
Apa yang di ucapkan Rigel merupakan hal yang ingin Lyra tanyakan dan juga merupakan hal yang membuat Lyra ragu untuk membahasnya. Lyra ragu membahasanya, karena setelah mendengar cerita dari Agni, Lyra langsung saja menyalahi diri. Lyra takut apa yang ingin di bahasnya itu akan menimbulkan pertengkaran dengan Rigel.
Pertengkaran itu tak boleh terjadi walau Rigel sudah terlebih dahulu yang memulai mengucapkannya. Lyra pun berpura-pura tersenyum walau hatinya sangatlah bersedih.
"Jika memang itu yang kamu mau, aku turut menyetujuinya," imbuh Lyra tanpa menatap.
Seketika Rigel memeluk Lyra dari belakang. "Aku senang saat bersamamu. Tapi maaf, aku tidak bisa secepatnya melamarmu. Setelah keluar dari pekerjaan ini aku berencana untuk memulai bisnis baru. Uangku yang sekarang mungkin tak cukup bila kita harus secepatnya menikah. Tapi aku janji akan secepatnya mengumpulkan uang agar segera menikahimu."
"Bukankah sudah ku katakan beberapa kali, bahwa kita memang harus menikmati dulu masa pacaran. Jadi, kamu tak perlu meminta maaf karena tidak bisa secepatnya menikahiku."
"Apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkanku, Lyra."
Lyra tersenyum lalu berbalik menatap Rigel. "Tentu saja aku tak akan meninggalkanmu."
Setelah di lihatnya, raut wajah Rigel nampak bersedih. Dan jelas sekali bahwa kedua matanya tengah menahan tangis. Matanya sedikit merah dan bahkan sedikit tergenang oleh air. Namun, Rigel malah tersenyum seakan-akan kesedihannya itu tak ingin di ketahui Lyra.
Dan tak lama kemudian, Lyra dan Rigel pun segara beranjak pulang. Selama perjalan pulangnya, Lyra terus merasa gelisah. Lyra berpikir bahwa sebelumnya Rigel sempat bertengkar dengan ayahnya mengenai ia yang menolak bertunangan dengan Agni dan lebih memilih meningalkan perusahaan. Dan Lyra juga yakin bahwa Rigel bertengkar sangat hebat dengan ayahnya. Karena tadi jelas terlihat bahwa Rigel nampak bersedih, bahkan sekarangpun ia masih saja menunjukan ekspresi sedihnya. Bila memang benar Rigel bertengkar hebat, maka Lyra akan semakin menyalahi diri.
Lyra ingin sekali bertanya kepada Rigel, namun situasinya tak memungkinkan untuknya bertanya. Ia takut bila pertanyaannya itu akan membuat Rigel semakin bersedih. Lyra pun bungkam menutup mulutnya walau rasa penasaran terus saja mengusiknya.
Karena jarak dari kantor ke rumah kedua Rigel cukup jauh, waktu yang di tempuh pun membutuhkan sekitar satu jam untuk sampai. Namun saat Rigel akan hendak memasukan mobil ke dalam pintu gerbang rumahnya, tiba-tiba saja mobil yang nampak asing di lihatnya keluar dari pintu gerbang rumahnya tersebut.
Rigel pun sampai mengerenyitkan keningnya ketika menatap mobil tersebut. "Mobil siapa yang keluar dari rumahku."
"Memangnya kenapa? Apa mobil yang barusan keluar bukanlah mobil yang di pakai supir pribadinya Jay."
Rigel menggeleng cepat kepalanya. "Itu bukanlah mobil yang di pakai supirnya Jay."
Rigel pun panik, ia terburu-buru memasukan mobilnya ke gerbang. Lalu beranjak turun setelah mematikan mesin mobilnya. Pada saat ia masuk ke dalam rumah, rumahnya sangat berantakan seperti kapal pecah. Hampir semua barang yang terbuat dari kaca dan keramik pecah berceceran di lantai. Rigel dan Lyra juga mendapati pengasuh dan pelayannya tengah menangis. Tak hanya itu saja, bahkan supir dan body guardnya pun terluka seperti habis di pukuli.
"Di mana Jay?" Tanya Rigel kepada pengasuh dan pelayannya.
"Barusan ada beberapa orang yang datang, mereka membuat kekacauan di rumah dan membawa Jayden secara paksa dari kami," jawab pengasuhnya Jayden.
Marah Rigel seketika membludak setelah mendengar keponakan kesayangannya itu di bawa pergi oleh orang lain. Rigel pun terburu-buru beranjak kembali menuju mobilnya. Begitupun dengan Lyra yang juga ikut beranjak mengikuti langkah Rigel.
"Mau kemana? Apa lebih baik kita telepon saja polisi untuk melaporkan kejadian ini," ucap Lyra.
"Tak perlu melapor pun aku sudah tahu siapa orang yang membawa Jay pergi. Kamu tak perlu ikut pergi denganku, lebih baik menunggu saja di rumah."
Lyra tak peduli apa yang di katakan Rigel, ia tetap mau ikut untuk memastikan bahwa Jayden baik-baik saja. Ia juga sama khawatirnya seperti Rigel. Lyra masuk ke dalam mobil walau tak di persilahkan oleh Rigel.
"Aku tetap mau ikut. Aku ingin memastikan bahwa Jayden baik-baik saja."
Rigel menghela. "Dia sudah pasti akan baik-baik saja, akan ku kabari bila aku sudah dapat bertemu dengannya."
"Tidak, aku tetap mau ikut. Bila aku tak melihatnya secara langsung, aku tak bisa percaya. Aku tak percaya dia akan baik-baik saja, secara orang-orang yang membawa Jayden telah menghancurkan isi rumahmu. Bisa saja mereka juga menyakiti Jayden."
"Aku sudah tak peduli dengan apa yang akan di ucapkan ayahmu nanti. Yang terpenting aku dapat memastikan bahwa Jayden baik-baik saja."
Lyra tetap bersikukuh untuk ikut, bahkan ia tak mau keluar dari mobil walau Rigel sudah memaksanya untuk keluar. Terpaksa Rigel pun akhirnya pergi ke rumah ayahnya sembari membawa Lyra.
Dan sesampainya di sana, Rigel langsung saja beranjak memasuki rumah sembari berteriak memanggil Jayden.
"Jayden... Jayden."
Namun bukan Jayden yang datang menghampiri, melainkan Sandylah yang datang menghampiri dengan raut wajahnya yang nampak marah.
"Tak bisakah kamu tak berteriak."
Rigel menatap Sandy dengan mata yang di bakar penuh dengan amarah. "Di mana Jayden, kembalikan dia padaku," ucapnya meninggikan suara.
"Tak bisakah kamu mengecilkan suaramu. Apa kamu jadi tidak sopan karena sudah terpengaruh oleh wanita rendahan itu," ucap Sandy menunjuk Lyra.
"Berhenti merendahkannya, dia adalah orang yang paling berharga bagiku. Ayah tak berhak berbicara sembarangan terhadapnya. Aku bersikap seperti ini karena ayahlah yang memulainya."
"Justru kamulah yang memulainya, bila kamu mau menuruti perkataanku aku tak akan pernah memisahkan Jayden darimu."
"Dengan menuruti perkataan ayah, apa aku bisa bahagia." Rigel menggeleng. "Yang jelas aku tak akan bisa bahagia bila harus menikah dengan wanita yang tak ku cintai. Bahkan wanita yang di jodohkan denganku saja sama tak cintanya sepertiku. Kalian para orang tua hanya akan membuat kami tersiksa atas perjodohan itu."
Sandy menyeringai. "Lalu apa aku akan bahagia bila melihat anakku berhubungan dengan wanita yang tak ku sukai. Jika kamu merupakan anak yang berbakti, apapun yang ku putuskan pasti kamu akan menurutinya."
"Aku ini seorang pria dewasa yang berhak menentukan jalan hidupku sendiri. Dengan siapa aku akan menikah, akulah yang menentukannya. Ayah tak berhak seenaknya memutuskan dengan siapa aku akan menikah."
Sandy menghela. "Bila kamu tak mau meninggalkan wanita itu, lebih baik kamu tak usah mencari tahu di mana keberadaan Jayden. Yang jelas sekarang, aku sudah menempatkan Jayden di tempat yang tak akan pernah kamu temukan."
Sandy pun beranjak pergi ke arah kamarnya, sementara Rigel dan Lyra di paksa keluar oleh satpam-satpam yang menjaga rumahnya tersebut.
Apa yang di takutkan Rigel akhirnya kini terjadi, salah satu orang yang paling berharga di hidupnya pergi meninggalkannya. Entah di mana Jayden berada ataupun entah kapan Rigel dapat membawa Jayden kembali. Yang jelas Jayden tak akan bisa kembali kepada Rigel bila hubungannya dengan Lyra masih tetap berlanjut.
Perginya Jayden tak hanya dapat membuat Rigel bersedih, tapi juga membuat Lyra kembali menyalahi diri. Terlalu egois untuk Lyra jika harus melanjutkan hubungannya, bila hubungannya saja dapat memisahkan Rigel dari Jayden. Bahkan hubungannya itu pula yang membuat hubungan Rigel dengan ayahnya rusak.
"Apa lebih baik hubungan kita tak usah di lanjutkan saja," ucap Lyra sembari menitikan air matanya.
Rigel yang tengah menyetir pun seketika mengerem mendadak setelah mendengar apa yang di ucapkan Lyra tersebut. "Kenapa kamu sampai berpikir untuk tak melanjutkan hubungan kita. Apa karena Jayden di bawa oleh ayahku, kamu jadi berniat untuk meninggalkanku."
"Hubungan kita tak akan pernah baik-baik saja, bila kita tak dapat restu dari ayahmu."
Rigel lalu menatap Lyra dengan kedua mata yang mulai tergenang. "Sudah ku katakan sebelumnya, kamu tak perlu mempedulikan restu darinya."
"Lalu bagaimana dengan Jayden? Bila kita tetap melanjutkan hubungan, Jayden tak akan pernah bisa kembali padamu."
Rigel lalu memeluk erat tubuh Lyra. "Akan ku cari tahu keberadaan Jayden, dan akan ku cari cara agar Jayden kembali padaku. Jadi kumohon jangan pernah meninggalkanku karena alasan ini. Bila kamu pergi dari sisiku, maka aku juga akan sama bersedihnya seperti di tinggalkan Jayden."