My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
14. Gaji Yang Di Tawarkan Tidak Di Berikan Secara Percuma



Menunggunya selesai makan memang tak akan membuat Lyra kembali bulak-balik, bila nanti Rigel memintanya untuk di buatkan ulang makanannya. Setelah Rigel memutuskan Lyra sebagai orang yang menyediakan makan untuknya, kini Lyra bukan lagi memiliki posisi sebagai juru masak di kafetaria, melainkan menjadi juru masak pribadi CEO PT Starlight.


Dan sekarang Lyra hanya perlu bertahan dari si pria yang memiliki lidah tajam itu. Bagi sebagian perempuan di kantor, pekerjaan Lyra merupakan pekerjaan yang paling beruntung. Karena bisa lebih dekat bertatap muka dengan CEO yang terkenal akan ketampanannya. Namun, bagi Lyra dan sebagian orang yang membenci, bertatap muka lebih dekat dengan Rigel merupakan hal yang paling mengerikan. Ucapan yang menusuk serta kritikannya yang sangat pedas bisa membuat orang hilang semangat.


Sudah sepuluh menit Lyra menunggu, namun Rigel masih saja belum menyentuh makanannya. Sedari tadi ia hanya fokus memeriksa berkas-berkasnya.


"Apa kali ini dia hanya ingin mempermainkanku lagi," batin Lyra.


Bila orang itu Vika atau Nata, mungkin saja akan senang bila menunggu Rigel makan sembari memperhatikannya yang tengah bekerja itu. Tapi lain halnya dengan Lyra, yang ada di dirinya hanyalah kekesalan.


Bukan karena ia tak sabar menunggu, tapi karena kemarin Rigel yang dua kali tak memakan habis makanannya, Lyra sampai harus berulang memasak makanannya. Hal yang wajar bagi Lyra untuk mencurigainya atau tak nyaman bila menunggu Rigel menyentuh makananya. Bila membuat Rigel kecewa akan makanan yang susah payah di buatnya, taruhannya pekerjaan Lyra. Dia bisa saja memecat Lyra, karena Rigel terkenal dengan bringisnya.


Lyra sampai ingin bertanya, apa Rigel akan memakan makanannya atau tidak. Kesalnya terus mendorongnya untuk membuatnya bertanya. Hingga lamanya Lyra menunggu, akhirnya ia pun terdorong untuk bertanya.


"Hm, maaf, kenapa masih belum menyentuh makanannya? Bukankah ini sudah lewat satu jam anda melewati makan siang."


"Apa kau kecewa karena telah menungguku di sini?" Tanya Rigel yang masih fokus memeriksa berkas.


Spontan Lyra pun melambai-lambaikan tangannya. "Bukan seperti itu. Tapi, saya hanya ingin menyampaikan, bila makanan terus di diamkan terlalu lama maka akan dingin. Dan bukankah tidak baik bagi kesehatan bila menunda makan."


"Sebentar lagi aku selesai. Dan ku pastikan aku akan memakan habis makananku. Jadi tak perlu khawatir bila aku menyuruhmu untuk membuat kembali makan siangku. Karena aku tak akan melakukannya."


Lyra bisa sedikit lega namun tak sepenuhnya percaya, karena Rigel belum mencicipinya. Bila tak sesuai dengan seleranya, otomatis ia tak akan memakan habis makanannya itu.


Dan setelah beberapa menit kemudian, Rigel pun selesai memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di mejanya itu. Ia lalu meraih makanan yang di buat Lyra di atas mejanya. Saat makanan mulai di sentuhnya, tak hentinya Lyra memperhatikannya.


Seketika Rigel pun melirik ke arah Lyra. "Kenapa kau menatapku seperti itu. Apa kau ingin juga mencicipinya."


"Tidak, silahkan di lanjutkan makannya," ucap Lyra yang langsung saja mengalihkan pandangannya.


"Oh ya, sudah berapa lama kamu berteman dengan pria yang semalam menunggumu di depan rumah?" Tanya Rigel sembari menyantap.


"Hm, kami sudah berteman sangat lama. Karena orang tua kami berteman dekat, mungkin kami sudah di pertemukan sejak bayi. Jadi kemungkinan kami berteman seusai dengan umurku yang sekarang, yaitu 24 tahun."


"Apa kau menyukainya?"


"Tentu saja saya sangat menyukainya."


Seketika Rigel meletakan sendoknya di atas piring, ia lalu menghela. "Ternyata wanita dan pria memang tak bisa bersahabat ya. Nyatanya kamu memiliki perasaan terhadapnya."


Lyra mengerutkan kedua alisnya. "Hah, kenapa pak Rigel berpikir bahwa saya memiliki perasaan terhadap sahabat saya."


"Bukankah kamu tadi bilang bahwa kamu sangat menyukainya."


Lyra tergelak. "Aku menyukainya karena dia sahabatku. Bukan menyukainya seperti orang yang tengah jatuh cinta."


Rigel melipat lengan di atas perut. "Oh, apa kamu tahu bila laki-laki dan perempuan tak bisa menjalin persahabatan. Karena jika menjalin persahabatan, pasti di antaranya akan memiliki perasaan lebih."


"Menurutku itu tak mungkin. Karena kami sudah berjanji bahwa kami tak akan memiliki perasaan seperti layaknya orang yang jatuh cinta. Dan kami juga sudah berjanji jika kami tak akan pernah menjalin hubungan lebih dari sekedar sahabat. Anda tahu tidak, bila sampai kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Hubungan kami mungkin akan hancur bila suatu saat kami putus, oleh sebab itu kami tak akan pernah memiliki perasaan seperti yang anda kira."


Seketika Rigel pun tersenyum samar, ia kembali mengambil sendoknya dan kembali melahap makanannya.


Seketika Lyra menutup mulut dengan telapak tangannya. "Bukankah itu terlalu besar, bahkan gaji yang saya terima di tempat dulu saya bekerja tak sebesar itu."


"Menurutku gaji yang ku berikan jumlahnya sangatlah kecil."


"Tapi menurut saya, itu bukanlah jumlah yang sangat kecil. Sebesar itu bukanlah tidak wajar dengan pekerjaan saya yang hanya sebagai tukang masak untuk pak Rigel. Bagaimana bila yang lainnya mendengar tentang gaji yang di berikan pak Rigel kepada saya. Bukankah akan menimbulkan masalah."


"Kamu berbeda dengan yang lainnya, mereka yang berada di sini bekerja untuk perusahaan. Sementara kamu bekerja untuk saya. Dan gaji yang ku berikan itu berasal dari uang pribadi saya, sementara mereka di gaji dari perusahaan."


Lyra tak menyangka dengan gaji fantastis yang di berikan Rigel padanya. Hanya menyiapkan makan tak senilai dengan gaji yang di berikan Rigel padanya, sementara Lyra bukanlah seorang koki profesional. Biar begitu, Lyra sangatlah senang walaupun nanti ia akan kesusahan menghadapi lidah tajam dari Rigel. Dengan jumlah gaji yang sangat besar, sedikitnya Lyra bisa membantu mencicil hutang kedua orang tuanya.


Dan sekitar dua puluh menit kemudian, Rigel menghabisakan makanan di piringnya tanpa ada yang tersisa. Semakin senang lagi Lyra, karena ia tak menerima kritikan pedas dari Rigel mengenai makananya. Lyra pun segera mengambil piring-piring kotor dari meja Rigel.


"Terima kasih sudah menghabiskan makanannya. Saya juga sangat berterima kasih dengan gaji yang akan di berikan anda kepada saya."


Tiba-tiba saja Rigel memegang pergelangan tangan Lyra. Ia menatap Lyra dengan senyuman miringnya.


"Apa kamu pikir aku memberikan gaji sebesar itu secara percuma."


"Maksud pak Rigel apa ya?" Tanya Lyra mengerutkan alisnya.


"Kamu tahu bila Jay mengetahui kita berpacaran. Maka dari itu kamu harus menjadi pacar pura-puraku di depannya. Agar tak membuat Jay menaruh curiga terhadap kita, kita perlu bertemu pada hari libur, pergi berkencan dan mengajak Jay bermain."


Sontak Lyra pun terkejut mendengarnya, ia sampai harus menelan salivanya secara cepat ketika mendengar apa yang di ucapkan Rigel itu.


"Jika saya pergi bertemu dengan anda di hari libur, berarti tak ada hari libur untuk saya. Di hari libur saya harus bekerja, dan terlebih lagi pekerjaan itu merupakan menjadi pacar pura-pura anda. Bagaimana bila ada yang tahu dan mengira saya berpacaran dengan anda. Bekerja khusus untuk anda saja sudah menimbulkan kecurigaan terhadap orang."


"Gaji yang ku berikan senilai dengan apa yang harus kamu lakukan. Lagi pula pekerjaan yang ku berikan akan membuatmu bersenang-senang. Lalu selain di hari kerja, dan di saat kita bertemu di depan Jay, aku akan memperlakukanmu sebagai pacarku.


"Bagaimana bila sampai ada yang tahu, saya akan menjadi bahan gosip dan berita di media. Dan pastinya bakal ada yang mencaci saya."


"Oleh sebab itu kita harus berhati-hati agar orang lain tak mengetahuinya. Dan bila di depan Jay, kamu harus membiasakan diri memanggilku dengan sebutan lain tanpa memanggilku pak Rigel."


"Panggilan apa yang harus saya katakan?"


"Kamu mungkin pernah berpacaran. Orang pacaran tentunya akan memanggil, sayang, beb, ay, atau apalah yang biasanya orang pacaran sebutkan."


Seketika raut wajah Lyra memerah. "Saya tidak suka dengan panggilan itu. Pokoknya saya tidak setuju bila harus memanggil anda seperti itu."


"Ya sudah, panggil saya kakak karena aku lebih tua tiga tahun darimu."


Lyra menghela. "Hm, baiklah saya akan lakukan itu."


Lyra pun keluar dari ruangan sembari membawa piring-piring kotornya. Lyra sampai berjalan tertunduk lesu setelah keluar dari ruang kerja Rigel Callisto.


Pekerjaan yang di berikan Rigel lebih melenceng dari juru masak di kantor. Sebagai lulusan dari universitas terbaik di Amerika, pekerjaan Lyra sangatlah melenceng dari jurusan yang di ambilnya sewaktu kuliah. Sebagai juru masak khusus untuk seorang CEO saja sudahlah sangatlah melenceng, sekarang Lyra harus berperan sebagai pacar dari CEO PT Starlight. Biar begitu, gaji yang di tawarkan Rigel sangatlah banyak di bandingkan saat dulu ia bekerja di bagian marketing.


Memang puas dengan gaji yang bernilai banyak, tapi Lyra jadi lebih sering bertemu dengan orang yang menurutnya paling menyebalkan itu.