My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
70. Adik Baru Untuk Jayden



Satu hal yang saat ini Lyra dan Rigel rasakan, yaitu bahagia. Selain akan di karunia seorang anak, Lyra dan Rigel juga mendapatkan restu dari orang yang selama ini menentang pernikahannya. Mereka mendapatkan kebahagian berkali-kali lipat banyaknya. Hingga membuat Lyra sampai menitikan air matanya. Ia menangis haru setelah sekian lamanya ia berharap dapat membuat Rigel menjadi satu-satunya pria terakhir yang berlabuh di hatinya, akhirnya harapannya terwujud dalam kalimat restu yang terlontar dari mulut Sandy. Lyra yang tengah menitikan air matanya itu, sampai membuat Rigel panik seketika.


"Mengapa kamu menangis? Apa ayahku membuatmu takut," ucap Rigel sembari memegang kedua pipi calon istrinya tersebut.


Lyra menggeleng cepat kepalanya. "Tidak, aku hanya bahagia."


Rigel tersenyum, lalu mendekap erat tubuh Lyra. "Ku pikir ayahku membuatmu takut."


Saat ini mereka benar-benar sangat bahagia, hingga membuat mereka tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Bila ini mimpi, mereka enggan untuk terbangun.


Kebahagian ini tak bisa di nikmati oleh mereka berdua saja, Jayden juga perlu tahu. Karena Jayden adalah orang yang sangat mengharapkan pernikahan Rigel dan Lyra bisa terwujud. Sepulang dari kantor, Rigel dan Lyra bergegas menemui Jayden di rumah kakek dari pihak ayahnya. Karena selama Rigel tinggal di London, Jayden memilih tinggal di rumah kakek dan neneknya.


Sesampainya di sana, Rigel ingin membuat kejutan untuk Jayden dengan cara menyembunyikan Lyra di balik punggungnya. Lyra bersembunyi di balik punggung sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Jay, papah bawa hadiah untukmu."


"Yang di balik punggung papah pasti wanita yang di siapkan kakek Sandy untuk jadi mamanya Jay kan. Apa orang itu yang di sebut hadiah untuk Jay." Jayden menghela dengan raut wajahnya yang di tekuk kesal. "Jangan coba-coba menghibur Jay dengan mamah baru, karena Jay masih menginginkan mamah Lyra sebagai mamanya Jay."


Lyra tergelak, dan dengan cepatnya Lyra menunjukan wajahnya kepada Jayden. "Berarti mamah Lyra masih memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan kita lagi."


Seketika Jayden tersenyum girang menatap Lyra, dan dengan cepatnya Jayden mendengkap erat calon mama sekaligus calon tantenya itu.


"Mamah Lyra kenapa baru sekarang menemui Jay. Jay sangat merindukan mama Lyra."


Lyra tersenyum sembari mengusap lembut kepala Jayden. "Maaf, mamah Lyra baru bisa menemui Jayden sekarang. Oh ya Jay, sepertinya tinggimu sudah bertambah. Kamu hampir saja menyamai tinggi mamah Lyra.


"Karena Jay sekarang berumur sembilan tahun, jelas saja tinggi Jay bertambah," ucap Jayden yang tak mau melepas pelukannya.


Spontan Rigel pun melepas pelukan Jayden dari Lyra. "Jangan terlalu erat memeluknya, jika bisa jangan pernah memeluk mamah Lyra lagi."


"Memang mengapa? Apa papah cemburu karena mamah Lyra di peluk Jay. Untuk apa cemburu, lagi pula Jay kan anaknya mamah Lyra."


"Jika kamu memeluknya seperti itu, nanti adikmu akan kesakitan."


Jayden mengerutkan alisnya. "Adik yang mana? Mamah Lyra bukan adiknya Jay."


"Yang papah maksud bukan mamah Lyra, tapi adiknya Jay yang sedang berada di perut mamah Lyra."


Jayden pun kegirangan setelah mendengar bahwa dirinya akan memiliki seorang adik. "Benarkah Jayden akan memiliki adik."


Rigel tersenyum sembari menganggukan kepalanya. "Iya benar, kamu akan menjadi seorang kakak."


Mendapatkan seorang adik tentu saja sangat membuat Jayden bahagia, tapi ia malah terheran-heran karena dirinya tak tahu dengan kapan Rigel dan Lyra menikah. Sementara calon adiknya sedang tumbuh di rahim Lyra. Yang Jayden ketahui, hanya setelah pernikahanlah seseorang akan mengandung sebuah janin.


"Mengapa kalian tak memberitahu Jay kalau kalian sudah menikah. Seharusnya Jay bisa ikut menyaksikan pernikahan kalian. Kalian hanya memberitahu tentang adik baru tapi tidak memberitahu Jay tentang pesta pernikahan kalian," ucapnya di tekuk kesal.


"Maaf Jay, mamah Lyra sama papah Rigel hanya ingin membuat kejutan untuk Jayden, bahwa kami telah kembali bersama. Lagi pula kami baru menikah tapi belum sempat membuat pesta pernikahannya," terang Lyra.


"Oh kalau begitu, kalian harus berjanji bahwa pesta pernikahannya harus memberitahu Jay."


"Tentu saja kami akan memberitahumu. Jayden harus ada di pesta pernikahan papah Rigel sama mamah Lyra," lontar Rigel.


**


Seharian penuh Rigel dan Lyra melepas rindu terhadap Jayden. Dan seharian penuh pula mereka menemani Jayden bermain di rumah kakeknya. Namun, setelah hari mulai gelap mereka harus pamit untuk pulang kepada kakek dan neneknya Jayden, termasuk berpamitan juga dengan Jayden.


"Papah Rigel mau pulang sekarang, apa Jayden mau ikut pulang ke rumahnya papah Rigel?"


Jayden menggeleng cepat kepalanya. "Jay tak akan ikut pulang ke rumahnya papah Rigel. Bila Jay ikut, nanti kakek sama nenek akan kesepian."


"Biasanya Jay akan menangis bila tak di ajak papah, tapi sekarang sepertinya Jay tidak seperti itu lagi."


"Tentu saja tidak, sekarang Jay sudah besar, dan Jay sudah tidak cengeng lagi. Bila Jay ikut, nanti tidak ada yang menemani nenek di rumah, karena kakek selalu sibuk di ruang kerjanya."


Rigel mengelus lembut kepala Jayden. "Anak baik, kalau begitu papah dan mamah pulang sekarang."


Walau seharian penuh menemani Jayden, namun Rigel dan Lyra masih belum puas melepas rindu terhadap Jayden. Terutama dengan Lyra yang sudah tiga tahun lamanya tak bertemu. Senang namun juga merasa sedih karena seharian penuh bersama Jayden masih terasa singkat untuk Lyra.


Sepulangnya ke rumah, Lyra langsung saja mendaratkan diri di sofa dengan kepala yang bersandar. Namun, seketika Rigel menggendong tubuh Lyra.


"Bila kamu lelah, seharusnya kamu beristirahat di kamar," ucapnya sembari melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Aku belum mengantuk untuk apa aku beristirahat di kamar."


"Bila kamu merebahkan diri di atas tempat tidur, itu akan jauh lebih nyaman." Rigel merebahkan tubuh Lyra di atas tempat tidurnya. "Apa kamu ingin berendam air panas? Bila kamu ingin, aku akan mengisi bathtub."


Lyra mengangguk. "Iya, aku ingin berendam. Karena sepertinya tubuhku sangat lengket dengan keringat."


Rigel tersenyum. "Baiklah, aku akan mengisi bathtubnya. Kita akan berendam bersama."


Seketika raut wajah Lyra pun memerah. "Aku akan berendam sendiri, kamu tak perlu ikut berendam denganku."


Rigel lalu duduk di sebelah Lyra berbaring, ia tersenyum nakal sembari menyentuh kancing di baju Lyra. "Mengapa harus malu, kita bahkan sudah melihat satu sama lain.


Spontan Lyra pun menghempaskan tangan Rigel dari kancing bajunya. "Dasar mesum! Kita memang pernah melihat satu sama lain, tapi saat itu aku sedang mabuk dan tak melihat jelas tubuhmu."


"Maka dari itu kita harus mandi bareng, biar kamu bisa melihat sepuasnya. Begitu pun dengan aku yang akan puas melihat tubuhmu."


"Ingat ya, kita belum menikah. Kamu masih belum jadi pria muhrim untukku. Jadi jangan berharap bisa mandi bareng atau pun melihatku tanpa sehelai kain." Lyra menarik selimut lalu mengerumi diri dengan selimut. "Aku tak jadi berendam, aku akan tidur sekarang."