
Alasan dari seketaris Rigel mengenakan masker kini terjawab sudah, bukan karena Rigel semena-mena terhadap sekertarisnya itu. Melainkan ini merupakan salah satu rencananya, agar menjahili Lyra dapat berjalan dengan lancar. Karena sebelumnya Lyra pernah bertemu dengan sekertarisnya sewaktu Rigel berkunjung di tempatnya bekerja.
Biarpun di hari pertamanya bekerja sudah di buat kesal oleh Rigel, tapi itu tak apa. Yang penting Lyra tak sampai di pecat olehnya. Ya walaupun ia sangat marah dengan kejahilan Rigel tersebut, ia sudah di buat kelelahan dengan bulak balik turun naik ke lantai atas dan bawah. Terlebih lagi ia juga sudah tiga kali membuat ulang masakannya.
Dan memang benar apa yang di katakan oleh orang, bila Rigel merupakan CEO yang bringis dan pandai berkritik, lebih tepatnya dia merupakan orang yang paling menyebalkan di kantor.
Sepulang dari tempat kerja bukannya pulang dan beristirahat, Lyra mengharuskan pergi ke rumah Rigel untuk menuntaskan syarat yang di berikan CEO menyebalkan tersebut.
Hanya pergi makan malam ke rumahnya bukanlah syarat yang terlalu berat bagi Lyra. Lyra bisa mengatasinya, mungkin bagi Lyra syarat yang di berikan Rigel sangatlah konyol. Dari sikapnya yang menyebalkan itu, Rigel memiliki sisi baik. Yang Lyra pikir syarat yang di beri Rigel akan memberatkannya, nyatanya hanyalah syarat yang sangat mudah untuk di tuntaskan.
Pukul lima sore Rigel menyuruh Lyra untuk menunggunya di tempat yang sedikit lebih jauh dari gedung kantor, agar para karyawan tak melihat Rigel pergi membawa Lyra dengan mobilnya. Seorang CEO sekaligus pewaris dari perusahaan besar, mana mungkin mau di gosipkan dengan pekerjanya, terlebih lagi Lyra hanyalah seorang tukang masak di kantornya.
Hanya sekitar tiga puluh menit, Rigel datang dengan mobil mewahnya. Lyra pun beranjak masuk ke dalam mobil mewah CEO PT Starlight itu. Rigel datang dengan tampilan kerennya yang mengendarai mobil sembari mengenakan kaca mata hitam.
Rigel memang terlihat menyebalkan, tapi setidaknya Rigel memiliki kelebihan dengan paras tampannya. Lyra sampai di buat tak berhenti memperhatikannya. Ia juga tak menyangka bahwa pria tampan yang duduk di sampingnya itu merupakan pria yang telah merenggut malam pertamanya
"Berhenti menatapku, aku memang terlihat tampan. Tapi tak seharusnya kamu terus menatapku seperti itu, karena itu sangatlah menjijikan," lontar Rigel.
"Ck," Lyra berdecik. "Jangan terlalu percaya diri dengan ketampanan anda, karena bagiku anda bukanlah tipe saya."
Rigel memiringkan senyumnya. "Dalam mulutmu aku bukanlah tipemu, tapi hatimu berkata lain. Kamu tahu mengapa saat di klub malam dan di hotel kamu menciumku lebih dulu. Itu karena kamu terpesona dengan ketampananku."
Mulut Lyra sampai menganga dengan ucapan Rigel tersebut.
"Ingat ya pak, saat itu saya sedang mabuk. Mana mungkin orang mabuk bisa berpikir normal."
"Orang mabuk memang tidak berpikir normal, tapi orang mabuk adalah orang yang paling jujur."
"Hey, saya masih ingat jelas kejadiannya. Saat saya mencium bapak, saya hanya mengingat Daniel. Karena saat itu ku pikir pak Rigel merupakan mantan pacar saya, dan tanpa sadar saya mencium pak Rigel."
Seketika Rigel menginjak rem secara mendadak, sampai-sampai Lyra kaget di buatnya.
"Berhenti menyebut nama mantan pacarmu di depan saya."
"Memang kenapa?" Tanya Lyra heran.
"Apa orang brengsek seperti dia pantas di sebutkan oleh mulutmu. Dia bahkan berani menamparmu di depan orang-orang. Jika saya tak mencegahnya, mungkin kamu sudah terkena tamparannya." Rigel lalu menatap sinis Lyra. "Dan berhenti berbicara bila tak ingin saya memecatmu."
Tatapan sinis dan ancaman Rigel mampu membuat Lyra ketakutan, Lyra sampai tak bisa berkata-kata. Yang ia lakukan hanyalah mengangguk lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela di sebelahnya.
Akhirnya selama perjalanan hanyalah ada kesunyian, kecuali suara dari mesin mobil dan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Suasana jadi sedikit menegangkan setelah Lyra di tatapan sinis oleh Rigel.
Tak berselang lama, mobil yang di kendarai Rigel sampai di sebuah rumah mewah dengan pagar besi yang menjulang tinggi di depannya. Tak hanya mewah saja, tapi halaman dari rumah berpagar besi tersebut memiliki halaman yang sangat luas. Lyra sampai terkagum-kagum menatap rumah mewah milik pria CEO tersebut.
Lalu saat Mereka beranjak turun dari mobil, mereka langsung saja di sambut oleh beberapa pelayan yang berpakaian seragam.
"Di mana Jayden?" Tanya Rigel kepada kepala pelayan di rumah tersebut.
"Tuan muda sedang menunggu anda di ruang makan. Saking senangnya dengan hari ulang tahunnya, tuan muda sampai tak mau beranjak dari meja makan karena tak sabar dengan kepulangan anda, tuan."
Rigel tersenyum girang. "Dasar anak itu. Baiklah saya akan pergi menemuinya sekarang." Rigel pun beranjak pergi ke ruang makan dengan langkah yang di ikuti oleh Lyra.
"Jay," panggil Rigel kepada anak laki-laki yang tengah duduk itu.
Anak tersebut menoleh, dan dengan girangnya ia berlari menghampiri Rigel.
"Papah, kenapa lama pulangnya. Jay sudah menunggu papah dari tadi."
Lyra keheranan saat mendengar anak laki-laki yang di panggil Jay tersebut memanggil papa kepada Rigel.
"Bukankah tadi dia bilang keponakannya, mengapa anak itu memanggilnya papah," gumam Lyra di batinnya.
Rigel berjongkok untuk menyamai tinggi dari anak laki-laki tersebut. "Maaf Jay, tadi pekerjaan papah sangat banyak, jadi papah sedikit telat.
Seketika Jay mendongkak menatap Lyra.
"Apakah dia mamah baru Jay?" Tanya Jayden tersenyum.
"Iya, dia mamah barunya Jay," jawab Rigel sembari mengelus kepala Jayden.
Dengan girangnya Jayden tersenyum bahagia. "Asik, akhirnya Jay punya mamah."
Lyra pun menggeleng sembari melambaikan tangannya. "Bukan... bukan, saya bukan," ucapnya yang seketika di potong Rigel dengan bisikannya. "Berpura-puralah menjadi mamahnya, atau mau saya pecat."
Seketika Lyra menelan salivanya. Lagi-lagi ancaman Rigel mampu membuat Lyra ketakutan, mau tak mau Lyra harus menuruti kemauan Rigel bila tak ingin di pecat.
Jay mengulurkan tangannya. "Mamah belum berkenalan dengan Jay. Perkenalkan namaku Jayden, dan mamah bisa memanggilku seperti papah memanggilku, yaitu Jay."
Lyra meraih tangannya, lalu tersenyum menatapnya. "Namaku Lyra, dan Jay bisa memanggilku mamah Lyra."
Dalam batinnya Lyra tak rela bila di sebut mama oleh Jay. Menikah dengan papanya saja tidak, apa lagi jatuh cinta terhadap pria menyebalkan seperti Rigel. Tapi tak apa, karena jika di pikir-pikir Jay tampak menggemaskan di mata Lyra, biarpun memiliki seorang papa yang sangat menyebalkan.
Jay menarik tangan Lyra. "Mamah ayo ikut tiup lilin bersama Jay."
Di meja makan Lyra duduk bertiga dengan Jayden dan Rigel. Ia sudah nampak seperti bagian dari keluarga, biapun ini hanyalah untuk berpura-pura agar membuat Jayden senang.
Lilin di kue tart di nyalakan Rigel, dan mereka berduapun menyanyikan lagu ulang tahun untuk Jayden. Biarpun hanya di rayakan oleh Rigel dan Lyra, Jayden tampak sangat gembira.
"Jay sangat senang, akhirnya mimpi Jay untuk memiliki mamah baru akhirnya terwujud," ucap Jay tersenyum.
"Apa Jay benar-benar senang bila papah menikah dengan mamah Lyra?" Tanya Rigel.
"Tentu saja Jay sangat senang. Jadi papah sama mamah Lyra kapan menikah? Jay sudah tidak sabar ingin tinggal bersama dengan mamah Lyra."
Seketika Rigel menelan salivanya. "Papah sama mamah Lyra tidak akan secepatnya menikah. Karena hubungan kami masih belum lama terjalin, jadi kami perlu pengenalan sedikit lebih lama lagi. Jay harus bersabar ya."
Jayden menghela dengan raut wajahnya yang nampak di tekuk kesal. "Jay tidak suka menunggu, teman-teman di sekolah semuanya memiliki mamah, tapi Jay tidak punya."
Lyra lalu meraih tangan Jayden. "Biarpun mamah Lyra belum menikah dengan papahnya Jay, bukan berarti mamah Lyra bukanlah mamahnya Jay. Karena mulai sekarang, mamah Lyra adalah mamahnya Jay. Jadi Jay tak perlu merasa tidak memiliki mamah."
Ucapan Lyra mampu membuat Jayden kembali tersenyum. Dan di hari ulang tahunnya itu, tak hanya Jayden saja yang senang dengan kehadiran Lyra, tapi Rigel juga merasa senang. Karena berkat Lyra ulang tahun Jayden bisa berjalan dengan sempurna. Walaupun hanya di rayakan dengan begitu sederhana, dengan meniup lilin dan makan malam yang hanya di lakukan bertiga. Baik Rigel maupun Jayden, keduanya sangatlah bersyukur dengan adanya Lyra di rumah.