yang telah menggoda atasannya. Memang benar bila dirinya dan Rigel tengah menjalin hubungan, tapi bukan karena ia yang sengaja menggoda atasannya.


Lyra sangat marah ketika mendengar cerita dari sahabatnya tersebut. Terlebih lagi tentang dirinya yang di banding-bandingkan dengan Agni. Lyra tahu bila dirinya berada jauh di bawah Agni, tapi bukan berarti mereka yang tak tahu kebenarnya pantas membanding-bandingkan dirinya dengan Agni. Lyra pun menjadi khawatir dengan tersebarnya rumor tersebut. Lyra takut bila hubungannya yang belum terjalin lama itu, rusak karena rumor tersebut. Apa lagi dirinya sedikit goyah saat tahu bila ia di banding-bandingkan dengan Agni. Hingga membuatnya bertanya-tanya, apa ia masih pantas menjadi kekasih dari orang nomor dua di perusahaan PT Starlight.


Wajahnya penuh kecemasan, hatinya gelisah, diamnya tak nyaman, hingga membuat Lyra tak bisa berhenti memainkan kuku jarinya.


Nata pun kembali meraih tangannya. "Kamu tak perlu menghawatirkan rumor yang tak benar adanya itu. Apa lagi kamu bukanlah wanita penggoda yang telah menggoda atasannya."


Lalu tiba-tiba saja Lyra dan Nata di kejutkan dengan kedatangan Rigel ke kafetaria.


"Tentu saja Lyra bukanlah wanita penggoda, karena sayalah yang lebih dulu menyukainya," lontar Rigel dengan raut wajahnya yang nampak marah." Rigel berjalan mendekat ke tempat Lyra dan Nata duduk, lalu menatap tajam Nata. "Bisa kau sebutkan siapa saja yang telah menjelekan kekasihku ini."


Tatapan tajam yang di lakukan Rigel mampu membuat buluk kuduk Nata berdiri. Walau Nata tak melakukan kesalahan, entah mengapa ia berdebar ketakutan saat di tatap Rigel seperti itu. Hingga membuatnya tak berani untuk menatap, dan Nata pun sulit untuk berucap. Ia takut bila dirinya akan mengatakan hal yang salah kepada Rigel. Terlebih lagi, yang menjelekan Lyra terlalu banyak bila harus di sebutkan satu persatu. Rigel terkenal kejam terhadap seluruh karyawan di kantor, dan bila sampai Nata memberitahu siapa saja yang menjelekan Lyra, bisa-bisa akan banyak orang yang kehilangan pekerjaan.


Rigel seketika mengebrak meja. "Ku bilang sebutkan siapa saja yang telah menjelekan Lyra."


Lyra menghela. "Kamu tak perlu bersikap seperti itu padanya. Nata tak akan mau berbicara, bila kamu marah seperti itu."


"Bila dia tak mau berbicara, lebih baik dia ku pecat saja."


Nata menelan salivanya, dan dengan cepat ia pun menjawab. "Semua perempuan yang satu divisi denganku semuanya membicarakan Lyra. Tapi tak hanya orang-orang yang satu divisi denganku saja, banyak sekali orang-orang dari divisi lain yang membicarakan Lyra."


Rigel menghela kesal. "Baiklah. Sebagai contoh, semua perempuan yang satu divisi dengan Nata akan ku pecat. Agar semua orang di kantor ini tak berani lagi membicarakan Lyra sembarangan." Rigel beranjak pergi dengan raut wajahnya yang nampak marah.


Rigel yang marah bisa membuat banyak karyawan di kantornya kehilangan pekerjaan. Terlebih lagi Rigel terlalu berlebihan bila harus memecat karyawannya. Dan Lyra pun perlu bertindak sebelum Rigel memecat orang-orang di kantor. Lyra lalu meraih tangan Rigel untuk menghentikan langkahnya.


"Kamu tak perlu sampai memecat mereka karena hal sepele."


Rigel menghela kesal. "Kamu bilang ini sepele, mereka berani menjelekanmu di belakangku. Kamu adalah wanita yang aku cintai, jelas saja aku perlu melindungimu dari mulut-mulut busuk mereka."


"Jika kamu bertindak seperti ini, masalahku akan semakin besar. Mereka mungkin akan semakin membenciku karena ulahmu ini." Seketika Lyra menitikan air matanya. "Kumohon sekali lagi, kamu jangan membuat mereka kehilangan pekerjaannya."


Sontak Rigel pun panik saat melihat kekasihnya menitikan air mata di depan matanya.


"Jangan menangis seperti ini Lyra. Kamu tak berhak menyia-nyiakan air matamu hanya karena demi mereka yang memiliki mulut busuk," ucap Rigel sembari menyeka bulir air di kedua pipi Lyra.


"Maka dari itu, kamu tak perlu bersikap berlebihan. Jangan sampai memecat mereka hanya karena demi aku."


Rigel menghela. "Baiklah, aku tak akan memecat mereka, asal kamu berhenti menangis."


Lyra tersenyum sembari mengangguk. "Iya, aku berhenti."


Agni tiba-tiba datang menghampiri dengan penampilannya yang sangat berantakan, baju serta rambutnya nampak acak-acakan. Raut wajahnya pun nampak cemas ketika menatap Lyra.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Lyra mengerutkan alisnya. "Yang seharusnya bertanya itu aku, ada apa denganmu? Mengapa penampilanmu seperti itu."


"Tadi di depan aku habis bertengkar dengan salah satu perempuan yang bekerja di sini. Dia menjelekanmu tepat di telingaku. Akhirnya aku pun saling jambak-jambakan dengannya."


"Penyebab Lyra di jelekan itu adalah kamu. Jika Lyra tak ingin lagi di jelekan, lebih baik kamu segera berhenti bekerja di sini," lontar Rigel dengan tatapan kesalnya.


Rigel melepaskan tangan Lyra, lalu menatap tajam wajah Agni. "Bila Ryan sudah kau dapatkan, apa kau bisa berhenti bekerja di sini."


"Itu tergantung, bila aku hanya dapat memilikinya tapi dia tak dapat mencintaiku, mana bisa aku berhenti bekerja di sini. Alasanku bekerja di sini itu, agar aku bisa setiap hari dekat dengannya. Siapa tahu lama-lama dia akan mulai memiliki perasaan terhadapku," ucap Agni sembari tersenyum membayangkan sosok Ryan.


Rigel menyeringaikan senyumnya. "Sepertinya dia sudah memiliki perasaan terhadapmu. Jadi aku hanya cukup membuatnya menyatakan perasaan terhadapmu."


Tanpa basa-basi lagi, Rigel pun lalu terburu-buru pergi menuju ruangannya.


**


Setelah rumor mengenai perjodohan Agni dan Rigel bersuat, semua orang di dapur menjadi senggan kepada Agni. Bahkan Susi saja yang merupakan seorang kepala kantin tak berani menyuruh Agni. Semua pekerja senior termasuk Susi menyuruh Agni tak melakukan apapun. Lain halnya dengan Lyra yang merupakan wanita paling di cintai Rigel, masih tetap melakukan pekerjaan dan tidak di istimewakan layaknya Agni.


Bahkan Lyra sampai di buat kesal ketika para pekerja menanyai Agni, tentang kapan Agni menikah dengan Rigel dan tentang bagaimana rasanya menjadi calon istri untuk Rigel Callisto. Sebenarnya Lyra ingin di akui, tapi Lyra bisa apa, hubungannya masih di kenal orang hanya sebatas rumor. Dan Lyra tak bisa berteriak memberitahu mereka bahwa dirinyalah yang sebenarnya di miliki oleh Rigel.


Walau Agni di istimewakan, bukan berarti Agni hanya duduk diam tak melakukan apapun. Agni tetap ingin bekerja dan di sama ratakan dengan pekerja lainnya.


"Saya ingin memberitahu kalian, bahwa saya di sini untuk bekerja bukan untuk duduk diam memperhatikan kalian," lontar Agni.


"Tapi saya di suruh oleh pak Sandy, agar nona Agni tidak melakukan pekerjaan lain selain menyiapkan makan untuk pak Rigel," imbuh Susi.


Agni menghela. "Yang seharusnya melakukan itu Lyra bukan saya."


"Anda merupakan calon istri pak Rigel, anda tak boleh melakukan pekerjaan berat."


"Saya tegaskan, saya tak akan pernah menikah dengan pak Rigel," ucap Agni kesal.


Agni memaksakan diri melakukan pekerjaan seperti yang di lakukan pekerja lain. Biarpun semua orang melarangnya.


Lalu tiba-tiba saja Rigel datang ke dapur, dan ia di buat kesal ketika mendapati Lyra tengah memotong banyak sayuran. Susi pun lalu terburu-buru menghampirinya.


"Ada apa pak Rigel datang kesini. Apa ada yang ingin pak Rigel pesan kepada nona Agni."


"Saya datang kesini karena ingin tahu kenapa Lyra belum menyiapkan makan siang untuk saya," ucap Rigel yang tatapannya hanya tertuju kepada Lyra.


Seketika Susi mengerutkan kedua alisnya. "Bukankah sekarang yang menyiapkan makan untuk anda adalah nona Agni."


Rigel menghela kesal. "Saya tegaskan ya, bahwa Lyra hanya bekerja untuk saya. Jadi yang menyiapkan makan untuk saya hanya Lyra bukan Agni. Dan kamu tidak berhak menyuruhnya bekerja berat seperti itu."


"Tapi pak Sandy sudah meminta saya, bahwa yang menyiapkan makan untuk anda sekarang adalah nona Agni."


Rigel memiringkan senyumnya. "Saya yang mempekerjakan Lyra dan saya pula yang menggaji Lyra dengan uang pribadi saya, tidak dengan uang perusahaan."


Rigel seketika menarik Lyra keluar dari dapur dan membawanya pergi ke ruangannya. Rigel benar-benar marah ketika mendapati kekasihnya itu di perlakukan sama seperti pekerja lainnya.


"Kenapa kamu mau bekerja seperti itu. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk bekerja hanya untukku saja."


Lyra memaksakan senyumnya sembari menahan air yang tengah tergenang di kedua bola matanya. "Hm, aku kan memang mendaftarkan diri bekerja di sini hanya untuk menyiapkan makan bagi seluruh pekerja di gedung perkantoran ini."