
Gelisahlah Rigel saat tahu bila Lyra pergi ke New York, yang entah kapan akan kembali pulang ke London. Jelas sekali bila Lyra tengah menghindari Rigel setelah kemarin malam melakukan hal panas di resort.
Lintas negara selalu menjadi pilihan Lyra untuk menghindari pria yang selalu setia mencintainya. Ia pikir Rigel tak akan mengejarnya bila dirinya melangkah jauh meninggalkan benua Eropa. Nyatanya Rigel sangat ingin pergi menyusulnya ke kota tersibuk di negeri paman Sam tersebut. Terlebih lagi Rigel sudah sangat tahu dengan perasaan Lyra yang masih menaruh hati, sama sepertinya.
Setelah di beritahu Agni tentang kepergian Lyra ke New York, Rigel pun laangsung bergegas ke kamar dan terburu-buru mengemasi pakaiannya ke koper. Di saat Rigel tengah berkemas, Ryan datang menghampirinya.
"Jangan bilang bila anda akan pergi menyusulnya ke New York."
"Tentu saja aku akan menyusulnya kesana," ucap Rigel yang sibuk memasukan pakaian di lemarinya ke koper.
"Anda tidak bisa pergi kesana. Karena selama satu bulan ini anda akan di sibukan dengan banyaknya pekerjaan. Terlebih lagi dari London ke New York sangat jauh, dan anda tak mungkin bisa langsung pulang besok. Bila anda pergi, akan ada banyak pekerjaan yang harus anda tunda."
"Aku tak peduli dengan semua pekerjaan yang ku miliki."
Seketika Ryan meraih tangan Rigel untuk menghentikannya mengemas pakaiannya ke koper. "Saya tidak akan izinkan anda pergi kesana. Bukankah anda sangat ingin semua pekerjaan berjalan dengan sempurna."
Rigel menghela kasar nafasnya lalu menghempaskan tangan Ryan dari lengannya. "Sejak kapan bawahan memerintah atasannya."
"Anda adalah seorang pekerja profesional yang tak mungkin mengesampingkan pekerjaan karena masalah pribadi. Anda tahu kan bila pekerjaan ini sangat penting untuk meningkatkan perusahaan."
"Lyra juga sangat penting untukku. Aku tak bisa membiarkannya terus menghindar ketika hatinya masih tertuju padaku. Perginya dia hanya akan membuatku dan juga dirinya tersiksa. Dan aku tak ingi kita semakin tersiksa dengan perpisahan yang tak lazim ini."
"Saya sangat tahu bila Lyra merupakan orang yang sangat penting untuk anda. Tapi bisakah anda meberikannya waktu sebentar. Dia pasti masih merasa tercengang setelah melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan. Lyra adalah wanita polos yang berkomitmen untuk tak tidur dengan pria manapun sebelum menikah. Tapi dia malah membuat kesalahan untuk kedua kalinya dengan orang yang sama." Ryan menghembuskan panjang nafasnya. "Beri dia waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya. Lalu setelah anda menyelesaikan semua pekerjaan di perusahaan, kejarlah dia ke New York dan kembalilah ke London bersamanya."
Apa yang di katakan Ryan memang benar adanya, hati dan pikirannya pasti merasa tercengang setelah melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan kemarin malam di resort. Terlebih lagi, Lyra pasti menyalahi dirinya sendiri karena niatnya yang ingin menghindari Rigel tapi malah datang menghampiri sambil menangis dan mengutarakan isi hatinya.
Rigel memang sangat tak sabar ingin pergi menyusulnya ke New York, tapi ia harus memberikan Lyra sedikit waktu bila memang ingin membuatnya kembali ke sisinya. Rigel pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi menyusul Lyra ke New York. Ia langsung saja berhenti mengemasi pakaiannya ke koper.
Rigel menghela. "Baiklah, aku akan memberikannya waktu. Tapi jangan salahkan aku bila semua karyawan di kantor termasuk denganmu, akan lembur setiap harinya. Karena aku ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaan dan segera pergi menyusul Lyra ke New York."
Ryan tersenyum sembari mengangguk. "Tentu saja, bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang cepat dan sempurna memang prinsip anda kan. Baik di Indonesia maupun di London prinsip anda akan tetap sama, membuat semua karyawan bekerja keras sampai mendapatkan hasil yang sempurna."
...****************...
Hari demi hari Rigel semakin di padatkan dengan jadwal pekerjaan yang menumpuk. Walau ia sangat sibuk bukan berarti pikirannya teralihkan dari Lyra, justru kian hari pikirannya tak mau lepas dari Lyra. Rigel selalu bertanya-tanya tentang bagaimana Lyra, sedang apa di sana, dan apakah dia baik-baik saja. Ia sudah sangat tak sabar ingin berjumpa dengan wanita yang setiap harinya selalu dirindukannya.
Karena rasa tak sabar ingin jumpa dengan Lyra, Rigel sangat bekerja keras dalam pekerjaannya. Hingga di akhir pekan pun Rigel masih tetap bekerja, menyelesaikan beberapa pekerjaan di rumahnya. Rigel berniat ingin menyelesaikan pekerjaannya kurang dari satu bulan. Bahkan Rigel sampai harus membuat semua karyawan yang bekerja di kantornya lembur setiap hari. Tak ada kata lelah untuk dirinya yang sangat ingin menyelesaikan semua pekerjaan, karena rasa tak sabar ingin jumpa dengan belahan hatinya terus mengebu-ngebu.
Agni tiba di ruangan Rigel dan mendapati suaminya masih di sibukan dengan komputernya, padahal jam sudah memasuki jam makan siang. Begitu pun dengan Rigel yang juga sibuk dengan laptopnya.
"Bukankah ini sudah saatnya makan siang, bagaimana bisa kalian masih bekerja."
Rigel menghela kasar nafasnya. "Untuk apa kamu datang kesini. Kedatanganmu hanya akan mengganggu suamimu bekerja."
"Aku datang kesini ingin memberi kalian makan siang. Dan ternyata apa yang ku khawatirkan memang benar. Suamiku harus melupakan makan karena pekerjaannya. Sudah hampir tiga minggu kamu membuat suamiku pulang larut malam, dan kamu juga sudah membuat suamiku menunda makan siangnya."
"Aku sudah menyuruhnya untuk istirahat, tapi dia ngeyel ingin menyelesaikan pekerjaannya."
"Sudahi pekerjaan kalian, lebih baik makan siang dulu. Aku sudah menyiapkan makan untuk kalian berdua." Agni meletakan dan membuka semua kotak makannya di meja.
Tak lama Agni membuka semua kotak makan siangnya, tiba-tiba dering telepon di ponsel Rigel berbunyi. Sontak Rigel pun langsung mengecek ponselnya itu. Namun seketika Rigel tercengang ketika melihat nama kontak atas nama Lyra yang membuat ponselnya berdering. Rigel pun terburu-buru mengangkat telepon dari wanita yang sudah di beri status kekasihnya itu.
Saat telepon di angkatnya, Lyra memanggil nama Rigel dengan suara sengau seperti tengah menangis.
"Rigel."
"Lyra, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rigel dengan panik.
"Iya, aku baik-baik saja. Sekarang aku sedang berada di depan pintu apartemenmu."
"Benarkah." Rigel terkejut saat mendengar Lyra tengah berada di depan apartemennya. "kalau begitu tunggu di dalam, aku akan memberikan pasword pintunya lewat pesan. Dan aku akan segera kesana sekarang."
Rigel menutup teleponnya dan bergegas menutup laptopnya, lalu terburu-buru beranjak dari meja kerjanya.
"Untuk nanti sore batalkan jadwal meetingku dengan klien," ucapnya kepada Ryan.
"Tapi pak, meeting hari ini sangat penting. Anda tak bisa membatalkan meetingnya."
"Aku tak peduli bila pekerjaanku akan berantakan. Karena yang ku pedulikan saat ini adalah Lyra. Dia sedang menungguku di apartemen."
Biarpun Ryan sudah memaksanya untuk tetap berada di kantor, Rigel tetap pergi untuk menemui Lyra. Rigel tak peduli dengan apapun, yang saat ini ia pedulikan adalah rasa ingin jumpa yang mengebu-ngebu kepada belahan jiwa yang sedang menunggunya di apartemen miliknya.