
Lyra di buat heran dan penasaran oleh Rigel, mengapa bisa ia memberi pelajaran kepada Lyra. Apa dia seburuk itu, hanya karena Lyra merupakan pekerja baru, Rigel semena-mena menjahili Lyra hanya karena ia merupakan orang paling berkuasa di kantor. Karena ingin tahu dengan jawaban yang akan di berikan Rigel, Lyra rela menunggunya di balik pintu. Kesal dan marah, tapi mau bagaimana lagi. Lyra tak dapat mengutarakan marah dan kesalnya, secara Rigel merupakan seorang CEO, bisa di bilang dia merupakan seorang bos di kantor. Menyebalkan, bila saja Lyra tak terlalu membutuhkan uang, sudah dari tadi Lyra mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Dan lagi, mengapa sekertarisnya harus mengenakan masker padahal ia tampak baik-baik saja. Apa mungkin seorang Rigel Callisto berbuat semena-mena juga terhadap sekertarisnya itu, pertayaan itu terus muncul dan membuat Lyra keheranan.
"Bila memang benar dia berbuat semena-mena terhadap sekertarisnya, berarti dia adalah pria paling buruk di antara yang paling buruk," gumam Lyra di batinnya.
Untuk mengobati rasa penasarannya, Lyra perlu bertanya kepada sekertaris bermasker itu.
"Maaf, mengapa Anda harus mengenakan masker. Saya lihat anda tampak tak sedang sakit ataupun flu."
"Saya hanya ingin menggunakannya saja. Bukankah debu di gedung kantor ini sangat banyak," ucap Ryan.
Seketika Lyra mengerutkan kedua alisnya. "Kantor tampak sangat bersih, saya tak melihat banyak debu di sini. Terkecuali bila debu-debu yang tak mungkin bisa di lihat."
"Entahlah, saya hanya ingin memakainya saja."
"Jangan bilang bila anda di paksa oleh pak Rigel untuk memakainya. Apa dia memang memiliki sikap seburuk itu, hingga harus berbuat semena-mena terhadap orang."
"Menurut saya dia merupakan orang yang baik. Dia memang menyuruh saya untuk memakai masker, karena ada alasan di balik itu."
"Hah? Alasan apa yang membuatnya sampai harus menyuruh anda mengenakan masker?" Tanya Lyra yang semakin keheranan.
"Alasan itu hanya bisa di jawab oleh pak Rigel sendiri. Saya tidak berani menjawabnya, biarpun saya tahu."
Setelah lamanya menunggu, akhirnya CEO menyebalkan itu memanggil Lyra masuk ke ruangannya. Lyra masuk, dan ia masih mendapati Rigel duduk sambil memunggunginya. Tapi, ada hal yang sedikit berbeda ketika ia masuk ke dalam ruangan. Yaitu, makanan yang di buatnya habis sampai tak menyisakan satu butir nasi di piring. Cukup lega, hal yang membuatnya kelelahan akhirnya mendapatkan hasilnya, yaitu Rigel bisa melahap habis makanannya.
"Akhirnya makanan yang saya buat habis. Apa makanan kali ini tak membuat anda kecewa?" Tanya Lyra.
"Sedikit tak mengecewakan. Sekarang kamu boleh ambil piring-piring kotornya, lalu pergi tinggalkan ruangan saya."
"Kenapa saya harus pergi, bukankah tadi anda ingin memberi saya jawaban tentang alasan anda yang memberi pelajaran terhadap saya," ucap Lyra heran.
"Jawabannya ada di sebelah piring-piring kotor itu."
Lyra pun melakah maju mendekati meja, saat piring kotor di pegangnya, satu pigura dengan posisi terbalik terletak di samping piring bekas makan Rigel. Lyra lalu meraih dan membalikan pigura tersebut. Pigura di baliknya, Lyra terkejut menatap apa yang ada pigura tersebut. Bukan foto yang ada di pigura tersebut, melainkan uang kertas pecahan seratus ribu dengan tulisan tangan Lyra.
"Bukankah ini uang yang aku berikan pada pria waktu itu," gumam Lyra mengingat uang yang ia berikan kepada seorang pria yang tidur dengannya di hotel.
Seketika kursi rigel beputar balik menghadap ke arah Lyra.
"Apa sekarang kau sudah mengingatku," ucapnya dengan seringai.
Sontak Lyra pun tersentak kaget menatap Rigel Callisto yang ternyata merupakan pria yang menolongnya di klub malam, sekaligus pria yang tidur dengannya di hotel.
Lyra menelan salivanya. "Jadi ini alasan kamu memberiku pelajaran."
Rigel tersenyum. "Tentu saja."
"Untuk apa kamu membalasku seperti ini. Bukankah aku sudah memberimu uang tanda terima kasih. Mengapa kamu tidak puas dengan apa yang ku berikan."
Rigel berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri Lyra, lalu meraih pinggangnya. Merapatkan tubuh Lyra dengan tubuhnya. Tangannya membelai wajah Lyra, lalu wajahnya mendekat ke arah wajah perempuan yang memberinya uang tiga ratus ribu sewaktu di hotel.
"Kau pikir tubuhku semurah itu. Setelah menikmati tubuhku, kau pergi dan meninggalkan uang receh yang bagiku itu hanya bisa membeli sebuah permen."
Jantung Lyra berdetak tak karuan, wajahnya memerah, nafasnya keluar tak beraturan.
Rigel tergelak. "Jadi itu merupakan kali pertama bagimu, pantas saja saat itu terasa rapat."
Seketika Lyra mendorong tubuh Rigel, hingga membuatnya terlepas dari cengkraman kuat CEO PT Starlight tersebut.
"Dasar mesum!! Mulai saat ini aku berhenti dari pekerjaanku." Lyra melangkah pergi keluar dari ruangan.
"Jika kamu berhenti maka kamu harus membayar denda dari kontrak kerjamu. Oh ya, bukankah orang tuamu memiliki hutang senilai lima miliyar, apa kamu sanggup membayarnya bila kamu keluar dari pekerjaanmu sekarang."
Seketika langkah Lyra pun terhenti. Ia berbalik kembali masuk ke dalam ruangan.
"Apa maksud anda? Dari mana anda tahu jika orang tua saya memiliki hutang?"
Rigel memiringkan sudut bibirnya. "Tentu saja aku mencari tahu, karena aku penasaran dengan wanita yang telah menghinaku dengan uang tiga ratus ribu."
"Oh jadi anda seorang penguntit." Lyra menunjuk. "Anda mencari tahu tentang saya tapi anda salah tentang hutang yang di miliki oleh orang tua saya. Bukan lima miliyar tapi dua miliyar."
"Ck," Rigel berdecik. "Yang salah itu kamu, mereka bohong bila menyebut hutang yang di miliki mereka dua miliyar. Aku tak mungkin salah dengan apa yang ku ucapkan. Apa mau ku perlihatkan berkas-berkas hutang yang di miliki orang tuamu."
Lyra mengerenyitkan keningnya. "Apa memang benar yang anda maksud itu?"
"Tentu saja saya benar. Bila kamu berhenti dari pekerjaanmu sekarang, kamu harus membayar denda dari kontrak senilai sepuluh juta." Rigel menghela nafasnya. "Kamu coba pikirkan lagi tentang niatmu untuk berhenti."
Uang senilai sepuluh juta merupakan nilai yang cukup besar, sementara sisa tabungan Lyra saat ini hanyalah tersisa tiga juta di rekeningnya. Mana mampu Lyra membayarnya, terlebih lagi hutang kedua orang tuanya bernilai sangat fantastis. Mana bisa Lyra meminjam uang dari kedua orang tuanya saat ini. Mereka saja tengah kesusahan dengan hutang mereka.
Lyra harus mengurungkan niatnya untuk berhenti dari pekerjaannya. Seketika Lyra pun meraih lengan Rigel.
"Aku minta maaf, dan aku menarik kembali ucapanku. Aku tak mau berhenti dari pekerjaan ini, tolong maafkan aku." Sembari memegang lengan Rigel, dengan kencangnya Lyra menangis. "Aku ini miskin mana mampu membayar denda. Dan aku juga harus membantu membayar cicilan hutang kedua orang tuaku."
Spontan Rigel langsung saja menutup mulut Lyra dengan telapak tangannya. "Jangan menangis seperti ini. Bila sampai orang-orang di kantor mendengarnya, mereka akan berprasangka buruk terhadapku."
Lyra melepaskan tangan Rigel dari mulutnya. "Bila tak ingin membuatku menangis, maka dari itu maafkan saya. Dan jangan sampai anda mengucapkan kata pecat kepada saya."
Rigel menghela. "Saya akan maafkanmu, lagi pula saya tidak akan memecatmu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Sepulang dari kantor kamu ikut bersama saya ke rumah saya."
Lyra menelan salivanya. "Pak Rigel ingin saya pulang ke rumah bapak. Apa pak Rigel tahu, bila itu merupakan pelecehan."
"Kamu pikir saya mengajakmu ke rumah karena ingin melakukan hal yang sama seperti di hotel."
"Bukankah itu yang pak Rigel pikirkan. Bahkan saat itu pak Rigel berani membawa saya ke hotel dan sampai melakukan hal tak senonoh. Itu kan mesum."
Rigel menghembuskan nafasnya. "Saya membawamu kesana, itu karena saya tidak tahu dengan rumahmu. Dan yang mesum itu kamu, karena kamu yang lebih dulu memulainya."
"Ok...ok saya mengaku memang saya yang lebih dulu memulainya. Tapi, untuk apa pak Rigel mengajak saya ke rumah?"
"Hari ini adalah ulang tahun keponakan saya, saya ingin kamu ikut makan malam bersama saya di sana," ucap Rigel sembari menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.
Lyra tersenyum. "Baiklah jika memang bergitu, sepulang kerja saya akan ikut makan malam di rumah pak Rigel."