
Tak pernah terkira bahwa seorang perempuan yang gagal menikah seperti Lyra, bisa di panggil mama oleh seorang anak. Awalnya Lyra tak suka dengan panggilan itu, bukan karena tak suka dengan Jay, tapi lebih tepatnya tak menyukai Rigel yang merupakan sosok yang paling menyebalkan. Di hari pertamanya bekerja, Lyra sudah di pekerjakan lebih dari delapan jam. Syarat yang di kira Lyra hanya sekedar makan malam saja, nyatanya Lyra malah harus mengajak bermain seorang anak kecil berusia enam tahun. Selain itu, Lyra juga harus menidurkan Jay sebelum pulang. Awalnya seusai makan Lyra hendak pulang, tapi Jay terus merengek memintanya menginap. Mau tak mau Lyra harus mengajaknya bermain dan menidurkannya terlebih dahulu agar dirinya bisa pulang.
Biarpun lelah setelah mengajak bermain dan menidurkan Jay, namun rasanya cukup menyenangkan. Jay yang menggemaskan memiliki sikap ceria dan lembut yang tak di miliki Rigel yang merupakan papanya.
Setelah tertidur pulas, Lyra beranjak dari ranjang. Berjalan dengan perlahan agar Jay tak terbangun oleh suara langkahnya. Lyra keluar dari kamar Jay, dan langsung saja di kagetkan dengan Rigel yang tengah berdiri dari balik pintu.
"Sedang apa pak Rigel di sini?"
"Aku sedang menunggumu keluar dari kamarnya Jay."
"Untuk apa anda menungguku di sini?" Tanya kembali Lyra yang keheranan."
"Tadinya aku ingin memastikan, apa kamu sangat kelelahan setelah di buat tak pulang oleh Jay. Tapi sepertinya Jay tengah tertidur, jadi aku tak berani masuk ke dalam kamar."
"Tentu saja saya sangat kelelahan. Tapi itu tak masalah, karena ternyata mengajak bermain Jay cukup menyenangkan. Terlebih lagi, dia memiliki sikap yang lembut yang tak di miliki oleh papahnya."
"Ehem," Rigel mendeham. "Apa kamu sedang menjelekanku."
Lyra tersenyum. "Saya hanya bercanda. Tapi bila anda tersindir, berarti anda mengakuinya."
"Ck," Rigel berdecik dengan raut wajah masamnya. "Jadi sekarang, apa kamu akan pulang?"
"Tentu saja saya akan pulang. Jadi saya permisi untuk pulang sekarang." Lyra pun melangkahkan kakinya.
"Tunggu!! biar ku antar kamu pulang." Rigel mengikuti langkah Lyra.
"Memangnya pak Rigel bersedia mengantar saya pulang?" Tanya Lyra mengerutkan alisnya.
"Tentu saja aku bersedia, oleh sebab itu aku menawarkan tumpangan kepadamu. Tumpangan ini merupakan rasa terima kasihku terhadapmu yang sudah membuat Jay merasa senang di hari ulang tahunnya."
Rigel pun mengantarkan Lyra pulang menggunakan mobilnya. Selama perjalanan pulang, ada satu hal yang membuat Lyra ingin sekali bertanya kepada Rigel. Mengenai tentang siapa sosok ibu yang melahirkan Jayden, bukan karena Lyra ingin mencampuri urusannya. Tapi karena ia masih merasa terheran-heran dengan Rigel yang menyebutnya keponakan saat tadi siang di kantor. Padahal saat di rumah anak yang di sebutnya keponakan itu, malah memanggilnya dengan sebutan papa.
Dan untuk mengobati rasa penasarannya, Lyra harus bertanya kepada Rigel agar tak membuatnya salah paham.
"Hm, mengenai Jay," ucap Lyra bernada gugup.
"Iya, ada apa dengan Jay?" Tanya Rigel dengan mata yang hanya fokus menatap ke arah depan.
Tiba-tiba saja Lyra merasa ragu untuk bertanya, ia takut bila pertanyaannya akan membuat Rigel marah bila sampai mengungkit sosok wanita yang telah melahirkan Jayden. Dalam pikiran Lyra, alasan Rigel menganggap Jay keponakannya, mungkin saja karena Rigel memiliki masalah dengan sosok wanita yang menjadi ibunya Jayden tersebut.
Hanya karena tak ingin Rigel marah, pertanyaan itu seketika tenggelam begitu saja. Terlebih lagi, Lyra takut bila sampai Rigel memecatnya karena telah mengungkit wanita yang melahirkan Jayden.
"Hm, saya tidak jadi bertanya. Jadi lebih baik anda fokus menyetir saja."
"Apa pertanyaan yang akan kamu lontarkan takut membuat saya tersinggung?"
"Tentu saja saya takut, bila sampai anda marah taruhannya adalah pekerjaan saya." Lyra menghembuskan panjang nafasnya. "Oh ya, saya bernjanji akan menyembuyikan status anda yang sudah memiliki seorang anak."
"Mengapa harus di sembunyikan, aku memang tidak memiliki anak, Jay hanyalah keponakanku."
"Hm, maaf. Biarpun anda membenci ibunya Jay, tak semestinya anda tak menganggap Jay anak anda sendiri, Jay merupakan darah daging anda."
"Aku sama sekali tak membenci ibunya, malahan aku sangat menyayanginya."
Seketika Rigel tergelak. "Oh jadi itu maksud dari pertanyaan yang akan lontarkanmu."
Lyra menelan salivanya. "Hm iya, anda jangan marah ya, karena saya sudah mengungkit ibunya Jay."
"Hm, baiklah aku tak akan marah. Aku akan menjelaskan dan menjawab semua pertanyaanmu." Rigel tertawa kecil setelah mendengar apa yang tanyakan Lyra sedari tadi.
"Sebelumnya aku tidak pernah menikah. Jayden hanyalah keponakanku yang sudah ku anggap anakku sendiri. Ibunya Jay adalah kakaku yang sudah meninggal empat tahun yang lalu. Jay sudah di tinggalkan oleh kedua orang tuanya sekitar umur satu tahun. Dan karena sedari kecil aku sudah dekat dengannya, Jay tak pernah menganggaku sebagai pamannya, melainkan dia menganggapku sebagai papahnya sendiri."
"Hm, maaf sebelumnya saya tak tahu bila ibunya Jay adalah kakak anda, dan saya juga minta maaf karena sudah salah paham terhadap anda." Lyra menghembuskan panjang nafasnya. "Apa pertanyaan saya sudah membuat anda bersedih, karena pertayaan saya sudah membuat anda teringat kembali dengan kakak anda."
Rigel tersenyum. "Aku sama sekali tak bersedih, lagi pula tak ada yang perlu di sedihkan. Aku pernah bertemu dengan seseorang, dan dia berkata, bila aku terus berlarut dalam kesedihan maka orang yang meninggalkanku akan sama bersedihnya. Yang meninggalkanku tak akan pernah tenang bila yang di tinggalkannya saja tak bisa merelakan."
Seketika Lyra mengerenyitkan keningnya. Tiba-tiba saja ia merasa pernah mendengar kata-kata itu. Seakan de javu pernah mengatakannya, namun tak mengingat kepada siapa dan di mana ia mengatakannya. Bila ia pernah mengatakannya kepada Rigel, mengapa ia tak pernah mengingatnya. Bahkan baru mengetahui wajahnya saja saat berada di hotel, ataupun pertama kali bertemu dengannya pun saat Lyra berada di klub malam.
"Mengapa bisa aku tenggelam memikirnya, mungkin saja kata-kata itu memang sering di lontarkan oleh orang-orang untuk menyemangati yang telah di tinggalkan," gumam Lyra di batinnya.
Lima belas menit berlalu, Lyra pun sampai di rumahnya. Lyra beranjak keluar dari mobil dan mendapati Axel tegah berdiri di depan rumahnya.
"Sedang apa malam-malam berdiri di depan rumahku?" Tanya Lyra heran.
"Sudah sedari tadi aku menunggu kepulanganmu. Tadinya aku ingin mengajakmu pergi menonton. Lalu aku menelponmu tapi yang mengakatnya seorang pria."
"Oh itu pasti pak Rigel. Tadi aku pergi ke rumahnya dan aku sedang sibuk mengajak main keponakannya di kamar, dan ponselku tadi di tinggalkan di ruang tengah rumahnya."
"Apa pria yang mengangkat teleponku merupakan orang yang mengantarmu pulang, dan apakah dia mengatakan padamu bila aku tadi menelponmu?"
Seketika Rigel keluar dari mobilnya. "Maaf tadi aku tidak sempat mengatakannya, karena tadi Lyra tengah menidurkan keponakanku."
Axel menghela nafasnya. "Siapa kamu? Mengapa bisa Lyra mengajak bermain sekaligus menidurkan keponakanmu?"
"Dia adalah atasanku di kantor, Axel," lontar Lyra.
Rigel mengulurkan tangannya. "Perkenalkan namaku Rigel Callisto. Kalau boleh tahu anda siapanya Lyra, mengapa anda sepertinya kesal terhadap saya."
Axel enggan menyalaminya, yang ia lakukan hanyalah berdecik sembari melipat lengannya di atas perut. "Ck, apakah Lyra seorang pengasuh anak, mengapa bisa anda menyuruhnya menjaga keponakan anda."
Rigel memiring senyumnya. "Lagi pula Lyra sendiri mau melakukannya, mengapa anda kesal, memangnya anda siapanya Lyra."
"Tentu saja saya kesal, Lyra bekerja di kantor bukan untuk mengasuh keponakan anda. Mengapa anda bisa semena-menanya menyuruh dia mengasuh keponakan anda, hanya karena anda seorang atasan."
"Saya tanya sekali lagi, anda siapanya Lyra?" Tanya kembali Rigel dengan tatapannya yang sinis.
Adu argumen Rigel dan Axel semakin memanas, Lyra pun panik, ia harus segera menghentikannya sebelum Rigel sangat marah karena ulah Axel.
"Maaf pak sebelumnya, dia hanya khawatir terhadap saya. Karena dia merupakan sahabat saya. Tapi saya ikhlas melakukannya dan tidak menyesal telah mengasuh Jay tadi."
Rigel menggeleng. "Hanya sekedar sahabat tapi tampaknya dia sedang di bakar api cemburu. Oleh sebab itu dia sampai menunggu kepulanganmu dan rela berdiri lama di depan rumahmu."
Tanpa basa-basi lagi Rigel pun langsung saja beranjak pergi dengan mobilnya.