My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
20. Karenanya Akupun Berdebar



Seusai sarapan Lyra beranjak pergi ke kamar, kali ini Lyra tak mungkin lagi salah masuk kamar. Karena kamar yang di tujunya kali ini adalah kamar yang berada di sebelah kamar Rigel.


Seusai Lyra masuk, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya. Lyra pun terpaksa harus kembali membuka pintu kamarnya itu. Saat di bukannya, kepala pelayan dan beberapa pelayan berdiri di depan kamar sembari membawa banyak pakaian dan sepatu.


"Maaf, bolehkah kami masuk?"


"Oh, tentu saja," ucap Lyra mempersilahkan.


Satu persatu pelayan-pelayan tersebut masuk ke dalam kamar.


"Mengapa kalian membawa banyak pakaian dan sepatu?" Tanya Lyra terheran-heran.


"Tuan Rigel meminta kami membawakan pakaian dan sepatu untuk bu Lyra. Karena beliau tak tahu harus memberi pakaian ganti apa untuk bu Lyra, jadi tuan Rigel meminta saya untuk membawa sebanyak mungkin pakaian dan sepatu untuk bu Lyra, agar bu Lyra dapat memilih pakaian yang sesuai dengan selera bu Lyra," terang kepala pelayan.


"Bukankah ini terlalu berlebihan, padahal aku bisa memakai baju apa saja," ucap Lyra menggeleng.


Pakaian dan sepatu yang di bawa pelayan merupakan barang yang bermerek dan kemungkinan harganya sangat mahal. Bahkan mungkin harga satu pakaian dan sepatu tersebut seharga satu bulan dari gaji Lyra.


"Bukankah pakaian dan sepatu ini sangatlah mahal. Bagaimana bisa dia membeli semua ini secara percuma," gumam Lyra.


Lyra juga tak habis pikir bila Rigel membeli pakaian dan sepatu dalam jumlah banyak, yang jumlahnya mungkin bisa di pakai satu-persatu dalam kurun waktu satu minggu lebih.


Sebelum memilih pakaian dan sepatu mana yang akan di gunakannya, Lyra terlebih dahulu membersihkan diri di kamar mandi. Namun pada saat Lyra selesai membersihkan diri, kepala pelayan beserta beberapa pelayan yang tadi membawa pakaian dan sepatunya, masih belum beranjak pergi dari kamar.


Lyra mengerutkan alisnya. "Hm maaf, mengapa kalian belum beranjak pergi dari kamar? Apa masih ada hal yang belum di selesaikan."


"Kami di perintahkan tuan Rigel untuk membantu bu Lyra mengenakan pakaian," ucap kepala pelayan.


"Tapi saya bisa mengenakannya sendiri, jadi kalian tak perlu repot-repot membantu saya."


"Kami di suruh tuan Rigel tak beranjak pergi sebelum menyelesaikan perintahnya."


Lyra menghela, mau tak mau ia harus menurut bila tak ingin pelayan-pelayan tersebut terkena masalah akibat Lyra yang menolak di bantu. Padahal Lyra bukanlah seorang anak kecil yang perlu di bantu mengenakan pakaiannya, tapi Rigel sangatlah berlebihan untuk seorang Lyra yang hanyalah seorang pekerja untuknya. Layaknya sebagai seorang nyonya di rumah, Lyra di perlakukan spesial oleh pelayan-pelayan tersebut. Di mulai dari membantu memilihkan pakaian, mengenakannya, hingga membantunya memakaikan make up.


"Dia mau mengajak ku pergi kemana, sampai harus seperti ini segala," gumam Lyra di batinnya.


Sekitar satu jam kurang Lyra akhirnya selesai berpakaian rapih. Pakaian yang di kenakan Lyra merupakan pakaian santai namum tampak terlihat modis dan mewah. Namun ada satu hal lagi yang di lewatkan pelayan untuk di bawa Lyra hari ini, yaitu tas. Saat Lyra keluar dari kamarnya satu pelayan menunjukan lima tas kepada Lyra.


"Bu Lyra ingin membawa tas yang mana?"


"Apa lagi ini? padahal saya membawa tas sendiri. Mengapa harus menyediakan tas untuk saya," ucap Lyra.


"Tuan Rigel meminta bu Lyra untuk mengenakan salah satu dari tas yang saya bawa."


Lagi-lagi Rigel membuat Lyra menggeleng, tas-tas yang di bawa pelayan merupakan tas bermerek dengan harga yang cukup fantastis. Bahkan harga dari satu tas saja cukup untuk biaya hidup Lyra selama dua tahun. Lyra sampai tercengang menatap tas-tas mewah yang di tunjukan pelayan kepadanya.


"Jadi, bu Lyra ingin memakai tas yang mana?"


Lyra menunjuk tas yang warnanya sesuai dengan pakaian yang di kenakannya. "Saya akan memilih yang ini saja."


Pelayan tersebut mengulurkan tas yang di pilih Lyra. "Baik. Karena semuanya sudah selesai, bu Lyra bisa segera menemui tuan Rigel dan tuan muda di depan rumah."


Lyra pun segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah mewah milik Rigel Callisto tersebut. Di sana sudah nampak Rigel beserta keponakannya yang tengah menunggunya di dekat mobil mewahnya.


"Apa kamu terlalu berlebihan, pakaian dan sepatu yang kamu siapkan sangatlah banyak. Padahal aku bisa mengenakan apa saja yang kamu berikan." Lyra lalu menunjukan tas yang di bawanya. "Dan ini, tas ini sangatlah mahal. Aku sudah membawa tas seharusnya kamu tak perlu memberikan tas kepadaku."


Rigel tersenyum, dan seketika ia menarik pinggang Lyra. Hingga membuat tubuhnya menempel dengan tubuh Rigel.


"Apa yang kau lakukan," ucap Lyra membrontak melepaskan tubuhnya dari Rigel. Namun, Rigel memegangnya sangat erat hingga membuat Lyra kesulitan terlepas.


"Jay, bisakah kamu berbalik sebentar ke belakang," ucap Rigel tersenyum tanpa sedikitpun pandanganya teralihkan menatap wajah Lyra.


Jayden mengangguk. "Baik."


Jayden lalu berbalik memunggungi Rigel dan Lyra. Dan di saat Jayden tengah berbalik, dengan cepat Rigel mendaratkan bibirnya ke bibir mungil milik Lyra. Yang di lakukan Rigel kali ini bukanlah sebuah kecupan yang di lakukannya tadi pagi, melainkan ini sebuah ciuman panas.


"Deg...


Lyra tersentak kaget, entah mengapa jantungnya malah berdebar dengan cepat. Wajahnya pun memerah dengan mata yang terbuka lebar. Bukannya membrontak, anehnya Lyra malah terdiam kaku sembari menikmati ciuman yang di lakukan Rigel.


"Di kantor mungkin kau hanyalah pekerjaku, tapi di luar kau adalah miliku," bisik Rigel ke telinga Lyra.


Lyra menelan salivanya. "Baik di kantor maupun di luar, aku hanyalah pekerjamu. Hubungan ini hanyalah sebatas pura-pura, jadi kau jangan berharap lebih padaku," ucapnya yang juga berbisik.


Lalu tiba-tiba saja Lyra menginjak kuat kaki Rigel, sontak Rigel pun merintih kesakitan.


"Apa kau sudah gila," ucap Rigel meninggikan suaranya.


"Sayang, jangan berbicara kasar di depan anak kecil. Itu tidak baik," ucap Lyra sembari tertawa puas menatap Rigel. Lyra kemudian menghampiri Jayden yang tengah berdiri memunggunginya itu.


"Jay, apa kamu sudah pegal berdiri seperti ini. Kita masuk ke dalam mobil sekarang yu." Lyra menuntun Jayden masuk ke dalam mobil mewah milik CEO tersebut.


Namun, pada saat Lyra akan hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja Rigel menahannya.


"Kau tak boleh duduk di belakang bersama Jayden."


Lyra mengerutkan alisnya. "Memangnya kenapa?"


"Aku ini bukanlah supir pribadimu, jadi kamu temani aku duduk di depan." Rigel lalu menarik Lyra dan memasukannya ke kursi bagian depan.


Duduk bersebelahan dengan Rigel membuat wanita yang menjadi calon ibu dari Jayden itu merasa canggung. Jantungnya tak bisa berhenti berdebar cepat, karena pikirannya tak henti-hentinya membayangkan ciuman yang di lakukan Rigel tadi. Padahal berciuman dengan Rigel bukanlah kali pertama baginya. Tapi entah mengapa, kali ini Lyra tak bisa bersikap biasa saja. Lyra sampai tak bisa menunjukan wajahnya ke arah Rigel. Lyra terus saja memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Bahkan di saat Rigel memulai obrolan, Lyra tak bisa menatapnya secara langsung.


Karena rasa cangung dan jantungnya yang berdebar cepat, membuat Lyra tak bisa berhenti menghela nafasnya.


"Sedari tadi kau menghela, apakah kau tak nyaman karena duduk bersebelahan denganku," ucap Rigel sembari mengemudikan setir.


Lyra menelan salivanya. "Ti..tidak. Hanya saja aku ingin segera sampai ke tempat tujuan kita. Jadi kapan kita akan sampai?" Tanyanya bernada gugup.


"Sebentar lagi kita akan sampai." Rigel tersenyum samar dengan mata yang hanya fokus menatap ke arah depan. "Apa kamu seperti ini karena tadi kita berciuman."


"Kapan kalian berciuman?" Lontar Jayden.


Seketika Lyra memukul lengan Rigel. "Tak bisakah kau sedikit mengontrol ucapanmu. Lyra lalu tersenyum menatap ke arah Jayden. "Jay, apa yang kamu dengar barusan jangan kamu tanggapi. Kami tak benar-benar berciuman, papah Rigel hanya bercanda."


Rigel tergelak. "Iya Jay, yang kamu dengar barusan hanyalah bercanda. Tapi tak menutup kemungkinan itu bukanlah bercanda."


Sekali lagi Lyra memukul lengan Rigel sekeras mungkin. "Apa setiap hari kamu selalu mengajarkan hal yang tak benar kepada anak kita."


Rigel kembali tergelak. "Ciee anak kita. Akhirnya sekarang kamu bisa mengakuinya."


Dengan refleks Lyra menutup mulutnya dengan tangan. "Jangan salah paham," ucapnya dengan suara samar agar tak di dengar oleh Jayden.


Semakin cepat saja jantung Lyra berdebar, ia tak bisa menahan malu di samping Rigel. Lyra kembali memalingkan wajahnya sembari menepuk-nepuk dadanya. Sudah terlampau malu Lyra terhadap Rigel, tadi pagi ia sudah di buat malu karena mengingau dan sekarang Lyra di buat malu kembali karena ucapannya.