My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
32. Semanis Gula



Lyra baru tahu bila dirinya sudah di cintai oleh Rigel sejak lama. Rigel yang dulu memang tak setampan sekarang dan lebih sibuk dengan belajar, tak pernah sekalipun mempedulikan penampilannya. Hingga saat mulai bertemu kembali, Lyra tak dapat mengenalinya, bahwa pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu merupakan pria yang sering di lihatnya ketika di SMA maupun di tempat ia menjenjang pendidikan di universitas. Bila waktu dapat berputar kembali, Lyra akan berusaha keras untuk lebih dekat dengan pria yang tulus mencintainya dalam waktu lama. Mungkin saja Lyra tak akan pernah merasakan sakitnya di hianati oleh Daniel. Biarpun terlambat mereka memulai hubungan, tapi Lyra sangat bahagia karena berkat Rigel, luka di hatinya dapat terobati. Bila Lyra adalah obat Rigel untuk melupakan ibu dan kakaknya yang telah lama pergi, lain halnya dengan Lyra yang menganggap Rigel sebagai obat untuk melupakan Daniel. Rasa terima kasih yang teramat dalam kepada takdir yang telah mempertemukan mereka dalam sebuah benang merah yang telah terikat lama. Pada masa SMA, pada masa menjenjang pendidikan di universitas, dan pada masa dewasa mereka selalu di pertemukan.


Wajah Lyra sangat sumringah dan terus membayangkan dirinya yang selalu di pertemukan dengan Rigel.


"Apa kita memang sudah di takdirkan untuk berjodoh. Kita selalu di pertemukan kapanpun dan di manapun."


Rigel menatap Lyra sembari memicingkan matanya. "Beberapa hari yang lalu, kamu menyebutku bila aku di takdirkan dengan Agni. Apa benar bila aku adalah jodohmu," lontar Rigel dengan tawa.


Sontak raut wajah Lyra pun di tekuk kesal setelah mendengar candaan Rigel tersebut. Lyra pun langsung saja mendekap erat tubuh Rigel.


"Agni hanya milik Ryan."


Rigel tergelak. "Lalu, aku milik siapa?"


"Tentu saja milikku."


"Kalau begitu lepaskan aku. Bila kamu terus menyentuhku seperti ini, aku semakin ingin menerkammu."


Seketika Lyra menyentil kening Rigel. "Bila sampai kamu membuka sehelai bajuku, tamat riwayatmu."


Rigel membuang nafas. "Hah, tamat riwayatku? Memangnya kamu bisa apa dengan tubuh semungil itu."


"Kamu tak mengerti maksudku ya. Bila sampai kamu membuka bajuku, kita putus!"


"Kamu tidak bisa seenaknya seperti itu. Aku butuh bertahun-tahun untuk mendapatkanmu, terus kamu mau putus setelah kita meresmikan hubungan kita yang baru beberapa jam yang lalu," ucap Rigel di tekuk kesal.


"Kalau begitu jangan sampai membuat kesalahan." Lyra semakin erat mendekap tubuh Rigel.


Seketika Rigel menyingkirkan Lyra dari tubuhnya. "Berhenti menyentuhku agar aku tak membuat kesalahan yang patal."


Lyra tergelak. "Biarpun aku tak menyentuhmu, kamu tetap tak akan bisa tertidur lelap. Bagaimana bila kamu menceritakan lagi tentang kamu di universitas. Kenapa kamu tak pernah mau menyatakan perasaanmu padaku."


Rigel menghela. "Bukan tak mau, tapi saat terakhir kali kamu berbicara padaku. Esoknya aku mendapatimu tengah di kecup pipinya oleh si brengsek Daniel. Niatnya mau mengenalmu lebih dekat, taunya sudah di miliki lagi oleh pria lain."


"Kenapa tak kau rebut saja aku dari si pria brengsek itu."


"Aku punya harga diri, tak bisa asal rebut jika itu bukan miliku."


"Lalu, bagaimana perasaanmu saat kita di pertemukan kembali. Saat itu kita bertemu kembali di klub malam."


"Sebenarnya kita sering bertemu walau hanya berpapasan. Jadi klub malam itu bukan pertama kali kita bertemu kembali. Saat pertemuan di klub malam, itu adalah hari terburuk bagiku dan juga terbaik untukku."


Lyra menatap heran wajah Rigel. "Maksud dari hari terburuk dan terbaik bagimu itu, apa?"


"Hari terburukku adalah siang hari ketika di kantor, aku mendapati Nata tengah mengobrol dengan teman satu divisinya. Dalam obrolannya dia membicarakan kamu yang akan segera melangsungkan pernikahan pada bulan depan."


Rigel lalu tersenyum sembari membayang hari bertemunya ia dengan Lyra di klub malam.


"Ku pikir itu adalah hari di mana aku tak akan pernah lagi mendapatkan harapan. Namun, teryata itu bukan. Kita bertemu saat kita sama-sama berada dalam keadaan terpuruk. Tapi lebih tepatnya kamu yang terpuruk," ucap Rigel dengan gelak tawa.


"Dari mana kamu tahu bila aku tengah terpuruk. Aku bahkan tak pernah menceritakannya," ucap Lyra di tekuk kesal.


"Kamu mungkin tidak ingat, bila kamu yang mabuk menangis sambil berbicara bahwa kamu tidak ingin berpisah dengan Daniel. Oleh sebab itu aku mengerti dengan apa yang kamu ucapkan, bila kamu dan Daniel sudah putus. Dan hari kita bertemu di klub malam merupakan hari di mana aku mendapatkan harapan lagi mengenai kamu."


"Jika kamu sangat menginginkanku, mengapa kamu membuat kesan buruk di hari pertamaku bekerja."


"Kamu yang memulainya. Setelah kita tidur bersama di hotel, kamu menghinaku dengan uang tiga ratus ribu. Dan setelah kita bertemu lagi di tempat kamu bekerja dulu, kamu bahkan menendang kakiku. Jadi, aku ingin memberikan pelajaran kepadamu."


Pelukan Lyra sangat kuat, hingga Rigel tak dapat melepasnya.


"Enyalah dariku. Kamu tahu bila kamu seperti ini, maka tubuhku akan semakin tak kuat menahannya."


Lyra tergelak mendengarnya, ia menghiraukannya dan tetap saja memeluk Rigel dengan erat biarpun Rigel berusaha keras melepasnya. Rigel pun hanya bisa pasrah di peluk oleh Lyra dalam keadaan ia yang sudah sangat menginginkan sesuatu dari Lyra. Lyra bisa tertidur lelap dalam keadaan memeluk Rigel, sedangkan Rigel tak sedikitpun ia terlelap dari tidurnya.


Rigel menggeleng. "Apa dia bisa senyenyak itu, di saat kita tidur seperti ini," gumam Rigel di batinnya.


...****************...


Matahari sudah mulai naik, hingga cahayanya menembus jendela dan menyoroti Lyra yang masih terlelap dalam tidurnya. Lyra terbangun, matanya mengerenyit karena terangnya sorot cahaya menyoroti matanya yang masih tertutup rapat. Lyra tak bisa membuka lebar matanya, ia pun hanya bisa membukanya setengah. Ia pikir hanya akan mendapati sinar matahari yang tengah menembus jendela, namun ternyata saat matanya terbuka ia mendapati Rigel sedang tersenyum menatapnya.


"Sudah bangun?" Tanya Rigel.


Lyra tersenyum. "Sejak kapan kamu terbangun, sepertinya kamu sudah berganti pakaian." Lyra melebarkan pandangannya menatap tubuh Rigel yang sudah rapih berganti pakaian.


"Sejak tadi, mau mandi tidak?" Rigel lalu menunjukan kantong yang tengah di pegangnya. "Aku sudah membelikanmu baju berserta pakaian dalamnya. Untuk pakaian dalam bagian atas aku membeli ukuran M, lalu untuk bagian bawah aku membeli ukuran L."


Seketika rona merah di wajah Lyra muncul. "Dari mana kamu tahu dengan ukuran pakaian dalamku?"


"Bukankah saat itu kita pernah tidur bersama, aku mencoba mengingat-ingat tubuhmu. Lalu, aku mengira-ngira ukurannya."


Seketika Lyra memukul Rigel dengan bantal sekeras mungkin. "Dasar mesum."


Lyra terus berulang memukul Rigel dengan bantal sembari berteriak mesum. Hingga membuat Rigel kewalahan menghadapinya. Sebagai pria, Rigel hanya diam ketika di pukuli Lyra dengan bantal.


"Bukankah kita pernah melakukannya, sudah pasti aku mengingatnya. Lagi pula kita juga sama-sama melihatnya, kamu melihat miliku dan aku pun melihat milikmu."


"Tapi aku tak sampai mengingatnya," ucap Lyra yang tak henti memukuli Rigel dengan bantal.


"Tapi aku perlu mengingatnya, agar pakaian dalam yang ku belikan pas untuk kau pakai. Jika aku tak membelikanmu pakaian dalam, memangnya kau akan terus memakai pakaian dalam yang kemarin."


Lyra pun menghentikan pukulannya. Namun, wajahnya masih di tekuk kesal dengan rona merah di pipinya. "Tidak juga."


Rigel tergelak, dan ia langsung saja mengangkat tubuh Lyra. "Lebih baik kamu mandi saja." Rigel lalu tersenyum menggoda menatap Lyra. "Apa perlu ku mandikan."


"Tidak perlu, turunkan aku di depan pintu kamar mandi."


"Baiklah nona manis." Rigel pun melangkah cepat membawa Lyra ke depan pintu kamar mandi.


Namun, saat Lyra sudah di turunkan Rigel, ia malah berdiam diri dalam waktu lama di depan pintu.


Rigel pun menatap heran Lyra "Kenapa kamu tidak masuk, apa kamu benar-benar ingin ku mandikan."


Lyra menghela sembari menggelengkan kepalanya. "Aku belum mengambil pakaianku, apa kamu pikir setelah mandi aku akan keluar menggunakan sehelai handuk."


Sontak Rigel pun menggaruk kepalanya walau tak terasa gatal. "Baiklah akan ku bawakan pakaianmu."


Rigel pun melangkah mengambilkan pakaian baru miliki Lyra yang masih di kantongi di atas ranjang. Setelah Lyra meraih kantong pakaian dari tangan Rigel, ia pun langsung saja menutup rapat dan mengunci pintu kamar mandi.


"Seharusnya kamu biarkan aku masuk juga," teriak Rigel dengan gelak tawa.


"Apa kamu ingin mati," ucap Lyra yang juga meninggikan suaranya.


Rigel sampai tertawa puas setelah menggoda dan membuat Lyra kesal. Ia benar-benar tak menyangka bila kekasihnya itu sangat polos, bila di bandingkan dengan dirinya. Padahal mereka pernah sama-sama tinggal di Amerika, bila Rigel sudah terbawa arus oleh pergaulan orang sana, lain halnya dengan Lyra yang masih tetap berprinsip teguh dengan pergaulan di Indonesia.