
Sudah berhari-hari berlalu sejak Jayden di bawa pergi Sandy dari rumah Rigel. Berhari-hari itu pula Rigel larut ke dalam rindu yang teramat dalam. Dan sudah berhari-hari itu pula Rigel di sibukan dengan pekerjaan dan pencarian keponakannya tersebut.
Pekerjaan yang setiap harinya menumpuk tak membuat Rigel merasa lelah ikut mencari dengan beberapa orang yang sudah di sewanya. Bila di hari kerja ia tak dapat ikut mencari, maka ia akan memberikan tugasnya kepada orang yang di sewanya. Lain halnya dengan hari libur, ia akan ikut seharian mencari Jayden. Bahkan Rigel sudah tak ada waktu berkencan dengan Lyra. Jangankan waktu untuk berkencan, untuk makan pun Rigel sulit menyempatkan waktu. Bila Lyra menyiapkan makan untuk Rigel, kekasihnya itu hanya akan memakan beberapa suap dan tak pernah menghabiskannya. Bahkan kadang pula Lyra menyiapkan makan tapi tak di sentuh sedikitpun oleh Rigel. Bukan Rigel tak mau, tapi karena terlalu sibuk dan akibat terlalu larut memikirkan Jayden, hingga selera makannya berkurang.
Bila menyempatkan waktu untuk Lyra, itu tak terlalu penting. Tapi bila Rigel tak dapat menyempatkan waktu untuk makan itu sangatlah membuat Lyra khawatir setengah mati.
Lyra sudah menyiapkan makan siang untuk Rigel. Namun saat Lyra masuk ke ruangannya, Rigel tengah sibuk merapikan dasi dan pakaiannya.
"Sepertinya kamu akan pergi. Bisakah kamu makan terlebih dahulu sebelum pergi," ucap Lyra dengan kedua tangan yang tengah memegang nampan.
"Aku tidak ada waktu untuk makan karena klien sudah menungguku." Rigel beranjak ke arah Lyra, lalu dengan cepat ia mengecup pipi kekasihnya tersebut. "Aku pergi sekarang, maaf tak bisa mencicipi makananmu terlebih dahulu."
Rigel pun terburu-buru pergi keluar dari ruangannya dengan langkahnya yang cepat. Di saat Rigel sudah beranjak pergi, Lyra teringat akan suatu hal yang penting yang harus ia sampaikan kepada Rigel. Lyra pun beranjak berlari mengejar Rigel sebelum kekasihnya itu pergi dengan mobilnya.
Dan utungnya Rigel belum pergi terlalu jauh saat Lyra tengah mengejarnya. Lyra datang menghampiri dengan nafasnya yang terengah-engah.
"Aku tahu kamu sibuk, tapi kamu jangan lupa menyempatkan untuk makan. Siang ini kamu belum makan sesuapun, kuharap kamu bisa menyempatkan makan walau hanya sebentar."
Rigel tersenyum sembari mengusap kepala Lyra. "Tentu saja aku akan menyempatkan makan, karena pertemuanku dengan klien berada di restoran. Jadi kamu tak perlu mencemaskanku."
"Apa kamu yakin akan menyentuh makananmu, sudah beberapa hari ini kamu sering tak menghabiskan makanan."
"Hm, akan ku usahakan. Kamu tak perlu mencemaskanku, Lyra."
"Baiklah, dan jangan pula melupakan makan malam."
Rigel mengangguk. "Aku tak akan lupa. Karena untuk makan malam aku ingin mengajakmu makan bersama. Aku akan mereservasi meja di restoran, kamu tunggulah aku di sana. Nanti akan ku kirimkan alamatnya lewat ponsel."
Mungkin makan bukanlah hal yang harus di ingatkan untuk pria dewasa seperti Rigel. Tapi Lyra perlu terus-menerus mengingatkannya, karena Rigel selalu saja melupakannya. Bila tubuh dan pikirannya terlalu sibuk bekerja dan terlalu sibuk mencari Jayden, bagaimana dengan kesehatannya. Mungkin saat ini Rigel masih baik-baik saja, tapi ia tak tahu bila terus-menerus di biarkan mungkin saja kesehatannya itu akan menurun. Karena itulah Lyra perlu mengingatkan Rigel untuk makan tepat waktu dan bahkan Lyra juga selalu mengingat Rigel untuk tetap menjaga kondisi tubuhnya.
***
Sore harinya Lyra pulang bersama dengan pekerja kantin lainnya, karena Rigel tak akan lagi kembali ke kantor. Dan sebelum pergi ke tempat makan malamnya, Lyra masih ada waktu pulang ke rumah untuk bersiap-siap. Sudah berhari-hari Lyra tak dapat menikmati waktu bersama dengan Rigel, hingga membuatnya ingin sekali berpakaian cantik dan berdandan secantik mungkin.
Alamat yang di kirim Rigel merupakan Restoran mewah. Dengan memakai gaun serta sepatu hak tinggi akan cocok untuk di pakai Lyra pergi kesana. Lyra pun memilih gaun di lemarinya yang menurutnya paling bagus dan cantik.
Ketika Lyra sudah benar-benar selesai merias diri, iapun langsung saja mengambil tasnya dan segera beranjak pergi keluar dari kamarnya. Saat ia keluar dari kamar, Rizwan dan Sarah sampai terpukau menatap penampilan cantik dari putri semata wayangnya tersebut.
"Putri cantik ibu ini mau kemana?" Sarah tersenyum menatap penuh penampilan Lyra dari ujung rambut sampai kaki.
"Apa aku ini sudah benar-benar cantik?"
"Tentu saja jelas kamu sangat cantik. Ada acara spesial apa sampai-sampai kamu berpenampilan seperti itu?" Lontar Rizwan.
"Hari ini Lyra akan makan malam bersama Rigel di restoran mewah."
"Pantas saja kamu berpenampilan cantik, rupanya kamu akan di lamar olehnya," ucap Rizwan.
Lyra menggeleng. "Lyra hanya akan makan malam saja sama Rigel. Bisa di bilang, malam ini Lyra akan berkencan dengannya."
"Oh, kalau begitu setelah makan malam kamu langsung pulang. Soalnya kamu berpenampilan cantik, takutnya dia memikirkan hal lain."
"Setelah makan malam mungkin Lyra akan pergi ke tempat lain. Masa kencan hanya makan malam saja." Lyra tergelak sembari beranjak keluar dari rumahnya.
"Hei!" Teriak Rizwan. "Pokoknya harus langsung pulang, laki-laki akan sangat berbahaya bila lihat perempuan cantik."
Lyra menghiraukan peringatan dari ayahnya, dan pergi begitu saja tanpa meresponnya. Walau ayahnya menyuruh pulang bila sudah makan malam, tapi Lyra tak berniat untuk langsung pulang. Ia ingin setelah makan malam, dirinya dan Rigel bisa pergi ke tempat lain untuk menikmati waktu kencannya. Karena sudah beberapa hari ini mereka tak ada waktu yang pas untuk menikmati kencan. Ini kesempatan untuk mereka di tengah padatnya pekerjaan Rigel dan pencarian Jayden.
Sesampainya di restoran, Lyra duduk di meja yang sudah di reservasi oleh Rigel. Di sana Rigel belum nampak hadir. Lyra pun menunggu walau waiters sudah menawarinya pesanan.
Namun, sudah lewat satu jam Rigel belum juga nampak hadir. Lyra pun mencoba menghubunginya lewat ponsel. Dan beberapa kali Lyra menelepon, namun Rigel tak mengangkat teleponnya itu. Walau teleponnya tak di angkat, Lyra masih sabar menunggu karena mungkin saja Rigel sangat sibuk dan tak ada waktu untuk mengangkat telepon darinya.
Hingga sudah hampir tiga jam Lyra menunggu, akhirnya Rigel dapat menghubunginya. Dan dengan girangnya Lyra mengangkat telepon dari kekasih yang sedari tadi sudah di tunggu kehadirannya itu. Namun bukannya kabar baik yang di harapkan, Rigel menelepon malah membuat Lyra kecewa.
"Maaf sudah membuatmu menunggu, sepertinya aku tak akan datang karena aku belum menyelesaikan pekerjaanku. Kamu bisa langsung makan saja, dan setelah itu langsung pulang. Aku akan menyuruh Ryan untuk mengantarmu pulang."
"Jika kamu tak akan datang, aku akan pulang sekarang. Dan suruh Ryan untuk menjemputku secepatnya," ucap Lyra dengan raut sedihnya.