
Lyra sampai heran mengapa bisa Rigel membiarkan ponselnya berdering. Padahal telepon tersebut mungkin saja sangat penting, karena si penelepon terus saja berulang membuat ponsel dari kekasihnya itu berdering.
"Kenapa tidak di angkat saja, sepertinya itu telepon penting. Bila kamu kesulitan untuk mengangkatnya, apa lebih baik bila kamu menghentikan mobilnya dulu," imbuh Lyra.
"Tidak perlu, lagi pula yang menelepon bukanlah orang penting."
"Bila orang itu tidak terlalu penting, lalu mengapa dia menelponmu secara berulang? Mungkin saja itu panggilan mendesak."
"Dia menelponku paling hanya ingin mengomel."
"Memangnya siapa yang menelponmu itu?" Lyra mengerutkan alisnya karena terheran-heran dengan Rigel yang menyebut orang yang menelponnya itu akan mengomel bila teleponnya di angkat.
"Yang menelpon adalah ayahku."
"Lebih baik kamu angkat saja, dia akan semakin marah bila kamu tak mengangkatnya," ucap Lyra terkejut.
"Bila ku angkat, hari ini aku tak bisa pergi bersama kalian."
"Kamu harus mengangkatnya, tidak baik bila kamu mengabaikan ayahmu."
Biarpun Rigel di paksa untuk mengangkat telepon, ia tetap bersikukuh tak mau mengangkatnya dan malah lebih memilih fokus menyetir. Bila memang sudah tidak mau, Rigel memang sulit untuk di luluhkan. Hanya saja nanti Lyra harus terima, bila ia akan mendapat kesan buruk dari Sandy. Karena biar bagaimana pun, Rigel pergi dari kantor itu karenanya.
Rigel pergi membawa Lyra dan Jayden ke restoran burger yang sangat di favoritkan keponakannya itu. Burger, kentang goreng, serta soda, adalah makanan dan minuman yang di Jayden. Sampai-sampai Rigel dan Lyra pun memilih menu yang sama dengan Jayden.
Namun, belum setengahnya Rigel menghabiskan makan siangnya, ayahnya kembali lagi meneleponnya. Rigel kira dengan tadi ia tak mengangkat teleponnya, ayahnya akan menyerah untuk menelepon. Namun nyatanya tidak. Ia malah terus menelpon dan bahkan sampai mengirimkan pesan lewat ponselnya tersebut.
Karena itu, Rigel pun sampai kesal atas kelakuan ayahnya yang tak mau menyerah meneleponnya. Ia sampai menghela kasar sembari menatap layar ponsel.
"Apa lebih baik ku matikan saja ponselku ini."
"Akan lebih baik bila kamu mengangkatnya saja. Tak baik bila kamu mengabaikan ayahmu seperti itu," ucap Lyra.
"Bila aku mengangkatnya, dia pasti akan mengomel dan menyuruhku untuk kembali ke kantor."
"Bila itu yang dia mau, lebih baik kita kembali saja ke kantor setelah menghabiskan makan siang."
"Bila kita kembali ke kantor, bagaimana dengan rencana kita untuk pergi bersenang-senang bersama Jayden."
Lyra tersenyum sembari mengelus tangan Rigel. "Aku rasa hanya dengan makan siang bertiga seperti ini saja, menurutku sudah cukup menyenangkan. Dan sepertinya Jayden juga sudah sangat puas hanya dengan hal seperti ini." Lyra lalu tersenyum menatap Jayden. "Bukankah begitu Jay."
Jayden mengangguk dan memabalas senyuman Lyra. "Tentu saja Jay senang dan sangat puas, apa lagi tadi mamah Lyra sudah datang ke sekolah. Aku jadi bisa menunjukan mamahku kepada teman-teman. Bila hari ini papah tak bisa mengajak Jay jalan-jalan, itu tidak apa-apa. Asalkan Jay bisa ikut bersama papah dan mamah pergi ke kantor."
Seketika raut wajah Jayden pun di tekuk kesal, ia berbalik mengalihkan wajahnya sembari melipat lengannya di atas perut. "Jay maunya ikut kesana. Padahal Jay tidak akan nakal bila ikut papah sama mamah kesana."
"Lebih baik kita bawa Jay saja. Bila kita tak membawanya, nanti di rumah dia akan menangis. Apa kamu mau dia terus-menerus menangis sampai kamu pulang nanti."
"Bila ku bawa kesana dia tidak akan diam. Bagaimana bila dia mengangguku bekerja," bisik Rigel ke telinga Lyra.
Lyra tersenyum. "Bukankah ada mamahnya yang akan menjaga Jay di sana."
"Memangnya kamu mau menjaganya. Bagaimana bila nanti aku lembur, kamu harus menyiapkan makan malam untukku. Dan kamu malah sibuk menjaga Jay dari pada menyiapkan makan malam untukku."
"Bila sempat, aku pasti aku akan menyiapkan makan untukmu."
"Katamu bila sempat." Rigel menghela. "Jadi kamu lebih memilih menjaga Jay dari pada menyiapkan makan untukku. Kamu tahu bila sudah di kantor aku akan sangat sibuk dan hanya bisa meluangkan waktu bersamamu itu, pada saat istirahat untuk makan. Karena beberapa hari yang lalu aku sudah menunda pekerjaan, jadi kemungkinan untuk seminggu ini aku tak punya banyak waktu bersamamu."
Lyra tergelak sembari menggelengkan kepalanya. "Bila nanti aku tak sempat menyiapkan makan karena sibuk menjaga Jay, nanti aku dan Jay akan meluangkan waktu pergi ke ruanganmu."
"Aku maunya berdua saja denganmu tanpa ada gangguan dari Jay. Kamu tahu bila aku sudah di kantor, aku pasti di pusingkan oleh banyaknya pekerjaan. Dan saat bersamamu suasana hatiku akan merasa lebih baik." Rigel lalu kembali berbisik ke telinga Lyra. "Lain halnya bila Jayden ada, dia tak mau diam. Bagaimana aku bisa menenangkan pikiranku bila ada Jay."
Lyra menghela. "Dia adalah keponakan sekaligus anakmu. Bagaimana bisa kamu mengganggapnya seperti pengganggu. Bila kamu tak suka Jayden ikut, seharusnya tadi kamu tak datang menjemputnya."
Seketika Jayden berbalik menatap Rigel dengan raut wajahnya yang kesal. "Apa papah tak suka bila mamah membagikan waktunya bersama Jay. Mamah Lyra juga milik Jay bukan hanya milik papah saja."
"Hey bocah! kata siapa dia milikmu, dia hanya akan menjadi miliku seorang."
"Ck." Lyra berdecik, lalu seketika ia memasukan satu batang kentang goreng ke dalam mulut Rigel. "Apa kamu bisa tak berbicara kasar kepada anak kecil." Lyra lalu meraih tangan Jayden agar berdiri dari duduknya. "Sepertinya Jayden sudah menghabiskan makan siangnya, aku dan dia akan langsung masuk ke dalam mobil. Kamu angkat dulu teleponnya dan setelah itu, kita langsung kembali ke kantor bersama dengan Jayden."
Biarpun Rigel tak mau Jayden ikut, tapi Lyra tetap bersi kukuh untuk membawa keponakan dari kekasihnya itu pergi ke kantor. Bukan Lyra tak ingin menuruti apa yang Rigel mau, Lyra hanya ingin menuruti kemauan Jayden setelah tadi Jayden di beri harapan oleh Rigel untuk pergi jalan-jalan, tapi malah tak jadi. Apa lagi Jayden bisa menangis bila kemauannya tak di turuti.
Setelah sampai di kantor, orang-orang kembali di hebohkan dengan Jayden yang memanggil Lyra dengan sebutan mama. Orang-orang di kantor memang sudah terbiasa bila Jayden menyebut pamannya dengan sebutan papa. Tapi Lyra adalah suatu hal yang luar biasa, orang-orang baru mengetahui bila Lyra kekasihnya Rigel itu tadi siang, tapi Jayden sudah memanggilnya mama. Hingga membuat mereka kembali berspekulasi bahwa hubungan Rigel dengan Lyra memang sudah terjalin lama dan mereka pun jadi yakin bahwa Lyralah calon istri Rigel yang sebenarnya.
Kejutan yang di tunjukan Rigel dan Lyra, benar-benar sudah membuat banyak wanita di kantor patah hati. Hampir semua orang membicarakan Lyra, terutama para kaum hawa yang tak henti-hentinya merasa iri terhadap kekasih dari Rigel Calisto itu. Mereka iri karena seorang wanita biasa seperti Lyra bisa bersanding dengan seorang konglomerat yang terkenal akan ketampanannya. Bahkan wanita-wanita cantik di kantor pun tak ada yang mampu memikatnya.
Walau Lyra merupakan wanita biasa, tapi dia memiliki latar pendidikan yang luar biasa. Ia merupakan lulusan dari universitas terbaik di Amerika. Biarpun sebagian dari mereka menjelekan Lyra, tapi karena latar pendidikannya itu. Banyak pula orang yang memujinya, bila Lyra memang pantas bersanding dengan Rigel. Tapi ada satu hal yang membuat orang-orang bertanya-tanya, yaitu tentang bagaimana bisa Lyra mau bekerja jadi tukang masak di kantin. Padahal latar pendidikannya bisa membuat banyak perusahaan akan menerimanya bekerja.
Hubungan Rigel dan Lyra memanglah sangat ramai di bicarakan. Hingga membuat Agni dan Nata pun sangat khawatir terhadap sahabatnya itu. Dan di saat Lyra tengah membawa Jayden pergi ke kafetaria, di situlah kedua temannya langsung terburu-buru menghampiri dengan raut wajahnya yang nampak cemas.
"Orang-orang banyak sekali yang membicarakanmu. Ku harap kamu tak menanggapinya bila ada orang yang menjelekanmu. Karena sebagian dari orang-orang ada yang membencimu ada pula yang menyukai hubunganmu dengan pak Rigel," ucap Nata.
Lyra tersenyum. "Tentu saja aku tak akan menanggapinya dan tak akan pula mempedulikannya. Karena saat ini aku hanya akan fokus pada hubunganku.