My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
27. Pengakuan Selanjutnya



Memang sangatlah di bimbangkan untuk Lyra bila harus mempertahankan persahabatannya dengan Axel atau harus mengakhiri hubungannya dengan Rigel. Kedua pria ini sudah membuat Lyra tak bisa memahami segalanya. Lyra yang tak paham dengan sikap dan ucapan Axel dalam beberapa hari ini, dan Lyra yang tak bisa memahami dengan perasaan barunya, ia membenci sikap Rigel yang akuh dan menyebalkan, namun ia merasa berat bila harus mengakhiri hubungan palsunya dengan Rigel.


Bagaimana bisa Axel marah hanya karena hubungan spesial Lyra dengan Rigel, bila ia marah karena Lyra menjadi kekasih pura-puranya Rigel, mengapa bisa ia marah di saat Lyra belum memberitahunya tentang status sebenarnya. Lyra memang sempat mencurigai Axel memiliki perasaan lebih padanya. Namun, Lyra tetap bersi teguh untuk tetap percaya bahwa Axel tak mungkin memiliki perasaan lain selain kasih sayang dari seorang sahabat. Dan tak mungkin juga Axel dapat mematahkan persahabatannya yang sudah terjalin lamanya hanya karena sebuah perasaan yang tak mungkin bisa di gapainya. Karena Lyra tak memiliki perasaan apapun terhadap Axel kecuali rasa sayangnya sebagai seorang sahabat.


Situasi ini memang benar-benar telah membingungkan pikiran Lyra. Berulang kali Lyra menghela nafasnya, terus bepikir untuk mencari jalan keluar dari masalahnya. Namun, pikiran itu terlalu kalut hingga membuat pikirannya tak bisa mencapai ide untuk keluar dari masalahnya.


Sepanjang perjalanan pulangnya, di dalam bis Lyra menundukan kepalanya dengan mata dan pikirannya yang terus termenung dalam lamunannya.


Nata lalu meraih tangan Lyra. "Apa kau baik-baik saja?"


Lyra menghela. "Entahlah, sepertinya aku tak sedang baik-baik saja."


"Untuk menenangkan pikiranmu saat ini, bagaimana bila malam ini kamu menginap di apartemenku. Akan kubuatkan cemilan enak untukmu," lontar Agni.


"Ide bagus, aku setuju. Bila kamu pulang, mana bisa kamu menceritakan masalahmu dengan ayah dan ibumu secara bebas. Dan untuk itu, kita siap untuk mendengarkan keluh kesahmu," imbuh Nata.


Lyra pun setuju dengan saran yang di berikan kedua sahabatnya itu. Bila pulang, mana mungkin Lyra bisa menceritakan masalahnya kepada orang tuanya. Yang ada Lyra akan kena marah oleh mereka, terutama oleh ayahnya yang mungkin saja akan membuatnya untuk berhenti bekerja.


Sesampainya di apartemen, Agni langsung saja menyiapkan banyak cemilan untuk Lyra dan Nata. Mereka berkumpul di ruang tengah dengan banyaknya cemilan yang di letakan Agni di meja. Di sana Lyra dapat tertawa lepas dan melupakan masalah yang telah memberatkannya. Namun, baru beberapa menit Lyra dapat melupakan masalahnya, tiba-tiba saja pikiran itu muncul kembali.


"Apa ada yang salah dengan diriku," gumam Lyra dengan raut wajahnya yang nampak bersedih.


"Apa kamu masih kepikiran tentang permintaan Axel?" Tanya Nata.


Lyra menghela. "Sepertinya begitu, apa kalian merasa bila sikap Axel sangatlah berbeda."


"Berbeda bagaimana maksudmu?" Tanya Agni terheran-heran.


"Dia tak suka bila aku memiliki hubungan dengan Rigel."


"Dia tak suka karena mungkin hubunganmu dengan pak Rigel tidak resmi, terlebih lagi pak Rigel seperti memanfaatkanmu."


"Dia bahkan tak suka sebelum aku memberitahunya tentang hubungan kami yang sebenarnya."


Seketika Nata mengerutkan alisnya. "Mungkin saja dia cemburu, apa jangan-jangan dia memiliki perasaan lain terhadapmu."


"Mungkin memang Axel memiliki perasaan lain terhadapmu. Kamu sudah bertahun-tahun lamanya menjalin persahabatan dengan Axel, dan mungkin saja perasaan sayang dari seorang sahabat itu berubah jadi perasaan cinta. Apa kamu tak merasa seperti itu," imbuh Agni.


Nata memicingkan matanya. "Mungkin Axel memang seperti itu, tapi apa Lyra juga memiliki perasaan lain terhadap Axel." Nata lalu tersenyum menatap Lyra. "Aku ragu bila Lyra memiliki perasaan lain terhadap Axel. Karena perasaannya saat ini bukanlah tertuju untuk Axel, melainkan untuk pak Rigel.


Lyra menelan salivanya dengan rona merah yang muncul di kedua pipinya. "Apa yang kau maksud?"


Nata menyenggol pelan bahu Lyra dengan bahunya. "Jujur saja pada kita, bahwa perasaanmu saat ini tengah tertuju kepada pak Rigel kan."


"Entahlah, aku ini sangat membencinya tapi anehnya hatiku seperti menentang untuk tak membencinya."


Nata tergelak. "Kalian memang seharusnya segera meresmikan hubungan kalian. Karena dari yang ku lihat, sepertinya pak Rigel juga memiliki perasaan terhadapmu."


Lyra menggeleng cepat kepalanya. "Mana mungkin dia menyukaiku, saat ini dia sedang mengejar wanita yang jadi cinta pertamanya."


"Bagaimana bila cinta pertamanya itu adalah kamu."


Kening Nata mengerenyit. "Pertemuan ketiga? Memangnya pertemuan pertama dan keduamu di mana?"


"Pertemuan pertama kita di club malam dan di hotel..." Lyra spontan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Lyra keceplosan, niat ingin menyembunyikan rahasianya malah terbongkar oleh mulutnya sendiri.


Nata tergelak. "Jangan bilang bahwa pak Rigel merupakan pria yang membuatmu meminum pil KB."


Sontak Lyra pun langsung saja menutup wajahnya dengan tangan karena malu.


"Iya, dia merupakan pria yang tidur denganku di kamar hotel."


"Pantas saja dia membuatmu menjadi pekerja khusus untuknya. Mungkin saja dia memiliki perasaan setelah tidur denganmu."


"Aku rasa tidak begitu."


Lyra lalu menceritakan awal pertemuannya dengan Rigel, dan awal bagaimana ia di pekerjakan khusus untuk CEO yang terkenal dengan mulut tajamnya itu. Kedua temannya sampai di buat tak menyangka dengan apa yang di ceritakan Lyra tersebut. Tentang bagaimana ia memberikan uang tiga ratus ribu setelah tidur dengan Rigel dan tentang Lyra yang ceroboh sampai-sampai tidur dengan Rigel. Mungkin menurut Lyra, dialah yang pertama menggodanya hingga membuat Rigel mau tidur denganya. Karena berawal dari mambuknya hingga membuatnya mengira bahwa Rigel merupakan Daniel.


"Pantas saja dia ingin membuatmu menderita. Setelah menikmati tubuhnya, kau pergi meninggalkan uang untuk seorang pria kaya seperti Rigel Calisto yang uang di sakunya berjumlah triliunan," ucap Nata menggeleng.


"Mungkin awalnya dia memperkerjakanku karena ingin membalas dendam. Tapi setelah aku bertemu dengan keponakannya, niat jahilnya tersingkirkan. Dan dia menjadikanku kekasih pura-puranya hanya demi Jayden. Dan setelah hari itu, dia tak pernah membuatku kesusahan dengan bulak-balik membuatkan makanan untuknya."


Nata tersenyum. "Mungkin saja dia memang memiliki perasaan terhadapmu. Hanya sekilas saja aku bisa melihat bahwa dia memang menyukaimu." Nata lalu meraih tangan Lyra sembari tersenyum girang. "Aku yakin bahwa pak Rigel akan mengurungkan niatnya untuk mengejar cinta pertamanya."


Seketika Lyra menghempas tangan Nata dengan raut wajahnya yang nampak memerah. "Berhentilah berhayal."


Setelah puas mengobrol Lyra dan kedua sahabatnya pun tertidur pulas di ruang tengah di bawah satu selimut yang sama. Esok harinya Lyra terbangun dan mendapati Agni tengah menangis di sampingnya. Lyra pun panik dan langsung saja meraih tangannya.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu menangis?"


"Tadinya aku akan membelikan sarapan untuk kalian. Tapi ketika aku akan menarik uang dari kartu ATM, semua kartuku di blokir termasuk dengan kartu kredit. Dan ayahku menumpahkan semua tagihan kreditku kepadaku. Bila aku menolak untuk di jodohkan maka ayahku tidak akan memulihkan kartu ATMku dan ia juga berniat untuk menyita apartemenku ini," terang Agni sembari menangis sesegukan."


Sontak Lyra pun langsung saja memeluk Agni. "Bagaimana jika sementara ini kamu tinggal denganku. Kamarku memang tak seluas kamarmu, tapi aku memiliki ranjang yang pas untuk di tiduri kita berdua."


Agni melepaskan pelukan Lyra. "Meskipun aku dapat tempat tinggal gratis, bukan berarti aku akan tenang dengan tagihan kartu kreditku yang tak bisa ku bayar. Sementara gaji dari pekerjaanku tak sesuai dengan tagihan kredit yang ku miliki."


"Lalu, kamu mau bagaimana? Apa kamu akan menerima perjodohan yang di lakukan ayahmu."


"Tentu saja tidak. Aku akan menggagalkan perjodohanku."


"Bagaimana caranya?"


"Besok ayahku memintaku untuk bertemu dengan pria yang akan di jodohkan denganku. Aku mempunyai ide untuk menggagalkannya." Agni lalu meraih kedua tangan Lyra. "Bisakah kamu membantuku."


"Dengan cara apa aku membantumu."


"Gantikan aku. Besok aku akan bertemu dengannya hanya berdua saja. Buatlah dia merasa jijik hingga dia membatalkan perjodohannya."


Lyra melepaskan tangan Agni dari tangannya. "Tidak mau. Bagaimana bila ayahmu tahu dan dia marah, karena aku telah ikut campur."


"Bila dia tahu, aku akan menjelaskannya dan bilang bahwa aku yang memaksamu." Agni lalu kembali meraih kedua tangan Lyra. "Kumohon bantulah aku."