My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
61. London



Dua minggu setelahnya Rigel terbang ke London, begitupun dengan Ryan yang juga ikut sembari memboyong istri dan anaknya. Bila Ryan memboyong keluarganya, lain halnya dengan Rigel yang pergi seorang diri tanpa Jayden. Bukan Rigel tak mengajaknya ikut tinggal di London, tapi Jaydenlah yang tak mau ikut pergi ke kota yang memiliki julukan The Smoke itu. Mungkin karena semejak Rigel bersikap dingin, Jayden tak lagi ketergantungan terhadap Rigel. Di tambah lagi usianya sudah menginjak sembilan tahun. Dan semakin bertambahnya usia, Jayden tak lagi semanja dulu.


Baru sampai di apartemen, Rigel sudah di buat kecewa dengan apartemen yang di nilainya tak semewah yang di pikirkannya. Apartemen mungkin bisa di bilang akan lebih kecil dari rumahnya yang berada di Indonesia, tapi ini jauh lebih kecil dari yang Rigel duga. Satu kamar tidur yang kamar mandinya terpisah di luar, serta dapur sempit yang menyatu dengan ruang tengah atau ruang tamunya, ini apartemennya yang sering di gunakan orang-orang biasa pada umumnya. Seorang Rigel Callisto yang sering di beritakan sebagai raja investor atau sering di sebut sebagai pewaris dari perusahaan PT Starlight, di berikan tempat tinggal yang kesannya di gunakan oleh orang yang keuangannya jauh berada di bawahnya.


Rigel menghela kesal menatap sekeliling apartemen yang akan di tinggalinya itu. "Apa benar ini tempat yang akan ku tinggali selama berada di London?"


"Tentu saja benar, dan saya sudah memastikannya," imbuh Ryan.


Rigel menatap tajam Ryan. "Bukankah aku menyuruhmu untuk mencarikan tempat tinggal yang layak."


"Ini sangat layak pak, biarpun kecil tapi pemandangan dari apartemen ini sangat indah. Ketika menatap jendela, anda bisa menikmati pemandangan kota London."


"Ck..ck." Rigel berdecik. "Apa kau sedang bercanda. Ini bukanlah tempat tinggal yang layak untuku. Aku memintamu mencarikan apartemen yang mewah untuku." Rigel menghela kasar nafasnya. "Ruangan yang sempit serta kamar mandi yang terpisah dengan kamar tidur. Apa ini yang di sebut layak. Aku sangat cukup uang untuk membeli apartemen yang luas dan mewah, tapi mengapa kamu mencarikanku apartemen seperti ini."


Ryan menelan salivanya, lalu menundukan kepalanya. "Maaf pak, saya pikir anda akan suka. Karena apartemen ini sangat dekat dengan tempat kerja, mungkin anda tidak akan terlambat bila tinggal di sini."


"Ini bukan di Jakarta yang jalanannya sangat macet, tapi ini London. Selama tempat tinggalku masih di sekitaran kota London aku tak mungkin bisa telat berangkat kerja." Rigel membuang nafasnya. "Jika begini aku akan tinggal di resort yang berada di Chichester."


"Dari Chichester ke London bisa memakan waktu dua jam bila menggunakan mobil. Itu lumayan cukup jauh dari tempat kerja. Bukankah anda seorang pekerja keras, bila anda kerja lembur anda tak akan cukup untuk beristirahat. Jika tempat yang di tinggali anda jauh dari kantor."


"Lalu aku harus bagaimana, apa perlu sementara ini aku menyewa kamar di hotel sebelum kamu berhasil mencarikan tempat tinggal untukku."


"Tidak pak, anda harus tetap tinggal di sini. Biarpun kecil anda pasti akan suka karena suatu alasan."


"Alasan, maksudmu apa? Tak akan ada alasan untukku menyukai apartemen seperti ini."


Rigel menggeleng. "Kamu sampai membawa novel-novel itu kesini. Memangnya ada apa dengan novel itu, sampai kamu bersikukuh agar aku membacanya."


"Bila ingin tahu anda harus membacanya." Ryan kembali menelan salivanya. "Hm, bila tidak ada lagi yang anda perlukan, saya pamit pulang karena istri dan anak saya sedang menunggu di rumah."


"Baiklah sana pergi," ucap Rigel dengan kesal.


Biarpun tak mau, Rigel terpaksa harus tinggal di apartemen yang menurutnya sangat tak layak di tinggali oleh seorang pria kaya seperti Rigel. Karena Rigel terlalu capek bila harus mencari hotel setelah perjalanannya dari Indonesia ke kota London yang memakan waktu selama 22 jam. Setidaknya apartemen yang di tinggalinya masih layak untuk di tempati. Biarpun saat ia mulai membaringkan tubuhnya di ranjang, Rigel tak bisa dengan cepatnya tertidur karena tak biasa tidur di kamar yang luasnya hanyalah seperempat dari kamar tidunya yang berada di Indonesia.


Di meja yang berada di samping tempat tidurnya, terdapat novel-novel di letakan Ryan. Tapi Rigel sama sekali tak berniat untuk membacanya, biarpun saat ini ia sama sekali tak bisa tertidur lelap. Ia hanya membaca beberapa tulisan di cover tersebut tanpa membaca isi dari novel tersebut. Ada satu hal yang membuatnya sampai harus mengerutkan alisnya. Yaitu ketika ia melihat perusahaan penerbitan dari buku tersebut, merupakan perusahaan yang di miliki oleh teman dekatnya sewaktu ia menjenjang pendidikan di universitas.


"Bukankan penerbitan ini milik Justin." Rigel semakin mengerutkan alisnya. "Apa Ryan ingin aku membacanya karena ingin aku tahu, bahwa perusahaan Justin yang menerbitkan buku ini." Rigel tergelak. "Alasan yang sangat konyol, bila aku harus menyukai apartemen ini karena Justin. Dan tak mungkin Justin tinggal di apartemen yang sama sepertiku ini."


...****************...


Paginya Rigel langsung melakukan rutinitasnya seperti biasa yang ia lakukan di pagi hari, yaitu lari pagi. Di hari ini Rigel masih ada waktu satu hari untuk beristirahat sebelum esok ia benar-benar bekerja. Ia berlari di jalanan yang tak jauh dari apartemennya. Sembari berlari, ia juga mengamati jalanan yang tak pernah ia injak sebelumnya.


Hingga tak lama ia berlari, salah satu tali sepatunya terlepas. Rigel pun terpaksa harus membetulkan tali sepatunya bila tak ingin terjatuh. Namun, di saat matanya tengah fokus menatap tali sepatu yang tengah di betulkannya, tiba-tiba seseorang lewat di sampingnya. Orang yang lewat tersebut terdengar seperti tengah berteleponan. Namun anehnya, nada bicara serta suara orang tersebut persis seperti Lyra. Bahkan wangi parfumnya pun tercium seperti parfum yang sering di gunakan mantan kekasihnya itu.


Spontan Rigel pun mendongkak untuk memastikannya, tapi terlalu banyak orang yang berlalu lalang hingga membuatnya kesulitan untuk memastikan bahwa yang barusan lewat di sampingnya itu adalah Lyra. Rigel pun berlarian mencarinya, karena bisa jadi yang barusan lewat tersebut adalah Lyra.


Rigel mencari ke setiap tempat dan setiap jalanan, namun pencariannya tak membuahkan hasil. Rigel sampai membuang kasar nafasnya, karena untuk apa mencarinya di London. Lyra tak mungkin ada London, karena ia tidak tinggal di London. Bodoh bila Rigel harus susah payah mencarinya di London, sementara orang yang di carinya berada jauh di New York.


"Apa aku terlalu merindukannya, sampai-sampai aku bersikap bodoh. Mencari orang yang jelas-jelas tak mungkin ada di sini," gumam Rigel di batinnya.