My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
60. Ada Apa Dengan Kota London



Novel-novel yang di bawakan Agni masih tersimpan di atas meja, tanpa di buka dan tanpa sedikit pun Rigel berniat untuk membacanya. Sampai berhari-hari lamanya posisi di mana novel tersebut di letakan masih saja sama. Hingga membuat Ryan pun terdorong untuk bertanya, apa novel yang di bawa istrinya belum di baca atasannya. Karena posisi novel tersebut tak pernah berpindah tempat tiap kali Ryan datang ke ruangan atasannya.


"Hm maaf, apa novelnya sudah anda baca Atau sudah pernah anda cek?" Tanya Ryan.


"Aku tak ada waktu untuk melakukan hal yang tak berguna."


"Hm, membaca novel merupakan hal untuk mengatasi stress. Bukankah anda terlalu memikirkan pekerjaan, itu bisa membuat anda stress bila setiap harinya anda hanya memikirkan pekerjaan. Setidaknya dengan membaca novel anda dapat meringankan stress."


Rigel menghela. "Justru bekerjalah yang dapat meringankan stressku. Karena membaca novel hanyalah dapat membuang waktuku yang berharga. Dan aku ingatkan, membaca novel tak akan membuatku mendapatkan uang."


"Bukankah anda sudah sangat kaya, untuk apa anda sangat bekerja keras untuk mencari uang. Dan sejak tiga tahun terakhir ini anda jarang mengeluarkan uang." Ryan menelan salivanya. "Setidaknya anda bisa berpergian keluar untuk merefresskan otak anda."


Rigel menggeleng. "Sekarang kamu berani menyuruhku. Apa posisi atasan kini sudah berpindah padamu."


Ryan menggeleng cepat kepalanya. "Tidak, tidak. Saya tidak berniat menyuruh anda, saya hanya ingin memberi saran untuk anda."


"Saran terbaik untukku adalah bila kamu enyah dari sini, dan bawa semua novelnya. Itu sangat mengganggu penglihatanku."


"Baiklah saya akan pergi, tapi saya tidak akan membawa novelnya sebelum anda membacanya. Setidaknya anda dapat mengeceknya sedikit saja." Ryan pun beranjak dengan perasaan gugup dan paniknya setelah melihat atasannya yang nampak kesal itu.


Sementara Rigel, ia malah terheran-heran dan bertanya-tanya tentang sekertaris dan sahabat mantan kekasihnya, mengapa mereka sangat memaksa Rigel untuk membaca novel. Padahal hal seperti itu menurut Rigel bukanlah hal yang penting. Terlebih lagi Rigel tak suka melakukan hal yang menyita waktunya seperti membaca novel dan bermalas-malasan.


Rigel menghela, biarpun ia tak mau membaca novel yang di bawa Agni, tapi ia sangat terdorong untuk membacanya. Karena merasa penasaran dengan isi dari novel yang membuat Ryan dan Agni sangat memaksanya untuk segera membaca novel-novel tersebut.


Rigel pun mengeluarkan novel-novel tersebut di dalam kantong, lalu di jejerkan berdasarkan tanggal penerbitan dari novel tersebut. Yang pertama ia raih adalah novel pertama yang di terbitkan. Namun saat Rigel akan hendak membaca bab pertama, tiba-tiba saja Ryan mengetuk pintu dan kembali masuk ke ruangannya.


"Maaf pak, pak Sandy menyuruh anda untuk datang ke ruangannya sekarang."


"Baik saya akan segera kesana," ucap Rigel.


Ryan pun seketika tersenyum ketika melihat novel yang berjejeran di meja Rigel, dan terlebih lagi ia mendapati Rigel tengah memegang salah satu dari novel yang di bawa istrinya itu.


"Sepertinya anda sudah mulai tertarik dengan novel yang di bawakan istri saya."


Sontak Rigel pun tersipu malu, setelah tadi ia menolak dengan keras untuk membacanya sekarang ia terang-terangan di lihat Ryan sedang memegang novel. Dengan cepat Rigel meletak kembali novel-novel tersebut ke dalam kantong.


"Aku bukan tertarik, tapi aku penasaran mengapa kamu dan istrimu sangat memaksaku untuk membaca novel-novel ini. Jadi aku ingin mengeceknya."


Ryan tersenyum. "Apa anda sudah membacanya walau hanya sedikit."


"Satu kata pun belum aku baca, aku baru membaca judulnya saja." Rigel lalu beranjak dari tempat duduknya. "Lebih baik kamu bawa kembali novelnya, karena di lihat dari judulnya saja novel tersebut merupakan buku yang tak berguna."


Rigel menghela sembari melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. "Terserah kamu saja, lagi pula aku tak akan pernah mau membacanya."


Rigel bergegas ke ruangan ayahnya. Sampainya di sana, Rigel langsung terduduk di kursi tempat biasa Sandy mengobrol dengan tamunya.


"Jadi hal apa yang ingin ayah bicarakan padaku."


"Pindahlah ke London, dan uruslah cabang perusahaan yang berada di sana."


"Apa ayah mengusirku karena sampai saat ini aku tak bisa menikahi perempuan pilihan ayah."


Sandy menghela. "Aku tak mengusirmu, kamu sudah banyak membantu perusahaan. Bahkan berkat kamu perusahaan kita menjadi perusahaan nomor satu di Indonesia. Ayah hanya ingin kamu juga memajukan perusahaan yang berada di sana."


"Seorang CEO sepertiku harus di pindahkan ke perusahaan cabang, yang perusahaannya jauh lebih kecil dari cabang perushaan kita yang berada di luar kota."


"Aku tahu kamu merupakan orang yang hebat, maka dari itu aku pindahkan kamu kesana. Karena aku yakin kamu bisa banyak membantu mengenalkan perusahaan kita yang tidak terlalu di kenal di sana. Dan setidaknya bila kamu pindah kesana, luka di hatimu akan terobati."


"Alasan aku di pindahkan kesana, apa karena ayah ingin membuatku melupakannya." Rigel menghela kasar nafasnya. "Aku tak akan pernah mau untuk melupakannya, biarpun ayah memaksaku untuk melupakannya."


"Terserah kamu bila tak ingin melupakan wanita itu. Karena aku tak menyuruhmu untuk melupakannya. Bila kamu pindah kesana, setidakanya kamu dapat mengobati luka di hatimu. Sekarang aku sudah tak peduli dengan siapa kamu akan bersanding. Karena aku hanya ingin kamu bisa memajukan perusahaan kita di sana."


Rigel lalu beringsut dari tempatnya duduk. "Baiklah, aku akan pindah ke London." Rigel menghela, lalu bergumam. "Ada apa dengan kota London, Ryan dan Agni memaksaku untuk membaca novel dari penulis asal sana. Dan sekarang ayah memintaku untuk pindah kesana."


Entah ada apa dengan kota London, rasanya terasa aneh. Novel serta perusahaan tempatnya nanti bekerja berada di kota London. Dan yang paling aneh, sekarang ayahnya sudah tak mempedulikan wanita yang akan di pilih Rigel.


"Apa dia sudah menyerah menjodohkanku dengan wanita pilihannya," gumam Rigel di batinnya.


Biarpun kini ayahnya sudah tak mau mencarikan wanita untuk Rigel, dan biarpun kini ayahnya sudah tak peduli dengan wanita pilihan Rigel, rasanya itu semua sudah terlambat. Karena kini wanita yang di pilihnya sudah pergi dari hidupnya. Walaupun Rigel ingin sekali menemui Lyra dan memberitahunya tentang hubungannya yang kemungkinan akan di restui bila Lyra mau kembali. Ini sudah tiga tahun, Lyra mungkin sudah tak memiliki perasaan untuk Rigel. Dan mungkin juga Lyra sudah memiliki pria lain di hatinya. Saat ini Rigel hanya dapat menyimpan Lyra di hatinya, tapi tak dapat memilikinya.


Sehabis dari ruangan ayahnya, Rigel lalu memberitahu Ryan tentang kepindahannya ke London.


"Aku akan di pindahkan ke perusahaan cabang yang berada di London. Kemungkinan kamu pun akan ikut pindah kesana bersamaku."


Seketika Ryan pun tersenyum girang setelah mendengarnya. "Itu bagus sekali, siapa tahu bila kita pindah kesana, kita dapat menemui penulis terkenal dari novel yang di berikan istriku pada pak Rigel."


Rigel menyeringai. "Kita kesana bukan untuk menemui penulis dari buku jelek itu, tapi kita kesana untuk bekerja." Rigel menggeleng, lalu kembali melangkahkan kakinya memasuki ruangannya.


"Setidaknya di akhir pekan kita dapat menemuinya," ucap Ryan mengeraskan suaranya.


"Kamu saja yang pergi menemuinya, di akhir pekan aku hanya ingin beristirahat," ucap Rigel yang juga mengeraskan suaranya.