
Lyra datang dalam keadaan wajahnya yang nampak sendu dengan matanya yang sembab, hingga membuat Axel tak bisa membiarkannya pergi dalam keadaan begitu, terlebih lagi ini sudah hampir pukul sembilan malam. Melihatnya pun membuat hati Axel ikut juga merasa bersedih. Axel tak tahu apa yang membuat sahabatnya itu bersedih, hingga membuatnya berani datang menghampiri Axel padahal Axel sendiri tengah marah padanya. Ia ingin sekali bertanya, ada apa dengan Lyra yang datang dengan wajah sendunya. Tapi ia sulit untuk melontarkan apa yang membuatnya penasarannya itu, karena Axel terlalu canggung setelah lamanya ia menjauh dan setelah terakhir kali ia mengungkap perasaannya kepada Lyra. Dan sudah lama sekali Axel tak melihat Lyra sejak kali terakhir ia bertemu, di mana Lyra memberitahu tentang hubungannya yang resmi dengan Rigel.
Begitu Axel tengah menjauh untuk berusaha melupakan perasaannya, Lyra malah datang dalam keadaan wajahnya yang sendu. Hingga akhirnya Axel tersentuh dan tega melihat wanita yang sangat di cintai itu bersedih. Axel memberikan segelas coklat panas untuk Lyra. Karena memang hubungannya dengan Lyra tak seperti dulu lagi, dan karena Axel sedang marah terhadap Lyra yang tak bisa membalas perasaannya. Axel meletak gelas yang berisi coklat panas itu secara kasar dan tak sopan.
"Cepat habiskan, aku ingin pulang," lontar Axel ketika dirinya mendaratkan diri di kursi di depan Lyra duduk.
Tangannya bergetar ketika Lyra meraih gelas yang berisi coklat panas buatan Axel tersebut. Ia menyeruput minumannya sembari menitikan air matanya. Sampai membuat Axel pun panik ketika melihatnya, ia kira Lyra menangis mungkin karena dirinya yang bersikap dingin dan kasar.
"Kamu menangis? Aku minta maaf sudah kasar kepadamu," ucap Axel sembari menyeka bulir air di pipi Lyra.
Tangis Lyra malah semakin pecah dan menangis keras sembari sesegukan. Axel pun semakin panik saja melihatnya.
"Ada apa denganmu? Apa itu karena aku, maaf sudah bersikap tak sopan padamu."
"Hiks... Rigel...Rigel." Berulang kali Lyra menyebut nama Rigel sembari sesegukan.
Sontak Axel pun beringsut dengan cepat dari tempat duduknya, lalu mendekap erat tubuh Lyra. Axel menghela. "Ku pikir kamu menangis karenaku, ternyata karena dia kamu menangis. Seharusnya kamu tak berpacaran dengan pria brengsek seperti dia. Kenapa dia bisa membuatmu menangis seperti ini.
"Bukan karena Rigel brengsek aku menangis."
"Lalu kenapa kamu menangis dan berulang kali kamu menyebut namanya."
"Aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya, tapi aku tak sanggup bila harus berpisah dengannya."
"Bila kamu masih mencintainya, lalu mengapa kamu ingin mengakhiri hubunganmu. Kamu tak perlu menangis dan tak perlu berpisah bila memang kamu dan dia masih saling mencintai."
"Hubungan kami harus usai, bila ingin Jayden pulang kepadanya. Sekarang Jayden sakit setelah di pisahkan jauh oleh kakeknya dari Rigel."
Lyra lalu menceritakan semuanya kepada Axel, menceritakan dirinya yang tak di restui oleh ayah dari kekasihnya. Serta tentang Rigel yang terpuruk setelah di tinggal pergi Jayden. Selama ia menceritakannya, Lyra terus menyalahi diri yang tetap bertahan walau hubungannya sangatlah bermasalah. Hingga membuat dirinya merasa egois karena tetap berada di dekat Rigel, padahal di balik hubungannya tersebut telah membuat hubungan seorang anak dan ayahnya rusak.
Axel kembali menyeka air mata di kedua pipi Lyra. "Kamu tak perlu menyalahi diri, ini bukanlah salahmu. Semua ini terjadi karena sebuah perasaan yang memang tak bisa di salahkan."
Axel seketika mengerenyitkan keningnya. "Akan mudah merelakan, apa maksudmu?"
"Berpura-puralah jadi kekasihku. Karena dia sempat merasa cemburu bila ku dekat denganmu." Lyra semakin erat saja memegang tangann Axel sembari memohon. "Kumohon bantulah aku."
Axel menghela sembari menggaruk tengkuknya walau tak terasa gatal. "Baiklah, akan ku bantu."
**
Ketika malam sudah mulai larut dan ketika Lyra sudah menghabiskan coklat panasnya, Axel pun mengantar Lyra pulang. Selama perjalanan pulangnya, Lyra masih tetap sama. Matanya tak mau berhenti menitikan air matanya, serta wajahnya terus saja menunjukan ekspresi sendunya. Axel sudah berusaha keras menenangkan Lyra, tapi Lyra tetap saja tak mau berhenti larut memikirkan Rigel.
Lyra masih terlalu mencintai Rigel, tak tahu harus bagaimana untuk dapat cepat merelakannya. Bila di bandingkan dengan kekasihnya yang dulu, Rigel tak ada tandingannya. Pria baik yang dapat merelakan apapun demi Lyra. Merelakan hubungannya dengan ayahnya hancur, rela mempertahankan hubungan walau ia harus terpisah dengan keponakan kesayangannya, serta rela meninggalkan posisinya sebagai CEO demi Lyra. Bagaimana bisa Lyra dapat mengikhlaskan pria sebaik dan setulus Rigel.
Padahal hubungannya belum lama terjalin, terlebih lagi Rigel dapat di percaya karena rasa sukanya terhadap Lyra memang sudah lama di rasanya. Biarpun ia sempat berganti-ganti pasangan, bukan berarti ia akan menghianati Lyra. Karena alasan Rigel berganti-ganti pasangan itu adalah karena ia sendiri tak bisa mendapatkan Lyra. Dan sekarang setelah bisa mendapatkan Lyra, ia hanya bisa menggenggamnya dalam waktu yang singkat.
Lalu Rigel pernah berkata, bila dirinya kehilangan Lyra maka dia akan sama terpuruknya seperti saat di pisahkan dengan Jayden. Lyra takut bila Rigel akan lebih terpuruk di bandingkan di tinggalkan dengan Jayden. Di tinggal Jayden saja Rigel sudah tak bisa menjaga kesehatannya. Tak bisa makan dengan teratur, dan bahkan ia jarang tersenyum maupun tertawa. Mungkin bila saat Rigel di tinggalkan Jayden, ada Lyra yang akan mengingatkannya makan bahkan yang akan terus memperhatikan kesehatannya. Tapi bila Rigel di tinggal Lyra maka siapa yang akan mengingatkannya makan dan siapa yang akan memperhatikan kesehatannya. Lyra khawatir Rigel akan sakit bila nanti Lyra sudah benar-benar mengakhiri hubungannya.
Tak lama kemudian, akhirnya Axel pun dapat membawa Lyra pulang sampai rumahnya. Sebelum turun dari mobil, Lyra segera merapihkan diri. Menghapus air matanya yang tersisa di mata dan di pipinya, serta merapihkan rambutnya yang memang sangatlah berantakan. Lyra tak ingin orang tuanya melihat keadaan dirinya yang tampil berantakan akibat sehabis menangis. Sudah cukup tadi Lyra membuat Rigel khawatir, Lyra tak ingin juga membuat orang tuanya sama khawatirnya seperti Rigel.
"Terima kasih sudah mau mengantarku pulang," ucap Lyra yang lalu segera turun dari mobil sahabatnya tersebut.
Namun, belum juga Lyra memasuki gerbang rumahnya, tiba-tiba saja Axel turun dari mobil yang seketika ia menarik tubuh Lyra untuk di peluknya.
"Aku tahu melupakan Rigel mungkin akan sulit bagimu. Tapi mungkin nanti kamu akan cepat melupakannya dan akan terbiasa tanpa ada dia di sisimu. Jangan terus menangis dan tidurlah dengan nyenyak, Lyra."
Ucapan Axel memang mampu menenangkan Lyra, tapi ucapannya malah membuat Lyra kembali menitikan air matanya. Bukan karena ia teringat akan Rigel, tapi ia menangis karena terharu atas ucapan sahabatnya tersebut. Ternyata di balik keterpurukannya ada orang yang yang mampu memberinya semangat.
Lyra mengangguk. "Iya, akan ku pastikan malam ini aku tidur nyenyak. Terima kasih Axel."
Axel melepaskan pelukannya, lalu tersenyum menatap Lyra sembari menyeka bulir air di kedua pipi sahabatnya itu. "Tidurlah yang nyenyak cengeng, dan bermimpilah yang indah."