
Setelah melampirkan lamaran ke perusahaan tempat Nata bekerja, esoknya Lyra langsung di terima dan langsung saja meneken kontrak kerja selama satu tahun.
PT Starlight merupakan perusahaan tempat Lyra bekerja sekarang, bukan sebagai staff marketing seperti dulu, melainkan sebagai juru masak di kantin. Hanya karena ingin segera mendapatkan uang, Lyra rela bekerja di tempat yang tak sesuai dengan pendidikan terakhirnya. Seorang Lyra Miranda yang menempuh pendidikan terakhirnya di salah satu universitas terbaik di amerika, hanya mendapatkan pekerjaan di bagian kantin di sebuah perusahaan besar. Bukan karena ingin, tapi karena terpaksa oleh situasi. Tak ada kata sabar untuk mendapat pekerjaan yang sesuai, bila situasi saja tak memungkinkan.
Setidaknya gaji yang di tawarkan dari perusahaan tempatnya bekerja sekarang, lumayan sedikit besar. Biarpun tak sebesar dulu saat ia bekerja sebagai staff marketing.
Rumah beserta isinya sudah terjual untuk membayar tunggakan hutang kedua orang tuanya di bank. Yang tersisa hanyalah pakaian dan beberapa barang pribadinya. Dan sekarang, Lyra kembali tinggal di rumah orang tuanya.
**
Jarak dari rumah ke tempat kerja cukup jauh, Lyra harus menempuh kurang lebih satu jam untuk sampai di sana. Dan di hari pertamanya bekerja, Lyra malah telat tiga puluh menit. Lyra datang langsung saja di suguhi omelan dari bu Susi, dia adalah juru masak utama sekaligus karyawan tetap di kantin. Bu susi merupakan satu-satunya pekerja kantin tetap tanpa adanya kontrak seperti pekerja lainnya.
Tangan Susi melipat di atas perutnya, wajah masam di tunjukannya, serta ucapan yang cukup menusuk di lontarkannya untuk Lyra. Lyra tak bisa berbuat apa-apa, yang ia lakukan hanyalah menunduk dan memohon maaf atas keterlambatannya itu.
Susi sampai di buat menggeleng dengan Lyra yang terlambat di hari pertamanya bekerja. "Hari ini saya maafkan, karena kamu merupakan pekerja baru di sini. Tapi untuk besok, saya tidak ingin melihat kamu kembali terlambat."
Lyra mengangguk. "Baik bu, sekali lagi saya minta maaf atas keterlambatan saya."
"Baik, untuk tugasmu hari ini, kamu bisa membantu Yunus mengiris sayuran dan memotong daging."
Di dapur ada empat pekerja, dua pekerja laki-laki yang bernama Yunus dan Yoga, lalu dua orang pekerja perempuan bernama Erna dan Nur. Semua pekerja tersebut menyambut hangat kedatangan Lyra. Sebelumnya Lyra merasa gugup dan gelisah ketika memasuki dapur, tapi untungnya gugup dan gelisahnya hilang saat semua pekerja menyambut dirinya dengan hangat.
Di hari pertama Lyra bekerja, ia sudah di suguhi berkilo-kilo sayuran dan daging untung di iris dan di potongnya. Tapi untungnya Lyra sudah terbiasa, karena ia sudah sering membantu orang tuanya di rumah makan. Lyra tak terlalu kaget saat melihat sayuran dan daging-daging yang terbilang sangat banyak. Biarpun hanya di lakukan oleh Lyra dan salah satu pekerja laki-laki yang bernama Yunus.
"Oh ya, dari yang ku dengar jika kamu merupakan lulusan dari salah satu universitas terbaik di Amerika, apa itu benar?" Yunus membuat topik obrolan untuk sekedar basa-basi agar Lyra tak merasa canggung. Walaupun sebenarnya Yunus memang ingin memastikan kebenaran dari karyawan baru yang berpendidikan tinggi itu.
"Iya memang benar."
Yunus di buat tak percaya dengan apa yang di jawab Lyra. Semua pekerja di bagian kantin hanyalah menjenjang pendidikan tertingginya di SMK jurusan tata boga, terkecuali bu susi yang menjenjang pendidikan tertingginya di universitas. Sementara itu, Lyra merupakan lulusan dari universitas terkemuka di Amerika. Bagaimana bisa Yunus percaya dengan pendidikan yang di jenjang Lyra, bila Lyra saja mengambil pekerjaan di kantin.
"Sebagai orang yang lulusan dari salah satu universitas terbaik di Amerika, tidak mungkin kamu mau bekerja di kantin. Terkecuali jika yang saya dengar itu salah," imbuh Yunus.
"Itu karena saya sangat membutuhkan uang sesegera mungkin. Sementara, mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan yang di capai, saya tidak dapat menemukan lowongan di kota ini. Mungkin karena semua perusahaan di kota ini sudah penuh dengan pekerja, dan tidak membutuhkan pekerja baru atau tambahan," terang Lyra.
"Saya sangat tidak menyangka. Tapi, mengapa kamu tidak menunggu perusahaan-perusahaan membuka lowongan. Atau mungkin kamu bisa mencari pekerjaan di luar kota, bukankah sangat di sayangkan bila pendidikanmu jadi tak berguna bila bekerja di sini."
"Saya mendapatkan lowongan di luar kota, tapi bila saya bekerja di luar kota, saya perlu bekal sebelum saya di terima bekerja ataupun sebelum mendapatkan gaji. Sementara, keuangan saya saat ini sedang tidak stabil."
Di tengah perbincangan Lyra dan Yunus, tiba-tiba saja seorang pria datang ke dapur. Semua pekerja kantin di buat heran dengan pria tersebut, karena pria tersebut datang sambil menutupi setengah wajahnya dengan masker.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan pekerja baru yang bernama Lyra Miranda."
Seketika Lyra mengangkat telapak tangannya. "Hm, maaf. Ada perlu apa anda menemui saya?"
"Sebelumnya saya ingin minta izin terlebih dahulu kepada bu susi, bahwa pak Rigel meminta pekerja baru anda untuk menyiapkan makan siang untuknya nanti."
"Tapi maaf, dia masih pekerja baru di sini. Bahkan sebelumnya dia tidak memiliki pengalaman bekerja sebagai juru masak. Apa lebih baik biar saya saja yang menyiapkan makan siang untuk beliau."
"Bukankah orang yang menyuruh anda menerima nona Lyra adalah pak Rigel. Mungkin dia menyuruh anda untuk menerima nona Lyra bekerja di sini, karena beliau tahu tentang kemampuan masak nona Lyra. Jadi percaya saja bahwa masakan nona Lyra tidak akan mengecewakan beliau."
Bu susi menghela. "Hm, baiklah, kalau begitu saya akan percayakan makan siang pak Rigel kepada Lyra."
Setelah itu, pria bermasker tersebut beranjak pergi dari dapur kantin.
Lyra lalu menghampiri bu susi. "Maaf bu, pria tadi siapa, dan pak Rigel itu siapa?"
"Saya pikir kamu kenal dekat pak Rigel," ucap bu susi mengerutkan alisnya.
"Sepertinya saya baru mendengar namanya sekarang. Dan saya tidak memiliki kenalan bernama Rigel," imbuh Lyra heran.
"Pak Rigel adalah CEO sekaligus pewaris dari perusahaan ini. Dan yang tadi menyampaikan pesan itu adalah sekertarisnya, namanya Ryan."
Lyra terkejut setelah mendengarnya, ia tak menyangka dengan pria yang bernama Rigel tersebut merupakan orang besar di perusahaan. Bahkan Lyra juga tak menyangka, bahwa seorang CEO dari perusahaan tempatnya bekerja meminta di buatkan makanan kepada Lyra yang hanya seorang pekerja baru tanpa memiliki pengalaman bekerja di bidang memasak. Ya, walaupun Lyra memang bisa memasak dan bahkan Lyra pun memiliki sertifikat memasak.
Dan yang membuat Lyra heran, bagaimana bisa dia meminta makanan yang di buatkan khusus oleh Lyra, bahkan seorang bu Susi saja yang merupakan juru masak sekaligus koki utamanya tak di izinkan memasak untuknya.
Tapi Lyra tak peduli tentang siapa itu pak Rigel, dan alasan apa yang membuat pak Rigel meminta Lyra memasak untuknya. Yang perlu Lyra lakukan saat ini hanyalah menunaikan tugas yang di minta CEO yang bernama Rigel itu.
Dan karena Lyra baru masuk kerja, Lyra tak tahu apa yang harus di masak untuk makan siang CEOnya itu. Lyra pun langsung saja kembali bertanya dan meminta saran kepada bu Susi.
"Maaf bu, karena saya baru pertama kali di minta memasak. Saya ingin meminta saran untuk makan siang yang harus saya buatkan untuk pak Rigel."
"Sebenarnya selama saya bekerja di sini, beliau baru pertama kali meminta makanan dari kantin. Biasanya beliau hanya makan masakan yang di kirim oleh asisten rumah tangganya. Apa lebih baik kamu buatkan saja masakan rumah untuknya."
"Hm, Baiklah. Aku rasa memang masakan rumah sepertinya cocok untuk makan siang pak Rigel. Terima kasih untuk sarannya."
Lyra pun segera memilah beberapa bahan-bahan masakan untuk di buatnya. Dan kebetulan untuk menuju jam makan siang masih lama, Lyra masih ada waktu untuk kembali membantu Yunus setelah ia selesai memilah bahan-bahan untuk di masaknya nanti.
Namun, baru selesai Lyra memilah bahan-bahan masakan, tiba-tiba saja bu Susi memanggilnya.
Lyra pun beranjak menghampiri bu Susi di ruanganya. "Ada apa bu?"
"Barusan pak Rigel menghubungi saya, beliau meminta kamu untuk secepat mungkin membuatkannya makanan untuknya."
Lyra mengerutkan alisnya. "Ini baru pukul sembilan, dan jam makan siang atau jam istirahat itu bukankah pukul dua belas ya."
"Tapi dia menyuruhmu untuk mulai memasak sekarang. Jadi, lebih baik kamu segera memulainya. Jangan sampai membuat dia menunggu."