My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
54. Bisakah Aku Melupakannya



Berpisahnya Lyra dengan Rigel akan menjadi kesempatan untuk Axel kembali berharap. Antara bersedih dan juga bahagia untuk Axel. Bersedih karena melihat Lyra yang bersedih atas perpisahannya dengan Rigel. Bahagia karena Axel bisa kembali mengharapkan wanita yang kini statusnya sedang tak di miliki pria manapun. Tapi bukan berarti Axel malah berkata yang tak seharusnya di ucapkan di waktu yang salah. Axel menyesal karena telah mengucapkan hal yang seharusnya tak di ucapkan, di saat Lyra sedang membutuhkan tempat untuk bersandar tapi malah membuat hal yang tak nyaman untuknya.


"Untuk perkataanku yang tadi, aku minta maaf. Jangan di anggap serius, anggaplah ucapanku tadi hanyalah bercanda," imbuh Axel ketika sudah menepikan mobilnya di depan rumah Lyra.


Lyra menghela. "Entahlah. Apa kamu benar-benar sudah tak mau menganggapku sebagai sahabat?"


"Apa kamu ingin hubungan persahabatan kita kembali lagi. Bila memang itu yang kamu mau, aku bersedia kita kembali seperti dulu."


Lyra tersenyum. "Tentu saja aku ingin hubungan persahabatan kita seperti dulu."


Axel membalas senyumannya. "Baiklah, hubungan kita akan kembali seperti semula. Aku senang bila kamu tersenyum seperti itu."


Mungkin bagi Lyra, Axel hanyalah seorang sahabatnya. Tapi bagi Axel, Lyra bukanlah hanya sekedar sahabat sematanya saja. Melainkan wanita yang paling spesial di hidup dan hatinya. Mungkin hubungan persahabatannya akan kembali seperti dulu, tapi bukan berarti Axel memutuskan harapannya untuk menjandikan Lyra sebagai miliknya seutuhnya dan menjadikan hubungannya ke tahap hubungan yang spesial. Karena bila terus berharap mungkin saja harapan itu suatu hari akan terwujud. Dan kini harapannya semakin besar, karena saat ini Lyra bukan lagi milik pria lain.


...****************...


Berhari-hari setelah berpisah dengan Rigel, Lyra sudah jarang tersenyum. Wajahnya terus menunjukan ekspresi sendunya. Dan sudah berhari-hari juga Lyra jarang berbicara dengan siapapun, bahkan dengan orang tuanya sekalipun Lyra jarang berbicara panjang lebar. Bukan karena marah ia tak mau berbicara tapi melainkan karena hatinya yang masih bersedih atas perpisahannya dengan Rigel. Mungkin hubungannya hanyalah terjalin dalam waktu singkat, tapi Rigel adalah pria yang sudah membuat hidupnya sangat berarti. Hingga saat ini di hatinya masih tersimpan nama Rigel. Karena perpisahannya itu, hari-hari Lyra tak lagi ada yang spesial.


Bila ketika Lyra rindu dengan Rigel, tiap malam ia selalu membaca pesan-pesan lama dari Rigel di ponselnya. Dan tiap kali itu pula Lyra selalu menangis. Tak pernah sekalipun Lyra tak menangis bila mengingat akan Rigel, terutama saat terakhir kali melihat Rigel yang marah setelah Lyra mengecup Axel.


Ingin sekali Lyra menyesal karena telah menyakiti hati Rigel, tapi penyesalan itu tak bisa di rasakannya karena langkah yang ia ambil adalah hal yang terbaik menurutnya.


Lalu setelah berhari-hari Lyra berpisah dengan Rigel dan setelah berhari-hari Lyra mengundurkan diri dari pekerjaannya, Lyra kini mendapatkan pekerjaan baru di salah satu perusahaan terkemuka. Pekerjaannya kembali seperti semula menjadi bagian marketing di perusahaan.


Dan hingga sudah berminggu-minggu berlalu, Lyra masih saja larut dalam kesedihannya. Demi dapat melupakan Rigel, Lyra selalu menyibukan diri dengan pekerjaannya. Mungkin akhir pekan Lyra libur dari pekerjaannya di kantor, tapi bukan berarti ia tak menyibukan diri. Ia menyibukan diri di akhir pekan dengan cara membantu orang tuanya di rumah makan. Walaupun ayah dan ibunya selalu melarangnya pergi ke rumah makan.


Sejak saat itu Lyra tak lagi pergi berkumpul bersama Agni dan Nata, karena ia selalu saja menyibukan diri dengan pekerja-pekerjaannya. Lyra selalu menolak ajakan dari teman-temannya, terutama ajakan Agni. Karena tiap kali Agni mengajaknya bertemu, temannya itu selalu saja meminta Lyra untuk kembali kepada Rigel. Bahkan Nata sekalipun selalu membujuk Lyra untuk kembali kepada pria yang masih mendiami hatinya itu.


Lalu suatu ketika di akhir pekan, sekertaris Rigel datang ke rumah makan. Hingga membuat Lyra bertanya-tanya dengan kedatangan dari sekertaris mantan kekasihnya tersebut. Karena baru kali ini Lyra melihat Ryan datang ke rumah makan milik orang tuanya itu. Sampai membuat Lyra merasa curiga dengan kedatangan Ryan tersebut. Namun walau Lyra mencurigainya, Lyra tetap melayaninya seperti pengunjung lain pada umumnya.


"Bisakah aku berbicara sebentar saja denganmu," imbuh Ryan ketika Lyra meletakan pesanan miliknya.


Lyra menghela. "Apa kamu segaja datang kesini karena di suruh Rigel."


Ryan menggeleng cepat. "Tidak, aku sengaja datang kesini atas kemauanku sendiri. Ada hal yang ingin ku bicarakan padamu."


"Tak bisakah kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan."


Seketika kedua alis Lyra mengerenyit. "Apa maksudmu, sama-sama berjuang untuk apa?" Tanyanya terheran-heran.


"Kamu masih menginginkan pak Rigel kan. Kenapa kamu tidak mau mempertahankan hubunganmu? Aku menginginkan Agni, dan kita bisa sama-sama berjuang mendapatkan mereka. Kamu kembali kepada pak Rigel dan aku akan mendapatkan Agni."


Lyra menghela kasar nafasnya. "Orang seperti kita bukanlah orang yang pantas untuk bersanding dengan mereka. Lebih baik kamu hapus keinginanmu itu."


"Untuk apa menghapusnya, aku dan Agni saling menyukai termasuk kamu dengan pak Rigel. Oleh karena itu aku harus berjuang untuk menyatakan perasaanku terhadapnya sebelum nanti menyesal. Aku yakin kamu pasti bisa mempertahankan hubunganmu bila kamu mau kembali kepada pak Rigel. Dan saat ini pak Rigel masih larut memikirkanmu, ini kesempatan untukmu untuk kembali padanya sebelum nanti kamu menyesal."


Lyra beringsut dari tempat duduknya. "Bila kamu datang kesini tidak untuk makan tapi hanya untuk membahas tentang Rigel, lebih baik kamu pergi dari sini karena aku sangat sibuk bila harus melayanimu berbicara."


"Karena kalian berpisah pak Sandy dan kedua orang tuanya Agni akan mempercepat pernikahan mereka," lontar Ryan meninggikan suarannya.


Seketika langkah Lyra terhenti, ia tersentak kaget setelah mendengar apa yang di ucapkan Ryan tersebut. Ia pun lalu berbalik menatap Ryan dengan kedua matanya yang tergenang.


"Itu jauh lebih baik. Karena semakin cepat mereka melangsungkan pernikahan maka secepatnya aku akan melupakannya."


Lyra kemudian terburu-buru beranjak pergi keluar dari rumah makan sembari membawa tasnya. Setelah mendengar pernikahan Rigel dan Agni akan di percepat, hatinya sangat terluka. Ia ingin sekali menangis kencang setelah mendengarnya, namun ia tahan sebisa mungkin. Karena untuk apa menangis, pada akhirnya akan tetap sama hubungannya tak akan bisa kembali terjalin. Biarpun terjalin, Lyra tak akan pernah bahagia bila restu saja tak ia dapatkan dari ayahnya Rigel.


Lyra berjalan tanpa tahu arah tunjuannya mau kemana. Hingga pada akhirnya langkahnya tanpa sadar pergi ke tempat di mana Lyra pernah datangi bersama Rigel. Hanya dengan mendatangi tempat tersebut, akhirnya Lyra dapat melepas rindu setelah lamanya ia tak bertemu dengan pria yang selalu mendiami hatinya yang paling dalam.Terlalu rindu dan terlalu sakit Lyra mengingat Rigel hingga membuatnya tak bisa lagi membendung air matanya.


Lamanya ia berdiam diri di tempat tersebut, tak sadar Lyra pulang di waktu yang hampir sudah larut malam. Di rumah nampak orang tuanya yang masih belum tidur karena mungkin menunggu kepulangan putri kesayangannya itu, bahkan Axel pun juga nampak hadir menunggu Lyra di rumah. Semuanya menunjukan raut cemasnya ketika menatap Lyra.


"Habis dari mana? Aku dari tadi menelponmu tapi tak kamu jawab," lontar Axel.


Wajah Lyra nampak pucat, kepalanya pening, hingga pandangannya pun kabur. Bukannya menjawab pertanyaan dari Axel, Lyra malah berdiri di tempat dengan kedua sudut matanya yang berkedut.


"Kamu tak apa-apa Lyra?" Tanya Axel sembari menyentuh lengannya. Namun saat di sentuhnya, suhu tubuhnya tak seperti orang sehat pada umumnya. "Sepertinya kamu demam."


Seketika kesadaran Lyra pun menghilang, hingga membuatnya terjatuh di tubuh Axel. Pada akhirnya kedua orang tuanya dan sahabatnya itu di buat panik oleh Lyra.