My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
31. Tidur Berdua Untuk Kali Kedua



Rigel tak bisa tinggal diam saja melihat Lyra pergi sembari menangis. Ia pun berlari mengejar Lyra, lalu meraih lengannya agar langkahnya terhenti.


"Apa kau tak senang bila kenyataannya aku sudah sangat lama menyukaimu."


"Lepaskan tanganku, biarkan aku pergi sekarang." Sekuat tenaga Lyra mencoba melepas tangan Rigel dari lengannya. Namun, genggaman Rigel terlalu kuat hingga membuatnya sulit terlepas.


Seketika Rigel menarik Lyra, dan membawanya pergi ke pantai yang tak jauh dari tempat acara reunian SMAnya itu.


"Apakah kamu benar-benar tak memiliki perasaan terhadapku, Lyra?" Tanya Rigel meninggikan suaranya.


Lyra menangis sembari memalingkan wajahnya dari Rigel. "Iya, aku tak memiliki perasaan yang sama sepertimu. Jadi kamu jangan terlalu berharap padaku."


"Lalu, mengapa kamu tak dapat menatapku? Bisakah kamu lebih jujur dengan perasaanmu, karena aku ragu bila kamu tak menyukaiku."


Lyra lalu menatap Rigel. "Bila kita saling menyukai, apa kita dapat bersama. Aku dan kamu jauh berbeda, aku bukanlah wanita yang akan di terima baik oleh ayahmu."


Seketika Rigel menarik tubuh Lyra, mendekatkannya dengan tubuhnya. "Aku sudah dapat jawabannya, bahwa kamu memang memiliki perasaan terhadapku." Dengan cepat Rigel pun mendaratkan bibirnya ke bibir mungil milik wanita yang jadi cinta pertamanya itu.


Rigel terlalu memaksa menciumnya, hingga membuat Lyra terasa ingin melepasnya. Mendorong kuat dirinya, memukul-mukul dada bidang milik pria yang tengah mengelumuti mulutnya itu, dan berusaha kuat melepaskan mulutnya. Namun, Rigel lebih kuat dari dirinya hingga membuat Lyra tak bisa melepasnya. Lyra pun hanya bisa pasarah, menutup kedua matanya, lalu mengikuti alur pergerakan dari bibir Rigel.


Nafasnya ngos-ngosan setelah nikmatnya berciuman. Sembari memegang kedua pipi Lyra, Rigel menempel keningnya dengan kening Lyra. "Mulai sekarang kamu adalah miliku. Kamu tidak bisa pergi seenaknya setelah membuat jantungku berdebar kencang seperti ini."


Nafas Lyra juga sama ngos-ngosannya seperti Rigel, setelah lamanya ia menahan nafas selama berciuman. Ia menatap Rigel, dan kembali menitikan air matanya. "Apa aku boleh memilikimu. Sementara ayahmu tak menginginkanku untuk menjadi milikmu."


Rigel lalu mendekap erat tubuh Lyra. "Tentu saja kau boleh memilikiku. Yang berhak atas perasaanku adalah diriku sendiri, bukanlah si pria tua itu. Jadi, berhentilah menangis karena aku tak akan pernah di miliki oleh siapapun kecuali dirimu. Karena hanya kamulah satu-satunya wanita yang dapat membuatku jatuh cinta selama ini."


Pelukan dan perkataan Rigel tidaklah membuat Lyra berhenti menangis, tangis Lyra malah semakin pecah dan keras dalam pelukannya. Bukan karena ia merasa sakit hatinya atau merasa kesal, melainkan ia menangis haru setelah mendengar apa yang di ucapkan Rigel tersebut.


Lyra tak menyangka bila pria angkuh seperti Rigel dapat mencintai Lyra sebesar apa yang di harapkannya. Hatinya jauh lebih tenang di bandingkan dengan tadi. Biarpun kemungkinan Lyra akan kesulitan untuk mendapatkan restu dari Sandy, tapi Lyra percaya bahwa Rigel akan tetap memilihnya walau tak ada restu. Karena cinta Rigel terhadapnya sangatlah besar, dia rela menunggu Lyra selama bertahun-tahun, dan juga butuh bertahun-tahun lamanya Rigel menyatakan perasaannya kepada Lyra.


Untuk saat ini, baik Rigel maupun Lyra, keduanya adalah sama-sama orang yang memiliki keberuntungan. Lyra dapat mencintai Rigel tanpa bertepuk sebelah tangan, dan Rigel dapat mewujudkan cinta pertama yang sudah lama di nantikannya itu.


Hari terlalu larut bila harus pulang, Rigel pun menyewa satu kamar hotel yang berada tak jauh dari pantai. Satu kamar hotel serta satu tempat tidur untuk dua orang. Bukan tak mau menyewa satu kamar hotel dengan dua tempat tidur, kebetulan kamar hotel yang berisi dua tempat tidur sudah penuh di tempati pengunjung. Lyra maunya satu kamar hotel dengan dua tempat tidur, tapi mau bagaimana lagi hotel dengan ukuran yang tak terlalu luas, serta tempat yang tak jauh dari pantai membuat hotel penuh dengan pengunjung. Masih untung Lyra dan Rigel mendapatkan kamar di hotel di jam yang sudah sangat larut.


Bila Lyra menginginkan tidur terpisah, lain halnya dengan Rigel yang maunya tidur dalam satu ranjang yang sama. Wajah sandiwara yang ikut kecewa seperti Lyra sukses di lakukan Rigel. Padahal dalam hati, Rigel tengah bersenang ria karena keberuntungannya berpihak padanya.


"Apa kita akan tidur dalam satu tempat tidur?" Ucap Lyra di tekuk kesal.


Rigel tersenyum samar sembari menatap wajah kesal Lyra. Yang dalam artian, Rigel sangatlah senang walau tak bisa menunjukannya kepada Lyra. Bukan tak mau menunjukan, tapi Rigel tak ingin membuat Lyra kesal karena ia terlalu senang bisa tidur dalam satu ranjang yang sama.


"Semua kamar dengan dua ranjang telah di isi. Bila kita mencari hotel lain, itu akan memakan waktu. Ini sudah larut." Rigel menepuk-nepuk bantal di sebelahnya berbaring. "Cepatlah tidur, besok pagi kita harus bergegas pulang."


Walau pernah tidur dalam satu ranjang, tapi Lyra sangatlah canggung dan memang tidak biasa bila harus tidur berdampingan dengan Rigel. Walaupun ini merupakan kali ke dua mereka tidur berdua dalam satu ranjang. Kali pertama tidur berdampingan dalam satu ranjang adalah kesalahan bukanlah kemauan ataupun karena situasi seperti ini.


Karena canggungnya itu, sampai-sampai jantungnya di buat berdebar cukup cepat. Lyra yang tengah canggung itu masih tak bisa berbaring, ia duduk sembari memunggungi Rigel. Rigel pun bertidak, ia menarik lengan Lyra hingga akhirnya membuatnya terbaring dalam pelukannya.


"Apa kamu nyaman bila ku peluk seperti ini?" Tanya Rigel tersenyum.


"Entahlah," jawab singkat Lyra dengan suara gugupnya.


Tubuhnya di peluk, otomatis kedua tangannya menyentuh dada bidang milik Rigel. Ternyata setelah lamanya menyentuh dada Rigel, jantungnya berdebar cepat seperti yang di rasakan Lyra saat ini.


"Jantungmu berdebar sangat cepat, apa kau juga merasa canggung sepertiku?" Tanya Lyra dengan rona merah pipinya.


Lyra mengerutkan kedua alisnya "Memangnya apa yang kamu rasakan?"


"Apa perlu kita melakukannya sekali lagi," jawab Rigel dengan jantungnya yang semakin cepat berdebar.


Lyra mendongkak dengan raut wajahnya yang nampak terheran-heran. "Melakukan apa? Apa kita pernah melakukan sesuatu sebelumnya."


Seketika tubuh Rigel terangkat dengan posisi tubuh yang merangkak di atas tubuh Lyra.


"Melakukan hal seperti saat pertama kali kita ke hotel berdua."


Dengan cepat Lyra mendorong tubuh Rigel, hingga membuat pria yang sudah resmi jadi kekasihnya itu kembali terbaring.


"Apa kamu sudah gila. Aku tak akan pernah melakukannya lagi sebelum menikah."


"Bukankah kita pernah melakukannya sekali. Kenapa harus menunggu sampai kita menikah."


Lyra menghela kesal. "Saat itu aku sedang mabuk dan itu hanyalah sebuah kesalahan. Jadi, jangan harap kamu menyentuh tubuhku. Kita belum muhrim!!"


"Bukankah kamu pernah tinggal di Amerika, mungkin wajar bila sudah berpacaran melakukan hal seperti itu."


"Ck...ck." Lyra berdecik sembari menggeleng. "Biarpun aku pernah tinggal di sana, bukan berarti aku mengikuti budaya orang sana. Aku akan tetap pada pendirianku, melakukan hubungan seperti pasangan suami istri setelah menikah."


"Kalau begitu kita harus secepatnya menikah."


Seketika Lyra melempar bantal ke arah wajah Rigel. "Kita baru meresmikan hubungan kita beberapa jam yang lalu, kamu sudah merencanakan pernikahan. Pokoknya kita harus berpacaran dulu, sebelum menikah."


Raut wajah Rigel di tekuk kesal, ia berbaring memunggungi Lyra. "Padahal kita bisa pacaran setelah menikah."


Sontak Lyra pun tergelak melihat Rigel yang tengah di tekuk kesal itu. "Untuk mengatasi kecanggungan ini, bagaimana bila kamu ceritakan tentang kamu yang menyukaiku untuk waktu yang lama."


Rigel kembali berbalik menghadap Lyra. "Apa kamu ingin tahu bagaimana aku menyukaimu."


Lyra tersenyum. "Tentu saja aku ingin tahu, bagaimana bisa pria sombong dan angkuh ini hanya menyukai satu wanita cantik sepertiku."


Rigel tergelak, lalu mencubit kedua pipi Lyra. "Baiklah, akan ku ceritakan semuanya kepada pacarku yang katanya cantik ini."


Lyra mengelus kedua pipinya. "Tidak perlu mencubitku. Langsung saja ceritakan.


"Ok. Jadi pertama kalinya aku bertemu dan mengobrol denganmu, saat itu kamu menjadi siswi baru di SMA."


"Tapi aku lupa bila pernah mengobrol denganmu," lontar Lyra.


"Kamu tahu, saat itu kita pernah telat dan pintu gerbang di tutup oleh satpam. Kamu menangis karena tidak bisa masuk ke dalam sekolah. Aku pun mencari cara agar bisa masuk, lalu aku membawamu ke belakang sekolah untuk memanjat tembok."


"Jadi saat itu kamu menyukaiku."


Rigel menggeleng cepat. "Tidak, justru saat itu aku sangat membenci kamu yang cengeng. Apa lagi kamu sering ku pergoki menangis di belakang sekolah, karena Reyhan." Rigel lalu tersenyum sembari membayangkan Lyra ketika di SMA dulu." Dan karena seringnya aku melihatmu menangis, lama-lama kamu terlihat menggemaskan seperti anak kecil. Aku bahkan sempat ingin kenal dekat dengamu di saat hubunganmu dengan Reyhan sudah putus. Tapi ku urungkan niatku itu, karena kamu malah balikan lagi dengan Reyhan."


"Lalu, bagaimana kamu menyukaiku di saat kamu menjenjang pendidikan di universitas."


"Biarpun kita satu universitas, tapi aku tidak punya keberanian untuk mendekatimu. Aku selalu memperhatikanmu dari jauh." Rigel lalu tersenyum sembari membelai wajah Lyra. "Dan untuk pertama kalinya, aku di pergoki menangis olehmu, saat itu aku mendapati kabar bahwa ibuku, kakak, serta suaminya, meninggal dalam kecelakaan mobil. Kamu menenangkanku dengan memberi kata-kata untuk menguatkanku. Terima kasih Lyra, berkatmu aku selalu teringat dengan kata-kata indahmu yang membuatku bisa menerima kepergian orang yang paling ku sayangi."