
Seminggu setelahnya mereka tak melaksanakan pernikahan seperti apa yang di harapkan Sandy. Tapi seminggu setelahnya, mereka langsung berangkat ke New York untuk menemui Rizwan dan Sarah. Bukan karena mereka tak mau menuruti permintaan Sandy, tapi mereka tak ingin pernikahannya di lakukan secara terburu-buru. Karena mereka menginginkan pernikahannya berjalan dengan sempurna dan menghasilkan momen yang tentunya juga sempurna. Terutama dengan Lyra yang tengah hamil muda, perlu yang namanya beristirahat ekstra sebelum nanti ia melaksanakan pernikahan. Rigel dan Lyra berencana ingin melangsungkan pernikahan pada bulan depan, setelah semua persiapan pernikahannya telah di selesaikan.
Selama perjalanannya ke rumah Rizwan dan Sarah, tak hentinya Lyra merasakan gugup dan gelisah. Ia takut bila sampai nanti orang tuanya akan kecewa dengan Lyra yang hamil di luar nikah. Terutama Lyra sangat takut akan kemarahan ayahnya. Beberapa kali Lyra menghela nafasnya, berharap bila kedua orang tuanya tak memarahi dirinya dan Rigel.
Karena Lyra terus terlihat gelisah, Rigel pun lalu meraih tangannya untuk menenangkannya. "Tolong tenangkan dirimu jangan terus berpikiran negatif, karena tak baik untuk bayi yang di kandungmu."
Lyra menghela. "Aku sangat takut bila sampai ayahku memarahiku, terutama dirimu."
"Ayahmu pasti marah, tapi aku yakin dia tak akan menentang pernikahan kita demi cucu yang di kandungmu itu." Rigel tersenyum menatap Lyra. "Bagaimana bila kita membahas topik lain, agar kamu bisa melupakan kegelisahanmu itu. Hm, aku ingin tahu mengapa ayah dan ibumu bisa tinggal di New York, bukankah yang ku dengar dari orang-orang bahwa kedua orang tuamu itu tinggal di Chicago."
"Setahun setelah mengelola restoran bersama pamanku di Chicago, mereka membuat cabang baru di New York. Dan pada akhirnya mereka pindah ke New York untuk mengurus restoran di sana."
Sepajang perjalannya ke rumah Rizwan dan Sarah, Rigel terus membuat topik obrolan agar membuat Lyra melupakan kegelisahan dan kegugupnya. Pengalihan tersebut sedikitnya bisa membuat Lyra tenang dan tak lagi merasakan gelisah dan gugup. Namun, sesampainya mereka di depan rumah Rizwan dan Sarah, Lyra kembali merasakan gelisah dan gugup yang amat luar biasa di bandingkan tadi.
"Bagaimana ini, aku sangat takut menghadapi kedua orang tuaku."
Rigel semakin erat menggenggam tangan Lyra. "Bila kamu takut, jangan pernah melepaskan tanganmu dariku. Aku akan melindungi dari amarah ayah dan ibumu."
"Yang seharusnya melindungi itu aku, bukannya kamu. Karena kamu yang pastinya akan lebih bayak kena marah oleh mereka."
Rigel tersenyum. "Aku adalah seorang pria, dan aku akan kuat bila memang harus terkena makian mereka, terutama terkena amarah dari ayahmu.
Belum juga Rigel dan Lyra menekan tombol bel, tiba-tiba saja Sarah mebuka pintu. Dan Sarah terkejut saat mendapati anaknya tengah berdiri di depan rumahnya.
"Lyra, kamu pulang lagi kesini? Apa kamu tidak capek bulak-balik dari London ke New York. Tadinya ibu akan pergi ke supermarket, karena kamu datang, ibu tidak jadi pergi." Seketika Sarah mengerutkan alisnya ketika menatap Rigel. "Bukankah pria yang sedang berdiri di sampingmu itu Rigel."
Rigel menjabat tangan Sarah. "Benar saya Rigel, senang bertemu dengan anda kembali. Kedatangan saya kesini karena ada hal yang ingin saya dan Lyra sampaikan."
Sarah memang terkenal akan kebaikan dan keramahannya. Ia tak ragu mempersilahkan Rigel untuk masuk ke rumahnya, walau dulu ia sempat kecewa tentang hubungan putrinya yang tak di restui oleh pihak dari orang tuanya Rigel.
"Kalau begitu kalian masuk dulu, ibu akan panggilkan ayah terlebih dahulu."
Rigel dan Lyra pun masuk, lalu menunggu Rizwan dan Sarah di ruang tamu. Mereka tak membutuhkan waktu lama untuk menunggu, Sarah kembali menghampiri sembari membawakan minum untuk Rigel dan Lyra. Begitupun dengan Rizwan yang juga ikut datang menghampiri anak dan calon menantunya tersebut.
"Jangan bilang kalian datang kesini karena ingin meminta izin untuk menikah," ucap Sarah sembari meletakan tiga gelas minuman di meja.
Dengan refleksnya Lyra pun menggaruk tengkuknya dengan wajah yang memerah. "Memang benar, kedatangan kami kesini karena ingin meminta izin untuk menikah."
"Padahal ibu bertanya tidak serius, tapi ternyata pertanyaan ibu malah jadi benar."
Rizwan menyeringai. "Apa menurut kalian pernikahan akan semudah seperti membalikan telapak tangan. Pak sandy sangat tidak menyetujui kalian untuk bersama, kenapa kalian terus saja mempertahankan hubungan yang tak mungkin berakhir bahagia."
"Ayah saya sudah merestui hubungan kami. Bahkan dialah yang membuat saya bertemu dengan Lyra di London," ucap Rigel.
"Benarkah? Apa jangan-jangan itu hanya omong kosongnya saja. Putri saya tidak terlahir dari keluarga terpandang sepertimu, mana bisa dia merestui kalian semudah itu."
"Sudah beberapa kali saya di kenalkan dengan wanita pilihannya, tapi semuanya gagal berakhir ke jenjang pernikahan. Karena saya yang tak bisa melupakan Lyra, akhirnya dia pun menyerah untuk mencarikan pasangan untuk saya. Dan dia juga yang membuat saya pindah ke London agar dapat bertemu dengan Lyra."
"Biarpun ayah atau pak Sandy tidak merestui pernikahan kami, kami tetap akan melangsungkan pernikahan. Karena aku sedang mengandung anaknya Rigel," lontar Lyra.
Ucapan Lyra semakin mengejutkan ayah dan ibunya. Rizwan bukan hanya terkejut, tapi ia juga tampak marah dan kesal setelah mendengarnya. Seketika Rizwan meraih gelas di meja, lalu melemparkan air ke arah wajah Rigel.
"Dasar pria brengsek! Kamu berani sekali menodai anakku. Kamu telah membuat anakku kehilangan kesuciannya sebelum menikah," ucap Rizwan meninggikan suaranya.
"Maaf ayah, jangan memanggil Rigel sebagai pria brengsek. Karena biar bagaimanapun Rigel merupakan ayah dari anak yang ku kandung ini. Dia tak berbuat salah, karena kami melakukannya atas kemauan dari kami sendiri."
"Atas kemauan? Apa selama ini kamu tak pernah mendengarkan apa yang ayah dan ibumu didik. Merenggut kesucian sebelum menikah itu kesalahan besar, Lyra."
"Sekali lagi Lyra minta maaf. Lyra tahu bila apa yang di lakukan Lyra dan Rigel adalah kesalahan, tapi bayi yang ku kandung ini bukanlah kesalahan melainkan sebuah anugerah." Lyra menundukan kepalanya dengan isak tangis. "Lyra harap ayah dan ibu bisa merestui pernikahan kami."
Sarah lalu meraih tangan Rizwan untuk meredakan amarahnya. "Tenangkan dirimu, jangan meninggikan suaramu, karena itu tak baik untuk bayi yang di kandung anak kita. Kita harus menerima kehadiran cucu yang di kandung Lyra, walau kehadirannya terlalu cepat."
"Tapi bu, perbuatan mereka seperti orang yang tak pernah di didik oleh orang tua."
"Ibu tahu bila perbuatan mereka itu salah. Tapi mereka berani mengakui kesalahannya. Bahkan mereka meminta restu kepada kita, agar pernikahannya bisa di laksanakan secepatnya." Sarah menatap Rigel sembari tersenyum. "Bukankah begitu, Rigel."
Rigel mengangguk. "Iya, saya akan secepatnya menikahi Lyra. Saya berencana untuk menikahi Lyra pada bulan depan." Rigel lalu bertekuk lutut di hadapan Rizwan. "Saya sangat minta maaf atas perbuat saya. Dan saya sangat memohon agar pak Rizwan bisa merestui pernikahan kami."
Biarpun Rizwan sangat marah dan kesal, tapi mau bagaimana lagi, ia harus merestui pernikahan putrinya dengan penerus dari PT Starlight itu. Agar pernikahannya bisa berlangsung tanpa beban restu darinya. Dan tentunya restunya akan sangat baik untuk kebahagian anak dan cucunya juga.
"Baiklah, aku akan merestui kalian." Rizwan pun beranjak meninggalkan Lyra dan Rigel dengan raut wajahnya yang di tekuk kesal.