
Baru satu hari mereka meresmikan hubungan, satu hari pula Lyra di buat khawatir akan berlangsungnya hubungannya. Wajahnya muram, tak mau berbicara walau Rigel mengajaknya mengobrol selama perjalanan pulangnya. Yang Lyra lakukan hanyalah termenung dalam lamunannya. Setakut itu dan sekhawatir itu Lyra setelah tadi Sandy menunjukan sikap tak sukanya pada Lyra. Dalam batinnya Lyra terus berharap bila hubungannya dengan Rigel akan baik-baik saja tanpa terhalang oleh restu.
Pikirannya yang kalut dan rasa khawatir yang tak mau berhenti, membuatnya sangat gelisah. Ia tak bisa berhenti memainkan kuku jarinya. Hingga akhirnya Rigel pun dapat menyadari akan ekspresi yang Lyra tunjukan sedari tadi.
"Apa kau baik-baik saja?"
Tanpa menatap Lyra pun menjawab dengan ekspresi datarnya. "Iya, aku baik-baik saja."
"Aku tak melihatmu seperti baik-baik saja. Dari tadi kau hanya menjawab pembicaraanku dengan singkat, lalu raut wajahmu nampak bersedih. Apa itu karena ucapan si pria tua tadi?"
Memang benar Lyra tak sedang baik-baik saja, hanya saja ia tak mau mengaku karena tak ingin membuat Rigel khawatir terhadapnya. Terlebih lagi Lyra tak ingin membuat Rigel beranggapan bahwa dirinya tak bisa berpegang teguh untuk mempercayai Rigel yang sangat tulus mencintainya.
Lyra pun terpaksa mengalih pembicaraannya dan memaksakan senyumannya. "Apa kamu selalu menyebut ayahmu si pria tua."
"Aku menyebutnya seperti itu bila saat sedang kesal saja."
"Jadi hari ini kamu sedang kesal terhadapnya?"
"Sebenarnya bukan hari ini saja aku sedang kesal kepadanya. Sudah beberapa hari setelah dia memintaku menikah dengan Agni, aku sudah di buat kesal olehnya."
Sudah dua kali Lyra mengalihkan pertanyaan Rigel, dan saat itu pula Rigel pun langsung berspekulasi bahwa ada yang tak beres dengan Lyra setelah pulang dari rumahnya. Dan Rigel juga berspekulasi penyebab Lyra yang mengalihkan pertayaannya itu, karena ia merasa bersedih setelah di berikan perkataan tajam oleh ayahnya.
Sembari fokus menyetir, tangan kiri Rigel seketika meraih tangan Lyra. "Ku harap kamu mempercayaiku, bahwa biar bagaimanapun aku di paksa menikah dengan perempuan pilihannya, aku akan tetap menolak. Jadi percayalah padaku, bahwa aku tak akan pernah mau berpaling dari wanita manapun, biarpun ada wanita yang jauh di atasmu."
Perkataan Rigel mampu membuat Lyra tersentuh, matanya mulai sedikit tergenang namun Lyra tahan agar tak terjatuh.
"Tentu saja aku akan percaya. Kamu bahkan rela menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkanku, mana bisa aku tak mempercayaimu." Lyra tergelak sembari menahan tangis harunya. "Sejak kapan kau menjadi sepuitis ini."
Rigel tersenyum, lalu mengecup punggung tangan milik kekasihnya tersebut. "Sejak ku dapatkan dirimu seutuhnya."
Sedikit lega namun tak sepenuhnya Lyra akan merasa lega bila kata restu saja belum terlontar dari mulut Sandy. Tapi Lyra percaya bila dengan seiringnya waktu, Sandy akan dapat merestui hubungan Lyra dengan anak laki-laki semata wayangnya itu.
Tak butuh memakan waktu lama, Rigel pun berhasil mengantar Lyra ke rumahnya. Saat Lyra hendak turun, Rigel seketika meraih tangan Lyra.
"Kenapa memegang tanganku, apa ada yang masih ingin kau bicarakan?" Tanya Lyra terheran-heran.
Rigel tersenyum. "Sepertinya kau melupakan sesuatu."
Lyra semakin keherannya, ia sampai menatap Rigel dengan keningnya yang mengerenyit. "Memangnya apa yang aku lupakan? Tasku sudah ku pegang, lalu ponselku sudah ku masukan ke dalam tas. Dan aku tak meninggalkan apapun di rumahmu maupun di mobilmu ini."
Rigel menggeleng. "Bisakah kamu sedikit lebih peka terhadapku. Ku kira hati kita sudah terhubung, nyatanya tidak." Rigel lalu menepuk-nepuk pipinya dengan jari telunjuk. "Kamu melupakan kecupan perpisahan."
Lyra tergelak seketika dengan raut wajahnya yang memerah. "Oh jadi itu yang kamu mau."
"Iya, ini yang aku mau."
Bibir Lyra pun perlahan mulai mendekat ke arah pipi Rigel. Namun di saat bibir mungilnya akan mendarat, seketika wajah Rigel berbalik ke arah Lyra. Hingga membuat bibir milik kekasih itu, mendarat tepat di bibir mungilnya. Sontak saja Lyrapun kaget setelahnya.
"Ke...kenapa kau tiba-tiba saja berbalik?" Ucap Lyra terbata-bata.
"Aku hanya ingin membuatmu terkejut. Bukankah lebih nikmat jika bibirku ini yang kau kecup."
Lyra pun sampai memalingkan wajahnya karena malu. Rigel benar-benar sudah sangat membuatnya berdebar-debar. Dengan cepat Lyra pun turun dari mobil.
Baru saja Lyra turun dari mobil, tiba-tiba saja Rizwan datang menghampiri dengan raut wajahnya yang nampak marah. Ia langsung saja mengetuk-ngetuk jendela mobil milik kekasih dari anaknya itu.
Dengan cepat Rigel pun turun dari mobilnya. Tadi Lyra yang di buat cemas saat berhadapan dengan ayahnya Rigel. Kini giliran Rigel yang di buat cemas saat berhadapan dengan ayahnya Lyra.
"Kemarin kamu bawa anak saya kemana?" Tanya Rizwan sembari melipat lengannya di atas perut.
"Sepertinya ayah tak perlu bertanya kemana Lyra dan Rigel pergi, karena Lyra sudah dewasa. Yang memang tak seharusnya di khawatirkan bila tak pulang ke rumah. Dan Lyra juga kemarin sempat menghubungi ibu karena tak bisa pulang," imbuh Lyra yang merasa geram dengan raut wajah yang di tunjukan Rizwan pada Rigel.
"Walau kamu sudah dewasa, tapi kamu adalah seorang perempuan. Wajar bila ayah mengkhawatirkanmu. Terlebih lagi, kamu pergi dengan seorang pria."
"Rigel merupakan pria baik, dia tak melakukan apapun selama Lyra pergi bersamanya."
"Itu menurut pandanganmu, tapi kamu tidak tahu isi hatinya. Dia mungkin sempat memiliki niatan buruk padamu selama kemarin kamu bersamanya."
Lyra memang tak menyangkal bila kemarin Rigel sempat akan menidurinya, tapi untungnya Rigel dapat menahan setelah Lyra melarangnya. Dan Lyra tak mungkin menjawab jujur, bila tak ingin Rigel di pandang buruk oleh ayahnya. Karena sejatinya Lyra percaya bahwa Rigel tak mungkin akan melewati batas, bila sudah di peringati olehnya. Karena buktinya kemarin Rigel dapat menahanya walaupun tubuhnya sudah berkecambuk menginginkan apa yang di larang oleh Lyra.
"Aku percaya pada Rigel bahwa dia tak mungkin memiliki niatan buruk padaku. Karena aku tahu bila Rigel merupakan pria baik."
Sontak Rigel pun tersenyum girang setelah di bela oleh Lyra. Namun, ia tak dapat mengutarakan senyumnya di depan Rizwan secara langsung, karena ia tak ingin membuat ayah dari kekasihnya itu beranggap buruk padanya. Rigel pun tersenyum sembari memalingkan wajahnya dari Rizwan.
Lain halnya dengan Rizwan yang malah semakin di tekuk kesal setelah putri semata wayangnya membela Rigel. Niat Rizwan ingin menegur malah di tegur balik oleh putrinya sendiri. Rizwan pun sampai menghela kesal.
"Saya ingin bertanya lagi kepadamu," ucapnya menatap sinis Rigel. " Apa benar kamu yang melunasi seluruh hutang saya?"
Rigel menggaruk tengkuknya yang di rasanya tak terasa gatal. "Iya, saya yang melunasinya."
"Saya tak menyuruhmu untuk melunasinya. Dan saya juga tidak dapat menerimanya. Maka dari itu, sebisa mungkin saya akan mengembalikannya, walau tak bisa semuanya saya kembalikan. Tapi tiap bulan saya akan rutin membayarnya."
Rigel melambaikan tanganya secara cepat. "Tidak perlu, saya ikhlas membayarnya. Lagi pula om kan bukan orang lain bagi saya."
Rizwan menggeleng. "Apa kamu melakukannya karena ingin bersimpati supaya mendapat restu dari saya? Jika memang begitu, seharusnya kamu berusaha keras tanpa harus mengeluarkan uang. Jangan kamu pikir karena kamu kaya, saya bisa dengan cepat merestuimu."
"Tentu saja harus merestuinya." Sosor Lyra. "Jika ingin Lyra bahagia, maka seharusnya ayah langsung merestuinya tanpa melakukan pertimbangan. Dan ayah harus percaya pada Lyra, bahwa Rigel merupakan pria baik yang segenap hatinya akan menjaga putri ayah ini."
"Ck..ck." Rizwan berdecik. "Bila memang hubunganmu ingin di restui maka cepatlah menikah. Bila Rigel dapat menikahimu, maka ayah tak akan lagi merasa khawatir. Ayah juga akan percaya bahwa Rigel merupakan pria baik."
Tanpa basa-basi lagi Rizwan pun beranjak pergi memasuki rumahnya. Akhirnya ketegangan Rigel pun berakhir. Namun setelahnya, Rigel merasa tertantang oleh Rizwan yang tadi memintanya untuk segera menikahi putrinya tersebut.
"Apa perlu aku secepatnya melamarmu?"
Lyra menghela. "Sudah ku katakan, kita harus puas menikmati dulu masa pacaran. Bila sudah puas dan kamu sudah siap, maka kamu boleh melamarku."
"Aku sudah sangat siap menikahimu, apa lebih baik aku segera melamarmu saja ya."
"Tapi aku belum siap." Lyra lalu mendorong Rigel agar secepatnya kembali masuk ke dalam mobil. "Lebih baik kamu segera pulang jangan membuat Jayden lama menunggu kepulanganmu."
Tak lama Rigel beranjak pergi, tiba-tiba saja Axel datang dengan mobilnya.
"Apa kamu bisa menemaniku makan malam?" Imbuh Axel ketika jendela mobilnya di buka.
"Bukankah kamu sedang marah padaku. Kenapa kamu ingin mengajakku pergi makan malam ," ucap Lyra dengan raut wajahnya yang di tekuk kesal.
"Ku pikir tak baik bila harus lama-lama marahan, karena kita bukan lagi anak kecil. Maka dari itu, sekarang aku akan mentraktirmu makan malam untuk menebus kesalahanku beberapa hari yang lalu."