
Sedikit lega dan bisa lebih tenang di bandingkan dengan tadi. Setelah puas menangis, Lyra tak bisa menunjukan wajahnya kepada Rigel. Selama perjalanan pulangnya, Lyra masih saja memalingkan wajahnya menghadap ke arah jendela di sampingnya. Kali ini bukan karena ia masih merasa sedih dan kalut, namun Lyra merasa malu setelah menangis keras seperti anak kecil di pelukan Rigel. Biarpun Rigel mengajaknya mengobrol, Lyra tak berani menatapnya secara langsung.
"Apa hatimu masih merasa tak baik-baik saja?" Tanya Rigel yang mata dan tangannya fokus mengemudi.
"Hatiku jauh lebih lega di bandingkan tadi," jawabnya bernada gugup.
"Lalu mengapa kamu masih memalingkan wajahmu dariku, apa ada yang salah denganku?"
"Hm, tidak. Hanya saja aku malu menunjukan wajahku padamu." Lyra lalu menelan salivanya. "Apa menurutmu tadi aku terlihat memalukan?"
Rigel tergelak. "Tidak, ku pikir kau tampak menggemaskan," ucapnya dengan suara rendah.
Seketika Lyra berbalik menatap Rigel. "Menggemaskan? apa maksudmu?"
Sontak Rigelpun nampak gelisah, ia sampai-sampai menelan salivanya. "Menggemaskan artinya kau seperti anak ingusan yang menangis minta di belikan mainan."
"Ish," Lyra berdecak kesal. "Kalau begitu hapuslah dalam ingatanmu saat tadi ku menangis."
Lalu tiba-tiba saja terlintas dalam ingatan Lyra tentang ucapan Rigel yang menyebutkan, bila kekasih baru dari Daniel merupakan mantan dari Rigel.
"Hm, bolehkah aku bertanya?" Tanya Lyra dengan gugup.
"Boleh, memang apa yang ingin kau tanyakan."
"Soal Lisa pacar barunya Daniel." Lyra lalu menghembuskan panjang nafasnya. "Aku bekas kekasih dari Daniel dan kamu merupakan bekas kekasih dari Lisa. Apa jangan-jangan kamu memilihku sebagai kekasih pura-puramu karena ingin balas dendam kepada mereka."
Rigel tergelak. "Untuk apa aku balas dendam kepada mereka. Lagi pula saat aku berpacaran dengan Lisa, itu hanya sekedar main-main saja."
"Apa kamu selalu memainkan perasaan perempuan?" Lyra menggeleng. "Ku pikir kamu berbeda dengan Daniel, ternyata sama saja."
"Jika saja perempuan yang ku sukai selama ini bisa ku gapai, maka aku akan berhenti memainkan perasaan perempuan."
"Kenapa kamu memainkan perasaan perempuan, dan mengapa pula kamu tak bisa menggapainya, bukankah kamu cukup populer di kalangan perempuan."
"Perempuan yang ku sukai selalu saja dimiliki pria lain. Aku sering sekali menjalin hubungan dengan perempuan agar dapat melupakannya. Tetapi tiap kali menjalin hubungan aku tak pernah berhasil melupakannya, karena aku selalu saja melihatnya. Mungkin karena kita tinggal di kota yang sama."
"Lalu, apa kau ingin aku menjadi kekasih pura-puramu karena hanya ingin melupakannya." Lyra menghela nafasnya. "Apa aku salah satu dari perempuan yang ingin kau mainkan?"
"Tentu saja kamu berbeda dengan yang lain." Rigel lalu menelan salivanya dengan gelagat yang nampak gugup. "Aku melakukan itu karena Jay. Hm, apa kamu merasa di permainkan olehku karena kamu memiliki perasaan terhadapku."
Seketika mulut Lyra menganga. "Hah, mana mungkin aku memiliki perasaan terhadapmu. Bukankah sudah jelas bahwa aku masih belum bisa membuka hatiku kembali. Mana bisa aku memiliki perasaan terhadapmu," ucapnya sembari memalingkan wajahnya.
"Padahal aku sangat tampan tapi hanya kamu yang tak menyukaiku."
"Ck," Lyra berdecik. "Hanya karena kamu tampan bukan berarti semua perempuan akan menyukaimu. Contohnya perempuan yang sangat ingin kau gapai. Oh ya, bolehkah aku tahu siapa perempuan yang tak bisa kau gapai itu?" Tanya Lyra dengan raut wajahnya yang nampak penasaran.
"Dia merupakan cinta pertamaku."
"Lalu, apa kau sudah pernah menyatakan perasaan kepadanya?"
Rigel menggeleng cepat. "Tidak pernah."
"Kamu bahkan berani memainkan perempuan, tapi tak pernah menyatakan perasaan kepadanya."
Rigel menghela. "Kita satu SMA dan juga kuliah di universitas yang sama. Dia selalu saja dimiliki oleh pria lain, jadi aku tak sempat menyatakan perasaanku. Lagi pula dulu penampilanku tak sebaik sekarang, aku selalu fokus mengejar nilai sempurna dan tak pernah memperhatikan penampilanku. Dulu mungkin dia tak akan mau denganku yang penampilannya sangat culun dan tubuhnya kurus."
"Lalu, apa sekarang dia masih dimiliki pria lain?" Tanya Lyra yang semakin penasaran dengan sosok perempuan yang di sukai Rigel itu.
Rigel tersenyum. "Sekarang dia sudah tak dimiliki oleh pria manapun."
"Tentu saja ini kesempatanku. Oleh sebab itu aku sedang mendekatinya, walau dia masih belum bisa membuka hatinya untukku."
Anehnya, entah mengapa Lyra merasa kesal saat tahu bahwa Rigel sedang mendekati perempuan yang jadi cinta pertamanya itu. Dan entah mengapa pula, hatinya terasa sakit. Apa mungkin Lyra tengah cemburu terhadap perempuan yang selalu mendiami hati dari pria tampan yang tengah mengantarnya pulang itu. Entahlah, yang jelas saat ini pikiran dan hatinya sedang bercampur aduk antara perasaan yang masih tersisa untuk Daniel dan juga perasaan baru yang tiba-tiba saja muncul. Perasaan-perasaan ini sangat sulit di cerna oleh Lyra.
Lima belas menit berlalu, Rigel pun berhasil membawa Lyra pulang ke rumahnya. Namun, saat Lyra akan hendak keluar dari mobil, tiba-tiba saja Jayden terbangun dari tidurnya.
"Mamah Lyra mau kemana?"
"Jay, mamah Lyra pulang dulu ya. Nanti kapan-kapan kita main lagi," ucap Lyra tersenyum.
"Jay mau ikut sama mamah Lyra," rengek Jayden di tekuk kesal. Jayden terus-menerus merengek sambil menangis ingin ikut bersama Lyra. Mau tak mau Lyra pun harus membawa Jayden ke rumah terlebih dahulu agar ia tak menangis. Dan Rigel pun jadi ikut turun dari mobil bersama Lyra dan keponakannya itu.
Lyra masuk ke rumah sembari menuntun Jayden. Dan di ruang tamu ada Axel yang tengah mengobrol bersama ibu dan ayahnya.
"Eh, ini anak tampan punya siapa?" ucap sarah tersenyum menghampiri Jayden dan putri semata wayangnya itu.
"Jay, anaknya papah Rigel sama mamah Lyra," imbuh Jay.
Seketika kedua orang tuanya Lyra termasuk dengan Axel tersentak kaget setelah mendengar Jayden menyebut Lyra mama. Rizwan lalu menghampiri Rigel yang tengah berdiri di samping putrinya itu.
"Sejak kapan kalian memiliki hubungan?" Tanyanya menatap sinis Rigel sembari melipat lengannya di atas perut.
Sontak Rigel pun gelisah setengah mati saat di tanyai Rizwan dengan tatapan sinisnya. Bila saja Rigel menjawab bahwa dirinya tak memiliki hubungan spesial dengan Lyra, mungkin saja akan membuat Jayden kecewa karena sudah di bohonginya. Terpaksa Rigel pun harus membohongi ayahnya Lyra.
"Hm, belum lama ini."
Rizwan menghela nafasnya. "Sebagai pria bisakah aku berbicara empat mata denganmu."
"Ayah tidak boleh mengintrogasinya," lontar Lyra.
"Diam kamu! Lebih baik kamu bawa anak itu masuk ke dalam kamarmu sekarang," ucap Rizwan tanpa mengalihkan pandangan dari Rigel.
Lyra menghela. "Untuk apa ayah berbicara empat mata dengannya, dia bukanlah pria jahat seperti Daniel. Pak Rigel... eh maksudnya kak Rigel merupakan pria baik."
Rizwan lalu berjongkok menyamai tingginya dengan Jayden. "Anak baik ini siapa namanya?" Tanyanya sembari tersenyum.
"Namaku Jayden, kakek bisa panggil aku Jay."
"Jay anak baik, bisa ikut mamah Lyra ke kamarnya tidak."
Jay mengangguk. "Iya, Jay akan ikut mamah Lyra."
Rizwan lalu mendongkak ke arah Lyra. "Sekarang kamu bisa pergi ke kamarmu bersamanya. Ayah perlu berbicara empat mata dengannya."
Raut wajah ayahnya nampak marah, mau tak mau Lyra harus pergi ke kamarnya bersama Jayden, biarpun ia khawatir terhadap Rigel yang kemungkinan akan kena marah oleh ayahnya itu.
Rigel duduk berhadapan dengan ayah satu anak tersebut. Di ruang tamu masih ada Axel yang juga ikut duduk bersama Rizwan dan juga Rigel.
"Maaf, bukankah saya akan berbicara empat mata dengan anda. Mengapa ada orang lain selain saya dan anda," ucap Rigel bernada gugup.
"Dia bukan orang lain, dia sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri," ucap Rizwan dengan tatapan sinisnya.
Seketika Axel berdiri dari duduknya. "Maaf om, bila saya di sini mungkin akan mengganggu perbincangan kalian."
Rizwan lalu memegang pergelangan tangan Axel. "Kembali duduk! Kamu tak mungkin mengganggu perbincangan kami."