
Agni sudah benar-benar telah di butakan oleh ketampanan dari seketaris Rigel Callisto. Dengan status pendidikannya yang tinggi dan juga dengan statusnya yang merupakan anak dari seorang pengusaha sukses, tak membuatnya malu bekerja di kafetaria. Alasan yang tak masuk akal membuat Lyra tak menyangka dengan keputusan Agni untuk bekerja di tempat yang tak seharusnya ia berada. Agni memang pandai memasak, hanya karena bagian kafetaria sangat membutuhkan pekerja baru, Agni langsung saja di terima walau ia tak memiliki pengalaman bekerja di bidang memasak.
Saat ini Lyra baru mendengar cerita dari Ryan, tentang bagaimana Agni di pertemukan dengan sekertaris dari Rigel Callisto tersebut. Hanya baru mendengar dari satu pihak, tak membuat rasa penasaran Lyra terpuaskan. Karena bisa saja Ryan melebih-lebihkan ceritanya. Karena yang Lyra ketahui bahwa Agni merupakan anak yang memiliki sopan satun. Dengan statusnya yang merupakan anggota dari keluarga terpandang, Agni sangat berhati-hati menjaga sikapnya.
Seorang anak dari keluarga terhormat dan terpandang, membuat Agni menjadi seorang perempuan polos yang tak pernah sekalipun berkencan dengan seorang pria. Dengan siapa Agni akan bersanding semuanya telah di atur oleh keluarganya. Selama ini Agni tak sekalipun berpikir untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Bila di pikirkan kembali, sikap Agni saat ini benar-benar sudah nekat dan sudah di luar kendali.
Ketika istirahat tiba, Lyra mengajak Agni berbicara empat mata agar tak terdengar oleh orang. Lyra kemudian mencerita secara detail tentang apa yang di ceritakan Ryan kepada Agni.
"Aku tak menyangka dengan apa yang ceritakan Ryan. Aku hanya ingin tahu dengan detail cerita darimu."
"Apa yang di ceritakan Ryan akan sama dengan apa yang ku ceritakan," ucap Agni menundukan kepalanya.
"Bagaimana bisa kamu bersikap seperti itu. Kamu bahkan sampai rela bekerja di sini hanya karena ingin mendekati Ryan." Lyra menghela nafasnya. "Lalu, bagaimana dengan orang tuamu. Apa mereka tahu bila kamu bekerja di sini?"
Agni menggeleng. "Tidak."
"Bagaimana bila sampai mereka tahu jika kamu bekerja di sini." Jawaban singkat dari Agni mampu membuat Lyra terkejut. "Kamu sudah benar-benar di luar dugaan, apa ini teman yang ku kenal selama ini. Anak yang penurut dan selalu menjaga reputasi keluarganya, bisa-bisanya bekerja di tempat seperti ini. Bagaimana bila sampai media mengetahui ini, reputasi keluarga dan perusahaan keluargamu akan buruk."
"Maka dari itu kamu harus bisa menutup mulut, karena di tempat ini hanya kamu dan Nata yang tahu dengan statusku."
Seketika Lyra menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. "Hm, sebenarnya aku tadi kecepolosan memberitahu Ryan. Tapi, aku tak sampai memberitahunya tentang siapa ayahmu ataupun perusahaan mana yang di kelola oleh keluargamu."
Sontak Agni pun langsung saja memegang erat tangan Lyra dengan wajah paniknya. "Bagaimana bisa kamu memberitahunya, bagaimana bila dia mencari tahu tentangku. Dan jika sampai dia sudah tahu tentangku, setidaknya akan ada orang lagi yang tahu tentang statusku."
"Maaf, tadi aku kesal karena dia menuduhku memberitahu lowongan pekerjaan ini kepadamu. Apa lagi ketika melihat wajah marah dan kesalnya, itu membuatku semakin kesal."
Agni menghela. "Sudahlah, tak apa bila nanti tersebar. Lagi pula orang tuaku saja tak peduli dengan apa yang aku inginkan. Mereka selalu menyuruhku melakukan apa yang mereka inginkan. Bahkan mereka berniat menikahkanku di saat aku belum siap. Karena niat mereka itu, sudah satu bulan aku tak lagi bekerja di perusahaan."
"Satu bulan katamu?" Ucap Lyra dengan raut wajahnya yang terkejut.
"Iya, aku sudah satu bulan tak lagi bekerja di sana. Dan sudah saatnya aku terbebas untuk menentukan hidupku sendiri. Dan karena sudah satu bulan ini aku hidup bebas sesuai dengan apa yang aku inginkan, di saat itu pula aku di pertemukan dengan Ryan. Dan untuk pertama kalinya jantungku berdebar kencang karena seorang pria. Bukankah itu merupakan hal yang luar biasa. Aku ingin menjalin hubungan seusai dengan pilihan hatiku."
"Apa Ryan merupakan pilihanmu? Bagaimana bila dia tak tergerak untuk mencintaimu."
"Dari yang ku dengar Ryan merupakan pria single. Sebelum hatinya tergerak mencintai wanita lain, maka aku harus secepatnya menggerakan hatinya agar segera melirikku."
Siapa sangka bahwa Agni yang di kenal Lyra sebagai anak yang penurut kepada orang tuanya bisa melakukan hal sekonyol ini. Hanya demi Ryan dia tak mempedulikan tentang reputasi keluarganya. Biar bagaimanapun Lyra tetap mendungkung sahabatnya itu, apapun keputusan yang di ambilnya.
...****************...
Pukul lima sore, Lyra sudah di tunggu Ryan di tempat sama saat Lyra menaiki mobil Rigel beberapa hari yang lalu. Karena tak ingin membuat orang-orang di kantor menaruh curiga, Rigel sengaja menyuruh sekeratrisnya itu menjemput Lyra di tempat tersebut. Tempatnya memang terbilang jauh dari kantor, tapi tak menutup kemungkinan bila akan ada orang lagi yang akan melihatnya. Lyra pergi menghampiri mobil Ryan dengan kepala yang di tutupi oleh tudung jaket.
Sedikit mendebarkan dan juga gelisah di saat langkahnya yang terburu-buru itu pergi menaiki mobil dari sekertaris Rigel tersebut.
"Bisa lebih cepat pergi membawa mobilnya. Sebelum ada orang lain yang melihatnya," ucap Lyra ketika bokongnya sudah mendaratkan diri di kursi mobil.
Rigel mengangguk. "Baiklah, saya akan segera menjalankan mobilnya dengan cepat."
Dua puluh menit kemudian Lyra sampai di kediaman Rigel Callisto. Saat turun dari mobil, Jay sudah menunggu Lyra di depan rumah. Dan dengan girangnya, Jay berlari menghampiri Lyra.
"Mamah kan kerja, jadi mamah tidak sempat menemui Jay. Jadi maaf, baru hari ini mamah bisa kembali menemui Jay."
Jay menghela. "Seharusnya mamah tinggal di sini bersama papah dan Jay. Agar Jay bisa bertemu dengan mamah setiap hari."
"Mamah kan belum menikah dengan papahnya Jay. Jadi mamah tidak bisa tinggal bersama Jay dan papah."
"Kalau begitu mamah segera minta papah nikahin mamah. Apa perlu Jay memaksa papah agar dia segera menikahi mamah," rengek Jay.
Seketika Lyra salivanya. "Beberapa hari ini papahnya Jay sangat sibuk dengan pekerjaanya, jadi Jay jangan merengek medesaknya untuk segera menikahi mamah Lyra. Karena itu akan sangat mengganggunya.
"Tapi kan..." ucap Jay yang seketika di potong Lyra. "Jay kan anak pintar, Jay harus bersabar. Bila sudah waktunya tiba, kita mungkin akan menikah."
Demi menenangkan Jay, Lyra rela berbohong. Mana mungkin Lyra akan menikah dengan Rigel, hubungannya saja hanyalah sebatas pura-pura. Karena kebohongannya itu, Lyra sampai di buat menyesal. Ia takut bila sampai Jay marah dan kecewa terhadapnya, bila nanti Jay mengetahui status Lyra yang sebenarnya.
Tak lama Lyra berbincang, Lyra pun pergi membawa Jay masuk ke rumah. Dan seperti biasa Lyra mengajak Jay bermain di kamarnya. Tak hanya mengajaknya bermain saja, Lyra juga turut membantu Jay belajar. Lyra sudah seperti layaknya seorang ibu, baru dua kali bertemu saja ia sudah sangat menyayangi Jay layaknya anak sendiri.
"Mamah malam ini menginap di rumah Jay kan."
"Hm, mamah tidak bisa menginap. Mamah harus pulang ke rumah."
Seketika Jay di tekuk kesal dengan raut wajahnya yang nampak akan menangis.
"Jay tidak bisa setiap hari bertemu dengan mamah, setidaknya hari ini mamah menginap di sini."
Lalu tiba-tiba saja Lyra di kejutkan dengan kedatangan Rigel.
"Iya, malam ini mamah akan menginap di sini. Jadi, Jay tak perlu khawatir bila mamah Lyra akan pulang."
"Waktu itu saja mamah berbohong pada Jay, dia bilang tak akan pulang. Tapi saat Jay bangun tidur, mamah Lyra sudah tidak ada di rumah."
Rigel tersenyum mendekat ke arah Jay. "Karena waktu itu besoknya mamah Lyra harus bekerja, jadi mamah Lyra tidak bisa menginap. Tapi lain halnya dengan hari ini, besok mamah Lyra libur bekerja. Jadi malam ini mamah Lyra akan menginap di rumah kita."
Seketika Lyra menarik Rigel keluar dari kamar keponakannya itu.
"Bagaimana bisa saya menginap di sini. Kenapa anda menentukan keputusan ini sendiri, seharusnya anda mencari alasan lain agar Jay tak merengek memaksa saya menginap di sini."
"Aku tak punya alasan lain selain menuruti kemaunya, lihatlah wajahnya seperti akan menangis. Bila sampai kemauannya tak di turuti, semalaman dia akan menangis. Kamu mau anak kita sakit karena menangis semalaman."
"Apa maksudmu anak kita? Sejak kapan kamu dan aku menjadi kita," ucap Lyra sembari mengerenyitkan keningnya.
Rigel mendekat ke arah telinga Lyra. "Sejak aku memutuskanmu untuk jadi kekasih pura-puraku. Ingat ini rumahku, kamu harus bersikap layaknya seorang kekasih di hadapan Jay. Dan aku tak ingin kamu berbicara formal terhadapku, karena itu akan menimbulkan kecurigaan."
Rigel lalu beranjak melangkahkan kakinya. "Sayang, cepat temani Jay di kamarnya, sepertinya dia akan menangis bila tidak kamu temani," ucapnya dengan keras.
"Panggilan apa itu, sangatlah menjijikan terdengarnya," batin Lyra kesal.