My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
59. Setelah Kepergian Lyra



Berakhir sudah harapan Rigel untuk kembali pada wanita yang selalu di harapkannya menjadi wanita terakhir yang akan mengisi ruang di hatinya. Hari-hari Rigel terpuruk meratapi hati yang tersakiti karena tak bisa menggapai wanita yang ia cintai selama bertahun-tahun lamanya. Kini Lyra sudah pergi jauh ke negeri orang, meninggalkan Rigel yang terpuruk karenanya.


Tiap saat sosok Lyra terus terlintas dalam pikirannya, mengingat hingga mengenangnya saat kali pertama ia bertemu ketika masa remaja hingga saat Rigel dapat menggapainya yang di usianya yang ke dua puluh enam tahun. Tiap kali Rigel selalu berandai, andai saja ayahnya dapat menyetujui hubungannya dengan wanita yang di pilih hatinya, mungkin saja hatinya tak akan menangis setiap harinya karena terlalu merindukan sosok wanita yang tak mau enyah di lubuk hatinya itu.


Rigel mejandi pribadi yang lebih dingin di bandingkan sebelum di tinggal pergi Lyra. Ia lebih banyak diam, dan bila berucap pun hanya seperlunya saja. Bahkan terhadap keponakannya pun, Rigel juga bersikap dingin.


Hingga tiga tahun sudah kepergian Lyra dari hidupnya, Rigel masih tetap sama larut dalam kesedihannya. Melupakannya adalah hal tersulit untuk Rigel, ia selalu menyibukan diri dengan banyaknya pekerjaan agar pikirannya tak selalu mengingatkannya akan Lyra. Kini ia sudah tak memiliki waktu untuk keponakan kesayangannya. Yang ia lakukan hanyalah bekerja dan bekerja. Bahkan di usianya yang sangat muda, Rigel sudah di juluki raja investor. Pendapatannya selain dari jabatannya yang menjadi CEO di perusahaan ayahnya, Rigel juga menanam banyak investasi dengan uang pribadinya di beberapa perusahaan. Baik itu perusahaan di dalam negeri maupun di luar negeri. Banyak berita bisnis mengenai dirinya yang menjadi pria kaya melebihi ayahnya. Karena memang benar, saat ini kekayaan Rigel sudah melampaui dari kekayaan ayahnya.


Karena Rigel gagal menikah dengan Agni, sudah beberapa anak dari pengusaha-pengusaha kaya di kenalkan ayahnya. Tapi semuanya gagal mendapatkan hati Rigel. Bahkan bukan Rigel yang membatalkan perjodohan, melainkan semua wanita yang di kenalkan Sandy padanya yang membatalkannyalah. Semua wanita yang di kenalkannya tak bisa bertahan seminggu menjalin hubungan dengan Rigel, karena sikap dingin dan perkataan tajamnya yang selalu menyakiti hati wanita yang di kenalkan Sandy.


Awalnya para wanita yang di kenalkannya sangat senang ketika di pertemukan dengan Rigel, karena selain menjadi pria sukses di usia muda, Rigel juga merupakan pria yang sangat tampan. Banyak wanita yang mendambakannya, tapi tiap kali ada yang mendekat semuanya di buat benci karena sikapnya.


Lelah sudah Sandy mencarikan wanita yang setara dengan putra semata wayangnya, karena putranya itu masih saja tak bisa melupakan Lyra. Menggantikan Lyra di hati anaknya adalah tantang terberat untuk Sandy.


Hingga saat di meja makan, ayah dari wanita yang terakhir kali di kenalkannya untuk Rigel, menghubunginya dan memintanya untuk membatalkan perjodohan.


Sandy menghela. "Sudah beberapa wanita sempurna telah ku kenalkan padamu, dan semuanya menolak untuk di jodohkan denganmu. Apa sebenarnya yang kurang darimu."


Seketika Rigel meletakan sendok dan garpu yang di pegangnya di atas piring. "Lebih baik berhentilah mengenalkanku kepada wanita, karena semua yang bertemu denganku tak akan pernah menyukaiku." Rigel lalu beranjak pergi dari meja makan dengan wajah datarnya.


Sandy sampai menggeleng melihat sikap dingin dari putranya itu.


"Apa dia sudah tak bisa lagi tersenyum," gumamnya.


Bila Rigel larut dalam kesedihannya, lain halnya dengan Agni dan Ryan yang saat ini tengah berbahagia. Karena sudah tiga tahun usia pernikahannya dan sudah dua tahun usia dari anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki, yang di beri nama Richie.


Pada awalnya pernikahan Agni dan Ryan sangat tak di sukai Billy. Tapi sejak Richie di lahirkan, perlahan Billy dapat menyukai pernikahan putri bungsunya itu.


Berbanding terbalik dengan kisah Rigel dan Lyra yang sampai saat ini Sandy masih tak mau menyetujui bila putra semata wayangnya kembali kepada Lyra.


Walau hatinya sangat merindukan Lyra, Rigel tak pernah berniat untuk menemui Lyra ke New York. Bahkan di mana Lyra bekerja atau di mana alamat lengkap rumah Lyra berada, Rigel tak mau mencari tahu keberadaannya. Meskipun hatinya selalu mendorongnya untuk pergi menemui pujaannya itu. Di bandingkan harus mendapatkan hasil yang sama ketika dulu Rigel memintanya kembali, ia lebih memilih diam dan tak mau tahu dengan Lyra yang sekarang.


***


Kesibukannya terus berlanjut setiap harinya, hingga membuat Ryan pun jadi ikutan sibuk karena atasannya itu. Bahkan seluruh karyawan di perusahaan sangat di sibukan akibat dari Rigel yang meminta seluruh pekerjaan di buat sesempurna mungkin. Bila pekerjaan menumpuk tak ada hari esok untuk di lanjutkan, Rigel selalu menyuruh seluruh karyawannya untuk menyelesaikan pekerjaannya di hari yang sama. Menyebalkan serta pria kejam selalu terlontar dari mulut-mulut karyawan ketika di belakang Rigel. Meski pekerjaan di perusahaan sangat ketat, tapi hasilnya sebanding dengan usaha para karyawannya. Hasil dari kerja keras serta lembur, berbuntut pada gaji mereka yang semakin besar. Bahkan perusahaan PT Starlight saat ini menjadi perusahaan nomor satu di Indonesia dengan pendapatan tertinggi. Semuanya hasil dari kerja keras Rigel dan seluruh karyawan di kantornya. Meski sebagian ada yang mengeluh dengan pekerjaan di perusahaan PT Starlight yang di nilai terlalu berat. Tapi sebagiannya ada yang senang walau terasa cape, karena gaji yang di dapat sangatlah besar.


*


Sudah waktunya istirahat, tapi Rigel masih sibuk memeriksa berkas-berkas. Hingga tiba-tiba saja Agni dan Axel datang ke ruangannya sembari membawa banyak kotak makanan. Bahkan Nata pun sampai ikut datang ke ruangan atasannya itu.


"Bukan dia yang membawaku kesini, tapi aku yang memaksanya. Aku ingin kita makan bersama, bukankah kamu sering melewatkan jam makan siangmu, " lontar Agni.


Rigel menggeleng. "Aku ini bukan siapa-siapanya kamu. Untuk apa kamu peduli padaku."


"Aku peduli padamu karena suamiku selalu mengkhawatirkanmu, karena kamu selalu melewati jam makan siangmu. Dan aku benci karena suamiku lebih mengkhawatirkanmu di bandingkan aku."


"Bila kamu tak suka, kamu tak perlu menyiapkan makan siang untukku. Lebih baik kalian enyah dari ruanganku. Dan untuk kamu Nata, apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" Tanya Rigel menatap tajam Nata.


"Tak ada yang ingin dia katakan, karena akulah yang mengajaknya untuk makan siang bersama di sini." Agni lalu membuka semua kotak makan di meja tempat khusus untuk Rigel mengobrol dengan Tamunya.


Rigel menghela. "Apa ruanganku ini menjadi tempat piknik."


Agni tersenyum lalu beringsut meletakan makanan ke meja Rigel. "Aku menyiapkan salad buah dan sayur untukmu."


Tanpa menatap dan hanya fokus memeriksa berkas-berkas, Rigel berucap dengan kalimat tajamnya. "Lebih baik kamu singkirkan makanan menjijikan itu di mejaku."


"Aku yakin kamu pasti akan memakannya, karena kamu pasti tak akan kuat bila melihat kita bertiga lahap makan." Agni pun beranjak kembali ke tempat suami dan sahabatnya duduk.


Lama-lama Rigel pun tertarik untuk menyantap makanan yang di buat istri dari sekertarisnya tersebut. Dan benar saja kata Agni, Rigel jadi tergiur setelah melihat ketiga orang tersebut lahap makan di ruangannya. Hingga tak lama setelah Agni, Ryan, dan Nata, menghabiskan makanan, salad pun habis di santap Rigel. Agni pun kembali beranjak ke meja Rigel.


"Ku pikir makanan buatanku menjijikan ternyata kamu habiskan juga," ucap Agni meraih piring kotor di meja Rigel.


"Itu karena aku tak ingin membuatmu menangis setelah capek-capek menyiapkan makanan untukku, tapi tak ku makan."


"Terserah kamu saja. Oh ya, sebelum beranjak pergi dari sini ada yang ingin ku berikan padamu." Agni terburu-buru beranjak untuk mengambil kantong yang sudah ia letakan di samping tempat Ryan duduk.


Agni lalu meletakannya di meja Rigel. "Aku membelikan lima novel untukmu. Dan semua novel yang ku bawa, merupakan karya dari penulis asal Indonesia yang menetap di London. Penulis tersebut bernama Star, kamu pasti akan suka bila sudah membacanya."


Dengan wajah datarnya, Rigel menghela. "Aku tak ada waktu bila harus membaca hal yang tak berguna."


"Sempatkanlah untuk membacanya. Kamu pasti akan suka, dia merupakan penulis dari platform online yang terkenal di London. Dan lima karyanya semuanya sudah di bukukan. Bahkan karyanya yang terbaru yang berjudul, My Last Love, merupakan karya yang paling banyak di baca. Dan itu masih on going di platform online."


"Membaca novel adalah hal yang tak akan menghasilkan uang. Lebih baik kamu pergi dari sini, karena kamu sangat mengangguku."


"Baiklah, aku akan pergi sekarang." Agni lalu beranjak melangkahkan kakinya. "Jangan lupa untuk membacanya, bila sudah menyukai karyanya temui penulis itu dan minta tanda tangannya."