My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
25. Kembali Di Buat Benci Oleh Si Pria Menyebalkan



Satu kalimat yang di lontarkan Axel terus saja melintasi pikiran Lyra. Terlebih lagi Lyra melihat raut wajah Axel yang nampak marah saat terakhir kali sahabatnya itu pulang dari rumahnya. Saat itu juga, Axel jadi sulit di hubungi.


Tiap kali Lyra menghubunginya, Axel tak pernah sekalipun mengangkat panggilannya. Dan sudah beberapa hari ini Lyra sulit meluangkan waktu untuk menemuinya, karena Rigel selalu lembur bekerja. Terpaksa Lyra harus mengikuti jam pulangnya, dan menyiapkan makan untuknya di saat lembur.


Lyra tertegun dalam lamunan, duduk di ruangan Rigel yang seperti biasanya menunggu kekasih pura-puranya itu menghabiskan makan.


"Sudah beberapa hari ini, aku lihat kamu sering melamun. Apa kamu sedang ada masalah?" Tanya Rigel.


Lyra menggelengkan kepalanya. "Hm, tidak."


"Tak perlu berbohong, aku bisa melihatnya dari wajah berantakanmu. Bila masalah yang terjadi padamu sangatlah memberatkan, kamu bisa dengan bebas menceritakannya padaku."


"Benarkah?"


Rigel mengangguk. "Tentu saja."


"Jadi sebenarnya, sudah beberapa hari ini aku kepikiran dengan Axel."


Seketika Rigel menghela nafasnya. "Bila tentang pria lain, kamu tak perlu meceritakannya kepadaku."


Astrid mengerenyit. "Memangnya kenapa? Bukankah tadi kamu menyuruhku untuk bercerita."


"Sepertinya aku sudah menyelesaikan makanku." Rigel meletakan sendok dan garpunya di atas piring. "Kamu boleh segera pergi dari ruanganku.


Lyra beranjak dari tempatnya duduk menuju meja Rigel. "Maaf sepertinya kamu tersinggung bila aku menceritakan pria lain. Tapi bagiku Axel itu bukanlah pria lain," ucapya sembari membereskan piring di meja Rigel.


Rigel berdecik. "Ck, aku ingin melanjutkan pekerjaanku, cepat bereskan dan cepat keluar dari ruanganku. Oh ya, di kantor kamu harus berbicara formal kepadaku bila tak ingin di curigai orang."


Ucapan Rigel mampu membuat Lyra sangat kesal, Lyra sampai-sampai keluar terburu-buru dari ruangan Rigel dengan raut wajahnya yang nampak marah dan di tekuk kesal. Ryan bahkan sampai keheranan menatap wajah Lyra yang cemberut setelah keluar dari ruangan atasanya itu.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ryan menaikan kedua alisnya.


Lyra menggeleng cepat kepalanya. "Aku sangat tidak baik-baik saja. Baru beberapa hari ini aku tersanjung dengan sikapnya, tapi hari ini dia kembali lagi ke awal."


"Hm, dia marah atau mengomelimu karena mungkin dia memiliki alasan."


"Lalu, apa aku salah membicarakan pria lain yang merupakan sahabatku sendiri. Dia memintaku dengan bebas menceritakan masalahku, tapi baru beberapa detik menyebutkan nama sahabatku, dia marah dan langsung menyuruhku untuk segera keluar dari ruangannya tanpa menghabiskan makanannya terlebih dahulu.


"Mungkin saja dia cemburu."


"Untuk apa dia cemburu padaku, dia saja sekarang sedang mengejar cinta pertamanya. Dan yang lebih jelasnya lagi, kami tak memiliki hubungan lain selain pekerjaan," ucap Lyra dengan raut wajahnya yang nampak masam.


Seketika Ryan tergelak. "Apa kau sudah memiliki perasaan kepadanya?"


Lyra menelan salivanya. "Apa di matamu aku terlihat seperti memiliki perasaan kepadanya?"


Ryan lalu memicingkan matanya menatap Lyra. "Entahlah, tapi aku hanya merasakan sesuatu yang berbeda pada dirimu. Lalu, apa kau kesal saat tahu bahwa pak Rigel sedang mengejar cinta pertamanya?"


"Hm, i..tu." Seketika kata-kata yang akan keluar dari mulut Lyra tenggelam. Apa yang terjadi dengan mulutnya yang sulit berucap Akibat dari pikiran dan hatinya bertolak belakang. Dalam pikirannya, Lyra ingin sekali bilang bahwa ia tak mungkin kesal dengan Rigel yang bukan siapa-siapanya. Namun hatinya berkata lain, Lyra sangatlah kesal dengan Rigel yang tengah mengejar cinta pertamanya itu. Tapi mau bagaimana lagi, Lyra bukanlah kekasih resminya. Lyra hanyalah seorang kekasih yang terjalin akibat dari sebuah pekerjaan.


"Mana mungkin aku kesal hanya karena pria menyebalkan itu mengejar wanita lain. Memiliki perasaan terhadapnya saja tidak," ucap Lyra dengan lantang.


Tiba-tiba saja Rigel membuka pintu di tengah obrolan Lyra dan seketarisnya tersebut.


"Apa kalian sedang membicarakanku?" Tanyanya menatap sinis Lyra.


"Ti..tidak," jawab Lyra terbata-bata.


"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Karena suaramu sangatlah menggangguku."


"Ish," Lyra berdecak kesal lalu pergi dengan jalan yang terburu-buru.


Baru beberapa hari yang lalu Lyra memuji Rigel di depan Axel, sampai-sampai harus membuat sahabatnya itu marah padanya. Menyesal sudah, Lyra mengatakan hal baik tetang Rigel, ia malah berubah drastis hanya dalam kurun waktu beberapa detik setelah Lyra menyebut nama Axel. Mengapa pula ia harus marah hanya karena Lyra menyebutkan nama pria lain, padahal Lyra bukanlah kekasih resminya. Terlalu aneh bagi Lyra, bila memang Rigel menyukai Lyra mengapa pula ia harus memberitahu Lyra bila dirinya tengah mendekati cinta pertamanya. Pertanyaannya itu terus muncul di pikiran Lyra.


**


Dari kantor menuju halte bis lumayan cukup jauh, Lyra dan Agni perlu berjalan kisaran lima belas meter dari kantor. Namun, di tengah perjalanannya menuju halte bis, tiba-tiba saja Nata berlari sembari memanggil.


"Agni, Lyra," teriak Nata.


Dan di saat Nata tengah menghampiri, kebetulan mobil Rigel berhenti di dekat Lyra. Dan saat itu pula Rigel membuka jendela mobilnya sembari memanggil nama Lyra.


"Lyra."


Sontak Lyra pun panik, ia menoleh menatap pria yang di anggapanya menyebalkan itu.


"Mau kemana?" Tanya Rigel.


"Maaf pak, hari ini saya tidak bisa pergi ke rumah pak Rigel dulu," ucap Lyra bernada gugup.


"Aku bukan ingin membawa kamu pergi ke rumahku, tapi aku hanya ingin bertanya kemana kamu akan pergi. Bukankah ini bukan jalur ke tempat kendaraan umum yang biasanya kamu naiki untuk pulang."


Seketika Nata mengerutkan alisnya menatap Lyra. "Tunggu...tunggu, apa kamu sering pergi ke rumah pak Rigel?" Bukankah kamu hanya menyiapkan makan ketika di kantor saja."


Lyra menelan salivanya dengan raut wajah yang nampak semakin kepanikan. "Itu.. Karena," ucapnya yang seketika di potong oleh Rigel.


"Cepat masuk, biar ku antar kalian ke tempat tujuan kalian."


"Tidak perlu, kita bisa pergi naik bis saja," lontar Lyra.


"Ku bilang masuk," tegas Rigel dengan tatapan sinisnya.


Lyra menghela, mau tak mau Lyra harus masuk ke dalam mobil Rigel. Lyra tak bisa menolak bila sudah di tatap sinis oleh pria yang sangat menyebalkan itu. Bila Rigel bukanlah orang yang memperkerjakannya, sudah pasti Lyra akan mengabaikannya walaupun Rigel sangatlah memaksanya. Lyra lalu berjalan ke arah pintu belakang mobil milik Rigel Callisto tersebut.


"Siapa yang suruh kamu duduk di kursi belakang. Aku memberi tumpangan bukan untuk membuatmu duduk di belakang. Cepat duduk di sebelahku!" Tegas Rigel.


"Lalu bagaimana dengan kami, apa kami ikut bersama kalian atau naik bis saja?" Tanya Agni.


"Tentu saja kalian ikut naik bersama kita, bukankah kalian akan pergi ke tempat yang sama" jawab Rigel.


Di saat Rigel mempersilahkan kedua teman Lyra masuk ke dalam mobilnya, Nata kegirangan dan terburu-buru memasuki mobil milik atasannya itu.


"Terima kasih sudah memberi tumpangan kepada kami. Oh ya, sebenarnya saya tidak tahu tempat mana yang akan di tuju oleh teman-teman saya, jadi sebenarnya kalian akan pergi kemana?" Tanya Nata ketika ia sudah memasuki mobil.


"Kita akan pergi ke kafe milik Axel," jawab Lyra dengan raut wajah yang nampak di tekuk kesal.


"Ehem," Rigel mendeham. "Untuk apa kamu pergi kesana?"


"Untuk menyelesaikan masalah dengannya."


Rigel menghela. "Sebenarnya kamu memiliki masalah apa dengannya?"


"Sepertinya aku tak perlu menjawabnya, bukankah kamu tak suka bila aku menceritakan pria lain." Lyra lalu menatap Rigel sembari mengerutkan alisnya. "Oh ya, ada satu pertanyaan yang ingin ku berikan padamu. Dan pertanyaan ini adalah rasa penasaran yang terus membuatku kepikiran."


"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan padaku?"


"Mengapa kamu kesal bila aku membahas tentang Axel?"


Rigel menghembuskan panjang nafasnya. "Kamu tahu saat aku di introgasi oleh ayahmu, dia terus ikut campur dengan melontarkan pertanyaan kepadaku. Padahal aku hanya berurusan dengan ayahmu saja."


"Dia ikut campur karena mungkin saja dia sama khawatirnya seperti ayahku."


"Ck..ck." Rigel berdecik. "Dia bukan khawatir, lebih tepatnya dia memiliki perasaan terhadapmu dan dia tak ingin kamu di miliki oleh pria lain."


Lyra tergelak. "Mana mungkin dia memiliki perasaan terhadapku. Baik aku maupun dia, kami sudah berjanji tak akan memiliki perasaan lebih."


"Lalu, apa dia marah saat terakhir kali aku pergi ke rumahmu?"


Lyra menelan salivanya. "Sepertinya memang begitu."