My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
50. Aku Tak Sanggup Bila Harus Melepasmu



Setelah semalaman menangis mata Lyra nampak sembab, Lyra pergi bekerja dengan raut wajahnya yang sendu. Di mulai hari ini, Lyra berniat ingin mengakhiri hubungannya dengan Rigel. Mengakhiri adalah langkah terakhir yang harus Lyra ambil demi kebaikan Rigel dan juga dirinya. Mungkin juga demi kebaikan semuanya, baik orang tuanya maupun untuk ayah Rigel sendiri.


Ketika Lyra akan hendak masuk ke kantor, tiba-tiba saja Rigel menghentikan langkah Lyra dengan cara meraih tanganya.


"Lyra." Rigel mengerutkan alisnya ketika menatap mata Lyra yang tampak sembab itu. "Apa kamu marah, hingga tadi malam dan tadi pagi kamu tak membalas pesanku."


Lyra menggeleng. "Tidak, aku hanya lupa membalas pesanmu. Kalau semalam mungkin aku sudah tertidur," ucapnya dengan wajahnya yang datar.


Matanya yang sembab serta ekspresinya yang datar membuat Rigel menaruh curiga. Rigel berprasangka bahwa Lyra sedang marah karena semalam Rigel membatalkan makan malamnya.


"Benarkah kamu tak marah?"


"Iya." Lyra melepaskan tangannya dari Rigel lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Bukan karena marah Lyra bersikap dingin kepada Rigel, melainkan inilah awal mula untuk Lyra agar bisa melepas Rigel dari genggamannya. Sikap dinginnya adalah tindakan yang tepat agar Rigel dapat membencinya dan mungkin saja Rigel bisa dengan mudah terlepas dari Lyra.


Sementara Rigel, ia tetap berprasangka bahwa Lyra bersikap dingin karena ia marah soal Rigel yang tak bisa datang ke restoran. Semalam Lyra memang sempat kesal dan marah karena Rigel tak datang, tapi bukan berarti ia akan terus marah seperti anak kecil karena hal seperti itu. Hanya saja jika Lyra terus bersikap baik atau lembut, Rigel akan makin susah melepaskannya.


Karena Rigel masih berprasangka dengan perihal semalam, Rigel perlu meminta maaf dan setidaknya dapat mengganti waktu yang telah ia korbankan demi pekerjaan. Rigel pun mengejar Lyra lalu kembali meraih tangannya agar langkahnya kembali terhenti.


"Tunggu! Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu?"


"Apa yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Lyra yang masih menunjukan ekspresi datarnya.


"Karena kemarin aku tak bisa datang, bagaimana bila ku ganti. Jadi hari ini kita akan makan malam bersama di restoran yang kemarin."


"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Jangan memaksakan diri bila pekerjaanmu memang tak bisa di tinggalkan."


"Malam ini kemungkinan pekerjaanku akan cepat selesainya. Mungkin sekitar pukul tujuh malam aku akan menyelesaikan semua pekerjaanku. Dan malam ini kita akan pergi bersama, kamu bisa kan menungguku di kantor."


Rigel mengajak makan malam, ini merupakan kesempatan dan waktu yang pas untuk Lyra mengucapkan kata pisah kepada Rigel.


Lyra mengangguk. "Baiklah, nanti aku akan menunggumu."


***


Pukul tujuh malam, Rigel dapat menyelesaikan semua pekerjaan sesuai janji yang ia katakan tadi pagi.


Selama perjalanan perginya, Lyra tetap saja bersikap dingin kepada Rigel. Lyra tetap diam walau Rigel mengajaknya mengobrol. Bila berbicara pun Lyra hanya mengeluarkan kalimat yang singkat.


Sikap Lyra yang seperti itu malah membuat Rigel semakin merasa bersalah. Dan sikap Lyra seperti itu juga malah membuat Rigel merasa canggung. Lyra bukanlah Lyra yang seperti biasa, tapi Lyra seperti orang lain di mata Rigel sekarang.


Rigel meraih tangan Lyra, lalu mengecup punggung tangan kekasihnya tersebut. "Soal semalam aku minta maaf. Aku tahu kamu marah pasti karena semalam aku tak dapat menepati janjiku."


Lyra menghembuskan panjang nafasnya. "Prihal semalam aku tak marah sama sekali."


"Lalu mengapa sedari tadi kamu bersikap dingin kepadaku."


Kedua matanya sudah tergenang, namun sekuat mungkin dan sebisa mungkin Lyra menahannya agar air yang tengah tergenang itu tak berjatuhan di waktu yang tak tepat. Lyra berulang kali mengatur nafasnya agar tangisnya bisa ia tahan.


Saat ini hatinya sangat di bimbangkan, ia akan melepaskan Rigel tapi hatinya sangat bersiteguh untuk tak melepasnya. Bagaimana bisa ia merelakan sang kekasih bila hatinya saja masih kuat menggenggamnya. Langkah ini sangat sulit untuk Lyra ambil, tapi bila Lyra tak mau mengambil langkah ini, maka Jayden tak bisa kembali ke sisi Rigel dan hubungannya sampai kapanpun akan tetap bermasalah bila tak ada restu dari ayahnya Rigel.


Hingga pada saat makan malamnya sedang berlangsung, Lyra masih diam dan larut dalam lamunannya. Lyra terus memikirkan kata apa yang harus ia ucapkan untuk mengakhiri hubungannya.


Karena Lyra lebih fokus melamun di bandingkan menghabiskan makanannya, Rigel pun kembali meraih tangannya.


"Bila ada masalah, ucapkanlah. Bukankah kita sudah berjanji tak akan pernah menyembunyikan sesuatu."


Lyra seketika menghempaskan tangan Rigel dari tangannya. "Sudah ku bilang moodku sedang tidak baik. Mungkin ini karena aku sedang datang bulan, oleh sebab itu moodku jelek."


Lyra malah berbohong bukannya segera mengucapkan kata pisah, Lyra malah lebih memilih menuruti apa yang di inginkan hatinya. Karena memang hatinya itu tak kuasa bila harus mengucapkan kalimat pisah yang sedari tadi Lyra rangkai.


Rigel menghela, lalu tersenyum menatap Lyra. "Aku minta maaf karena tidak tahu. Lalu, apa ada yang kamu inginkan supaya moodmu kembali membaik."


Dalam hati dan pikirannya ada yang sangat-sangat di inginkan Lyra yaitu, Jayden bisa kembali ke sisi Rigel dan hubungannya mendapatkan restu dari Sandy. Agar hubungannya itu bisa terus berlanjut. Tapi apa ada daya, keinginannya tak mungkin bisa terwujud bila Sandy saja enggan merestui hubungan anaknya dengan Lyra.


Lyra seketika beringsut dari duduknya. "Aku akan pulang sekarang." Lalu berjalan dengan langkah yang cepat keluar dari restoran.


Rigel pun terburu-buru membayar tagihan makanannya, lalu terburu-buru beranjak mengejar Lyra. Dan dengan cepat Rigel pun meraih tangan Lyra untuk menghentikan langkahnya.


"Tunggu sebentar! Biar ku antar kamu pulang."


Lyra menghempas tangan Rigel dari tangannya. "Biarkan aku pulang sendiri. Hari ini aku hanya ingin pulang sendiri."


"Tapi aku tak bisa membiarkan kamu pulang sendiri, Lyra."


"Kumohon biarkan aku pulang sendiri, hari ini aku hanya ingin sendiri agar hati dan pikiranku bisa tenang. Bukankah tadi kamu bertanya hal apa yang ku inginkan supaya moodku membaik." Lyra menghela. "Ini yang ku inginkan sekarang, jadi biarkan aku pulang sendiri."


Tanpa basa-basi lagi Lyra pun kembali melangkahkan kakinya tanpa di hentikan Rigel. Dan di saat itulah, akhirnya Lyra dapat dengan bebas mengeluarkan air matanya. Ia terus berjalan dengan kedua mata yang tak henti-hentinya mengeluarkan bulir air. Hingga akhirnya langkahnya membawanya pergi ke kafe milik Axel. Karena kebetulan restoran yang tadi ia datangi bersama Rigel tak jauh dari kafe milik sahabatnya tersebut.


Lyra datang di saat Axel tengah akan mengunci pintu kafenya. Axel menghiraukan Lyra walau Lyra tengah berada di dekatnya.


"Bisakah kamu menyediakan minuman hangat untukku," lontar Lyra.


"Tidak bisa, aku sudah menutup kafenya," ucap Axel dengan ekspresi datarnya.


"Baiklah bila kamu tak mau." Lyra kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.


Raut wajah Lyra nampak sendu serta kedua matanya nampak basah karena sedari tadi matanya menitikan air. Hingga membuat Axel tak kuasa bila harus membiarkan Lyra pergi.


Axel menghela. "Baik, aku akan memberimu minuman hangat," ucapnya lalu meraih tangan Lyra dan menghentikan langkahnya.