My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
41. Terus Terusik



Setelah mendapat ancaman dari Sandy, esoknya Rigel membawa Jayden tinggal di rumahnya yang lain tanpa sepengetahuan dari ayahnya. Ia bahkan meminta pelayan, pengasuh, serta supir pribadinya Jayden, untuk tetap mengawasi keponakannya bila Rigel tengah pergi bekerja. Bila biasanya Jayden pergi sekolah hanya di antar oleh pengasuh dan supir pribadinya saja, lain halnya dengan sekarang, Rigel menyewa satu body guard untuk mengantar Jayden pergi ke sekolah.


Saking takutnya Jayden di bawa oleh Sandy, Rigel sampai melarang pelayan ataupun pengasuhnya membawa Jayden keluar dari rumah terkecuali pergi sekolah. Dan sekarang rumah utama hanya di isi oleh beberapa pelayan setelah Rigel dan Jayden tinggal di rumah keduanya.


Alamat rumah kedua milik Rigel tak ada yang tahu, bahkan Lyra pun tak tahu dengan alamat rumah yang kini di tinggali Rigel dan Jayden, terkecuali orang-orang yang bekerja di rumahnya tersebut. Jarak dari rumah kedua dengan rumah utamanya lumayan sangat jauh, bahkan jarak ke sekolah Jayden pun cukup jauh meskipun di tempuh memakai kendaraan.


Kini ancaman Sandy malah jadi terbalik, awalnya ia yang akan membuat Rigel tak dapat menemui Jayden tapi kini malah sebaliknya, Sandylah yang sekarang tak dapat bertemu dengan Jayden. Bahkan untuk bertatap muka pun sangat sulit di lakukannya.


Biarpun Rigel cukup tenang setelah membuat Jayden jauh dari Sandy, namun ia belum sepenuhnya tenang. Karena Sandy bisa saja mencari cara untuk membawa pergi cucunya dari Rigel. Karena sangat khawatir itulah, setiap kali Rigel memiliki waktu luang dari pekerjaannya, ia selalu menelpon pengasuhnya untuk menanyai keadaan Jayden ataupun keberadaan Jayden. Apa dia baik-baik saja atau dia masih tetap berada di rumah, dan apakah ada orang yang mengintai rumahnya. Saat ini pikiran Rigel sangat kalut, pekerjaan yang menumpuk serta dirinya yang tak bisa henti-hentinya merasa khawatir. Baik mengakhawatirkan Jayden maupun mengkhawatirkan Lyra. Ia sangat takut bila salah satu dari mereka akan terpisah dengan Rigel.


Makan siang pun terasa tak enak walau ada Lyra yang menemaninya. Rigel hanya memakan beberapa suap, selebihnya ia hanya termenung sembari memainkan sendoknya.


"Apa kamu baik-baik saja. Apa perlu ku masakan lagi, sepertinya makanan yang ku buat tak menggugah seleramu," ucap Lyra dengan tatapan khawatirnya.


"Ini sudah cukup, kamu tak perlu memasak lagi. Kamu akan lelah bila harus membuat ulang makananku. Aku hanya sedang tak berselera makan saja."


"Justru aku perlu membuat lagi makanan yang lebih enak, agar kamu bisa berselera untuk makan."


Seakan tak ingin membuat Lyra khawatir padanya, Rigel menatap sembari memaksakan senyumnya. "Ini sudah cukup, aku bisa sangat kenyang bila harus memakan makanan baru. Jadi kamu tak perlu memasak lagi."


"Benarkah?"


"Hm iya. Oh ya, bagaimana bila hari ini kamu menginap di rumahku saja. Karena semenjak aku pindah, kamu tidak pernah mengunjungi Jay. Jika kamu menginap, kamu akan tahu alamat rumahku yang sekarang."


"Hm, tapi aku tidak membawa baju ganti."


"Tak perlu khawatir, aku akan meminta pelayan menyiap baju untukmu."


Lyra mengangguk. "Baiklah malam ini aku akan menginap di rumahmu."


Sepertinya Rigel sudah tak mau menghabiskan makanannya, Lyra pun segera beranjak membereskan piring-piring kotor di meja Rigel lalu membawanya pergi ke dapur.


Sesampainya di sana, Lyra mendapati Sandy tengah mengobrol bersama Agni. Walau Sandy sangat tak menyukainya, Lyra tetap menyapanya meskipun sapaannya itu tak di tanggapi Sandy. Setelah itu, Lyrapun kembali melanjutkan langkahnya menuju wastafel untuk mencuci piring-piring kotor bekas makan Rigel.


Biarpun Lyra tak mempedulikan apa yang di bicarakan Sandy pada Agni, tapi Lyra sedikit penasaran. Sesekali ia melirik ke arah sahabat dan ayah dari kekasihnya itu. Pembicaraan mereka nampak serius, dan anehnya raut wajah Agni nampak terlihat cemas. Hingga membuat Lyra semakin penasaran apa yang di bicarakan mereka. Walau ingin mendengarnya, namun suara mereka nampak samar terdengar, terlebih lagi jarak wastafel dengan tempat mereka mengobrol lumayan cukup jauh hingga Lyra tak jelas mendengarnya.


Sekitar sepuluh menit mereka mengobrol, akhirnya Sandy pun pergi dari dapur. Sementara Agni ia langsung saja bergegas menghampiri Lyra dengan raut wajahnya yang masih nampak cemas.


"Ada yang ingin ku bicarakan. Aku harap kamu bisa bekerja sama denganku," ucap Agni dengan helaan nafasnya.


Seketika Lyra mengerutkan alisnya, menatap heran sahabatnya tersebut. "Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?"


Agni menarik tangan Lyra. "Kita tidak bisa bicara di sini." Agni pergi membawa Lyra ke tempat yang jauh dengan orang-orang.


Agni menelan salivanya. "Iya, ini sangat serius. Orang tuaku dan pak Sandy berencana mempercepat pertunanganku dengan pak Rigel. Dan dari yang ku dengar, bila kami akan melangsungkan pertunangan pada bulan depan." Agni menghela nafasnya dengan raut wajah yang semakin nampak cemas. "Kita harus mencari cara untuk menghentikannya."


"Kamu tenang saja, sepertinya mereka tak akan berhasil membuatmu bertunangan dengan Rigel. Karena Rigel sudah berulang kali menentang ayahnya."


"Bagaimana bila pertunangan kami berhasil di laksanakan. Pak Sandy akan memecat pak Rigel bila dia tak mau bertunangan denganku, sementara ayahku mengancam akan mengirimku tinggal di luar negeri bila aku tak mau bertunangan dengan pak Rigel, bahkan ayahku juga sampai ingin mencari tahu pria yang tengah dekat denganku." Agni meraih tangan Lyra dan memohon kepada Lyra sembari menangis. " Aku mohon carikan cara agar aku tidak dapat bertunangan dengannya, aku sangat takut bila sampai ayahku mengancam Ryan. Aku juga semakin takut bila harus jauh darinya."


Jangankan Agni, Lyrapun sama takut seperti sahabatnya itu. Ia takut bila sampai Rigel di pecat dari perusahaan oleh Sandy. Karena Lyra yakin, di bandingkan harus memilih pekerjaannya, Rigel pasti akan memilih Lyra.


Seketika Lyra melepaskan tangannya dari Agni. "Aku tak tahu harus bagaimana, aku pun sama takutnya sepertimu."


Lyra pun melangkah pergi dengan raut wajahnya yang cemas. Ia pergi meninggalkan Agni yang masih tak mau berhenti mengeluarkan air matanya. Bukannya Lyra tak ingin menenangkan sahabatnya itu, Lyra pun juga sama perlu di tenangkan.


Karena Rigel menjadi kekasihnya, Sandy terus saja membuat Rigel kesusahan. Setelah mengancam ingin memisahkan Jayden dari Rigel, Sandy sekarang mengancam akan memecat Rigel dari perusahaan. Lyra tak tahu harus bagaimana untuk keluar dari situasi yang sangat memberatkannya ini. Ia tak ingin berpisah dengan Rigel, tapi ia juga tak ingin membuat kekasihnya itu kesusahan karenanya.


Jika memang rencana pertunangan Agni dan Rigel akan di laksanakan pada bulan depan, maka Lyra hanya memiliki waktu satu bulan untuk memilih antara melanjutkan hubungannya ataupun harus di akhiri.


Lyra berjalan dengan langkah yang entah kemana arah tujuannya. Hatinya sangat gelisah, pikirannya sangat kalut, ia tak bisa berhenti mencemaskan Rigel. Lyra terus berjalan dengan mata yang termenung, hingga pada akhirnya langkahnya malah sampai di depan ruangan Rigel. Di depan pintu, ia merasa ragu untuk masuk ke ruangan kekasihnya tersebut. Ia ingin sekali bertanya dan memastikan tentang apa yang di ucapkan Agni padanya. Namun, ia takut bila pertanyaan itu mungkin saja akan membuatnya bertengkar dengan Rigel.


Meskipun Lyra tak mau membahasnya, tapi ia perlu memastikannya. Karena mungkin saja setelah di bahas akan ada jalan keluar untuk ia tempuh bersama Rigel. Lyra pun lalu bergegas masuk ke dalam ruangan milik kekasihnya tersebut. Namun di saat ia masuk, Rigel tak nampak ada di ruangan. Lyra pun terpaksa harus menunggunya.


Ketika menunggu, Lyra tak bisa berhenti mencemaskan Rigel dan ia juga tak bisa berhenti mencemaskan akan keberlangsungan hubungannya dengan Rigel. Sampai-sampai membuat Lyra tak bisa keluar dari lamunannya.


Sudah satu jam lebih Lyra menunggu, Rigel masih tetap belum kembali. Walau ia sudah lama menunggu, Lyra tak berniat untuk beranjak pergi meninggalkan ruangan. Lyra terus menunggu dan menunggu, sampai pada akhirnya Rigel pun kembali ke ruangan pada pukul 17.30.


Rigel tersenyum saat mendapati Lyra tengah duduk di ruangannya. "Sedang apa kamu di sini. Apa kamu menungguku?"


Lyra mengangguk. "Hm, iya aku menunggumu."


"Maaf sudah membuatmu menunggu."


Rigel sudah berada di ruangannya, namun entah mengapa Lyra merasa ragu untuk bertanya tentang apa yang di bahas Agni tadi. Ia takut, bila pertanyaannya itu akan menimbulkan pertengkaran. Karena terlalu ragu untuk membahasnya, Lyra pun sampai harus mengurungkan niatnya itu.


"Aku akan membuatkan makan malam untukmu sekarang." Lyra beranjak berdiri dari duduknya.


"Tidak perlu, kita akan pulang sekarang karena semua pekerjaanku telah selesai."


"Kalau begitu, aku hanya akan mengambil tasku saja di loker."


Lalu pada saat Lyra akan beranjak ke luar, seketika langkahnya terhenti ketika Rigel melontarkan kata yang sangat ingin Lyra bahas.


"Bulan depan aku akan berhenti bekerja di sini."