My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
44. Berbohong Demi Kebaikanmu



Ketika terbangun, Lyra lagi-lagi tak mendapati Rigel berbaring di sebelahnya. Yang di lihatnya hanyalah bantal dan jam waker yang di letakan tak jauh dari tempat tidurnya. Waktu masih menunjukan pukul 05.30, tapi Rigel sudah tak nampak ada di sampingnya. Lyra pun beringsut turun dari tempat tidur.


Begitu pun dengan kamar mandi, yang pintunya sudah terbuka tapi Rigel juga tak nampak di sana. Lyra keluar dari kamar dan terdengar orang yang tengah memasak di dapur. Rumah kedua milik Rigel ini memang tak sebesar rumah utamannya, jadi orang yang tengah memasak di dapur pun dapat terdengar jelas ketika Lyra keluar dari kamar.


Lyra pun melangkahkan kaki ke dapur, karena pelayan yang tengah memasak itu mungkin akan tahu dengan keberadaan Rigel. Namun saat langkahnya sudah berada di dapur, yang di kira Lyra pelayan yang tengah memasak namun ternyata itu adalah Rigel.


"Ini masih terlalu pagi, tapi kamu sudah memasak. Sejak kapan kamu bangun?" Tanya Lyra menghampiri.


Rigel pun tersenyum ketika Lyra datang menghampirinya. "Mungkin sejak tadi."


Kitchen counter sangat berantakan, bumbu dan bahan-bahan untuk memasak berceceran di meja. Rigel benar-benar sangat berusaha mengolah makanan, walau kitchen counter sudah tak enak di pandang.


Lyra sampai tergelak melihatnya. "Sepertinya kamu perlu bantuan, apa perlu ku bantu?"


"Tidak perlu, lagi pula aku sengaja memasak hanya untuk menyiapkan sarapan untukmu. Bila kamu membantuku, makanan ini tak akan menjadi makanan hasil buatanku sendiri. Jadi, kamu hanya perlu duduk dan menungguku saja."


"Hm, baiklah." Lyra pun beranjak duduk ke meja makan.


Rigel tampak sangat fokus memasak hingga pandangannya hanya tertuju pada ponsel dan makanan yang tengah di olahnya. Ia memasak hanya bermodal pengetahuan dari video di ponselnya, bisa di bilang Rigel tak pandai memasak. Mungkin memasak bukanlah kebiasan bagi Rigel, karena tak biasa itulah Rigel memasak sangat berantakan.


Banyak sisa bahan makanan yang terbuang sia-sia, seperti sayuran yang di pangkas setengahnya dan sisanya ia buang. Ataupun seperti bahan-bahan yang terjatuh di lantai hingga pada akhirnya di buang juga. Lyra sampai-sampai tertawa melihat Rigel yang memasak sangat tidak profesional itu.


Bahkan sudah dua kali Rigel mengulang masakannya. Karena dua kali itu ia gunakan untuk menggosongkan makanan. Lyra pun sampai menggeleng melihat Rigel yang panik ketika makanan yang di buatnya itu selalu saja gosong.


"Memangnya apa yang sedang kamu buat, hingga sampai-sampai dua kali kamu menggosongkan makanan," ucap Lyra dengan tawa.


"Aku sedang membuat burrito. Tadinya aku ingin membuatkanmu sarapan ala orang Amerika. Mungkin saja dengan aku membuatkanmu burrito, itu bisa mengingatkanmu tentang masa kuliahmu di sana. Tapi sepertinya ini benar-benar sangat gagal," ucap Rigel di tekuk kesal menatap burrito gosong di atas meja.


"Padahal aku pandai membuatnya, tapi kamu tak mau di bantu. Karena kamu memang ingin membuatkanku sarapan. Bagaimana bila kamu membuat makanan yang kamu bisa saja," saran Lyra.


Seketika Rigel menggaruk tengkuknya walau tak terasa gatal. "Aku hanya pandai memasak telur ceplok dan kentang goreng. Walau hanya telur ceplok dan kentang goreng saja tapi rasanya enak, bahkan Jaydenpun sangat menyukainya."


"Bila memang itu yang kamu bisa, kenapa tidak buat itu saja. Bila memang Jayden menyukainya, aku pun pasti akan menyukainya."


Walau kecewa tak bisa membuatkan Lyra burrito, tapi setidaknya Rigel bisa membuatkan Lyra sarapan. Walaupun sarapan yang ia buat sangatlah sederhana.


Namun ketika mereka mulai sarapan, Rigel seperti tak nafsu makan. Hanya beberapa suap ia melahap sarapannya, sisanya ia gunakan hanya untuk di mainkan dengan garpunya. Makanan yang di buatnya memanglah sangatlah sederhana, hanya sekedar telur ceplok setengah matang yang di dampingi dengan kentang goreng. Tapi makanan yang di buatnya itu adalah makanan spesial yang bisa mengingatkannya pada Jayden.


Hatinya sudah benar-benar di buat sakit ketika melihat makanan yang di buatnya tak bisa di santap bersama dengan Jayden. Rigel memang baru satu hari di tinggal Jayden, tapi rasanya seperti berbulan-bulan lamanya ia di tinggal. Dalam hati dan pikirannya ia selalu bertanya-tanya, sedang apa dia di sana atau apa dia menangis ketika mengingatnya. Terlebih lagi Jayden di bawa paksa, dan di bawanya pun bukan langsung oleh kakeknya sendiri melainkan oleh orang suruhan kakeknya. Hingga saat ini hati dan pikiran Rigel sangat kacau karena tak bisa berhenti memikirkan keponakannya tersebut.


Sontak Lyra pun di buat khawatir ketika menatap Rigel mengeluarkan air matanya. "Apa kamu baik-baik saja? Sepertinya kamu tidak nafsu makan, apa karena kamu terlalu memikirkan Jayden."


Dan lagi-lagi Rigel selalu saja tersenyum untuk menutupi kesedihannya seperti tadi malam. "Aku hanya sedang memikirkan pekerjaanku yang menumpuk."


"Bila memang pekerjaan yang kamu pikirkan, lalu mengapa kamu sampai menangis?"


Rigel bukannya menjawab jujur, ia malah berbohong untuk menutupi kesedihannya itu dari Lyra. "Mataku hanya sedikit perih karena semalam aku tidur terlalu larut. Sepertinya aku harus segera mandi agar tak telat pergi ke kantor." Rigel lalu beringsut dari tempat duduknya. "Bila kamu sudah selesai sarapan, kamu bisa langsung mandi juga karena pelayan sudah menyiapkan pakaian untukmu."


Rigel bukannya tak mau berkata jujur, ia hanya tak ingin membuat Lyra ikut bersedih karenanya. Terlebih lagi, Rigel bersedih karena terlalu larut memikirkan Jayden. Ia hanya takut bila ia berkata jujur, Lyra mungkin akan mengucapkan kata pisah seperti kemarin. Rigel pun memilih menutupi kesedihannya dari Lyra dan bungkam ketika di tanyai tentang keadaannya.


Namun biarpun Rigel menutupi kesedihannya, tapi Lyra sangat tahu bila raut sedihnya saja nampak jelas terlihat di matanya. Lyra tak bisa berbuat apa-apa dan tak bisa pula menenangkan hati Rigel, bila Rigel terus menghindarinya ketika di tanyainya.


**


Pukul tujuh pagi Lyra dan Rigel pun beranjak pergi ke kantor. Selama perjalanannya, wajah Rigel tampak pucat pasi seperti orang yang tengah sakit pada umumnya. Matanya pun tampak terlihat seperti orang yang kurang tidur, bahkan tubuhnya sampai mengeluarkan banyak keringat seperti orang yang kelelahan.


"Sepertinya kamu tidak terlihat baik-baik saja. Apa lebih baik kita pergi dokter," ucap Lyra.


"Aku sangat sehat dan baik-bai saja, untuk apa aku pergi ke dokter."


Selalu saja Rigel berkata baik-baik saja, padahal Lyra sangat tahu bila keadaan Rigel tidak sedang baik. Semua yang ada pada Rigel dapat Lyra rasakan. Di mulai dari raut wajahnya sampai ketika ia berucap dapat Lyra rasakan bila memang Rigel sedang tak baik-baik saja. Bila di bandingkan dengan sikap angkuh Rigel, Lyra lebih tak suka dengan sikap Rigel yang menutupi keadaannya dari Lyra. Bila memang Rigel adalah kekasih Lyra, seharusnya Rigel dapat mencurahkan semua isi hatinya pada Lyra. Dan tak perlu menutupi semuanya, hanya karena demi kebaikan Lyra ataupun hubungannya. Lyra sampai menghela kesal dengan sikap Rigel tersebut.


Dengan cara menutupi semuanya dari Lyra, mungkin bagi Rigel adalah cara terbaik agar Lyra juga tak ikut merasakannya. Namun cara tersebut salah, justru seperti inilah Lyra malah semakin bersedih.


"Tak perlu ada yang di tutup-tutupi. Aku tahu kamu sedang tak baik-baik saja, aku tahu bila kamu sangat terpukul atas perginya Jay. Dan aku pun tahu bila tubuhmu sedang tak baik-baik saja. Bisakah kamu berterus terang tentang keadaanmu," lontar Lyra kesal.


Rigel menghela kasar nafasnya. "Sudah ku katakan bila aku memang baik-baik saja, Lyra. Bisakah kamu mempercayaiku," ucapnya meninggikan suara.


Lyra sangat geram dengan Rigel yang meninggikan suaranya. Ia pun refleks ikut meninggikan suaranya. "Aku tidak bisa mempercayaimu, bila apa yang ku lihat ini semuanya sangat terlihat jelas." Lyra lalu menghela nafasnya. "Apa kamu menutupi semua itu karena kebaikanku. Bagiku ini bukanlah hal baik untukku. Justru karena seperti inilah, aku jadi semakin mengkhawatirkanmu. Aku ini kekasihmu tapi seperti orang lain yang tak perlu tahu tentang keadaanmu."


"Iya memang benar aku masih sangat terpukul karena perginya Jay, dan memang benar tubuhku sedang sakit. Tapi, apa setelah aku memberitahumu, kamu tidak akan menyalahi diri seperti kemarin. Aku sengaja bohong bila aku baik-baik saja karena aku takut bila kamu akan berniat pisah denganku hanya karena kebaikanku."


"Semalam aku sudah berusaha menyakinkan diri untuk tetap tinggal di sisimu. Dan juga aku akan berusaha untuk menjadi tempat bersandarmu. Tapi apa? Kamu malah membuatku seperti orang lain. Aku tak suka bila kamu tidak berterus terang seperti ini. Bila kamu sedih akupun harus tahu dan bila kamu sakit akupun harus tahu."


Seketika Lyra pun menangis sembari memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela di sampingnya.