My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
58. Keputusan



Setelah membawa Lyra pergi dari rumah Agni, Rigel membawanya pergi ke rumahnya. Di sana Jayden sangat kegirangan dengan kedatangan perempuan yang sering panggil mama itu. Begitu pun dengan Lyra yang juga sangat senang ketika di sambut oleh keponakan dari Rigel Calisto tersebut. Lyra langsung saja memeluk Jayden dengan erat ketika Jayden berlari menghampirinya.


"Mamah Lyra akan lebih sering bertemu jayden kan," ucap Jayden yang tersenyum dalam pelukan Lyra.


Lyra terdiam tak menjawab, yang ia lakukan hanyalah tersenyum sembari mengangguk. Anggukan dari Lyra bukanlah kata setuju, melainkan anggukannya itu adalah suatu kebohongan agar tak membuat Jayden bersedih. Biarpun pernikahan Rigel dan Agni gagal, bukan berarti Lyra akan mengurungkan niatnya untuk pergi ke New York. Lyra memang senang bisa bertemu kembali dengan Rigel, tapi bukan berarti ia akan kembali bersama dengan Rigel. Karena Lyra tak ingin memiliki hubungan yang terhalang oleh restu. Selama Rigel dan Lyra bersama, Sandy pasti akan selalu mencari cara untuk memisahkan anaknya dari Lyra. Seorang perempuan yang terlahir dari keluarga yang sederhana mana bisa bersanding dengan seorang lelaki yang terlahir dari keluarga kalangan atas. Lyra bepikir, mungkin saja Sandy akan kembali mencarikan lagi calon istri yang setara untuk anaknya itu.


Lyra hanya tak ingin membuat Rigel kesusahan karena berusaha memperjuangkan hubungannya. Biarpun nanti Rigel akan sangat bersedih karena kepergian Lyra, Lyra sangat yakin bila Rigel akan dengan cepatnya melupakan Lyra, bila besok Lyra sudah pergi jauh dari kota yang sama dengan Rigel tinggal.


**


Seharian penuh Lyra menemani Rigel dan Jayden di rumah. Mengajak Jayden bermain hingga memasakan makanan untuk dua lelaki yang sangat ia sayanginya itu. Sangat bahagia ketika Lyra bisa melihat Rigel dan Jayden dapat tersenyum karenanya, tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam Lyra menangis sedih. Karena keberadaannya di Indonesia hanyalah untuk hari ini saja.


Malamnya ketika Jayden sudah tertidur pulas, Lyra duduk di depan teras rumah sembari memandangi langit yang sangat mendukung untuk melihat banyaknya gemerlap bintang. Rigel menghampiri sembari membawakan selimut tipis. Lalu menyelimutinya sembari tersenyum menatapnya, tapi Lyra malah menunjukan wajah sendunya. Dan dengan spontan Lyra berucap sembari menitikan air matanya. "Selamat tinggal Rigel."


Rigel menelan salivanya. "Selamat tinggal? Apa maksudmu. Untuk apa mengucapkan selamat tinggal," ucapnya sembari menyeka bulir air di kedua pipi Lyra.


Lyra memalingkan pandangannya dari Rigel. "Kita tak akan pernah kembali bersama. Karena tak ada alasan untukku kembali padamu."


"Jangan lagi pergi dariku karena beralasan kamu menyukai Axel. Karena Axel sudah menceritakan semuanya padaku. Kamu tak perlu berbohong dengan perasaanmu, karena sebenarnya kamu tak ingin jauh dariku. Begitu dengan aku yang tak bisa melepasmu."


"Maaf, tapi aku tak bisa menjalin hubungan denganmu. Biarpun saat ini perasaanku masih tertuju padamu, tapi aku akan berusaha keras untuk mengakhiri perasaanku ini."


Rigel menghela kasar nafasnya. "Apa kamu yakin bisa mengakhiri perasaanmu itu."


"Aku sangat yakin bisa mengakhirinya, maka dari itu besok aku akan pergi jauh ke New York. Agar kita tak lagi bertemu."


Rigel meraih tangan Lyra. "Kemanapun kamu pergi aku akan tetap menemuimu."


Lyra menghela. "Tak bisakah kamu membuatku bahagia. Aku hanya ingin bahagia, Rigel. Karena bersamamu aku sama sekali tak merasa bahagia." Lyra melepaskan tangan Rigel dari tangannya. "Bila kamu ingin membuatku bahagia, maka relakanlah aku."


Lyra pun beringsut dari duduknya lalu melangkah pergi dari hadapan Rigel. Namun dengan cepat Rigel beranjak mengkuti Lyra. Dan seketika ia menarik tubuhnya, lalu dengan cepatnya Rigel mendaratkan bibirnya ke bibir mungil milik wanita yang bersiteguh tak ingin kembali padanya itu.


"Kenapa kamu lakukan itu padaku," ucap Lyra sembari menangis.


"Aku tak ingin kehilangan kamu, Lyra. Aku tak sanggup bila harus jauh darimu. Apa kamu benar-benar tak bahagia bila bersamaku," ucap Rigel dengan kedua matanya yang tergenang.


Lyra semakin keras menangis, dan dengan tegas ia berkata. "Iya, aku tak bahagia. Aku tak sanggup bila harus kembali bersamamu. Kumohon relakanlah aku, Rigel."


Tangisanlah Lyralah yang akhirnya membuat Rigel luluh untuk berhenti memaksanya kembali pada dekapannya. Rigel menghembuskan panjang nafasnya. "Maaf, karena tak bisa membuatmu bahagia. Bila memang itu yang kamu mau, kalau begitu aku akan membiarkanmu pergi." Rigel pun berbalik dan melangkahkan kakinya memasuki rumah dengan matanya yang tergenang.


Sontak tangis Lyra pun semakin pecah, ia pergi dengan kedua mata yang tak mau berhenti menitikan bulir air. Lyra merelakannya tapi hatinya terlalu sakit saat melihat Rigel yang beranjak pergi dengan wajah kecewa dan sendunya. Namun sekali lagi Lyra menegaskan dirinya, bahwa ini adalah langkah terbaik untuk Rigel dan dirinya. Karena kebersamaannya tidak akan pernah bisa berjalan sempurna bila Sandy tak mau menyetujui hubungan anak semata wayangnya itu.


Ketika Lyra beranjak pergi dari rumah Rigel, Lyra meminta Axel untuk menjemputnya. Dan Axel di buat panik ketika sampai di tempat Lyra menunggu kedatangannya itu.


"Ada denganmu? Apa Rigel telah berbuat sesuatu yang menyakiti, hingga sampai harus membuatmu menangis," ucap Axel sembari menyeka air mata di pipi Lyra.


Lyra menggeleng cepat. "Tidak, dia tak berbuat sesuatu yang telah menyakitiku. Karena akulah yang sudah menyakitinya."


Axel menatap heran Lyra. "Apa maksud dari perkataanmu? Bukankah seharusnya saat ini hubungan kalian baik-baik saja."


"Aku memutuskan untuk tak kembali padanya."


"Mengapa? Kalian masih memiliki perasaan yang sama, mengapa kamu memutuskan untuk tak kembali padanya."


Lyra tak menjawab, yang ia lakukan hanyalah menangis. Hingga membuat Axel pun spontan memeluknya, dan mengusap punggungnya agar membuatnya tenang.


Sia-sia Axel membuat rencana agar Lyra bisa kembali pada Rigel. Karena bagaimana pun keputusanlah yang akan kuat membuat Lyra kembali pada pria yang masih diam di lubuk hatinya itu. Bila itu yang Lyra inginkan maka Axel tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena mungkin perpisahan adalah jalan menuju kebahagian Lyra. Walau memang saat ini Lyra masih berada di tahap yang sangat terpuruk akibat perpisahannya dengan Rigel. Mungkin suatu saat Lyra akan segera bangkit dari keterpurukannya.


Sementara Rigel, ia terduduk di balik pintu kamarnya sembari menelungkupan kepalanya di atas lutut. Mencoba menenangkan hatinya yang sangat terasa sakit setelah merelakan wanita yang sangat di cintai pergi. Hingga lama-lama matanya yang tengah tergenang itu pun perlahan mulai mengeluarkan bulir air.


Ia pun bergumam dalam hatinya. "Selamat tinggal wanita yang sangat ku cintai."